Mencinta Tanpa Batas

Mencinta Tanpa Batas
Kembali Terluka Lagi


__ADS_3

Hari berlalu...


Dan hari ini tepat seminggu kepergian nenek.Gea dibantu Mba Santi mempersiapkan segala keperluan untuk pengajian nanti malam.Beruntungnya Gea sudah memasuki masa cutinya hingga ia tidak kerepotan.


"Kamu kapan lahirannya Ge?"tanya Mba Santi.


"HPL nya sih tiga minggu lagi Mba"kata Gea.


"Udah ada persiapan belum?"


"Udah mbaa,udah siap semuanya.Doain lancar ya Mba"


"Iya,semoga lancar sehat selamat ibu sama dedeknya"


"Aamiin"


"Cewe apa cowo?"tanya Mba Santi.


"Ga tau mba,biar jadi kejutan aja"kata Gea.


"Emang ga usg?"


"Usg sih mba,cuma emang kitanya ga mau tau dulu.Mau cewe apa cowo yang penting sehat ga kurang apapun"terang Gea.


"Oalah gitu"


"Suami kamu mana Ge,kok ga keliatan"


"Udah berangkat kerja mba,ada bongkaran pagi katanya"


"Kamu ga curiga sama suami kamu?"tanya mba Santi.


"Curiga kenapa mba?"Gea balik tanya.


"Ya secara suami kamu itu ganteng,pastinya banyak yang lirik lirik Ge.Dijagain tuh biar ga disamber pelakor"


Gea terkekeh mendengarnya.


"Emang ikan mba disamber.Insyaallah aman mba.Kalo emang niatnya mau rumah tangga aman ya ga bakalan kecantol pelakor mba"


"Eh jangan salah Ge,jaman sekarang mah pelakor ga punya urat malu.Biarpun ga ada niat tapi kalo ada kesempatan bisa jadi selingkuh juga"

__ADS_1


Deg!.,


Bagai ada batu besar yang menghantam,ucapan mba Santi sukses membuat keyakinan Gea goyah.


Bukankah suaminya juga manusia?Bisa jadi juga Teo akan selingkuh jika ada kesempatan di depan matanya.Apalagi ia sekarang bebas di luaran sana sedang Gea hanya di rumah.Not impossible.


"Tapi semoga aja mas Teo ga gitu ya Ge,apalagi sebentar lagi kalian punya anak.Biasanya anak bisa menjadi perekat kedua orangtuanya"


"Aamiin"


Kalimat terakhir mba Santi seakan membangkitkan lagi gairah Gea.Ia lupa bahwa Sang Pemilik Hati tak pernah tidur.Dan ia yakin kekuatan doa akan melembutkan hati suaminya.


"Gea,ini udah selesai semua.Mba tinggal pulang dulu ya,nanti sore kesini lagi.Anak anak mau les soalnya"


"Iya mba,makasih banyak ya mba.Maaf udah ngerepotin"


Mba Santi berlalu meninggalkan Gea.Tinggallah Gea sendiri di rumah.Saat semua pekerjaan beres Gea mengambil ponsel dan bersantai sejenak di teras.


"Kak,pulang jam berapa?"


Sebuah pesan ia kirimkan untuk suaminya.


Sepuluh menit berlalu pesan Gea belum juga terbalas.Pesannya masih centang dua abu abu.


...****************...


Teo tiba di rumah tepat saat adzan maghrib berkumandang.Dengan tergesa ia masuk ke kamar.Diraihnya handuk lalu masuk ke kamar mandi tanpa menoleh pada Gea yang menatapnya heran.


Bukan tak ingin menyapa istrinya.Teo begitu ingin memeluk Gea dan mengusap perut buncit istrinya.Namun entah mengapa ia merasa kelu di lidahnya.Bahkan perasaannya tak menentu saat Gea menatapnya.Seolah ia takut untuk bertemu istrinya sendiri.


Selama Teo di kamar mandi Gea menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya.Di letakkannya baju koko berwarna navi di atas ranjang lengkap dengan pecinya juga.


Setelahnya Gea beranjak keluar kamar.Namun matanya memicing saat melewati meja di mana ponsel suaminya berada.Satu notif pesan masuk terpampang nyata.Tanpa membuka ponsel pun Gea tau apa isi pesannya.


"Terimakasih untuk sore yang indah ini.Aku selalu merindukanmu"


Nafas Gea tercekat.Jantungnya seakan berhenti berdetak.


Bagaimana tidak.Pesan di ponsel suaminya begitu mesra.Dan nomor itu,ia sangat tidak asing lagi.


Apakah suaminya kembali berulah?Masihkah ia melakukannya lagi dibelakangnya?.

__ADS_1


Sungguh Gea ingin marah.Rasa hatinya begitu panas.Namun ia segera mengontrol emosinya.Sebentar lagi waktunya pengajian tujuh hari kepergian nenek.Dan ia tak mungkin memperlihatkan amarah di depan semua orang.


Dengan membawa sekeping hati yang kembali terluka ia melangkah keluar kamar.Ia bahkan tak mendengar ketika Teo memanggilnya.


"Gea kenapa ya?Apa ia marah karena aku tak menyapanya tadi?"pikir Teo.


Setelah berganti pakaian Teo segera menyusul Gea untuk menyambut tamu yang datang.Namun yang terlihat Gea sama sekali tak menoleh padanya.Istrinya seperti sedang melamun dengan tatapan mata yang kosong.


"Ge"panggil Teo.


Namun Gea masih tak bergeming.


Istrinya baru menoleh saat Teo mengusap lembut perutnya.


"Ada apa?Kenapa melamun?"tanya Teo.


Gea hanya tersenyum dan menggeleng.Tapi senyum itu mencubit hati Teo.


Setahun mengarungi hidup bersama Gea menjadikan Teo tau makna senyuman Gea.Senyum itu hanya akan ada saat Gea merasa tersakiti dan terluka.Teo pernah mendapatkan senyuman itu dari Gea.


Pertama ia mendapatkannya setelah ia melamar Gea.Saat Gea dikatakan tak pantas bersamanya oleh Riri.Kedua saat Gea tau kalau ia masih berhubungan dengan Riri di belakangnya.


Dan ini ketiga kalinya ia mendapatkan senyuman seperti itu.


Ada apa dengan Gea kesayangannya?.


Jantung Teo bahkan berdetak lebih cepat.Apalagi mengingat apa yang telah ia lakukan tadi.


"Aku hanya sedang mencoba menguatkan hati Kak.Aku telah kehilangan nenek yang selama ini menjagaku.Dan mungkin saja esok aku juga akan kehilangan lagi.Benar kan kalau aku menguatkan diriku sendiri".


Laksana tertampar kenyataan itu yang kini dirasakan Teo.Ucapan Gea seakan menyiratkan bahwa ia menyerah dengan keadaannya.


Teo hanya diam.Lidahnya seakan kelu mengeluarkan suara.Ada rasa yang bergemuruh di dadanya.Dan bodohnya ia tak mampu mengatakan apa yang ia rasakan meskipun itu pada istrinya sendiri.Orang yang seharusnya menjadi tempatnya berbagi semua cerita.


Melihat suaminya hanya membisu tanpa kata Gea hanya bisa menelan kekecewaannya seorang diri.Ia sudah sangat hafal dengan watak suaminya yang hanya akan diam saat berada dalam kebimbangan.


Dan sayangnya kebimbangan itu masalah hati.Masalah perasaan.Hal yang tak bisa dimengerti oleh seorang Gea jika hanya diam karena memang ia bukanlah cenayang yang bisa tau isi hati seseorang.


"Kenapa kau kembali mengingkari janjimu Kak.Kurang apa aku padamu.Kau sendiri yang pernah berjanji untuk tak mengulanginya.Lalu apa yang kini kau sembunyikan di belakangku?Kenapa tak kau katakan saja bila memang ingin cerita kita berakhir?"


"Aku berharap padamu tanpa memandang siapa dan bagaimana keadaanmu.Aku yakin bila dirimu pun mampu menjadi yang terbaik.Tapi bila masih saja seperti ini,bisakah aku berharap lebih?Bisakah aku bertahan dengan segala keyakinanku sedangkan kau sendiri selalu menghancurkan apa yang telah aku perjuangkan"

__ADS_1


"Jika memang bukan aku yang kau ingini setidaknya katakanlah dengan sebenarnya.Aku tak akan menghalangi keinginanmu jika memang itu bisa membuatmu tenang dan bahagia.Jangan mengurungku dalam penjara cinta yang nelum tentu kau sendiri mampu membukanya".


__ADS_2