Mencinta Tanpa Batas

Mencinta Tanpa Batas
Reihan


__ADS_3

"Gea Anastyana!"


Baru saja Gea dan Teo hendak melangkah meninggalkan meja sebuah suara sudah terdengar nyaring memanggil nama Gea.


Gea menoleh ke arah sumber suara.Matanya menyipit saat melihat siapa yang memanggilnya.Wajahnya terasa sangat familiar.


"Hai"sapa laki laki yang kini sudah ada di depan Gea.


Melihat suasana tak menyenangkan hati,Teo pun menarik tangan istrinya untuk mendekat padanya.Wajahnya sudah berubah tak sedap dipandang mata.


"Gimana kabar kamu Ge?"tanya laki laki tadi seakan dia sudah sangat mengenal Gea.


"Maaf siapa ya?"tanya Gea.


"Jadi kamu lupa sama aku?"kini ganti laki laki itu yang terheran heran."Pantas saja dari tadi cuek banget sama aku".batinnya.


"Maybe,tapi aku ngerasa wajah kamu itu familiar buat aku"balas Gea.


Laki laki itu menghela nafas berat.


"Tega kamu Ge,lima tahun lebih aku menunggu moment bertemu denganmu,tapi saat ketemu malah kamu lupa sama aku"ucapnya sendu.


"Maaf,tapi aku bener bener ga inget"sahut Gea.


"Aku Reihan"


Gea berusaha mengingat apa ia punya teman yang namanya Reihan.Dan matanya membulat seketika saat ia ingat siapa yang mengaku bernama Reihan itu.


"Jadi kamu.."


"Udah inget siapa aku?"tanya Reihan.


Gea hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Sebegitu ga berartikah aku Ge,sampai kamu begitu mudah melupakan aku"katanya.


Tanpa Reihan sadari,ucapannya membuat laki laki disamping Gea semakin mengeras rahangnya.


"Maaf,tapi aku memang benar benar lupa"sesal Gea.


"Apa Isna tak pernah mengatakannya padamu?"tanya Reihan.


"Mengatakan apa?"tanya Gea.


"Duduklah dulu Ge,aku akan menjelaskannya"pinta Reihan.


Gea beralih memandang suaminya seakan minta persetujuan.


"Kita pulang"tegas Teo yang tak setuju istrinya duduk kembali.

__ADS_1


"Maaf,aku mau bicara sebentar sama Gea"kata Reihan.


"Tapi aku ingin mengajaknya pulang"tegas Teo.


"Tolong sebentar saja.Memang siapa anda ingin mengatur Gea?"kata Reihan seakan menantang Teo.


"Aku berhak mengaturnya ataupun memaksanya karena aku suaminya"sengit Teo.


Reihan yang mendengar ucapan Teo pun terkejut.Benarkah apa yang ia dengar barusan?.


"Suami?Benarkah?"kata Reihan seakan tak percaya.


Teo yang mendengarnya pun mendengus kesal.Ia menarik Gea untuk segera pergi,tapi lagi lagi suara Reihan menahan istrinya.


"Ge,tolong sebentar saja aku ingin bicara denganmu"pinta Reihan.


Gea yang bingung menghela nafas sejenak.Lalu ia menatap suaminya.


"Bolehkah sebentar saja?"tanyanya dengan lembut.


"Apa kamu ingin dengannya?"kini Teo yang bertanya dengan nada kecewa.


"Tidak,hanya saja rasanya tidak etis menolak teman lama yang ingin bicara.Percayalah,hanya bicara saja dan tidak lebih.Kakak tahu bagaimana keadaan hatiku kan?"


Teo menafik nafas sejenak untuk menenangkan hatinya yang bergemuruh.Ia lalu menatap istrinya.


"Baiklah.Tapi hanya bicara saja,tidak lebih.Dan jangan menjauh dari sisiku"kata Teo.


"Kita bisa bicara,tapi maaf hanya sebentar saja"


Reihan yang mendengarnya tersenyum senang.Ia pun mengambil kursi dari meja sebelah saat Gea dan Teo kembali duduk di tempatnya semula.Jadilah kini satu meja itu dikelilingi oleh lima orang.Sedang Anton dan Riri sedari tadi hanya menjadi penonton saja.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?"tanya Gea membuka percakapan.


"Apa Isna tak menyampaikan pesanku?"tanya Reihan.


"Pesan apa?"bingung Gea.


"Kamu ingat waktu aku meminta bertemu denganmu di lapangan sekolah setelah acara wisuda?"tanya Reihan.


Gea mengangguk."Aku menunggu selama dua jam lebih tapi kamu tak pernah datang"


"Maaf aku tak bermaksud membuatmu menunggu,tapi hal itulah yang menjadi penyesalan buatku hingga saat ini"tutur Reihan.


"Why?"tanya Gea.


"Saat itu aku akan menemuimu,tapi ayahku datang menjemputku dan langsung membawaku ke Bandung karena nenekku meninggal.Dan kenyataannya saat itu aku kehilangan dua orang yang aku sayangi dalam sekali waktu.Aku menitipkan pesan pada Isna karena saat itu aku tak memiliki nomor ponselmu,tapi nyatanya pesanku tak pernah tersampaikan"


"Kenapa tak minta nomorku pada Isna?"tanya Gea.

__ADS_1


Rrihan hanya tersenyum masam."Isna tak mau memberikannya,karena itu aku menitipkan pesan padanya"


"Memang apa pesannya?"tanya Gea.


"Aku minta Isna menyampaikan padamu untuk menungguku seminggu lagi,bahkan aku minta tolong padanya untuk bilang sama kamu kalau aku sayang sama kamu"terang Reihan.Kali ini membuat Teo mengepalkan kedua telapak tangannya.Ingin rasanya ia memukul laki laki yang tengah bicara pada istrinya itu.


Sementara Gea tersenyum miring mendengarnya.Bahkan Riri dan Anton pun melongo dibuatnya.Benarkah laki laki itu sedang mengatakan perasaannya pada seorang wanita yang sedang bersama suaminya?.


"Kalaupun aku jadi Isna mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama"kata Gea.


"Tapi kenapa?Sungguh,saat itu aku hanya berharap pada Isna,karena ia satu satunya teman yang dekat sama kamu"kata Reihan.


Gea menghela nafas kasar."Saat itu Isna suka sama kamu.Sebenarnya saat itu aku juga tak ingin menemuimu karena aku tahu sahabatku menaruh hati padamu.Tapi ia terus memaksaku untuk menemuimu.Katanya jika bertemu denganku bisa membuatmu bahagia ia akan merelakannya.Dan aku bersyukur dengan apa yang terjadi saat itu karena aku tak harus menyakiti sahabatku sendiri"jelas Gea.


"Lalu apa kamu juga tahu kalau aku suka sama kamu?"cecar Reihan.


Gea hanya menggeleng."Yang kutahu saat itu hanya kamu ingin bertemu denganku untuk membahas acara wisuda yang baru selesai"


"Saat itu justru aku ingin mengatakan padamu kalau aku suka sama kamu.Bahkan rasa itu masih tersimpan hingga sekarang Ge"kata Reihan.


Gea yang merasakan perubahan raut wajah suaminya setelah mendengar ucapan Reihan segera menggenggam tangan suaminya.


"Maaf Rei.Baik dulu ataupun sekarang aku tak bisa membalas semua rasamu.Apalagi sekarang statusku adalah seorang istri dan juga ibu"tegas Gea.


"Ibu?Maksudnya kamu sudah punya anak?"tanya Reihan.


"Iya.Putri kami juga baru berumur satu bulan"jelas Gea.Ia bahkan menggenggam jemari suaminya dengan lebih erat.


"Sungguh,kali ini aku benar benar tak punya harapan lagi Ge.Gadis yang aku damba ternyata sudah bahagia bersama laki laki lain"sendu Reihan.


"Jangan menyesali takdir.Suatu saat nanti pasti akan ada wanita terbaik dalam kehidupanmu"


"Maybe,tapi aku juga butuh waktu untuk menghapus namamu dari hatiku.Bahkan tujuh tahun ini aku tak bisa memikirkan wanita lain.Tadinya aku sangat bahagia saat melihatmu,tapi nyatanya aku harus kembali patah hati untuk kedua kalinya"


"Maaf,tapi mungkin kita memang tak berjodoh.Semoga segera bertemu dengan jodohmu dan segera menyusul ke pelaminan"kata Gea tulus.


"Aamiin.Makasih banyak ya,kamu masih mau bicara sama aku.Maaf kalau aku juga sudah menganggu kenyamanan kalian.Semoga rumah tangga kalian bahagia dan langgrng selamanya"tutur Reihan.Meski pedih ia mencoba bersikap tenang karena bagaimanapun takdir memang tak berpihak pada perasaan di hatinya.


Gea hanya mengangguk dengan tenang.


"Sudah kan?Pulang yuk!"ajak Teo pada istrinya.


"Tunggu!"sela Reihan.


"Apalagi?"sengit Teo.Sungguh ia tak bisa lagi menahan panas di hatinya setelah tahu laki laki di depannya ini memiliki rasa pada istrinya.Dan sialnya,kecemburuannya itu hanya ditertawakan saja oleh Anton dan kekasihnya yang juga masih menyimak obrolan istrinya dengan teman lamanya itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Nah yooo,,selanjutnya Kak Teo mau ngapain lagi yaaa,,

__ADS_1


Makin cemburu sama posesif ato gimana ya,,,


__ADS_2