
Teo menatap Gea yang sedang menyusui putrinya.Ada yang terasa aneh baginya.Sejak ia pulang dari bertemu Anton Gea terus saja diam seperti mengacuhkannya.Ia hanya akan menjawab sekadarnya saja apa yang Teo katakan.
Teo menghampiri dua gadis kesayangannya.Ia lalu duduk dibelakang Gea dan ikut memeluk dua gadisnya itu.
"Asyik banget kayanya"katanya berusaha mencairkan suasana.Dan usahanya itu hanya terbalas dengan sedikit senyum di bibir manis istrinya.
Ada rasa kecewa dihatinya melihat senyum sang istri yang setengah hati itu.Namun ia berusaha menepisnya.Dengan dagu yang masih bersandar di bahu Gea ia ikut mengusap lembut pipi putrinya yang mulai terlelap.
Tes!!
Setetes airmata yang jatuh ditangannya membuatnya terkejut.Gea menangis dalam diam.
"Apa aku kembali berbuat salah?Apa aku kembali menyakitinya?Tapi apa yang telah aku lakukan?"batinnya.
Teo bersabar.Ia menunggu hingga putrinya benar benar terlelap.Setelah ia lihat putrinya melepaskan sumber makanannya ia bangkit.
"Biar aku yang membawanya ke box tidurnya"katanya selembut mungkin.
Gea tak menjawab,tapi juga tak menolaknya.Membuat Teo semakin yakin ada yang salah antara Gea dan dirinya.
Setelah memastikan putrinya tidur dengan nyaman dan menyelimutinya Teo kembali menghampiri istrinya.Ia menarik tangan Gea yang ingin menghindarinya dengan sudut mata yang sudah basah.Membawanya dalam dekapannya dengan paksa karena Gea yang sedikit berontak.
"Jangan bawa airmatamu pergi dariku.Bersandar dan berbagilah denganku"lirihnya di telinga Gea.
Ia merasakan Gea terisak di dadanya.Tapi Gea masih tak mau membalas pelukannya hingga ia membawa kedua tangan Gea untuk memeluk tubuhnya.
Ia membiarkan istrinya menumpahkan airmatanya.Bahkan kaos yang dipakainya kini sudah terasa basah.
"Berbagilah sayang,jangan hanya diam.Kamu tahu kan aku bukanlah orang yang peka dengan apa yang kamu rasakan"bujuk Teo.
Gea masih juga hanya diam.
Tak ingin menyerah begitu saja Teo sedikit merenggangkan tubuh keduanya meski satu tangannya masih menahan pinggang istrinya.Satu tangannya lagi mengangkat dagu Gea agar mata istrinya mau menatapnya.Diusapnya airmata di pipi Gea lalu dikecupnya kedua matanya.
Terakhir ia mengulum bibir istrinya dengan lembut dan penuh kasih.Ia dapat melihat mata Gea yang terpejam dengan airmata yang kembali mengalir.
"Tidakkah kamu bisa merasakan bahwa aku sungguh ingin berubah bersamamu?Dan jika diperjalanannya aku masih berbuat salah maka katakanlah.Jangan memendamnya hingga membuatmu terluka seperti ini"tutur Teo setelah ia melepas tautan bibir keduanya.
__ADS_1
Gea semakin tergugu.Teo menjadi tak tega melihatnya hingga ia membiarkan Gea masih dengan tangisnya.Mungkin itu bisa membuatnya sedikit lega.
Sepuluh menit kemudian tangis Gea mereda.Tapi wajahnya masih bersembunyi di dada suaminya.
Tanpa aba aba Teo menggendong Gea ala bridal style membuat Gea memekik tertahan.Ia duduk di tepi tempat tidur dengan Gea di pangkuannya.Ia lalu membenamkan kepala Gea di lehernya.
Teo sadar ada sesuatu yang salah yang sedang disembunyikan istrinya?.
"Apa kamu masih belum percaya padaku?"tanya Teo
Diamnya Gea memaksa Teo untuk menegakkan tubuh Gea hingga ia bisa menyatukan keningnya sendiri dengan kening Gea.
"Apa pandangan orang lain tentangku juga mengusikmu dan membuatmu meragukanku lagi?"
Lagi lagi Gea masih terdiam membuat Teo menyerah dan mendesah kasar.Ia lalu mendudukkan Gea di tepi tempat tidur dan beranjak keluar kamar.
Di dapur Teo meneguk dua gelas air putih sekaligus.Menghadapi Gea yang sedang mode diam tanpa kata nyatanya begitu menguras emosi.Ingin rasanya kini ia keluar dan membeli sebotol vodka untuk mengalihkan kemelut pikirannya.Tapi ia tak ingin menodai kepercayaan yang Gea berikan padanya.
Ia mengambil piring dan menyiapkan makan malam untuk Gea lalu membawanya ke kamar beserta segelas teh hangat.
Dan lagi lagi Gea masih tetap bungkam.
Teo membuka lemari dan mengambil sebuah selimut.Malam ini ia memutuskan untuk tidur disamping box putrinya.Tak apa ia tidur tanpa memeluk istrinya.Meski sulit ia akan mencobanya.Mungkin Gea butuh waktu untuk berfikir.
Lima belas menit berlalu tapi mata Teo masih terjaga.Ia bangkit lalu mengambil ponselnya dan kembali merebahkan diri di tempat semula.Sejenak jarinya menari di atas layar ponsel.Ia mencari musik yang bisa menjadi pengantar tidurnya menggantikan peluk hangat sang istri.Ia memutarnya dengan volume yang lumayan kecil agar tak mengusik putrinya.Selang tak berapa lama ia sudah mulai terlelap.
Sementara Gea masih juga belum tidur.Bahkan sudah dua kali putrinya terbangun dan menyusu padanya,ia masih saja belum memejamkan mata sedetikpun.
Kini ia masih berdiri di samping box putrinya yang sudah kembali terlelap.Lalu memutar dan berpindah ke sisi seberang dimana ada Teo yang tidur di lantai hanya beralaskan selimut dan berbantalkan lengannya.Ia berjongkok dan menyingkirkan rambut yang menutupi sebagian wajah suaminya.Wajah tampan dengan hidung mancung yang membuatnya jatuh hati pada pandangan pertama.
"Kak aku sangat mencintaimu.Sangat.Aku bahkan terlalu takut untuk kehilanganmu.Tapi kenapa kamu tak membalas cintaku?.Kamu bilang ingin tetap bersamaku tapi kamu juga bilang berat untuk melupakan masa lalumu.Apa aku harus menyerah?"ungkapnya lirih.
Baru saja Gea ingin bangkit dan berlalu namun Teo sudah menahan tangannya.Dengan gerakan yang sangat cepat ia menggendong Gea dan melemparkan sedikit kasar di atas ranjang.Kini ia sudah berada di atas tubuh Gea dan mengunci tangan istrinya.
Terlihat jelas rahang Teo yang mengeras.
"Jadi itu yang membuatmu mengacuhkanku?"sarkas Teo.Matanya bak mata elang yang ingin memakan mangsanya.
__ADS_1
"Kak a_aku..."
"Apa kurang jelas perkataanku selama ini?".
Gea merinding mendengarnya.Ia semakin takut akan wajah Teo yang terlihat begitu marah.
"Sebegitu hinakah diriku hingga membuatmu ingin menyerah?"
Tak ada jawaban tapi airmata Gea menunjukkan segalanya.
Teo melepas genggaman tangannya dengan kasar.Ia lalu bangkit dari tubuh istrinya dan duduk di tepian tempat tidur.Ia meremat rambutnya dengan kasar.
Praangg!!!.
Amarah Teo memuncak.Ia menyapu piring berisi nasi di atas meja yang bahkan belum disentuh istrinya.Gea berjingkat karenanya.Baru kali ini ia melihat Teo begitu marah.Beruntung Silvi tidak terbangun karenanya.
Hening.
Keduanya larut dalam angan masing masing.Masih bertahan dengan egonya.
Teo bangkit dari tempatnya.Ia beranjak keluar kamar dan kembali masuk tak lama setelahnya dengan sapu ditangannya.Ia membersihkan bekas amukannya dengan mulut terkunci dan wajah yang masih menahan amarah.Membuat Gea yang melihatnya semakin ketakutan.
Setelah kembali bersih ia mengambil selimut yang tadi dipakainya sebagai alas tidur.Malam ini ia ingin tidur di luar agar amarahnya tak menyakiti Gea.
Belum sempat tangannya mencapai gagang pintu Gea sudah memeluknya dari belakang.Dari getaran yang terasa di punggungnya ia tahu Gea terisak dalam diam.
"Jangan menahanku jika masih meragukanku.Aku cukup sadar diri jika memang aku tak pantas untukmu.Aku yang hina sedangkan dirimu istimewa"
Gea semakin terisak.Teo menghembuskan nafas kasar untuk sekadar mengurai amarahnya.Semarah apapun ia tak ingin sampai mengasari istrinya.
Ia berbalik badan menghadap Gea dan merenggangkan pelukannya.
"Tidurlah ini sudah terlalu malam"kata Teo.Ia memalingkan wajah saat Gea menatap wajahnya.Menyadari suaminya yang masih marah membuat Gea kembali memeluknya.
"Maaf Kak,aku terlalu takut menghadapi semua ini.Aku takut kembali terluka.Aku lelah dengan semua ini"isaknya.
Aku lelah...
__ADS_1