
Pagi hari di klinik.
Gea masih mencoba berjalan pelan sesuai arahan dokter untuk memastikan ia sudah benar benar nyaman setelah melahirkan.Dan itu terjadi atas permintaan Teo yang tidak ingin terjadi sesuatu pada istrinya.
Setelah membereskan semua barang bawaan dan administrasi Teo mengajak Gea untuk pulang.Ia sudah menyewa sebuah mobil karena tidak mungkin membawa pulang anak dan istrinya dengan motor.Dan semua yang dilakukan Teo tidak ada yang lepas dari pengamatan Gea yang berharap Teo bisa terus berubah lebih baik lagi ke depannya.
Tidak sampai tiga puluh menit mereka sudah sampai di rumah.Dan mereka sudah disambut Mba Santi di depan rumah sementara Teo membayar ongkos sewa mobil dan menurunkan barang barangnya.
"Wah cantiknya,mirip kamu Gea"seru Mba Santi saat mereka sudah di dalam rumah.
"Alhamdulillah mba"
"Siapa namanya Ge?"
"Silvi Anggraini Maradika"
Bukan Gea yang menjawab melainkan Teo.
"Wah bagus,nama sama anaknya sama sama cantik"puji Mba Santi.
Teo tersenyum mendengarnya."Cantikan mana Mba sama bundanya?"
"Ya cantikan bundanya lah,kalau bundanya ga cantik mana mau kamu Te"balas Mba Santi.
"Apa iya mba?Mirip ga?"tanya Teo lagi.Rupanya ia sangat antusias dengan segala yang berhubungan dengan putrinya.
"Mirip Gea,tapi alis sama matanya mirip kamu.Perpaduan yang apik"
"Perpaduan apa blesteran mba?"sela Gea.
"Apalah namanya.Yang penting besok siap siap mba culik ya"
Teo dan Gea terkekeh dibuatnya.Bersyukur akan keadaan dimana banyak orang baik yang menyayangi putrinya.
Setelah Mba Santi pamit Teo menggendong putrinya ke kamar dan menyuruh Gea istirahat.Namun mata Gea masih takjub dengan suasana kamar.Sungguh berbeda.Kini ada banyak mainan pojokan kamarnya.
"Ini Kak Teo yang bikin?"tanya Gea.
Teo melangkah ke arah Gea setelah menidurkan putrinya di atas tempat tidur lalu mendekapnya erat.
"Iya.Kemaren aku ngajak suami Mba Santi buat ngerubah kamar ini sebentar.Apa kamu suka?.Kalau engga biar besok aku ganti lagi".tutur Teo.Ia membawa Gea ke tepian ranjang dan memaksa istrinya itu untuk duduk di pangkuannya.
"Gini aja Kak,aku suka.Ini bagus ga terlalu rame"kata Gea."Makasih ya Kak".
Ia menghadiahkan sebuah kecupan lembut di pipi suaminya sementara tangan kanannya ia kalungkan di leher suaminya agar tak terjatuh.
__ADS_1
"Aku juga makasih sayang.Terimakasih sudah menerima dan mencintaiku dengan tulus.Maaf kalau aku belum bisa menjadi seperti inginmu"
"Aku tak ingin Kakak menjadi seperti inginku.Tetaplah menjadi diri sendiri dengan tetap merubah diri menjadi pribadi yang lebih baik lagi.Jangan pernah menyerah apapun keadaannya.Aku yakin,suatu saat nanti kebahagiaan akan mengiringi langkah kita".
"Dan aku berharap kamu ga pernah lelah menemani dan mengingatkanku selama aku berproses ke arah itu".
Kedua pasang mata itu saling tatap dalam jarak yang begitu dekat.Kedua kening saling menempel.Seakan sedang bicara lewat tatapan dan sentuhan.Bahkan benda kenyal milik keduanya sudah siap untuk saling *******.
"Assalamualaikum"
Suara salam dari luar mengusik aktivitas mereka membuat Teo mengumpat karenanya.
"Ck,ga tepat banget sih"kesalnya.
Gea tersenyum melihat wajah kesal suaminya.Sebagai ganti ia memberikan kecupan singkat si bibir Teo agar bisa meredam kekesalan suaminya.
"Aku bukain pintu dulu ya Kak"kata Gea seraya beranjak dari pangkuan Teo.
"Aku aja ya,kamu istirahat aja"sahut Teo yang berlalu keluar kamar.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"jawab Teo masih dari dalam rumah.
Dibalik pintu rumah ada Isna dan suaminya.Teo lalu mempersilahkan keduanya untuk masuk.
"Bentar ya aku panggil Gea dulu"pamit Teo setelah kedua tamunya duduk.Namun Gea sudah keluar sebelum ia menghampirinya ke kamar.
"Itu Gea"ketus Isna.Sungguh ia masih kesal dengan kelakuan suami sahabatnya kemaren.
Melihat istrinya sudah keluar kamar ia berlalu ke dapur untuk membuat minuman bagi tamunya.Tak lama ia kembali dengan nampan berisi dua gelas teh hangat.Untungnya kemaren ia sudah menyediakan beberapa camilan di ruang tamu hingga kini ia tak begitu repot jika ada tamu.
Teo duduk berseberangan dengan Dika sementara para wanita sedang menggoda putrinya yang kini sudah digendong Gea.
"Makasih banyak ya atas bantuannya kemaren.Aku ga tau apa jadinya kalau ga ada kamu"tutur Teo pada Dika yang ditanggapi dengan senyuman.
"Sama sama.Emang kamu kemana kemaren?"tanya Dika.Padahal sebenarnya ia sudah tahu kemana Teo karena istrinya yang cerewet itu sudah bercerita padanya.
"Ketemu temen.Sebenere aku juga ga mau pergi mengingat keadaan Gea.Tapi dia tetep kekeh memintaku pergi buat selesein masalah aku.Ga taunya malah kejadian kaya kemaren"jelas Teo.Ia fikir laki laki di hadapannya ini pasti sudah tahu apa yang terjadi.Mana mungkin sahabat istrinya yang bawel itu tak berbagi cerita pada suaminya.Mustahil.
"Oh,aku kira masih kerja kemaren"kata Dika.
"Engga sih,aku udah ambil cuti.Tapi ya itu tadi"balas Teo.
"Ga papa lah,Yang penting kan mereka sekarang baik baik aja.Trus masalahnya udah kelar?"tanya Dika.
__ADS_1
Teo menghela nafasnya.Dika juga pasti tahu keadaannya.Tsk mungkin istrinya ga berbagi cerita pada sahabatnya.
"Aku udah bilang sih buat akhiri semuanya.Tapi kayanya dia ga terima".
"Trus kamu masih mau sama dia?"cecar Dika.
"Ya engga lah,aku lebih milih bertahan sama anak istriku".
"Baguslah kalau begitu.Ke depannya jangan sakiti Gea lagi.Sekarang yang dia miliki hanya kamu.Jaga mereka baik baik"
"Pasti"
Keduanya lalu terlibat obrolan yang cukup santai.Saling bertukar cerita.Obrolan kaum lelaki yang temanya tak pernah jauh dari sosok yang berjuluk istri.
Sementara itu para istri sedang menggoda bayi yang baru berumur sehari itu.
"Itu kenapa suami kamu masih disini?"tanya Isna tiba tiba.
"Lha emang kenapa Na?"
"Ck,pengen nonjok suamimu aku kalo ga dosa"
Gea terkekeh mendengar kekesalan sahabatnya itu."Ada apa sih?"
"Kemarinnaku lihat suami kamu ketemuan sama tu cewek.Keenakan ngobrol berdua kali tu sampe tangan tu cewek mau megang suami lo.Trus aku siram aja suamimu pake es teh"terang Isna dengan raut wajah emosi
"Ya Allah segitunya Na"
"Habisnya aku kesel Gea.Kamu mau lahiran malah dia enak enakan sama cewek lain.Untung aja kan Aa Dika pas kesini,coba kalau ga gimana nasib kamu sama ponakan aku"cerocos Isna.
Gea menarik nafas sejenak."Sebenarnya dia juga ga mau pergi Na,tapi aku yang maksa dia pergi"terang Gea.
"What?!!!"pekik Isna.
Sungguh ia tak percaya mendengarnya.Apa Gea sudah segila itu?.Kenapa ia malah menyuruh suaminya menemui wanita lain yang notabene adalah selingkuhan suaminya sendiri?.
"Biar masalahnya cepet kelar Na,aku ga mau terganggu sama masalah mereka lagi.Aku pengen tenang Na"ungkap Gea.
"Kak Teo milih bertahan sama aku makanya aku nyuruh dia buat pergi.Aku ga mau hidup dengan bayang bayang masa lalu.Kalaupun dalam satu bulan ini dia tetap kaya gitu,mungkin perpisahan adalah jalan keluarnya.Walau jujur aku pun ga ingin ada kata cerai antara kami".
Isna menatap Gea sendu.Ia tahu betapa tulusnya hati Gea.Sayangnya ketulusannya masih teruji dengan ketidaksetiaan sang suami.
"Sabar ya Ge.Semua pasti ada hikmahnya.Aku tahu kamu orang yang kuat.Dan kalaupun sampai perceraian itu terjadi,aku yang pertama kali akan bikin Teo babak belur"
Gea terkekeh mendengarnya.Inilah sahabatnya.Gadis tomboy dengan keahlian taekwondo nya yang sudah teruji.Lalu bagaimana nasib Teo jika sahabatnya ini benar benar menghajarnya?.
__ADS_1