
Teo terlihat begitu bahagia saat ini.Ia sedang duduk di lantai bersama putrinya yang ia tidurkan di kasur bayinya.Ia menggoda putrinya hingga tersenyum lebar membuatnya merasa gemas.Yah,hari libur ini ia manfaatkan untuk menjaga putri pertamanya itu sementara sang istri sibuk bebenah rumah dan memasak.
"Kak mau dimasakin apa?"tanya Gea yang baru keluar dari dapur.
"Adanya apa "sahut Teo tanpa menoleh.
"Masih ada stok ayam sama ikan nila"kata Gea.
"Bikin sayur asem sama sambel aja lah"kata Teo.
"Ga pake ikan?"tanya Gea.
"Masak ikannya buat kamu aja,aku pengen sayur asem aja"
"Kaya orang ngidam aja sih Kak"kata Gea.
"Jangan jangan kamu hamil ya"seru Teo.
"Ngaco!Aku kan udah KB Kak"balas Gea.
"Ya siapa tau aja,KB itu kan buatan manusia sedang yang menciptakan manusia itu Tuhan"kata Teo.
"Jangan dulu lah Kak,kasian adek masih terlalu kecil"kata Gea.
"Ntar adek dua tahunan nambah lagi ya"pinta Teo.
"Insyaallah"
Sementara Gea sibuk dengan urusan dapur,Teo justru sibuk dengan putrinya.Ia bahkan sudah memandikan dan mendandani putrinya itu dengan berbagai jepit di rambutnya.Ia seakan tak pernah bosan bermain dengan Silvi yang semakin menggemaskan.
Kini ia membawa putrinya berjalan jalan di luar rumah.
"Wah,Silvi sama ayah ya"seru Mba Santi yang baru saja pulang entah darimana.
"Iya budhe,mumpung ayah lagi libur"balas Teo mewakili anaknya.
"Darimana mba?"tanya Teo.
"Ini habis dari pasar"jawab Mba Santi.
"Abang ga di rumah apa mba"tanya Teo lagi.
"Baru ke kebun Te,ada apa?"
"Gapapa mba,udah lama aja ga ngopi bareng"balas Teo.
"Ntar deh mba bilang.Mau caturan ya?"tebak Mba Santi.
"Bisa jadi mba kalo abang ga sibuk"
"Abang mah sibuk ga sibuk kalo urusan caturan nomer satu"cibir Mba Santi.
"Ha ha,hiburan mba biar ga stress"tawa Teo.
__ADS_1
"Sini Silvi sama mba aja kalo kamu mau caturan"kata Mba Santi seraya meraih Silvi.Biarpun Gea sudah ga kerja tapi Silvi masih sering juga di titipin sama mba Santi kalo Gea sedang ada urusan.
"Lah,abangnya aja belum pulang mba"sergah Teo pada Mba Santi,namun wanita itu sudah berlalu membawa Silvi ke rumahnya.
"Tunggu aja Te,bentar lagi juga pulang"seru Mba Santi.
Teo berbalik ke rumahnya dengan linglung.Niat hati ingin bermain bersama sang putri namun Mba Santi justru merampas putrinya.
"Lah,adek mana Kak"kata Gea yang melihat suaminya masuk rumah seorang diri.
"Dirampas Mba Santi tuh"sungut Teo lesu membuat Gea terkikik geli.
"Kehilangan anak nih ceritanya"ledek Gea seraya berlalu kembali ke dapur.Ia menyiapkan sarapan untuk Teo.Tak lama Teo pun menyusulnya.
"Sepi ga ada adek"gumam Teo.
Gea menggeleng melihat tingkah suaminya.Ia maklum jika Teo keberatan karena hari minggu memang Teo prioritaskan waktunya untuk sang putri.Sejak bisnis tradingnya mulai merangkak naik,suaminya itu mulai melebarkan sayap menekuni dunia peternakan.Meski begitu suaminya juga belum mau melepas pekerjaannya sebagai kuli di sebuah pabrik pakan ternak itu.Alasannya jika bisnis yang ia tekuni belum benar benar menjamin hidup Gea dan Silvi ia tak berani resign,ia takut anak istrinya nanti terlantar.
"Sarapan dulu biar ga lesu gitu"kata Gea seraya menyodorkan piring berisi nasi beserta semangkuk sayur asem ke hadapan suaminya.
Mendengar kata sarapan Teo justru menghampiri istrinya.Ia memeluk Gea dari belakang dan mengecup tengkuk Gea.
"Aku mau sarapan yang lebih enak boleh ga?"lirih Teo.
"Katanya minta sayur asem,ini udah dibuatin.Emang mau apalagi?"tanya Gea seraya mengusap tangan suaminya yang melingkar di perutnya.
Teo memutar tubuh Gea agar menghadapnya.Ia menatap Gea sendu lalu tanpa aba aba mengangkat tubuh istrinya.
Namun Teo tak mengindahkan teriakan Gea yang minta diturunkan.Ia terus saja membawa Gea ke kamarnya.
Sampai di kamar Teo merebahkan istrinya di kamar lalu menindihnya.
'Kak,iihh"sebal Gea dengan bibir manyunnya.
"Apa sayang"lembut Teo.
"Bangun ih waktunya sarapan"
"Ini mau sarapan,tapi kamunya manyun mulu"
"Itu nanti keburu dingin nasinya"
Teo tak peduli pada ucapan istrinya.Matanya fokus menatap bibir Gea yang memancing hasratnya hingga akhirnya ia menyatukan bibirnya dengan bibir istrinya.
Gea yang awalnya enggan menerima pada akhirnya terbuai juga dengan sentuhan Teo yang begitu lembut.Teo selalu saja bisa meruntuhkan pertahanannya dengan permainannya yang selalu berbeda setiap bercinta.
Hingga Gea pun melenguh nikmat mendapati surga dunianya bersama sang suami yang bergerak indah di atasnya.Jemari yang saling bertaut menambah kencangnya irama percintaan yang kian memanas di pagi menjelang siang itu.
"Terimakasih sayang,kamu selalu indah dan nikmat"bisik Teo pada Gea usai mencapai puncaknya.
Ia masih berada di atas Gea hingga ia menggulingkan tubuh ke samping dan menarik Gea lebih rapat padanya.
"Udah puas?"tanya Gea.
__ADS_1
"Kamu tahu,aku tak pernah puas hanya dengan sekali bermain denganmu"jawab Teo.
"Silahkan cari kepuasan lain jika tak pernah puas denganku"sarkas Gea.
Kekesalan yang tadi sempat teredam kembali mencuat mendengar ucapan suaminya.
Teo yang memahami kekesalan istrinya tersenyum.Ia menggesekkan miliknya yang kembali menegang pada tubuh istrinya membuat Gea menatap tajam padanya.
"Aku mengatakan tak puas jika hanya bermain sekali denganmu,bukan mengatakan tak puas denganmu.Sekarang bolehkah aku melakukannya lagi agar aku puas?"tanya Teo meskipun sebenarnya ia tak akan melakukannya lagi.Tapi jika Gea memberinya kesempatan iapun tak akan menolak.
Mendengar ucapan Teo Gea menepis kasar tangan suaminya lalu berbalik membelakangi suaminya.
Teo tersenyum melihat kesayangannya merajuk hingga menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.Ia tahu,istrinya sudah capek di dapur menyiapkan sarapannya tapi ia malah menggempurnya hingga cukup lama.Bahkan sarapan yang sudah terhidang pasti sudah dingin semua.
Teo turun dari pembaringan setelah memakai handuk.Ia lalu menghampiri Gea dan menggendongnya menuju kamar mandi.
Tanpa suara Teo kembali merawati istrinya.Dari mandi berganti pakaian hingga kini mereka kembali ke meja makan lagi.
Gea menghela nafas kasar saat mendapati semua makanannya sudah dingin.Ia beranjak untuk menghangatkan makanan namun tangan Teo menahannya.
"Duduk aja,atau kamu mau makan makanan yang hangat?"tanya Teo sedang Gea hanya menggeleng sebagai jawaban.
Teo tersenyum melihat istrinya yang belum mau bicara.Ia lalu mengambilkan makanan untuk Gea.
"Makanlah,maaf kalo aku terlalu egois"
Teo lalu mulai memakan sarapannya yang tadi sudah disiapkan Gea.Hatinya tersentil melihat istrinya yang tak jua bersuara.Ia juga diam hingga makanannya tandas.Bahkan ia kemudian mencuci sendiri piring bekasnya makan.
Ia bahkan membiarkan Gea tetap dalam diamnya meski ia melewati istrinya itu untuk keluar dari dapur.
Melihat suaminya juga diam,Gea justru merasa bersalah sendiri.Tak seharusnya ia begitu pada suaminya.Bukankah sudah kewajibannya melayani suaminya?.Hanya karena kesal pada suaminya ia mengabaikan tugasnya sebagai seorang istri.
Gea lalu beranjak menyusul suaminya.Dan di kamarnya kini ia mendapati suaminya sudah berpakaian rapi seolah akan pergi.
Ia mendekati suaminya yang berdiri di depan cermin lalu memeluknya dengan erat.
"Sorry"lirih Gea pada suaminya.
Teo merasa pumggungnya membasah hingga ia berbalik dan menangkup wajah Gea.
"Hei,kenapa kesayanganku menangis?"tanyanya.
"Maaf sudah mengecewakanmu"kata Gea.
"Aku gapapa,aku diam bukan karena kecewa.Aku cuma ga ingin kamu lebih marah lagi"tutur Teo
"Tetap saja aku salah,sudah tugasku melayanimu tapi aku malah ngambek"
Teo tersenyum.
"Memang tugasmu melayaniku,tapi alangkah baiknya aku tak memaksa kan?Jadi aku juga salah,maafkan aku juga"
Gea tersenyum manis,suaminya kini semakin dewasa dan penyayang.Ia lalu memeluk suaminya lebih erat lagi seolah takut kehilangan.
__ADS_1