
Selepas kepergian Teo,Gea kembali tergugu di tepian tempat tidur.Ia kembali menangis dan entah apa yang ia tangisi.Rasa cintanya ataukah rasa sakit hatinya.
Kilasan masa lalunya bersama Teo kembali melintas.Sakit perih dan jatuh bangun yang telah mereka lewati membayang jelas di matanya.Setiap kenangan manis dan pahit seolah sedang mengingatkannya bahwa Gea teramat mencintai pria yang telah memberinya seorang putri itu.Mungkin terlalu cinta hingga ia pun mampu bertahan hingga sejauh ini.
Rasa sakit demi rasa sakit yang ia terima mengajarkannya apa itu arti sebuah ikatan yang suci hingga ia rela terus bertahan.Namun kini hanya karena kesetiaannya diragukan ia menjadi begitu marah.Rasanya tuduhan Teo begitu menyayat hatinya hingga menggoyahkan rasa cinta yang selama ini terus ia jaga.Meskipun ia tahu suaminya menjadi seperti itu karena rasa cemburu.Laki laki mana yang tak akan marah dan cemburu melihat istrinya tengah di peluk dan di cium pria lain.Pastilah amarah akan langsung menyergap.
Lalu siapakah yang pantas dipersalahkan?.Ia kah atau suaminya?.Gea yang sakit hati karena tuduhan suaminya atau Teo yang marah karena cemburu?.Keduanya hanya sedang mencari pembenaran atas dirinya sendiri.Dan ternyata besarnya cinta mereka masih belum mampu mengalahkan ego yang ada.
Lama Gea bergelut dengan perasaannya hingga deru motor di luar rumah mengusiknya.Ia mengusap airmatanya dan menuju pintu.Terselip harapan di hatinya bahwa itu adalah suaminya yang kembali lagi.
"Assalamualaikum"
Gea menghela nafas kecewa saat ia mendengar suara itu Suara yang sudah tidak asing lagi baginya.
"Waalaikumsalam"jawab Gea seraya membuka pintu.Dari balik pintu muncul wajah orang yang begitu peduli padanya yang tengah menampilkan wajah kusutnya.
"Kenapa pulang?"tanyanya ketus.
"Masuk dulu"kata Gea.
"Silvi mana?"tanya Isna.
"Masih bobok"jawab Gea.
Tanpa disuruh Isna menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang tamu yang lalu di susul Gea.
"Kenapa pulang?"
Isna kembali mengulang pertanyaannya yang belum terjawab seraya menatap Gea yang masih sembab wajahnya.
"Kak Teo yang menyuruhku pulang"jawab Isna.
"Hah?Sekarang mana orangnya biar aku kasih pelajaran"kata Isna dengan penuh emosi.Lagi lagi pria brengsek itu menyakiti sahabatnya.Isna sudah beranjak dari duduknya untuk mencari Teo namun Gea menahannya.
"Dia pergi"lirih Gea dengan mata yang kembali berkaca kaca.Dan terang saja itu semakin membuat Isna emosi.
"Brengsek,enak banget dia lari dari masalah"umpat Isna.
"Dia tidak lari dari masalah.Dia hanya tidak mau aku terlihat buruk di mata orang orang"kata Gea.
__ADS_1
"Maksud lo?"tanya Isna.
Gea menarik nafas sesaat.
"Dia memilih pergi daripada aku yang pergi dari rumah ini.Tadi dia menjemputku di rumahmu lalu ia memilih pergi dari sini.Dia bilang aku sama Silvi harus tetap aman dan nyaman meski ada masalah antara kami"tutur Gea dengan airmata yang kembali mengalir.
"Trus dia tinggal dimana?Dia tak punya sodara disini kan?"tanya Isna.
"Dia tinggal di ruko"jawab Gea
"Ruko?Ruko siapa?"
"Ruko milikku"
"Sejak kapan kamu punya ruko?"bingung Isna.
Lalu Gea pun menceritakan yang sebenarnya terjadi pada Isna tanpa mengurangi ataupun menambahinya.
"Dan lo terima gitu aja?"tanya Isna
"Aku udah nolak tapi dia memaksa.Dia bilang sudah lama berjuang untuk memberikan itu padaku dan aku tak boleh menolaknya"jawab Gea
Isna menghela nafas kasar.Sungguh dia sendiri pusing dengan masalah sahabat rasa sodaranya ini.Cinta yang kuat berbalut amarah dan cemburu yang berakhir dengan pertengkaran hebat.
"Aku kecewa Na.Selama ini Kak Teo juga tahu kalo aku paling ga suka namanya penghianatan,tapi ia malah menuduhku.Hatiku sakit Na"kata Gea.
"Trus lo beneran mau pisah sama Teo?"tanya Isna memastikan.
Tapi Gea menggeleng lemah membuat Isna tersenyum getir karenanya.
"Ga usah so kuat kalo nyatanya kamu masih cinta Ge.Jika yang sudah berlalu rasa cintamu selalu memberi maaf untuk Teo kenapa kamu tak mencobanya lagi sekarang?Apa harus menunggu penyesalan datang dulu?"kata Isna.
"Gue tahu lo kecewa dan sakit hati.Tapi pria manapun pasti akan langsung marah dan cemburu jika tahu wanitanya dipeluk dan di cium pria lain.Itu reaksi yang wajar karena dengan begitu kita tahu bahwa kita benar benar dicintai.Tapi setidaknya tekanlah sedikit ego dan amarah demi rumah tangga kalian karena ada Silvi yang harus kalian pikirkan masa depannya"
Gea tercenung mendengar penuturan panjang lebar Isna.Ya ada yang dia lupakan.Masa depan putrinya.
"Aku akan memikirkannya lagi"kata Gea seraya mengusap airmatanya.
"Oke,sekarang siapin bajunya Silvi"kata Isna.
__ADS_1
"Maksud kamu?"heran Isna.?
"Selama masalah kamu sama Teo belum clear biar Silvi sama aku.Aku ga mau ponakan aku yang imut imut itu tak terawat Karena bundanya galau ga habis habis"kata Isna
"Aku ga mau nyusahin kamu terus Na"kata Gea yang dibalas lirikan sengit dari Isna.
"Bodo amat"kata Isna yang lalu beranjak menuju kamar Gea untuk menggendong Silvi.
"Na,ntar a Dika marah Na"larang Gea.
Isna berbalik dan tangannya bersedekap di dada.
"Justru A Dika yang nyuruh,katanya biar kamu bisa fokus selesein masalah kamu.Lagian kamu kaya ga tau aja gimana suamiku kalo sama anak kecil"kata Isna dengan wajah berubah sendu.
Gea menatap sahabatnya yang sendu.Ia tahu bagaimana sahabatnya dan suaminya berusaha untuk segera memiliki momongan namun hingga kini belum juga membuahkan hasil.
"Ya udah,tapi jangan lama lama ya"pasrah Gea.
"Tergantung kamu sama Teo Ge.Semakin cepat masalah kalian selesai semakin cepat pula aku pulangin Silvi"kata Isna.
Gea terdiam mendengar ucapan Isna,dibantah pun Isna tetap akan membawa anaknya.Ia tahu bagaimana kerasnya seorang Isna.Ia lalu menyerahkan tas yang berisi pakaian anaknya.
"Kamu yakin?"tanya Gea
"Ga usah banyak tanya"sarkas Isna.
"Pamit dulu sayang sama bunda,biar bunda tenang"kata Isna yang sudah menggendong Silvi.
"Saran aku,temui Teo secepatnya dan segera selesaikan masalah kalian.Alangkah baiknya juga kamu kasih pelajaran sama si Reihan"kata Isna sebelum ia keluar dari kamar Gea.
"Iya,ntar aku bicarain lagi sama Kak Teo"kata Gea
"Ga usah ntar ntar,buruan temui biar tidur juga ga sendirian.Emang ga takut dirumah segede ini sendirian"ledek Isna.
"Makanya Silvi ga usah dibawa"sungut Gea.
"Ga,ntar kamu tunda tunda terus.Ga bakalan kelar masalahnya kalo ponakan aku yang imut ini ga aku sita"balas Isna.
"Sita sita,emang anak aku barang apa"kesal Gea.
__ADS_1
"Dadaaa bunda,kalo ga pengen pisah lama lama sama Ivi buruan ya temuin ayah"kata Isna menirukan suara anak kecil yang dibalas umpatan oleh Gea.
Isna berlalu dengan tawa yang masih terdengar di telinga Gea.Sungguh sahabat ga ada akhlak.Disaat ia sedang bersedih dengan masalah yang mendera sahabatnya itu masih saja bisa membuatnya kesal.Namun tak ia pungkiri juga bahwa hanya Isna yang selalu ada dan mengerti di setiap ia ada masalah,setelah Teo tentunya.Tapi kali ini masalahnya juga karena Teo.