Mencinta Tanpa Batas

Mencinta Tanpa Batas
Teruslah Kuat


__ADS_3

Teo menjadi tak banyak bicara hingga acara pengajian selesai.Kata kata Gea sukses membuat pikirannya berkecamuk,seolah olah ia sedang ketakutan akan suatu hal.


Ya..Teo memang sedang ketakutan.


Ia takut Gea tau apa yang dilakukannya.


Ia takut memutus rasa yang terus membelenggunya.


Dan kini ia semakin takut untuk kehilangan Gea.


Egoiskah aku?


Jika saja statusnya saat ini masih sendiri tak akan ada masalah dengan apa yang dilakukannya.


Tapi statusnya kini adalah seorang suami dan sebentar lagi menjadi seorang ayah.


Rasa rasanya memang tak pantas jika ia masih ingin memiliki Gea selamanya tapi hatinya masih menggenggam masa lalu.


"Aaaccchhh"


Teo menyugar rambutnya kasar.Wajahnya menunjukkan raut frustasi yang begitu kentara.


"Ada apa Kak?"tanya Gea yang datang terburu buru.


Teo terkejut melihat raut khawatir Gea.


"Gapapa kok,aku cuma kaget"ujar Teo.


Gea segera berlalu dari hadapan Teo.


"Bahkan kamu udah berbeda Ge.Kamu ga pernah mengacuhkanku,tapi sekarang aku merasakan keacuhanmu"lirih Teo.


Bibirnya tersenyum kecut.


Sakit...


Sungguh sangat sakit...


Sementara di dalam kamar Gea menangis.Hatinya begitu perih dan terluka.Luka yang sama yang kembali mengoyak hatinya.


Apa yang sebenarnya terjadi Kak?Apa benar kamu main hati lagi?Apa benar kamu bertemu dengannya lagi dibelakangku?.


Atau itu hanyalah godaan yang masih saja mengganggumu.Yang sengaja datang untuk mengusik rumahtangga kita?


Berbagai asumsi menghantui pikiran Gea seolah menyerangnya dari dua sisi sekaligus.


Dan ia mencoba melepaskan beban yang menghimpitnya dengan tangis.


"Aku harus kuat.Apapun yang terjadi aku ga boleh nyerah.Jika aku lemah,bagaimana anakku nantinya?"pikir Gea.

__ADS_1


Diambilnya nafas dengan dalam lalu dibuangnya dengan perlahan sekedar untuk menenangkan hati dan perasaannya.Berulang kali seperti itu hingga ia rasa lebih tenang.


"Positif thinking Gea.Ga ada kisah yang mulus kaya jalan tol Semarang Solo yang baru kelar dibangun.Semua pasti ada ujiannya"


Nah,udah gaya aja sok kuat.Tapi bukankah sugesti positif untuk diri sendiri itu juga perlu.Katanya biar ga gila sama naik turunnya fase kehidupan.


Dering ponsel di atas meja terdengar di telinga Gea.Ia bangkit perlahan,mengira ponsel miliknya yang berdering.


Bibirnya tersenyum miris karena lagi lagi ia mendapati nomor itu yang menghubungi suaminya.Sudah sejauh inikah?Seberani inikah?


"Kak,hp kakak bunyi terus tuh dari tadi"kata Gea pada suaminya.Suaranya cukup keras karena memang ia bicara tepat di pintu kamar.


Teo beranjak ke kamar menuju meja dimana ponselnya berada.Sayangnya ponselnya berhenti berdering saat ia akan mengangkatnya.Dan ia lebih terkejut saat tau siapa yang menghubunginya.


Ia pun kembali meletakkan ponselnya.Disaat yang bersamaan ia melihat Gea memijit kepalanya.


"Gea!"serunya saat ia melihat Gea limbung.Beruntung Teo masih sempat menahan tubuh istrinya itu.


"Kamu kenapa?"tanya Teo setelah membaringkan Gea di tempat tidur.Wajah pucat istrinya seakan memompa jantung Teo lebih cepat


"Gapapa Kak,aku cuma pusing"kata Gea dengan senyum manis di bibirnya.


Lihatlah Teo,bahkan istrimu masih mampu tersenyum manis dengan segala tingkahmu.


"Kamu pasti kecapekan.Udah makan kan?"tanya Teo tapi Gea hanya menggeleng.Membuatnya menghela nafas kasar.


Tanpa bicara Teo beranjak keluar kamar.Tak lama ia kembali dengan nampan berisi sepiring nasi dan segelas susu.


"Bolehkah aku berharap kamu akan selalu peduli seperti ini Kak,tanpa ada yang mengusik hubungan kita"batin Gea.


Teo bukannya tak sadar dengan tatapan mata istrinya.Ia hanya mencoba tenang menerimanya.Ia tetap menyuapi Gea hingga makanannya tandas dan memberikan segelas susu.


"Ntar aja kak susunya,udah kenyang"tolak Gea.


Teo kembali meletakkannya di atas meja.Di lihatnya Gea kembali memijit kepalanya.


"Mau aku pijitin?"tanya Teo.


Tak menunggu jawaban Teo menarik tubuh Gea.Ia duduk dibelakang Gea dan menjadikan tubuhnya sebagai sandaran bagi Gea.Dengan lembut ia memijit kepala istrinya.Percayalah,apa yang kini dilakukannya menyalurkan rasa hangat di hati Gea.


Sungguh,Teo memang sosok yang susah ditebak bagi Gea.Selalu memberi dua rasa berbeda dalam waktu yang bersamaan.Ia bisa membuat istrinya marah namun dengan mudah pula ia memberi kasih sayang yang seketika menguapkan amarah Gea.


"Kalo pijatannya ga enak bilang"lirih Teo tepat di telinga Gea.


Gea tersenyum meski matanya terpejam."Enak kok Kak,kalo boleh tiap hari aja begini"katanya.


Bolehkan ia serakah?.Ia hanya ingin cinta dan perhatian Teo hanya untuknya.Tak boleh ada yang membaginya.Dan itu memang hak nya sebagai istri.


"Boleh,tinggal bilang aja kalo mau dipijitin"

__ADS_1


"Mana bisa,kamunya aja sok sibuk"


"Maaf ya"


Harus bilang apalagi Teo pada kesayangannya itu selain memang hanya kata maaf.Ia sadar sesadar sadarnya,belakangan ini waktunya untuk Gea memang berkurang.Selain karena pekerjaan tentunya ia juga terlena dengan perkara yang dibuatnya sendiri.


"Auuw.."


Teo terkejut saat melihat Gea meringis dengan memegangi perutnya.


"Ada apa?"panik Teo.


"Gapapa kok,dedeknya cuma nendang keras banget"kata Gea.


Teo tertegun.Bukan hanya mengesampingkan istrinya.Ia bahkan juga melupakan calon anaknya.


Dengan perlahan ia pun menyentuh perut Gea.Begitu terasa olehnya gerakan calon buah hatinya.Menyalurkan rasa bahagia yang begitu indah di hatinya.


"Anak ayah apa kabar?Jangan kenceng kenceng ya mainnya,kasian bunda"katanya.


Dengan satu perut masih mengelus perut Gea,ia membawa Gea semakin erat dalam dekapannya.Mencoba mengikis jarak yang tercipta.


"Maaf untuk waktu yang terlewat tanpa kebersamaan kita"kata Teo lirih.Diciumnya puncak kepala Gea dengan penuh kasih.


Ada rasa bersalah yang terselip.Tapi saat ini ia hanya ingin saat saat seperti ini selalu ada hingga ia bisa melupakan rasa yang masih membelenggunya.


"Jangan pernah melupakannya lagi atau akan ada yang mengisi kekosongan antara kita"


Teo tak paham dengan apa yang dikatakan Gea.


"Kuatkan aku dalam keadaan apapun.Bawa aku dalam kasihmu saat aku terlupa akan janjiku"pinta Teo.


"Sekuat apapun aku menahan,semua itu tak guna jika kamu sendiri lemah Kak.Teruslah kuat kak,agar esok aku bisa mengatakan pada anak kita bahwa kamulah suami dan ayah terhebat di bumi ini"


Teo semakin erat memeluk istrinya.Yah benar apa kata Gea.Sekuat apapun istrinya menahannya tetap saja tak akan berguna jika ia sendiri tetap terlena dengan keadaan tanpa mau mengakhirinya.Akar permasalahannya bukanlah orang lain melainkan dirinya sendiri.


Sekuat apapun orang mengusiknya pasti tak akan bisa jika ia tak memberinya celah untuk masuk dalam kehidupannya bersama Gea.


Ini bukan tentang orang lain.Ini hanya tentang dirinya.Tentangnya yang masih terlena dan tergoda dengan sensasi rasa di luaran sana.


Bukankah disini tempatnya kembali?Disini pula ada surga tersembunyi yang tak akan ia dapatkan di luar sana.Disini ia mendapatkan segalanya.Kasih sayang cinta tulus,doa dan dukungan dalam setiap hal yang ia lewati.Tentunya tanpa dosa.


Ya,kesayangannya benar.


Teruslah kuat...


Masih ada banyak hal yang harus ia perjuangkan demi kebahagiaan anak dan istrinya.Untuk masa depan dan untuk waktu yang terlewat dengan percuma.


Akan slalu ada Gea dengan segala doanya disampingnya.

__ADS_1


Hanya Gea yang mau menerimanya dengan segala baik buruknya seorang Teo Maradika.


Dan yang perlu ia lakukan saat ini hanyalah menguatkan diri sendiri untuk mengakhiri segala yang salah dan memulai yang benar dengan semestinya.


__ADS_2