Mencinta Tanpa Batas

Mencinta Tanpa Batas
Tak Mengingat Apapun


__ADS_3

"Kak,aku berangkat kerja dulu ya"pamit Gea pada suaminya.Diraihnya tangan Teo untuk ia salami dan sebuah kecupan lembut dan lama pun menyapa keningnya.


"Maaf ya pagi ini aku ga bisa nganter"kata Teo


"Gapapa Kak,kan bisa motoran sendiri.Kak Teo jangan lupa sarapan.Bekalnya udah aku masukin tas tadi"kata Gea.


"Iya,kamu hati hati.Jangan lupa nanti malem ada acara,kalo bisa pulangnya jangan sore sore"tutur Teo.


"Siap bos"


Gea melajukan motornya perlahan setelah sekian lama pulang pergi selalu diantar suaminya.Tangan yang biasanya memeluk pinggang suaminya kini harus memegang stang kemudi motornya.


Hampir satu jam perjalanan Gea baru sampai di tempat kerjanya.Sungguh malang nasibnya,pertama kali motoran sendiri harus terkena macet karena ada kecelakaaan.Perjalanan yang biasanya ia tempuh hanya setengah jam menjadi hampir satu jam ia lalui.


Gea meletakkan tas nya di sandaran kursi.Ia lalu menyalakan laptopnya dan mempersiapkan berkas kerjanya.Hari ini ia harus menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat demi memenuhi keinginan sang suami.Jika tidak maka sudah dipastikan ada war sesion ke sekian kalinya.


Terlalu fokus dengan pekerjaannya Gea tidak menyadari jika sepasang mata memperhatikannya sedari tadi.Saat mengetahuinya pun Gea hanya mengabaikannya saja.Ia tak ingin lagi memancing masalah baru dengan menanggapi mata yang memandangnya itu.


Sungguh ia benci dengan situasi yang dihadapinya kini.Ia satu ruangan dengan orang yang masih menyimpan rasa padanya.Bukankah saat terakhir bertemu di kafe Reihan mengatakan kalau ia akan kembali ke Bandung,lalu kenapa kini bisa satu profesi dengannya?.Saat itu bibirnya berkata ingin melupakan Gea,namun kini tak dapat ditepis.Gea masih melihat sinar cinta yang dalam di setiap tatapan mata Reihan padanya.Dan itu tak seharusnya terjadi.


Sementara di meja kerja lainnya.

__ADS_1


Reihan terlihat gusar dibalik meja kerjanya.Tangannya membolak balik sebuah botol kecil di bawah meja kerjanya.Barang yang sedari kemarin ada di kantong celananya.Kemanapun selalu ia bawa.


Berulang kali tatapan matanya beralih antara seseorang di seberang meja kerjanya dan botol di tangannya.Haruskah ia melakukannya?.Rasanya sudah tak ada pilihan lain.Hati dan pikirannya sudah penuh dengan hasrat yang salah hingga ia tak mampu lagi menimbang mana yang benar.


"Maafkan aku teman.Tapi kali ini aku sungguh tak bisa lagi menahan perasaanku.Aku ingin kau menjadi milikku"batinnya.


"Sekian tahun aku mencoba menghapus namamu dari hatiku tapi ternyata aku tak mampu.Namamu selalu tersimpan rapi disini dan menjadi penghuni tetap hingga detik ini.Menjauh darimu pun tak bisa menghilangkan rasaku,tapi membuatnya tumbuh semakin liar dihatiku"


"Kini kau ada di hadapanku tapi seolah tak tersentuh olehku.Maaf jika aku terpaksa melakukannya dengan cara ini.Aku sungguh tak bisa lagi melepasmu dari hatiku"


Usai memantapkan hatinya Reihan pun mengambil sebuah berkas yang telah ia siapkan sejak tadi.Ia menyemprotkan cairan di botol kecil yang ia bawa tadi pada bagian paling depan dari berkas itu hingga terlihat agak basah.Ia pun lalu beranjak dari duduknya.


"Baik Pak,akan saya kerjakan secepatnya"kata Gea seraya menerima berkas dari Reihan.


"Tolong usahakan selesai setelah jam makan siang.Saya akan ke gudang dulu sementara menunggu laporan itu kamu revisi"kata Reihan lagi yang hanya dibalas dengan anggukan oleh sekretarisnya itu.


Setelahnya Reihan berlalu begitu saja keluar ruangan membuat Gea menghela nafas lega.Satu ruangan dengan spesies seperti Reihan membuatnya seperti berada di antara bom waktu yang siap meledak kapan saja.


Gea membuka laporan yang batu saja ia terima dari Reihan.Matanya memicing saat ia melihat satu bagian dari laporan itu terlihat basah hingga tulisannya sedikit memudar.


"Ini kenapa bisa basah begini,ceroboh banget sih.Mana baunya ga enak gini lagi"umpat Gea.

__ADS_1


Gea lalu membuka lembaran laporan itu dan menindih bagian yang tidak basah agar bagian yang basah itu bisa secepatnya mengering.Ia berharap kipas yang berputar di ruangan itu bisa membantunya agar setelah jam makan siang laporan itu selesai ia revisi.


Tak sampai lima belas menit bagian yang basah itu mengering.Bersamaan dengan itu Gea merasa kepalanya semakin berat dan pandangannya mengabur hingga akhirnya ia menjatuhkan kepalanya di atas meja kerjanya.Kesadarannya hilang seketika itu juga.


...****************...


Jam di dinding ruangan itu menunjukkan pukul 13.55.Gea mengerjapkan mata untuk memperjelas pandangannya.Pusing masih terasa di kepalanya hingga ia memijit pelipisnya dengan perlahan.


"Kenapa aku bisa tiduran disini?"kata hatinya saat ia menyadari ia ada di sebuah kursi panjang di ruangan itu.Seingatnya ia tadi masih di meja kerjanya menyelesaikan pekerjaannya.


Dengan pelan Gea beranjak menuju meja kerjanya.Masih dengan pusing yang tersisa ia mulai mengerjakan lagi pekerjaannya yang tertunda.Namun otaknya berusaha mencerna apa yang sudah terjadi padanya kendati ia tak mengingat apapun yang baru saja ia alami.


"Syukurlah kamu sudah sadar Ge"kata Reihan yang baru masuk ke ruangan itu membuat Gea menyerngit karena heran.


"Memangnya saya kenapa Pak?"tanya Gea.


"Ya saya ga tau.Waktu saya masuk mau minta berkas yang kamu revisi kamu udah tergeletak di atas meja kamu.Saya bangunin kok ga bangun bangun ya saya minta tolong temen teman buat angkat kamu"jelas Reihan.Sementara Gea hanya ber oh saja.Sungguh ia tak mengingat apapun.


"Mana laporan yang tadi saya minta?"tanya Reihan.


Gea menyerahkan berkas yang diminta atasannya dimana ia hanya merevisi satu bagian saja.Sementara Reihan menerimanya dengan senyum merekah di bibirnya.Hatinya begitu bahagia seolah ia baru saja memenangkan sesuatu yang telah lama ia inginkan.

__ADS_1


__ADS_2