
Teo masih saja terus memandangi wajah istrinya yang masih terlelap dalam tidurnya.Hangatnya pelukan Teo mungkin membuatnya merasa hangat dan nyaman dalam tidurnya hingga ia masih saja terbuai mimpi meski sang suami telah lama bangun.
Jemari Teo tergerak untuk mengusap wajah istrinya.Menyusuri setiap inci wajah istrinya dengan perlahan agar tak mengusik tidurnya.
"Kenapa dulu aku ga nyadar kalo sebenarnya kamu itu cantik.Dan setelah melahirkan Silvi aura cantikmu malah semakin kuat.Aku bahkan tak rela mata liar para pria di luaran sana memandangmu dengan bebas.Bolehkah aku mengurungmu saja agar hanya aku yang menikmati kecantikanmu"
"Asal kamu tahu Ge,rasa cintaku padamu kini begitu menggebu.Aku benci jika ada yang mendekatimu.Aku cemburu.Tapi aku sadar,aku juga pernah membuatmu begitu terluka.Aku tak bisa memaksamu tetap bersamaku walaupun aku sangat ingin.Kini aku takut untuk kehilanganmu Ge.Bahkan aku tak sanggup jika waktu kita yang satu bulan ini berakhir dengan kepergianmu dari sisiku.Mungkin aku bisa menjadi gila tanpamu Gea"
Bulir bening mengalir begitu saja dari sudut mata Teo sementara tangannya masih menangkup wajah Gea.Teo merasa sedikit lega karena baru saja mencurahkan perasaannya pada sang istri meski pada kenyataan yang ia lihat istrinya masih terlelap.
Ungkapan Teo yang baru saja Gea dengar terasa menyentuh hati.Ya,Gea sudah bangun sedari tadi.Tapi ia tetap memejamkan matanya hanya karena ingin tau apa yang diungkapkan suaminya.Dan ia ingat,malam ini tepat satu bulan perjanjian mereka.
"Jika boleh aku meminta,jangan pergi dariku Gea.Kamu dan Silvi adalah harta paling berharga bagiku.Disaat tak ada yang peduli padaku,bahkan keluargaku sendiri kamu yang selalu ada buatku.Saat ini aku memang tak punya apa apa untuk membahagiakan kalian.Tapi aku akan berusaha sekuatnya demi kalian"
Teo masih terus mencurahkan isi hatinya dengan airmata yang mengalir.Hingga manik matanya kembali beradu dengan manik mata Gea saat istrinya itu mengusap lembut airmata yang mengalir di pipinya.
"Jangan bersedih atas apa yang telah terjadi.Mari bersama memperbaiki diri demi hidup yang lebih baik"tutur Gea lembut.
Teo menyentuh tangan Gea yang masih berada di pipinya lalu mengecupnya dengan penuh kasih.
"Itu semua bisa aku lakukan hanya jika kamu dan Silvi tidak meninggalkanku Gea.Aku tanpa kalian bukanlah siapa siapa"balas Teo.
"Jika begitu tetaplah disisiku dan jadilah dirimu yang berharga bagiku juga Silvi"
"Inginku Gea,tapi aku tak yakin.Hari ini tepat sebulan perjanjian kita dan aku takut akan keputusanmu mengingat aku yang pernah melukai hatimu.Sementara di luaran sana banyak pria mapan yang pastinya dengan senang hati akan menerimamu.Tidak sepertiku yang hanya bisa menyakitimu"
"Apa kamu sedang meragukanku?"tuduh Gea.
"Tidak Ge,aku tak pernah meragukanmu.Aku hanya tak yakin pada diriku sendiri.Laki laki dengan begitu banyak kekurangan ini pastinya akan dengan mudah kalah dari lelaki yang jauh lebih mapan dalam segala hal.Aku sadar itu Gea,karenanya aku begitu takut akan kehilanganmu"terang Teo.
__ADS_1
"Jika begitu berjuanglah agar hanya kamu yang memiliki aku karena aku juga tak ingin melepas ikatan ini"balas Gea.
Teo terkejut mendengar ucapan istrinya.
"Apa itu artinya kamu membatalkan perjanjian itu?"tanya Teo dengan terbata.
"Iya"jawab Gea.
Dengan rasa bahagia yang membuncah Teo kembali menarik Gea dalam pelukannya.Detik berikutnya ia memberikan ciuman yang bertubi tubi di seluruh wajah istrinya.
"Terimakasih sayang,aku sungguh sangat bahagia dengan kamu tetap disisiku.Aku akan lakukan apapun untuk kebahagiaan kalian"
"Lakukanlah yang terbaik demi masa depan kita"
"Pasti"kata Teo dengan mantap.Didekapnya lagi istrinya dengan penuh kasih,seolah menyampaikan rasa bahagia atas keputusan Gea untuk tetap mendampinginya.
"Kak,aku jemput Silvi dulu ya.Kasihan udah sore"kata Gea.
"Biar aku aja yang ke rumah Mba Santi.Kamu bersih bersih dulu aja"
Teo bangkot dari pembaringannya setelah memberikan ciuman yang cukup menuntut di bibir istrinya,membuat Gea menggerutu karenanya.Sementara Teo meninggalkan kamar dengan wajah yang sumringah.
"Assalamualaikum Mba Santi"Teo mengucap salam saat sampai di depan rumah wanita yang mengasuh anaknya.
"Waalaikumsalam"sebuah suara tersengar dari dalam rumah.Tak lama Mba Santi muncul dari balik pintu yang terbuka.
"Maaf Mba mau jemput Silvi"kata Teo.
"Oh iya sebentar ya,masuk dulu Te"balas Mba Santi.
__ADS_1
Teo mengekor Mba Santi dan menunggu anaknya di ruang tamu.
"Nah itu ayah udah jemput,Silvi mau pulang ya"kata Mba Santi yang datang kembali dengan Silvi di gendongannya.Ia lalu memindahkan putri Teo itu ke gendongan ayahnya.
"Makasih ya Mba udah mau direpotin"kata Teo setelah menerima putrinya.
"Gapapa,malah anak anak pada seneng.Ada Silvi malah ga pada keluyuran keluar"tutur Mba Santi.
"Ya udah,saya pamit dulu Mba.Insyaallah mulai besok Silvi udah dititipin disini soalnya Gea juga idah mulai masuk kerja"kata Teo.
"Iya ga papa.Langsung anter kesini aja ga papa,soalnya kalau pagi juga anak anak masih dirumah semua"
Teo hanya mengangguk lalu berpamitan.Ga lupa kan kalau Teo ini tipe laki laki yang kaku jika berhadapan dengan orang lain.
Sesampainya di rumahnya Yeo langsung menuju kamarnya.Ia melihat istrinya sudah mandi dan berganti pakaian.
"Itu bunda udah cantik,sama kaya adek"kata Teo seraya mendekat pada istrinya.
Gea yang sudah selesai berganti baju pun mengambil alih putrinya dari gendongan Teo.
"Dedek rewel ga sama budhe Santi"katanya sambil menimang putrinya.Tapi kini ia agak sulit bergerak karena Teo yang memeluknya dari belakang dengan dagu yang ia letakkan di pundak Gea.
"Engga ya dek,anak ayah kan pinter ya"balas Teo.
"Iya dong"
Teo tersenyum hangat mendengarnya.Sungguh ia merasa beruntung memiliki istri sesabar dan sepengertian Gea.Ia kembali memeluk dua bidadari hidupnya itu dengan penuh kehangatan.
"Kalian bidadari ayah,penyemangat ayah.Ayah akan lakukan yang terbaik demi kebahagiaan kalian.Dan terimakasih untukmu yang masih tetap mau bertahan bersamaku"kata Teo seraya melabuhkan kecupan lembut di pipi istrinya.
__ADS_1
Gea membalasnya dengan senyum hangat.Semoga apa yang menjadi keputusannya hari ini tepat.Bagaimanapun juga ia sangat mencintai suami nya itu.Dan ia yakin doa serta ketulusannya tidak akan pernah sia sia begitu saja.Teo suaminya pasti bisa menjadi lebih baik lagi seiring berjalannya waktu.