
Suara denting alat masak terdengar di telinga Gea.Ia yang baru bangun tidur mengerjapkan mata serta menajamkan telinganya.Siapa yang masak di dapur,sementara ia dan suaminya masih di kamar.
"Kak,denger suara orang masak ga?"tanya Gea yang belum menyadari keadaan sekitarnya.Ia mengulurkan tangannya ke samping untuk membangunkan suaminya tapi tak merasai keberadaan suaminya.
"Kemana sih Kak Teo pagi pagi begini"keluhnya.
Perlahan Gea beranjak dari tempat tidur untuk keluar kamar.Ia penasaran dengan suara yang ia dengar tadi.Tak mungkin ada orang menyusup ke rumahnya kan?.
Matanya mengerjap melihat pemandangan di depannya saat ia sampai di dapur.Benarkah ini?Ia melihat suaminya sedang sibuk memasak.
"Kak lagi ngapain?"tanyanya.
Teo yang sedang menumis sayuran menoleh ke arah Gea dan tersenyum.
"Lagi masak lah,emang kamu lihatnya lagi ngapain?"balas Teo.
"Tak kirain ada maling masuk rumah".
Teo menuang sedikit air kedalam tumisannya lalu mengecilkan api kompornya.
"Ga ada maling,adanya aku yang mau nyuri hati kamu lagi"katanya seraya menghampiri Gea yang sudah duduk di kursi dapur.
Gea mencibir."Tumben banget masak".
"Emang ga boleh?"tanya Teo.
"Bukan ga boleh,tapi kan biasanya masih tidur jam segini"tukas Gea.
"Aku kan cuti mulai hari ini"
"Lah,hubungannya apa?"bingung Gea.
"Ga ada"
"Iih,nyebelin"
Gea bersungut dengan bibir manyun.Teo yang gemas pun mengecupnya singkat.
"Jangan manyun gitu,bikin aku ga kuat nahan buat makan kamu"
Mata Gea memicing mendengarnya.Kupingnya ga salah denger kan?.
"Masih pagi Kak,ga usah gombal"
"Ga gombal kok,cuma lagi ngerayu aja.Siapa tahu aja mumpung cuti dapat yang indah indah di pagi hari"kata Teo dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Udah ah,aku mau sholat dulu,ntar keburu siang"
"Iya,mau teh manis apa susu?"tanya Teo sebelum Gea menghilang dibalik pintu.
"Apa aja Kak"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Hmm,masakannya enak Kak"kata Gea dengan wajah sumringah.
"Kamu suka?"
__ADS_1
"Iyalah,enak banget ini.Kakak pinter masak juga ternyata"puji Gea.
"Ya ga pinter sih,kalo pinter mah udah buka rumah makan"
"Hmm,merendah untuk meroket"cibir Gea."Kakak kenapa ga makan?"
"Gampang,aku ntar aja.Yang penting kamu kenyang dulu"
"Ga asyik ah,makanan enak gini di anggurin".
Gea beranjak meninggalkan makanannya yang belum habis.Ia mengambil piring lalu mengisinya dengan nasi beserta lauknya lalu menaruhnya di hadapan Teo.
"Diri sendiri juga perlu dipikirin Kak"imbuh Gea yang kembali menyodorkan segelas teh hangat untuk Teo.
Teo tersenyum mendengar omelan istrinya.Ia tahu tanpa berucap Gea peka akan kebiasaannya yang tak akan makan tanpa disiapkan oleh kesayangannya itu.
"Makasih sayang"ucapnya.
"Heran deh sama kakak,bangun pagi buat masak aja mau,kenapa mau makan harus aku yang ambilin?"
"Makan itu kalo kamu yang nyiapin rasanya beda"
"Bedanya?"
"Karena setiap yang kamu berikan buat aku itu selalu penuh cinta"
Cep!!
Ucapan Teo membuat Gea terdiam seketika dengan hati yang menghangat.Bahkan hingga makanan keduanya tandas tak ada lagi suara yang terdengar antara keduanya.
"Kamu belum ngerasain tanda tanda mau lahiran?"tanya Teo saat keduanya tengah santai di depan televisi.
"Semoga saat lahiran nanti dilancarkan segalanya.Semoga kamu sama dedek nanti sehat dan selamat"
"Aamiin"
Gea memejamkan mata dengan badan ia sandarkan di dada suaminya.Ia hanya ingin menikmati kasih sayang yang dicurahkan suaminya lewat belaian lembut pada perutnya.
"Udah ga nendang lagi ya"kata Teo.
"Iya kak,mungkin lagi siap siap mau keluar dedeknya"
"Kak"
"Iya"
Gea sepertinya ragu untuk berkata,membuat Teo menatapnya heran.
"Kenapa?"tanya Teo lembut."Bilang aja ga usah takut".
"Kapan Kakak selesein urusan itu?".meski ragu Gea tetap mengatakannya.
Teo yang melihat keraguan istrinya pun paham.
"Kapanpun kamu ngasih ijin,aku akan langsung menyelesaikannya.Atau kamu mau aku hubungi dia sekarang?"
Gea menggeleng.
__ADS_1
"Temui aja kak,ga enak kalau via telpon"
"Aku ga akan pergi kalau kamu ragu"
"Wajar kan Kak kalau aku ragu,aku takut kamu akan kembali seperti dulu lagi"lirih Gea.
Teo memeluk Gea lebih erat lagi.
"Maafin aku ya,aku udah keterlaluan sama kamu"
Lagi dan lagi...
Masalah yang sama selalu berakhir dengan kata maaf dari mulut Teo.
Melihat Gea yang masih menyimpan ragu padanya membuat Teo memutuskan untuk menemui Riri dan mengakhiri semuanya secepatnya.Ia tak ingin Gea kembali ragu padanya dan benar benar meninggalkannya.
"Apa boleh aku menyelesaikannya siang ini?"tanya Teo perlahan dan berhasil membuat Gea menatap matanya."Aku hanya tak ingin masalah ini masih mengganjal antara kita.Aku ingin menyambut kelahiran buah hati kita dengan keadaan yang benar benar tak ada keraguan di dalamnya"
"Pergilah Kak dan selesaikan semuanya dengan segera.Aku menunggumu"putus Gea.
"Tapi pulangnya beliin sate ya"imbuhnya.
"Iya"
Sebuah keterbukaan yang diharapkan mampu mengembalikan keutuhan keduanya.
"Kamu gapapa kan aku tinggal sebentar?"tanya Teo.
"Ga papa kak,lagian kan aku belum ngerasain tanda tanda mau lahiran"
"Ikut aja yuk"pinta Teo.
"Engga ah,entar yang ada ga jadi nyelesain masalah malah nambah masalah"
"Kok gitu"
"Aku ga bisa nahan emosi ntar"
"Kan ada aku sayang"
"Karena ada kakak sama dia itu aku mana bisa nahan emosi"jelas Gea.
"Emang kenapa?"tanya Teo penasaran.
"Ih ga peka banget sih,jelas aku cemburu lah"sungut Gea.
Cesssss
Hati Teo bagai tersiram es mendengarnya.Ungkapan Gea membuatnya merasa benar benar dicintai.Bukan hanya sekadar untuk membuatnya senang.
"Kalo gitu aku pergi sekarang aja gimana?Biar cepet selesai urusannya.Habis itu aku mau ngajak kamu pergi"kata Teo.
"Emang mau kemana?"tanya Gea.
"Adalah pokoknya,kamu pasti suka"
Gea hanya mengangguk."Tapi janji jangan lama lama ya"
__ADS_1
"Iya sayang.Ya udah aku siap siap dulu ya"