Mencinta Tanpa Batas

Mencinta Tanpa Batas
Tawaran Pak Zain


__ADS_3

Gea mengambil ponselnya saat jam di dinding ruangannya menunjukkan pukul setengah empat.


"Kak,sebentar lagi aku selesai.Bisa jemput ga?"


Sebuah pesan ia kirim untuk suaminya.Jika tidak bisa menjemput maka ia harus siap siap mencari driver online.


Sembari menunggu balasan dari suaminya ia membereskan meja kerjanya.Tak lupa pula barang barang yang berantakan di ruangannya itu ia bereskan juga.Dan ini adalah salah satu hal yang disukai Pak Zain dari admin nya itu.Gea ringan tangan.Banyak hal yang ia kerjakan meskipun ia tahu itu bukan tugasnya.


Sepuluh menit menunggu pesan balasan masuk ke ponselnya.


"Iya,ini mau jalan"


Selesai bebenah Gea mengunci pintu ruangannya dan menaruh kunci di tempat biasanya.Lalu ia keluar gerbang menunggu suaminya.Namun belum sempat ia menutup kembali pintu gerbang suara Pak Zain menyapa pendengarannya.


"Gea tunggu!"


Gea pun urung menutup pintu gerbang.Ia menunggu Pak Zain yang berjalan ke arahnya.


"Ada apa ya Pak?"tanya Gea saat mandornya itu sudah berdiri di depannya.


"Laporan bulanan yang kemaren dibuat Avika sudah kamu cek ulang belum?"tanya Pak Zain.


"Belum selesai semuanya Pak,Insyaallah besok siang bisa saya selesaikan"jawab Gea.


"Maaf ya Ge,tapi tolong kalo bisa sebelum jam makan siang usahakan sudah selesai.Jam makan siang besok saya ada janji sama Pak Yuli dan beliau minta laporan bulanan dibawa sekalian"


"Oh,siap Pak.Insyaallah bisa selesai.Nanti saya print sekalian saja biar lebih jelas kalau dibawa ke Pak Yuli"


"Oh iya,soal tawaran saya tadi tolong dopikir ulang dulu Ge.Atau kamu bisa bicara dulu sama suami kamu.Jujur saya lebih suka kamu yang menggantikan saya daripada mencari pengganti lain"pinta Pak Zain.


Gea tersenyum mendengarnya.Ingin sekali ia menolak permintaan Pak Zain itu,tapi mulut terasa berat mengatakannya.


"Nanti saya bicarakan dulu sama suami saya Pak,tapi saya tidak janji untuk menerimanya"


"Apapun keputusannya nanti saya yakin pasti kamu sudah mempertimbangkan segala hal baik buruknya"


Gea mengangguk paham dan membiarkan mandornya itu pergi setelah bicara padanya.Ia pun segera menutup kembali pintu gerbang dan menghampiri suaminya yang sudah menunggu.


"Serius amat ngomongnya"ujar Teo saat Gea menghampirinya dan mencium punggung tangannya.


"Iya,Pak Zain minta laporan bulanan diselesein lebih cepat"sahut Gea.

__ADS_1


Teo hanya beroh ria lalu menyuruh istrinya untuk segera duduk di belakangnya.


Malam harinya.


Teo masih berkutat dengan ponsel dan buku serta pulpen di tangannya yang membuat Gea sangat heran.Tak biasanya suami kakunya itu bersentuhan dengan buku.


Usai menidurkan putrinya di box bayi Gea pun menghampiri suaminya dan duduk di sampingnya.


"Sibuk banget ya Kak"kata Gea.


"Engga juga sih,ada apa?"tanya Teo menghentikan aktivitasnya dan beralih menatap istrinya.


"Gapapa sih,cuma heran aja lihat Kak Teo pegang buku"tugur Gea.


Teo tersenyum mendengarnya.Maklum saja selama ini memang ia tak pernah berdekatan apalagi bersentuhan dengan benda itu.


"Aneh ya kelihatannya"


Gea hanya membalasnya dengan anggukan namun kedua matanya menatap Teo penuh keraguan dan itu dapat dilihat oleh suaminya.


"Kalau ada yang mau di omongin bilang aja,ga usah takut.Tahu sendiri kan suami kamu ini orangnya ga pekaan.Jadi kalau kamu diem aja ya aku ga bakalan ngerti maunya kamu gimana"kata Teo.


"Tapi jangan marah"kata Gea.


Melihat Gea yang masih ragu Teo pun menarik Gea untuk bersandar di bahunya.


"Kenapa?"tanyanya lagi.


"Itu Kak,Pak Zain minta aku buat gantiin posisinya dia di kantor.Tadi aku udah nolak tapi Pak Zain malah nyuruh aku ngomong sama kamu dulu siapa tahu berubah pikiran"kata Gea.


"Kenapa kamu nolak?"tanya Teo.


Gea menghela nafas pelan."Aku ga mau waktu aku tersita habis sama pekerjaan Kak.Apalagi sekarang ada Silvi.Kalau aku terima tawaran Pak Zain,waktu kerja aku juga nambah jadi lebih lama.Aku mau fokus dulu buat ngurus keluarga.Aku ga mau kehilangan banyak waktu untuk memantau perkembangan anak kita".jelas Gea.


Teo tersenyum mendengar jawaban istrinya.Ada rasa bahagia ketika Gea lebih mengutamakan keluarga daripada pekerjaan.


"Kamu ga nyesel menolak tawaran mandor kamu itu?"


Pertanyaan Teo dibalas dengan gelengan kepala oleh Gea."Aku lebih milih keluarga Kak daripada karir.Aku ga mau nanti anak aku merasa kurang perhatian dan kasih sayang"


Bukan tanpa alasan Gea berpikir seperti itu.Dirinya sendiri sudah merasakan bagaimana sepinya hidup tanpa kasih sayang dan perhatian orang tua.Dan ia ia tak mau anaknya merasakan apa yang ia rasakan.

__ADS_1


Teo menarik Gea lebih erat dalam dekapannya.


"Apapun yang menjadi keputusan kamu jika itu demi keluarga kecil kita aku akan mendukungnya.Doakan saja apa yang sedang aku usahakan berjalan dengan baik dan berhasil hingga besok kamu bisa fokus ngurus keluarga tanpa harus bekerja"kata Teo.


"Emangnya kamu usaha apa?"tanya Gea.


"Ada deh,doakan saja berhasil ya"


"Itu pasti Kak,aku selalu menyebut namamu di setiap doaku.Berjuanglah demi anak kita"kata Gea


"Bukan anak kita,tapi anak anak kita"balas Teo.


"Apa bedanya?"bingung Gea.


"Kalo anak kita itu kesannya cuma satu.Tapi kalau anak anak kita itu kesannya anak kita banyak.Dan aku maunya anak kita lebih dari satu"


Gea mendongak untuk menatap wajah suaminya yang terlihat semakin tampan dimatanya."Maunya punya anak berapa?"


"Tiga"jawab Teo seraya mengecup singkat bibir istrinya."Proses yuk"


"Hmm modus ternyata"cibir Gea.


Teo terkekeh mendengar cibiran istrinya.Kini ia malah memindahkan Gea untuk duduk di pangkuannya.


"Dosa loh nolak suami.Lagian masa nifas kamu udah lama lewat kan.Apalagi kamu juga udah pakai kontrasepsi"


"Kalau aku ga mau gimana"tantang Gea.


Teo memicing mendengar ucapan istrinya,tapi seringai juga muncul di sudut bibirnya.


"Yakin mau puasa lebih lama lagi?"tanya Teo.Tanpa aba apa ia sudah memeluk pinggang istrinya lebih erat dan tangannya merayap ke bagian atas istrinya.


"Kak.."desah Gea saat tangan suaminya meremas lembut bagian atasnya hingga menimbulkan gelenyar nikmat ditubuhnya.Memantik rasa yang sudah lama mereka tahan.


Teo membawa tangan Gea untuk melingkar di lehernya.Bahkan posisi Gea pun kini sudah berganti duduk menghadapnya.Dengan cepat ia menyambar bibir manis istrinya.Mengulumnya dengan penuh kelembutan namun semakin lama semakin menuntut.Sejenak berhenti saat keduanya kehabisan nafas dan kembali bertaut sesaat kemudian.


"Aku menginginkanmu sayang"bisik Teo saat ciuman keduanya usai.Kabut gairah sudah menguasai tubuhnya.


Gea yang sudah terbakar gairah pun hanya mengangguk sebagai jawaban atas keinginan suaminya.Hingga dengan cepat Teo kini sudah merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


Teo menatap penuh cinta pada Gea yang kini berada di bawah kungkungannya.Dikecupnya kening Gea dengan dalam.

__ADS_1


"Terimakasih untuk semua cinta dan ketulusanmu sayang"ungkap Teo mesra.


Selanjutnya ia membawa Gea untuk menikmati surga dunia.Menuntaskan gairah cinta yang sama sama bergelora ditubuhnya.Memupus segala keraguan yang mungkin bisa saja menghancurkan cinta yang mereka miliki.Hingga keduanya tidur dalam pelukan hangat setelah puas mereguk surga dunia entah untuk yang ke berapa kalinya.


__ADS_2