
Gea sudah selesai bersiap untuk berangkat kerja.Ia mendudukkan dirinya di tepian tempat tidur untuk menunggu suaminya.Teo yang masih berpakaian pun lalu menoleh saat mendengar hembusan nafas kasar keluar dari mulut istrinya.
"Kenapa?"tanyanya seraya menghampiri Gea.
Gea menatap suaminya dengan raut wajah bingung,memaksa Teo untuk duduk di sampingnya.
"Soal kerjaan aku harus gimana Kak?"tanya Gea.
"Tadi malem Reihan minta sama aku biar kamu tetep kerja"kata Teo dengan nada yang datar.
Ada nada cemburu yang berusaha ditekan,tapi Gea selalu peka.
"Aku pengen segera keluar,tapi belum ada gantinya"keluh Gea seraya menyandarkan kepalanya di bahu Teo.Tangannya bahkan sudah memeluk perut suaminya untuk mencari kenyamanan.
Teo menarik nafas yang dalam dengan perlahan.
"Apa kamu udah ga nyaman?Yakin mau resign?"tanya Teo beruntun.
"Kenapa?"Gea malah balik bertanya dengan wajah sedikit mendongak menatap suaminya.
"Aku ga mau kamu nyesel nantinya.Kamu kan suka banget sama pekerjaan kamu"kata Teo.
"Aku memang menyukainya Kak,tapi aku tak mau jalanku terhalang"kata Gea
"Terhalang apa?Apa ada yang mengganggumu lagi selain Reihan?"tanya Teo dengan raut wajah cemas.
"Tak ada.Aku tak mau jalanku terhalang kerelaanmu karena jika aku masih bekerja disana pasti kamu akan sering marah dan cemburu"tutur Gea dengan menahan senyumnya.
Teo yang gemas dengan tingkah istrinya menjawil hidungnya.
"Tau banget sih"kata Teo
"Tau lah"
"Makasih ya udah mencintai dan menerimaku dengan tulus"kata Teo.
"Maaf ditolak"balas Gea
__ADS_1
"Kok ditolak?"heran Teo.
Tanpa membalas ucapan suaminya Gea beranjak dari duduknya.Tapi Teo dengan cepat menariknya dan menahan pinggangnya dengan erat.
"Katakan padaku Gea apa yang salah padaku.Aku tak ingin kembali menyakitimu"lirih Teo dengan wajah sendu.
Gea tersenyum menatap suaminya.
"Tak ada yang salah.Tapi janganlah terlalu sering meminta maaf dan memujiku,aku tak suka itu.Kita ini dua yang sudah menjadi satu,apapun akan aku lakukan untuk kebaikan dan masa depan keluarga kecil kita"tutur Gea
"Dan aku mohon jangan melarangku,karena dengan mengingat itu aku selalu yakin ada istri cantikku yang akan selalu mendukungku.Aku tak akan menjadi seperti ini tanpa kamu.Dan itu termasuk salah satu caraku bersyukur karena memilikimu dalam hidupku"kata Teo dengan tatapan penuh cinta pada istrinya.
"Tau ah"sewot Gea.
Heiiiii
Wanita lain mungkin akan terbang melayang karena dipuji suaminya.Tapi ini Gea,bukan wanita lain.Dia justru tak senang diperlakukan seperti itu.
"Sebel ngomong sama kamu itu,di ajak ngomong apa nyambungnya apa"
"Biasanya yang ga bisa diajak romantis itu aku,kenapa kamu sekarang ketularan?"kata Teo.
"Tua apaan,anak baru satu juga masih bayi"balas Teo.Entah kenapa sekarang ia lebih suka menjahili istrinya itu.
"Satu pun status kamu udah jadi orang tua,bukan bujang lagi"balas Gea.
"Makanya..."
"Ngomong lagi aku motoran sendiri nih"ancam Gea dengan tangan bersedekap di dada.Sungguh ia kesal sekali pagi ini.
Hanya dengan satu ancaman sudah membuat Teo diam dan bergegas mengikuti ratu hatinya.Ia menstater motornya dan melajukannya menuju tempat kerja Gea.
Setibanya di depan gerbang tempat kerja Gea segera turun dan melepas helm nya lalu menyerahkannya pada Teo.
Gea mengulurkan tangannya untuk salim namun kemudian Teo enggan melepasnya.
Gea menatap suaminya dengan tatapan penuh tanya.
__ADS_1
"Aku membebaskanmu untuk memilih.Bekerja atau di rumah kamu bebas menentukannya sendiri.Jika kamu bersedia di rumah,aku akan berjuang lebih keras lagi untuk kebahagiaanmu.Dan jika kamu memilih bekerja,aku akan berusaha menekan ego dan cemburuku.Hanya ku minta berjanjilah untuk tetap bersamaku apapun keadaannya"kata Teo dengan binar mata yang sulit Gea artikan.
"Kenapa begitu?"tanya Gea
"Aku tak mau memaksakan keinginanku padamu jika pada akhirnya hanya akan menyakitimu"tutur Teo.
Gea tersenyum mendengarnya.Ia lalu mendekatkan bibirnya pada telinga suaminya.
"I will choose the best for our family"
Setelahnya sebuah kecupan mendarat di pipi Teo dan Gea pun berlalu meninggalkan suaminya tanpa menoleh lagi.
Teo tersenyum menatap punggung istrinya.Ia yakin Gea nya akan memilih yang terbaik.
...****************...
Gea meletakkan tas nya di bawah meja.Ia lalu menyiapkan peralatan kerjanya.Seperti biasanya ia akan membuat laporan harian.
Tak berapa lama Reihan masuk ke ruangan.Sepertinya ia juga baru tiba.
"Assalamualaikum"salam Reihan.
"Waalaikumsalam"jawab Gea.
"Ge,apa hari ini Pak Yuli ada rencana datang?"tanya Reihan.
Gea merasa aneh dengan pertanyaan atasannya itu.
"Ponsel saya mati sejak subuh tadi dan saya baru sempat mengecasnya"kata Reihan menjelaskan seraya menunjuk ponselnya di atas mejanya yang tersambung dengan power bank.
"Saya juga kurang tahu,nanti coba saya tanyakan"kata Gea dengan bahasa formalnya.Bagaimanapun Reihan adalah atasannya.
"Oh,oke"
Reihan berlalu keluar ruangan begitu saja melewati Gea.Ia hanya tak ingin perasaan yang sedang coba ia kendalikan kembali merambati hatinya.Hingga akhirnya ia memilih ke lapangan untuk bekerja.
Sementara Gea juga tak mau ambil pusing dengan sikap Reihan.Baginya itu tidaklah penting.
__ADS_1
Yang ada di pikirannya saat ini adalah mana pilihan yang ingin ia ambil.Tetap bekerja kah atau kembali ke rumah.
Segala baik buruknya ia pertimbangkan pada setiap pilihan.Semua bukan demi diri sendiri,tapi demi keluarga kecilnya.Dan setelah memantapkan hati,ia telah memilih satu keputusan yang menurutnya yang terbaik.Ia bahkan sudah mengirim pesan pada suaminya untuk mengatakan apa pilihannya.