Mencinta Tanpa Batas

Mencinta Tanpa Batas
Marah Lagi


__ADS_3

Teo menggulingkan tubuhnya disamping istrinya.Peluh masih bercucuran di wajah keduanya dengan nafas yang masih memburu.Teo memiringkan badannya lalu menarik Gea merapat padanya.Diusapnya peluh yang masih membasahi wajah Gea.


"Kamu kalo berantakan gini malah keliatan cantik dan seksi"tutur Teo.


Gea mencibir mendengarnya."Modus"


"Tau banget sih"balas Teo.


"Tau lah,aku tuh udah hafal banget"ketus Gea.


"Hafal sama apanya?"tanya Teo.


Gea memutar bola matanya jengah mendengar pertanyaan suaminya.


"Udah ah,kamu minggir dulu aku mau mandi"rengek Gea.


Teo melepas pelukannya hingga Gea bangun dengan tubuh polosnya.Saat ia hendak meraih bajunya yang terjatuh di samping tempat tidur tiba tiba tubuhnya terasa melayang.


"Kaakkk!!!"pekik Gea.


Teo tak mengindahkan teriakan istrinya.Ia tetap membawa Gea ke kamar mandi.Ia bahkan menyalakan water heater tanpa melepas tangannya dari pinggang Gea.Saat air mengalir dari shower ia menarik Gea hingga kembali masuk dalam dekapannya.Bahkan meski istrinya menolak ia tetap saja memaksa untuk menyabuni tubuh Gea.Benar benar terlalu manis perlakuannya kini pada istrinya.


"Kak,udah"lirih Gea saat Teo selesai menyabuni seluruh tubuhnya.


"Kenapa hmm?"sahut Teo tanpa menghentikan kegiatannya.


"Aku malu Kak"


Teo menghela nafas pelan.Ia menyudahi menyabun tubuh istrinya lalu membilasnya.Setelahnya ia menyerahkan handuk pada Gea.


"Keluarlah"kata Teo datar.


Gea menatap nanar suaminya.Ada rasa bersalah dihatinya.Ia tahu maksud suaminya,tapi sungguh ia malu diperlakukan semanis itu oleh suaminya sendiri.Ia memilih untuk menunggu suaminya selesai mandi daripada keluar lebih dulu.


"Kak"serunya saat Teo selesai mandi.


"Kenapa masih disini?"dingin Teo.

__ADS_1


Mendengar nada bicara suaminya Gea langsung menubruk suaminya.Ia menekan wajahnya pada dada suaminya.


"Maaf,jangan marah"ucap Gea seraya menatap wajah suaminya.


"Siapa yang marah?"


"Kak Teo"


"Siapa yang bilang?"


"Kakak emang ga bilang,tapi wajah Kakak menunjukkan kalo kakak marah.Aku tau kak,aku sudah hafal"


"Kalau kamu hafal,kenapa kamu juga ga tau apa mauku?"cecar Teo.


Gea menatap suaminya dengan mata yang berkaca kaca.Hanya hal sepele,tapi itu membuat suaminya berfikir lain.


"Maaf Kak.Tapi aku malu.Aku juga ga enak,seharusnya tugasku melayani suami bukan suami yang melayaniku"tutur Gea.


Teo menghela nafas pelan.Ternyata disaat ia ingin membahagiakan istrinya dengan hal romantis,masih ada kata tabu untuk melakukannya.


"Ya sudah,ayo keluar.Keburu dingin"kata Teo.


"Kamu tak mau aku manjakan,maka manjakanlah aku jika tak ingin aku marah"kata Teo seraya berlalu.


Gea hanya tertegun karenanya."Apa artinya?"batinnya.Sungguh aneh suaminya hari ini.


Sekeluarnya dari kamar mandi Gea mendapati suaminya sudah rapi dan berlalu dari kamar begitu saja.Ia pun menghela nafas pelan.Percayalah,menghadapi orang yang introvert itu jauh lebih menguras perasaan daripada menonton sinetron di stasiun tv ikan terbang.


Usai berganti pakaian Gea keluar kamar untuk menyiapkan makan malam.Dan ia melihat suaminya sudah menimang putrinya di ruang tamu.


Gea memasak dalam diam.Pikirannya entah kemana.Seolah ia hanya berdiri di dapur tanpa nyawa.


Ceklek.


Gea tersentak saat Teo mematikan kompor di depannya.


"Kamu masak sambil melamun?"tanya Teo.

__ADS_1


Gea yang masih blank tak menyahut.Namun matanya membulat saat ia melihat tempe yang ia goreng sudah menghitam separuhnya dan wajannya penuh dengan asap.


Teo menarik tangan Gea dan membawanya duduk.Ia lalu menyerahkan putrinya ke dalam gendongan Gea.


Kini Teo mengambil alih peran memasak.Ia membuang tempe yang gosong dan memisahkan minyaknya lalu menggantinya dengan yang baru.Tangannya begitu terampil beradu dengan alat masak seolah itu bukan mainan baru baginya.


Tak butuh waktu lama,sajian makan malam telah siap di meja makan.Teo mengambil nasi beserta sayur dan lauknya.Ia duduk di depan istrinya lalu menyodorkan sesendok penuh nasi ke mulut Gea.


Gea yang tengah menimang Silvi menatap suaminya.Saat ia menganggukkan kepalanya ia membuka mulut menerima suapan dari Teo.Suapan demi suapan ia terima hingga piringnya tak lagi berisi.


Teo beranjak untuk menyimpan piring kotor namun tangan Gea menahannya.


"Kak Teo makan sekalian aja"pinta Gea.


Teo pun kembali duduk.


"Biar aku sendiri,kamu duduk aja gendong adek"kata Teo saat Gea hendak mengambilkannya nasi.


Gea menatap suaminya yang makan dengan diam.Sudut hatinya merasa kerdil karena ia belum mampu menjadi seperti yang suaminya inginkan.


"Kak,maafkan aku"kata Gea saat ia tak mampu lagi menahan gejolak perasaaanya.


"Maaf buat apa?"tanya Teo disela sela makannya.


"Maaf aku belum bisa jadi istri yang baik"


"Memangnya kenapa?"


"Aku tak bisa menjadi apa yang Kak Teo inginkan.Tapi aku tersiksa kalo Kak Teo diemin aku kaya gini"lirih Gea.Ia bahkan tak berani menatap suaminya.


Teo tak menjawab ucapan istrinya.Ia justru tetap melanjutkan makannya dengan tenang.Namun sikap tenangnya justru membuat Gea menitikkan airmata.


Teo mengangkat dagu Gea dan menghapus airmata di pipi Gea.


"Kamu tahu,aku paling benci melihat wanitaku ini menangis apalagi itu karena aku.Aku merasa akulah lelaki paling buruk di dunia ini"kata Teo.


"Jangan selalu mengartikan diamku adalah marahku.Aku diam karena aku juga berfikir gimana caranya membuat wanitaku ini bahagia dengan cara lain karena cara yang kuberikan tak sesuai dengan rasamu.Maaf juga kalau aku berlebihan"lanjutnya.

__ADS_1


"Kak Teo itu pria terbaik bagiku.Jangan lagi merasa rendah diri Kak.Aku bahagia dengan semua yang Kakak berikan padaku"kata Gea.


Yeo tersenyum mendengarnya.Ia akui,ucapan Gea seolah memberinya kekuatan tersendiri.Ia merasa dibutuhkan dan dihargai sebagai laki laki juga sebagai suami.Demi apapun,ia tak akan membiarkan ada hama pengganggu dalam rumah tangganya.


__ADS_2