
Gea membawa putrinya untuk berjemur di depan rumah.Masa cutinya masih satu bulan lagi hingga ia masih bersantai sejenak menikmati kebersamaan dengan putrinya.Jika masa cutinya habis,maka ia harus mencari pengasuh untuk anaknya.Otomatis waktu bersama anaknya pun pasti hanya dari sore hingga pagi.Ia akan banyak kehilangan moment perkembangan anaknya nanti.
"Wah,dedek cantik udah berjemur aja"seru mba Santi yang akan mengantar anaknya sekolah.
"Iya budhe"sahut Gea."Mau nganter mba?"
"Iya nih,yang antar jemput libur lagi sakit katanya"jawab Mba Santi.
"Owh,hati hati mba"
Mba Santi hanya melambaikan tangan sebagai jawaban karena motornya sudah melaju.
Puas berjemur Gea membawa putrinya masuk ke rumah.Tapi ia bingung dirumah mau ngapain.Semua pekerjaan rumah sudah diselesaikan suaminya.Sementara putrinya sudah tertidur lelap.
Akhirnya ia memutuskan untuk menonton televisi saja dengan Silvi yang ia tidurkan disampingnya.Tapi belum lama ia menonton televisi,kini berganti televisi yang menontonnya.Semalam ia memang kurang tidur hingga kini menjadi ***** alias nempel langsung molor.
...****************...
Teo baru saja pulang kerja.Begitu sampai depan rumah ia langsung memarkir motornya di samping motor Gea.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Senyum di bibirnya langsung mengembang begitu mendengar suara istrinya.
Dengan segera ia masuk ke kamar dan langsung membersihkan diri.
"Hmm,anak ayah sudah wangi ya"katanya setelah selesai mandi dan menghampiri putrinya.Ia menciumi pipi putrinya berulangkali.
"Bundanya juga tambah cantik"katanya lagi.Tak lupa ia juga memberikan sebuah kecupan di pipi istrinya.Inginnya ia mengecup bibir istrinya,tapi ia ingat kondisi emosi Gea yang sedang tidak baik baik saja.
"Boleh aku gendong?"tanyanya pada Gea.
Aneh menurut Gea,mau menggendong anaknya saja harus tanya dulu?.Tanpa jawaban Gea memindahkan putrinya kedalam gendongan ayahnya.
Dapat Gea melihatnya wajah Teo yang berbinar saat memeluk putrinya.Ada cinta yang begitu tulus.
__ADS_1
"Anak ayah ga rewel kan tadi,jadi anak pinter kan sama bunda.Doain ayah ya biar ayah jadi imam yang baik buat kalian"katanya.Ia bicara pada anaknya tapi ia juga ingin menunjukkan pada istrinya apa keinginannya.
Setelah puas menimang putrinya Teo menidurkannya di box bayi.Ia berlalu keluar kamar tapi panggilan Gea menahannya.Ia berbalik dan menghampiri kesayangannya itu.
"Kenapa?"tanyanya.
"Ini"kata Gea seraya mengangsurkan ponselnya."Ada pesan untuk kakak"
"Siapa?"tanyanya.
"Baca aja sendiri"ketus Gea.
Bukannya menerima ponselnya Teo malah menarik tangan istrinya hingga terjatuh dalam pelukannya.Lalu memutarnya hingga ia memeluk istrinya dari belakang.
"Dari siapa?"tanyanya begitu lembut di telinga Gea.Ia paham ada yang mengusik suasana hati istrinya.Terlihat jelas dari raut wajahnya yang teramat kesal.
Tak ada jawaban dari istrinya membuat Teo mengambil tangan Gea yang masih memegang ponselnya.Tapi ia tak membiarkan Gea menarik tangannya hingga ia membuka ponselnya bersama dengan tangan istrinya.
Kini Teo paham apa yang membuat istrinya memendam rasa kesal.Ia mengambil ponselnya dari tangan Gea dan melemparnya begitu saja.Kini tangannya menggenggam jemari istrinya dengan satu tangannya masih memeluk perut Gea.
"Jika itu yang membuatmu marah dan kecewa padaku,maka kali ini tolong dengarkan aku baik baik.Aku tahu aku pernah berbuat salah dengan menduakanmu.Aku akui itu.Aku memang masih menyimpan rasa untuk dia di awal pernikahan kita.Tapi itu dulu,saat aku menjadi manusia yang benar benar bodoh telah melukaimu".
"Tapi kini semua itu sudah berlalu.Bagiku dia hanya masa lalu.Cerita lama yang harusnya dari dulu aku tinggalkan.Sekarang aku hanya ingin mencintaimu,menjadikan kamu satu satunya penghuni abadi di hatiku.Maaf kalau semua ini terasa terlambat bagimu tapi aku juga baru menyadari kalau aku jatuh cinta padamu setelah Anton menghajarku.Dia telah menyadarkanku bahwa sekarang kamulah pemilik hatiku"
"Aku tak ingin yang lain lagi.Aku hanya ingin mengukir cerita indah bersamamu.Menua bersamamu ditemani anak anak kita nanti.Aku tak akan memaksamu untuk percaya padaku.Semua ini pastinya juga tak mudah bagimu memaafkanku.Aku akan menunggumu dan aku tak akan pernah pergi darimu.Kita sudah berjanji untuk saling menguatkan kan?Untuk tidak pergi satu sama lain bukan?"
Sekali lagi Teo mengambil nafas panjangnya.
"Aku akan bertahan apapun keadaannya bersamamu.Seperti kamu yang dulu yakin bahwa aku bisa mencintaimu.Bersama dengan kesabaran,doa dan cinta tulusmu maka seperti itu juga aku akan menunggumu memaafkanku.Aku juga yakin kamu masih mencintaiku.Jika pada akhirnya memang takdir berkata lain aku tak lagi peduli.Yang terpenting aku sudah berusaha untuk melakukan yang terbaik demi dirimu dan putri kita"
Teo diam setelahnya.Kini ia hanya ingin menikmati memeluk istrinya.Setelah merasa cukup ia melepas pelukannya setelah sebelumnya mencium kembali pipi istrinya.
"Bagaimana jika aku yang ingin melepasmu Kak?"
Pertanyaan Gea kembali menahannya.Kali ini dengan membawa kepedihan dihatinya.Ia menatap mata istrinya yang juga menatapnya.
Ia memejamkan matanya sejenak sebelum kembali mengeluarkan suara.
__ADS_1
"Jika itu membuatmu bahagia aku akan menerimanya meskipun aku tak pernah rela melepasmu.Tapi tolong biarkan aku melewati satu bulan kesepakatan kita dengan segenap cinta yang kumiliki.Setelahnya aku akan terima apapun dan bagaimanapun keputusanmu"
Perih.Teo berlalu dengan kepiluan yang menusuk dihati.Sakit,Bagitu sakit yang ia rasa.Apa ini juga yang Gea rasakan saat dirinya mengabaikannya dulu?.
Meski rasa sakit melukai hatinya,Teo tetap memikirkan istrinya.Perasaannya yang campur aduk membuatnya tak berniat untuk memasak.Ia malah mengeluarkan motornya dan membeli makan malam untuk istrinya.Tak lupa juga beberapa cemilan dan beberapa buah buahan.
Setibanya dirumah Teo tak langsung ke kamar.Ia menyimpan camilan dan buah yang ia beli di kulkas.Hanya beberapa saja yang ia bawa ke kamar bersama dengan makan malam untuk Gea.
Di kamar ia melihat Gea sudah tertidur dengan sudut mata yang masih basah.
Teo menarik nafas kasar.Sebegitu dalamkah ia telah menyakiti istrinya sendiri?.
Ia duduk di tepi tempat tidur dan membangunkan Gea.
"Ge,bangun"
Perlahan Gea membuka matanya dan menemukan suaminya sudah di hadapannya lagi.
"Makan dulu ya"kata Teo yang hanya dibalas dengan gelengan kepala.
"Sedih boleh tapi inget kamu masih menyusui.Silvi juga makannya masih dari kamu.Kalau kamu ga mau makan gimana sama Silvi.Kasihan kan kalau anak kita juga kelaparan nantinya"bujuk Teo.
Meski tak ada jawaban Teo tetap membuka makanan yang ia beli untuk Gea.
"Maaf ya kalau makanannya ga enak"kata Teo.Ia memang hanya membeli ayam bakar untuk istrinya.
Satu detik...Satu menit...
Gea tak jua mau makan membuat Teo geregetan karenanya.Kini ia telah mengambil makanan Gea.Dengan tangan yang telah ia cuci sebelumnya ia memaksa Gea untuk makan hingga mau tak mau Gea membuka mulutnya menerima suapan dari suaminya.
"Istri pintar"puji Teo saat makanan Gea telah tandas.Bagaimanapun caranya ia harus bisa mengembalikan suasana hati istrinya.
Teo menyuruh istrinya istirahat setelah makan.Baru saja ia ingin beranjak Gea sudah menahan tangannya.
"Jangan pergi"
Meski lirih Teo masih bisa mendengar ucapan istrinya.Dan ia tersenyum mendengarnya.Ia kembali duduk di sisi istrinya.Kedua tangannya terbuka menyambut Gea yang masuk dalam pelukan hangatnya.
__ADS_1
Teo bahagia.Setidaknya malam ini ia bisa tidur dengan memeluk istrinya