
Usai pemakaman nenek rumah Gea kembali sepi.Hanya beberapa orang saja yang masih tinggal.Gea duduk dilantai.Kursi kursi masih tertata di teras karena nanti malam hingga 7 hari ke depan masih ada acara pengajian.
Gea menatap sekeliling rumahnya.Bayangan kejadian demi kejadian yang ia lewati bersama sang nenek kembali melintas.
"Sekarang Gea sendiri disini nek.Semoga nenek tenang disana.Meski berat Gea akan mencoba kuat seperti yang nenek ajarkan.Terimakasih nek untuk penjagaan nenek pada Gea.Semoga surga menjadi tempat kembali nenek"batinnya.
Airmata kembali menetes tapi Gea segera menyekanya.Ia tak ingin terlihat rapuh dengan kepergian nenek.Bukankah selama ini Nenek mengajarkannya untuk tetap kuat meski badai kehidupan menerpa?Lalu untuk apa berlama lama menangisi kepergian nenek?Bukankah esok ia sendiri juga akan menyusul neneknya?.
Menangis karena kehilangan itu wajar karena bagaimanapun Gea juga hanya manusia biasa.Tapi bukankah menangisi kematian seseorang dengan berlebihan itu dilarang?Bukankah sejatinya kita berpisah hanya untuk kembali bersama lagi di alam yang berbeda nantinya
"Jadilah wanita yang kuat.Sepelik dan sesakit apapun jalan yang kita hadapi.Kita memang hanya manusia lemah,tapi kita masih punya Allah yang akan menguatkan kita.Tiada yang bisa melakukannya selain Allah Yang Maha Kuat"
Sepenggal wejangan nenek masih terekam jelas dalam memori ingatan Gea.Kalimat itu mengalir dari mulut sang nenek ketika Gea terpukul dengan perceraian dan kepergian orang tuanya.Dan nyatanya kalimat itu mampu membangkitkan kembali semangatnya untuk tetap bertahan.Bahkan hingga kini ia masih tetap bertahan.
"Gea,semua perkakas yang tadi dipakai sudah dibereskan semuanya.Hanya bagian kamar Mbah Uti saja yang belum karena ga berani mengusiknya"kata Mba Santi tetangga sebelah yang seketika membuyarkan lamunan Gea.Ia memang terbiasa memanggil nenek dengan sebutan Mbah Uti.
"Iya bulek gapapa,nanti biar aku yang beresin"balas Gea."Makasih ya udah mau direpotin"
"Ga repot kok,kita kan memang harus saling bantu"katanya tulus."Kalo gitu bulek pulang dulu ya.Urusan lainnya udah diberesin sama suami kamu"
"Iya bulek,makasih"
Sepeninggal Bulek Santi Teo masuk dan duduk disamping Gea.
"Udah makan belum?"tanya Teo.
Helaan nafas terdengar dari mulut Teo saat Gea hanya menggeleng."Makan ya"bujuknya.
"Aku ga pengen Kak"
"Iya kamu ga pengen,tapi anak kita juga butuh asupan.Kamu ga lupa itu kan?"kata Teo lembut.Bagaimanapun ia harus bisa membujuk istrinya.
"Maaf Kak"
Teo tersenyum mendengarnya."Mau makan apa?"
"Bakso aja Kak,nunggu mamang yang biasanya mangkal depan rumah itu aja"kata Gea.
"Okeh,mau mandi lagi?"tawar Teo.
__ADS_1
Teo mengulurkan tangannya menuntun Gea untuk bangun saat Gea menganggukkan kepalanya.Ditemaninya Gea menuju kamar mandi.Bagaimanapun kondisi Gea masih lemah dan ia tak mau terjadi apa apa pada Gea.
Tak lupa ia menyiapkan pakaian ganti untuk Gea.
Sambil menunggu Gea,iapun duduk di pinggiran tempat tidur.
Gea nya kini tak punya keluarga lagi selain dirinya.Di rumah ini hanya tinggal ia dan Gea.Di rumah ini pula ia pernah berjanji pada sang nenek untuk menjaga cucu kesayangannya itu.
"Tolong jaga Gea untuk Nenek.Gea itu sebenarnya rapuh,tapi ia tak mau terlihat lemah dihadapan orang lain.Tolong jangan sakiti cucu nenek.Dia bahkan memendam kesedihannya sendiri selama ini.Nenek mohon,jika memang sudah tak menginginkan Gea lagi tolong bicara baik baik,jangan lagi memberinya luka yang lebih dalam"
Hari ini tepat seminggu setelah Nenek memintanya untuk menjaga Gea.Mungkin Nenek sudah punya firasat kalau umurnya tak lama lagi.Dan Teo sudah berjanji akan menjaga Gea.
Ada rasa bersalah yang menjalar dihati Teo.Bagaimana tidak?.Nenek menjaga dan melindungi Gea dari segala hal buruk yang akan menimpanya.Mengobati segala sedih hati yang menimpanya.Tapi dirinya justru memberi luka dan kesedihan yang lebih dalam pada Gea.
Teo mendesah mengusir kegundahan hatinya.
"Kenapa aku slalu terombang ambing dalam rasa yang tak pasti.Bagaimana aku bisa lepas dari semua ini?"lirihnya.
Gea yang berdiri di depan kamar mandi hanya memandang suaminya dengan bingung.Wajah Teo seakan menyiratkan kalau ada beban yang mengusiknya.Tapi kenapa suaminya itu tak pernah mau berbagi padanya?Apakah ia memang masih menjadi orang asing bagi suaminya?
Gea berusaha untuk biasa saja dengan apa yang ada di hadapannya.Nerpura pura tak tau dengan keadaan suaminya.
"Biar aku aja,kamu diam disini"tegas Teo."Ga inget apa perut gede gitu masih aja mau lari"
"Gede gini juga karena kamu"
Teo memicing mendengar nada ucapan Gea yang sarkas.Ada apa dengan Gea?pikirnya.
Lima belas menit menunggu Teo datang dengan sekantong kresek bakso.Setelah menyiapkannya iapun memanggil Gea.
Merasa tak ada jawaban dari istrinya ia menyusul Gea dikamar dan mendapatinya tertidur di ranjang.
"Ge,bangun ayo makan dulu"
Merasa ada yang mengusik Gea pun membuka matanya.
"Males banget Kak mau bangun,lemes rasanya"kata Gea.
"Mau makan disini?"tawar Teo,tapi Gea menggeleng
__ADS_1
Melihat istrinya yang kesusahan untuk bangun Teo mendekat dan langsung menggendongnya.
"Iih,Kak bikin kaget aja sih"sungut Gea.
"Maaf,katanya kalo gini romantis kaya yang sering kamu baca di dunia halu itu"kata Teo.
Teo mendudukkan Gea di kursi lalu menyodorkan semangkok bakso yang sudah ia siapkan.
"Jangan banyak banyak Gea"katanya Teo saat melihat istrinya menuangkan sambal.
"Ga pedes ga enak Kak"
"Ga kasian sama dedek?"
"Udah biasa kayanya.Bapaknya aja yang ga tau kalo anaknya doyan pedes"
Cep!!!
Terdiam seketika.Tanpa ada jawaban lagi.
Mau marah pun tak guna karena perkataan Gea benar adanya.Ia terlalu sibuk dengan dunianya sendiri hingga lupa kalau Gea butuh perhatiannya.
"Kakak ga makan?"tanya Gea.
Teo tersenyum."Liat kamu makan udah kenyang"
Gea mencibir."Bagus dong.Bisa irit uang belanja"
Mulutnya berucap tapi badannya beranjak mengambil mangkok.Dituangkannya sebungkus bakso lalu disodorkannya ke hadapan Teo.Tentunya sudah lengkap dengan sendok garpunya.
"Makan Kak,ntar kurusan dikira ga aku urusin disini".
"Kamu galak ya sekarang"kata Teo.
"Aku galak aja masih ada yang berani lirik lirik"sarkasnya.
Teo menghela nafas berat.Tapi ia berusaha sabar menghadapinya.
Suasana hati Gea yang masih buruk mungkin jadi pemicunya.Istrinya sedang berusaha membentengi dirinya dari segala kemungkinan yang menyakitkan.
__ADS_1
Kehilangan nenek memang membuat Gea berfikir kalau ia akan sendirian menghadapi segalanya.Meskipun ada suaminya,tapi ia merasa Teo belum sepenuhnya menjalani kehidupan bersamanya.Firasatnya sebagai seorang istri mengatakan kalau sebagian hati Teo masih belum tersentuh olehnya.Bahkan mungkin tak akan bisa ia sentuh karena Teo masih terpenjara dengan kenangannya.Kenangan yang seharusnya tak ia hadirkan untuk Gea