
Teo sampai di rumah saat jam di ponselnya menunjukkan angka 03.45.Ia mengetuk pintu rumah namun tak jua kunjung terbuka.Saat mengintip ke dalam melalui jendela ia hanya melihat suasana temaram.Hatinya seketika merasa kalut.Ia lalu membuka pot bunga dimana Gea biasa menaruh kunci jika akan pergi dan ternyata ia menemukannya.Itu artinya pintu terkunci dari luar Benarkah Gea tak ada di rumah?.
Dadanya bergemuruh hebat saat ia masuk ke dalam rumah dan mendapati rumah dalam keadaan gelap dan sunyi.Seketika itu juga ia langsung berlari ke arah kamar dan menyalakan lampunya.Dan tubuh Teo meluruh ke lantai saat ia tak menemukan istri dan anaknya di dalam kamar.
"Kenapa kamu pergi Gea?Tak bisakah memberiku waktu sebentar saja?"lirihnya.
Namun nasi telah menjadi bubur.Gea pergi meninggalkan rumah entah kemana.Bahkan mungkin ia juga mengajak anaknya.Membawa segenap luka dan kecewa.Bukan tidak mungkin juga Gea tak akan mau memaafkan dirinya lagi setelah apa yang telah ia perbuat selama ini.
"Aku yang salah Gea,aku yang bodoh.Begitu mudahnya aku percaya dengan foto murahan itu hingga aku kembali menyakitimu.Tapi salahkah aku bila aku terlalu cemburu?Aku yang lemah ini terlalu takut kehilanganmu Gea.Tapi kini aku benar benar kehilanganmu"lirih Teo yang tergugu dalam duduknya.
"Aku harus mencari Gea"tekad Teo.
Teo masih menimang kemana ia akan mencari Gea hingga tanpa terasa waktu sudah kembali subuh.Dengan lunglai ia bangkit dan membersihkan diri ke kamar mandi.Setelahnya ia menunaikan sholat subuh.Dan baru kali ini ia merasa khusyu dalam ibadahnya.Ia memohon ampunan dan petunjuk agar bisa kembali bertemu dan bersama Gea.Benar kata orang,seseorang itu terasa berharga saat kita sudah kehilangannya.
Usai sholat subuh Teo berbaring sejenak di tempat tidur.Tangan kanannya meraih ponsel yang tadi sempat ia lempar ke ranjangnya.
"Bismillah,semoga ada petunjuk buatku menemukanmu Gea"lirihnya.Di pencetnya nomer istrinya dengan harapan Gea sudah bangun dan mengangkatnya karena saat subuh begini biasanya Silvi sudah bangun.
Dering pertama tak di angkat hingga pada dering ke empat barulah panggilan terjawab.
"Halo Assalamualaikum"
Airmata Teo runtuh seketika itu juga mendengar suara wanitanya,wanita yang telah ia sakiti hatinya berulang ulang kali.
"Waalaikumsalam,Gea kamu dimana?"tanya Teo dengan terbata.
"Kenapa"
"Maafkan aku Gea,maafkan aku yang tak percaya padamu.Tolong pulanglah"pinta Teo.
"Aku tak bisa Kak"
"Kenapa?Ini rumahmu Gea,jika ada yang harus pergi itu aku,bukan kamu"kata Teo.
"Aku tak bisa kembali ke tempat dimana aku tak dipercayai"
__ADS_1
Teo menghempaskan nafasnya dengan kasar.Hatinya menjadi semakin kalut dengan ucapan Gea.
"Dimana kamu sekarang Ge?.Jika kamu tak ingin kembali,tolong beri aku satu kesempatan saja untuk bertemu denganmu,dengan anak kita.Aku janji,setelahnya aku tak akan mengusik apapun keputusanmu"bujuk Teo.
"Apa kau yakin?"
"Setidaknya aku berusaha untuk tidak kehilangan kamu"lirih Teo.
Hening.Baik Gea maupun Teo masih saja terdiam hingga suara tangis Silvi terdengar di telinga Teo.
"Adek nangis Ge"kata Teo.
"Iya,aku matiin dulu ya telponnya"
"Tunggu Ge,kamu dimana?"tanya Teo.
"Temui aku jam sepuluh nanti di rumah Isna"
Tanpa pamit Gea mematikan sambungan telpon begitu saja.Belum puas sebenarnya bagi Teo namun ia cukup bahagia istrinya masih memberitahu dimana keberadaannya.
...****************...
Hatinya begitu merindu pada gadis kesayangannya itu.
Gadis sederhana yang mampu meruntuhkan dunianya.
Menyadarkannya akan tujuan hidupnya.
Dan menerimanya dengan segenap kekurangannya.
Hingga tepat pukul sepuluh kurang lima menit Teo sudah sampai di depan rumah Isna.Dengan ragu ia melangkah maju.Ia masih ingat bagaimana sahabat istrinya itu menghajarnya dulu saat ia menyakiti Gea.Bukan tidak mungkin sekarang Isna melakukan hal yang sama jika tahu tentang permasalahan yang terjadi antara ia dan istrinya.Bagi Isna,Gea itu lebih dari sekedar sahabat.
Setelah memantapkan diri Teo mengetuk pintu rumah Teo.Apapun nanti yang terjadi ia tak akan mundur sedikitpun.
Sesosok wajah yang ia rindukan akhirnya muncul dari balik pintu.
__ADS_1
"Assalamualaikum"kata Teo tanpa mengalihkan tatapan matanya dari wajah Gea.
"Waalaikumsalam,masuk Kak"kata Gea seraya memberi jalan pada suaminya.
Setelah masuk Teo menunggu Gea yang masih menutup pintu.
"Ayo Kak'
Tepat saat Gea ada di depannya Teo menariknya begitu saja dalam pelukannya.Didekapnya gadis kesayangannya itu dengan begitu erat seolah tak ingin kehilangan lagi.
"Maafkan aku Ge"lirih Teo.Dikecupnya kepala Gea berulangkali.
"Kita bicara di dalam Kak"kata Gea setelah Teo melepas pelukannya membuat Teo pun mengekor di belakang Gea.
Gea membawa Teo ke sebuah kamar dimana Silvi sedang tidur disana.
"Ge,apa Isna ga marah kita ke kamar?"tanya Teo.
"Aku udah ijin sama Isna"jawab Gea.
Teo hanya mengangguk lalu kembali mengikuti Gea yang kini duduk di tepi tempat tidur.Ia lalu berjongkok di depan Gea dan meraih kedua tangan Gea dalam genggamannya.
"Ge,maafin aku"kata Teo dengan menatap mata Gea dalam dalam.
"Maaf untuk apa?"tanya Gea.Wajahnya yang datar menyiratkan kekecewaan yang dalam.
"Untuk semua egoisku,bodohku dan cemburuku.Aku sadar aku salah.Harusnya aku lebih percaya kamu daripada jebakan murahan itu"
"Tapi nyatanya kamu lebih percaya pada selain aku"kata Gea.
"Maaf.Aku tau aku salah.Jika tak ada lagi maaf dan kesempatan bagiku aku terima.Aku sadar terlalu banyak aku menyakitimu.Tapi kumohon pulanglah ke rumah.Itu rumah kamu,yang harusnya pergi itu aku bukan kamu.Pulanglah,biar aku yang pergi"kata Teo dengan mata yang sudah berkaca kaca.
"Jadi kamu lebih memilih pergi dan meninggalkan aku?"tanya Gea.
Teo menatap mata Gea.Ia lalu menangkup wajah Gea dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Lihat aku Ge,lihatlah cintaku yang terlalu besar untukmu.Aku tak akan pernah meninggalkanmu kecuali kamu yang memintanya.Aku sadar aku banyak salah padamu.Meski tak ingin pergi aku akan terima apapun keputusanmu.Yang perlu kamu tahu,aku tak akan pernah berhenti mencintaimu"kata Teo.
Dengan hati yang bergetar Teo mendekatkan wajahnya pada Gea."Rasakan Gea,betapa aku mencintaimu"lirihnya.Ia lalu mencium bibir Gea dengan penuh kelembutan tanpa ada nafsu yang menyertainya.Ia hanya ingin menunjukkan betapa berharganya Gea baginya.