Mencinta Tanpa Batas

Mencinta Tanpa Batas
Keributan Kecil


__ADS_3

"Ge,nanti ada acara ga?"tanya Teo pada Gea yang sedang mendandani putri mereka.


"Nanti malem?"tanya Ge memastikan yang dibalas anggukan oleh Teo


"Ga ada Kak,emang kenapa?"


"Kulineran mau ga?"ajak Teo


Gea terdiam seakan menimang ajakan suaminya.


"Besok aja gimana Kak,males aku masih capek"


"Perasaan ga kerja berat deh,kok capek.Kamu sakit?"cemas Teo..


Gea mencibir suaminya.


"Iya ga kerja berat,cuma nambah sampe dua ronde sampe badan aku remuk rasanya"ketus Gea.


Teo terkekeh mendengarnya.Ternyata Gea capek karena ulahnya tadi yang meminta jatah hingga nambah.Tak tahu waktu pula.Katanya mumpung adek sama Mba Santi.


"Sesekali sayang main siang"


Ucapan Teo membuat Gea mendengus sebal.


"Sesekalinya keseringan"gerutu Gea.


"Gapapa,biar cepet jadi harus sering usahanya"


Ucapan Teo barusan membuat Gea melotot seketika dan langsung memukul bahu Teo.


"Enak aja,ga bakalan jadi dulu"sewot Gea.


"Gapapa ya dek,biar kamu ada temennya ya"


Bukannya berhenti Teo justru semakin usil menggoda istrinya.


"Jangan dengerin ayah ya dek,stres ayah kamu"kata Gea yang langsung menggendong putrinya.


"Mau kemana sih"kata Teo yang menahan Gea agar tak beranjak pergi.


"Ngungsi,disini deketan kamu ikutan stres ntar aku"


"Canda sayang,jangan marah.Sini duduk lagi"bujuk Teo.


"Ogah,mending ngadem"sahut Gea

__ADS_1


Melihat Gea yang ingin masuk kamar Teo justru menyeringai jahil.


"Masuk kamar berarti nambah satu ronde lagi"seru Teo setengah mengancam.


Gea pun otomatis menghentikan langkahnya dengan bibir yang menggerutu.Ingin tetap melangkah tapi ia tahu suaminya itu tak pernah main main untuk urusan begituan.Akhirnya ia pun berbalik dan kembali duduk di samping suaminya dwngan wajah keruh yang ditekuk.Ingin rasanya Gea berteriak dan menggetok kepala suaminya itu.


Teo pun juga diam.Dia hanya asyik menatap wajah istrinya yang masih cemberut dan tak mau menatap padanya.Sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk senyuman yang begitu tipis.


"Semoga esok wajah ini hanya akan melukiskan kebahagiaan"kata Teo tanpa mengalihkan pandangannya.


Gea menatap sekilas pada suaminya lalu kembali memalingkan wajahnya.


"Keluar yuk"ajak Teo.


"Malem malem gini ngajak keluar,ga kasian sama adek"ketus Gea.


Teo menghela nafas dalam dalam.Sungguh susah membujuk istrinya itu.


"Ya udah kalo ga mau"kata Teo pelan namun tersirat kekecewaan.


Teo mengambil ponselnya lalu mengirim pesan pada seseorang.Setelahnya ia meraih putrinya dan beranjak meninggalkan istrinya tanpa sepatah kata yang keluar dari bibirnya.


Kini justru Gea yang melongo dengan sikap suaminya.


Gea menyusul suaminya yang masuk ke kamar.Disana ia melihat Teo tengah menggelitiki putrinya hingga tertawa menggemaskan.


"Katanya ga boleh pergi,kok ninggalin"kata Gea.


Namun Teo mengabaikannya membuat Gea menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Kamu marah sama aku?"tanya Gea dengan ketusnya.Lama lama kesel juga dicuekin.


"Marah kenapa?"tanya Teo balik.


"Ga marah tapi diem muka kusem"sengit Gea.


Sementara Teo hanya tersenyum getir,namun ia mencoba menyembunyikannya dengan menggoda putrinya.


Tak lama kemudian ponsel Teo berdering.Mata Gea melirik dan melihat panggilan masuk dari Adi.


"Halo"kata Teo setelah menekan tombol di ponselnya.


"...."


"Batalin aja,ga jadi acaranya"kata Teo.

__ADS_1


"...."


"Aku ga jadi keluar,kamu atur aja gimana baiknya.Bagiin aja biar ga mubazir,sayang kan kalo di buang gitu aja"


"....."


"Gapapa bro,tenang aja.Lagian ini semua diluar dugaan kan.Ga usah sungkan,aku yang harusnya minta maaf udah banyak ngrepotin kalian" kata Teo.


"...."


"Oke,makasih banyak ya.Sori selalu ngerepotin kalian".


Teo mengakhiri panggilannya.Ia lalu mengutak atik ponselnya sesaat lalu meletakkannya lagi di tempat semula.


Sebuah notif masuk dan Gea bisa dengan jelas melihatnya.Dari mobile banking dan itu mengundang kecurigaannya.


Tak lama pesan dari Adi juga masuk.


"Wanita itu udah nungguin dari tadi,gimana?"


Semakin mengundang kecurigaan Gea saja.


Teo mengambil ponselnya lalu membalas chat dari Adi.Ia masih saja mendiamkan istrinya membuat istrinya mulai dilanda ketakutan dan berfikir yang tidak tidak.


Ketakutan yang menghantui Gea membuatnya beringsut lalu mengambil paksa putrinya dari hadapan Teo.Wajahnya berubah mendung dan matanya berkaca kaca.Sekali kedipan sudah pasti airmata luruh di wajahnya.


"Mau kemana?"tanya Teo saat Gea hendak meninggalkannya.


"Pergilah Kak,bukankah seseorang sudah menunggumu?"kata Gea sendu.


Teo berdwcak kesal lalu menghampiri Gea dan berdiri tepat di hadapannya.


"Sebegitu burukkah aku dimatamu?"tanya Teo


Gea hanya menunduk tapi airmata sudah membasahi pipinya.


Teo menghembuskan nafas perlahan.Ia mengangkat wajah Gea agar menatapnya.Diusapnya airmata istrinya dengan lembut.


"Aku tahu masa laluku begitu buruk.Tapi aku tak pernah ingin kembali menyakiti wanita kesayanganku.Jika mata dan telingamu melihat dan mendengar sesuatu yang belum jelas,janga. Mengambil kesimpulan sendiri.Kamu masih punya mulut untuk bertanya agar otak cantikmu ini tak selalu berfikir buruk tentangku.Jangan selalu nething padaku,aku juga hanya manusia biasa yang juga punya rasa marah dan kecewa"


Meski dengan nada lembut,namun ucapan Teo mampu menyentil hati Gea.Airmatanya kembali mengalir begitu saja.


Dan melihat itu,Teo berbalik dan keluar kamar.Sementara Gea masih terdiam tanpa kata.


Teo kembali ke ruang tengah dan menyalakan tv.Ia butuh ketenangan agar tak terpancing amarah meski sebenarnya ia kecewa pada sang istri yang ternyata masih terluka dengan masa lalunya.Sungguh ia tak ingin lagi ada keributan antara ia dan istrinya meskipun itu hal yang lumrah terjadi pada pasangan suami istri.

__ADS_1


__ADS_2