
Hari ini Gea bangun kesiangan setelah semalam ia hampir tak tidur sama sekali.Hati yang kesepian ditambah pikiran yang tengah semrawut membuatnya tak bisa memejamkan mata meski hanya sebentar.Baru setelah usai menunaikan sholat subuhnya ia baru bisa memejamkan matanya.
Tangannya sudah mengambil cangkir hendak membuat kopi,namun sesaat kemudian ia baru ingat jika saat ini ia tengah sendiri tanpa suaminya.
"Bahkan saat kamu telah pergi pun,kamu tetap ada disini Kak"lirihnya dengan mata yang sudah berkaca kaca."Sanggupkah aku berdiri tanpamu sedang semua yang telah lalu terasa begitu indah jika bersamamu".
Akhirnya Gea hanya menyeduh susu hangat tanpa membuat sarapan.Bayangan Teo yang ada di setiap sudut rumah membuat nafsu makannya lenyap begitu saja.Aneh bukan,ia kecewa pada suaminya,tapi ternyata ia juga merindukan belahan jiwanya itu.
Ia lalu bersiap berangkat kerja.Di ambilnya berkas yang sudah ia siapkan tadi malam.Ketika ia akan memasukkan ponselnya ke dalam tas,benda pipih itu bergetar tanda ada panggilan masuk.Bibirnya seketika itu juga tersenyum saat tahu siapa yang menghubunginya.
"Halo Assalamualaikum"sapa Gea
"Waalaikumsalam sayang.Keluar sebentar ya,aku ada di depan rumah"
"Hah?"otak Gea ngeblank seketika mendengar ucapan suaminya.Namun saat tersadar ia segera berlalu untuk membuka pintu rumah.
"Ada apa Kak?"tanya ketika sudah berada di hadapan suaminya.Matanya tak lepas dari wajah yang sebenarnya begitu ia rindukan itu.
"Mau kerja?"tanya Teo.
Gea hanya mengangguk tanpa bersuara.
"Ya sudah,ayo aku antar"kata Teo.
"Kak Teo ga masuk dulu?"tanya Gea
Teo menatap Gea penuh arti lalu mendekatinya."Apa bidadariku ini sudah mengijinkanku untuk kembali lagi ke rumah ini?.Jika iya,maka aku adalah laki laki paling bahagia di dunia ini"kata Teo seraya menyentuh lembut wajah Gea.
Melihat begitu besarnya harapan Teo,Gea hanya bisa menunduk seraya berucap maaf dengan lirihnya.
"Hei,jangan begitu.Aku akan sabar menunggu hingga saat itu tiba"kata Teo dengan jemari yang mengangkat dagu Gea agar menatapnya.Dan betapa perih hatinya saat kembali melihat dengan jelas mata istrinya yang seperti mata panda.
"Apa semalam tak tidur?"tanya Teo.
Namun istrinya hanya diam,enggan untuk menjawab."Kunci pintunya,kita berangkat"kata Teo.
Sementara Gea mengunci pintu,Teo menunggu di atas motornya.Saat Gea mendekat ia lalu memakaikan helm di kepala Gea.
Selama perjalanan keduanya hanya saling diam.Keheningan melanda seolah tak perlu ada yang di bicarakan.Bahkan saat Teo menghentikan motornya di hadapan kedai penjual bubur ayam Gea pun masih tak bergeming.
"Turun"titah Teo.
__ADS_1
Gea hanya menurutinya tanpa bantahan sedikitpun.Bahkan saat Teo menuntunnya menuju kedai itu pun ia masih tetap diam.
"Bang bubur ayamnya dua teh hangat dua sama sate ati satu porsi"kata Teo pada abang penjual.
"Iya mas,tunggu sebentar ya"kata si abang.
Teo menghampiri Gea yang sudah duduk di pojokan.
"Kebiasaan kamu ya,kalo milih tempat sukanya di pojok"kata Teo.
"Biar ga berisik Kak"balas Gea.
Teo menatap Gea tanpa berkedip hingga Gea menjadi salah tingkah sendiri.
"Kenapa sih Kak liatin aku kaya gitu"ketus Gea.
"Kangen,semalam tanpa peluk kamu rasanya waktu berjalan lambat"kata Teo.
Gea berdecih mendengarnya.Gombalan Teo seakan tak berpengaruh sama sekali karena kondisi hati yang masih berselimut kabut kecewa.
Teo meraih jemari Gea ke dalam genggamannya lalu meremasnya lembut seolah menyalurkan kerinduannya yang semalam membuncah.
Gea menghela nafas gusar.Sebenarnya ia tak ingin membahas hal ini saat ini karena masih ada yang harus ia selesaikan sebelum bicara lebih jauh dengan suami ya.
"Aku gapapa,Kak Teo ga usah kuatir"
"Iya,aku yakin kamu wanita yang kuat"kata Teo lemah.Andai bisa ingin rasanya ia membawa Gea ke dalam pelukannya demi melihat mata yang penuh dengan pancaran kecewa itu.Tapi ia tak berani melakukannya untuk saat ini.Keduanya hanya bisa saling diam hingga si abang datang mengantar pesanan.
"Silahkan mas mbak"kata si abang setelah selesai meletakkan pesanan di hadapan Gea dan Teo
"Makasih bang"kata Teo.
Ia lalu menyodorkan semangkuk bubur ayam dan segelas teh hangat ke hadapan Gea.Tak lupa juga memberinya sate hati kesukaan istrinya itu.Setelahnya ia mulai menyantap bagiannya sendiri.
Teo berhenti menyuapkan bubur ketika melihat istrinya hanya mengaduk aduk makanannya tanpa menyantapnya.Jengah melihat istrinya melamun ia pun menyodorkan sesendok bubur ke hadapan Gea.
"Makanlah,melamun juga butuh tenaga"kata Teo membuat Gea tersentak kaget.
"Aku makan sendiri saja"tolak Gea.
Teo langsung saja meraih mangkok Gea dan memindahkan ke hadapannya tanpa menurunkan tangannya yang ingin menyuapi Gea.Tatapan matanya yang tajam membuat Gea tak berani lagi bersuara dan menerima suapan suaminya dengan terpaksa.Tanpa ia sadari makanannya yang tadinya utuh kini sudah habis tak bersisa.Hanya tersisa teh hangat yang langsung ia minum untuk menetralkan tenggorokannya.Kini tinggal menunggu Teo yang masih menghabiskan buburnya yang sudah berubah dingin.
__ADS_1
Usai sarapan keduanya kembali melanjutkan perjalanan ke tempat kerja.Hening kembali tercipta.Masalah yang ada antara keduanya seakan merampas semua kehangatan yang biasanya menyelimuti keduanya.Hanya ada aura dingin yang tersisa.Bahkan saat tiba di tempat kerja Gea pun tak ada suara yang terdengar.
"Ge"tahan Teo saat Gea ingin berlalu dan masuk ke dalam.
Gea yang tangannya masih dipegang Teo pun hanya diam.
"Boleh aku ketemu sama Reihan?"tanya Teo
Gea memicing mendengarnya.Ada apa suaminya ini ingin bertemu Reihan?.Mau baku hantamkah?.
"Buat apa?"tanya Gea.
Teo yang mendengarnya langsung saja menarik nafas kasar.
"Aku hanya ingin bicara padanya,menanyakan apa penyebabnya.Setidaknya aku berusaha mempertahankan wanita yang kucintai"papar Teo.
"Yang ada masalah dengannya itu aku,kenapa Kak Teo yang ingin menemuinya?"sarkas Gea.
"Karena yang bermasalah dengannya itu wanitaku dan aku tak bisa diam saja"balas Teo.
"Aku sendiri yang akan menyelesaikannya"kata Gea.
"Baiklah jika itu maumu"pasrah Teo seraya melepaskan tangan Gea.Wajahnya berubah gelap dan matanya penuh sorot kecewa.
"Percayalah"kata Gea
Melihat wajah kecewa suaminya ada rasa tak tega di hatinya hingga ia pun ingin menahannya.Teo yang mendengarnya pun langsung menatap wajah Gea seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Jemput disini nanti sebelum makan siang"kata Gea lalu berbalik dan meninggalkan Teo begitu saja
Bibir Teo perlahan bergerak membentuk lengkungan.Bahkan ia sendiri seakan tak percaya dengan apa yang di dengarnya.Semoga ini satu pertanda baik untuk hubungannya yang tengah menegang.Secepatnya ia ingin memeluk dan menyesap aroma tubuh istrinya yang begitu ia rindukan.Ia merindukan kehangatan keluarga kecilnya.Padahal baru semalam saja ia tak tidur seranjang dengan istrinya,namun rasanya seperti setahun.Waktu terasa begitu lambat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Heloooo semuanyaaaaaa,,
Thanks banget ya buat yang udah ngikutin alurnya sejauh ini.Love you banyak banyak pokoknya.
Jangan lupa like and komentnya yaaa,,
kopinya juga jangan lupa yaaa
__ADS_1