
Gea meringis menahan sakit di perutnya membuat tidurnya terusik lagi.Akhir akhir ini ia merasa tidurnya sudah tak nyaman lagi.Mau dicoba dengan posisi bagaimanapun tetap terasa tak enak.Mungkin karena memang mendekati waktu kelahiran.
"Kenapa Ge?"tanya Teo seraya mengucek matanya.
"Gapapa Kak,cuma ga enak kaya biasanya.Kakak tidur lagi aja"kata Gea.
"Gimana aku bisa tidur kalo kamu ga tenang gini"kata Teo.
Ditariknya tubuh Gea lembut lalu diusapnya perut yang membuncit karena ulahnya itu.
"Anak ayah yang pinter,jangan bikin bunda kesakitan ya,kasian bundanya"ujar Teo seakan mengajak calon buah hatinya bicara.
Seakan mengerti perkataan ayahnya,perut Gea kembali nyaman.Sentuhan dan pelukan hangat suaminya mengantarkan kehangatan tersendiri hingga membuatnya nyaman dan kembali mengantuk.Tak lama terdengar deru nafas teratur menandakan ia sudah lelap.
Teo tersenyum menatap wajah damai istrinya.Sungguh ia merindukan Gea dengan sangat.Dan saat saat seperti ini mampu menjadi penawarnya.
Bagaimana tidak ia merindukan kesayangannya itu.Akhir akhir ini Gea memang lebih banyak diam.Bahkan sejak malam pengajian itu.Meskipun semua yang ia butuhkan terlayani dengan baik tapi ia seperti kehilangan sosok Gea yang biasanya.Meski ada dalam satu rumah bahkan satu ranjang tapi Gea seakan berada jauh dari jangkauannya.
"Harus bagaimana aku menepis semua ego ini Ge,aku jatuh ke dalam lubang yang aku buat sendiri.Aku tak mampu jika harus kehilanganmu,tapi mempertahankanmu itu juga menyakitimu".
"Seandainya bisa biar semua kesakitanmu aku yang menanggungnya sebagai penebus dosaku padamu,tapi aku yakin kamu tak akan membiarkannya.Selama aku mengenalmu kamu adalah wanita kuat dengan hati yang selembut sutra.Sekalipun kamu tersakiti,kamu lebih memilih diam daripada membalasnya sekalipun kamu mampu"
"Hanya aku yang bodoh.Aku yang terus menyakiti dan menyiakanmu.Dan lebih bodohnya aku juga membutuhkanmu disisiku"
Teo bermonolog pada dirinya sendiri,mengatakan apa yang ia rasa pada kesayangannya yang kini ia dekap erat.Bodoh bukan,harusnya ia berani mengatakannya saat istrinya terjaga bukan pada saat terlelap seperti ini.
Tak mampu menahan kerinduan yang membuncah,Teo membelai wajah Gea.
"Kamu itu cantik Ge,dan kamu istimewa.Kamu hanya memberikan kecantikanmu padaku dan menutupinya dari dunia luar"lirih Teo.
Bahkan kini ia memajukan wajahnya pada wajah Gea.Perlahan mendaratkan bibirnya di kening Gea,kedua matanya hingga turun ke bibirnya.Dikecup dan dikulumnya perlahan agar tak mengusik lelapnya Gea.Menyalurkan rasa yang ia miliki untuk kesayangannya.
Satu hal yang tak pernah disadari Teo bahwa ia telah menyimpan rasa di hatinya.Namun rasa itu masih tertutupi dengan pekatnya kisah masa lalu yang menyisakan luka.
Pagi harinya Gea merasakan tubuhnya lebih segar dari biasanya.Ia sadar jika semalam bisa tidur dengan nyaman dalam dekapan suaminya.Ia tak menepis jika memang itu penyebabnya.
Namun ia kembali meringis saat merasakan mulas di perutnya.Teo yang akan berangkat kerja menyadari gelagat istrinya hingga ia menaruh kembali tas yang sudah ia gendong di punggungnya.
"Kenapa?Sakit lagi?"tanya Teo.
"Iya,tapi nanti juga hilang lagi"jawab Gea disertai wajah yang kembali meringis.
"Aku libur aja ya"
Gea terkejut mendengarnya."Kenapa Kak,aku lahirannya masih 3 hari lagi.Kalo kakak libur sekarang besok pas aku lahiran ga bisa libur gimana?Masa aku lahiran ga ada yang nungguin"cerocos Gea panjang lebar.
"Tapi aku ga tega ninggalin kamu kaya gini"
"Udah kakak tenang aja,aku gapapa.Ntar kalo ada apa apa aku langsung kabari kakak"bujuk Gea.Ia mengambil tas Teo dan kembali memakaikannya.
"Janji ya langsung telpon aku"kata Teo dengan nada cemas yang masih kentara.
"Iya,kenapa sih tumben bawel banget.Biasanya juga ga gini"kata Gea.
"Aku takut kamu kenapa napa sayang"kata Teo.
__ADS_1
Gea melongo mendengar ucapan suaminya namun tak lama tawanya pecah.
"Ih apaan si Kak,ga pantes gombal tau"seloroh Gea.
"Ga pantes ya"
"Udah sana berangkat,nanti kesiangan"kata Gea.
"Peluk dulu"manja Teo.
Meledaklah tawa Gea namun tak urung ia merentangkan kedua tangannya untuk memeluk suaminya.
Teo menarik Gea lembut dalam pelukannya.Menyalurkan segala rasa yang bergelora di dadanya.
Puas memeluk istrinya Teo menurunkan badannya sejajar dengan perut Gea.
"Jagoan ayah jangan nakal ya,keluar dari perut bundanya nungguin ayah pulang kerja aja ya biar ayah bisa nemenin bunda"katanya pelan.
Dikecupnya perut Gea berulang kali,seakan enggan untuk pergi meninggalkannya.Bahkan istrinya pun keheranan dengan kelakuannya pagi ini.
"Aku berangkat ya,janji selalu kasih kabar aku"pamit Teo.
"Iya"
Tapi Teo malah kembali memeluk Gea.Setelahnya ia menangkup kedua pipi Gea dan mengecup bibirnya mesra.
"I love you"
Sebuah bisikan mesra mampir di telinga Gea sesaat sebelum Teo meninggalkannya berangkat kerja.
Ada rasa bergelora yang menyeruak dalam jiwanya.
Namun sayangnya rasanya itu kembali terusik saat ia mengingat bagaimana kelakuan suaminya.
"Apa itu nyata dari hatimu Kak?Atau itu hanya kebohongan agar hubungan kita kembali baik baik saja?"pikir Gea.
"Apa aku bisa percaya lagi padamu?Aku harus bagaimana?Aku adalah istrimu yang sah,tapi aku seakan terkalahkan oleh orang yang salah diantara kita"
Gea menarik nafas dan membuangnya pelan untuk menetralisir perasaannya.
"Tau ah,ga mau pusing aku mikirnya.Mending jalanin aja apa adanya.Toh semua akan Allah tunjukkan jalannya"kata Gea.
Setelahnya Gea bergegas untuk membereskan rumah dengan rasa mulas yang menghampirinya lebih teratur.
Sedangkan Teo melajukan motor miliknya dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya.Entah mengapa hatinya juga begitu senang setelah ia mengucap tiga kata keramat pada istrinya.Seolah ia sudah melepas beban berat yang lama menindihnya.
Bahkan ia masih saja tersenyum bahagia ketika pekerjaannya di mulai.Membuat kawan baiknya terheran heran.
"Kenapa lo senyam senyum ga jelas gitu"kata Anton.
"Gue bahagia banget Ton"kata Teo.
"Soal apa?"
Teo tersenyum manis."Gue udah ngelakuin hal yang seharusnya dari dulu gue lakuin ke Gea"
__ADS_1
"Gaje lo"kata Anton.
"Apaan si lo,ga seneng banget gue bahagia"sewot Teo.
"Gimana gue ga sewot.Kalo perlu gue bantai sekalian lu sekarang"sengit Anton.
"Maksud lo apaan?Lo nantangin gue"
"Ayo kalo lo mau.Lo itu emang bajingan tau ga"teriak Anton.
Bugh..
Sebuah pukulan telak mendarat di wajah Anton.Tak terima Anton pun membalas pukulan Teo dua kali lipatnya.
Saling pukul pun tak terelakkan.Suara pukulan yang cukup nyaring membuat karyawan yang lain pun datang dan melerai mereka.Terkejut pastinya karena yang mereka tau selama ini Anton dan Teo adalah sahabat dekat tapi kenapa sekarang malah saling baku hantam.
"Anton,Teo udah!.Kenapa sih harus saling pukul.Kalo ada masalah bisa dibicarakan dengan kepala dingin"lerai Koko.
"Otak bajingan kaya dia mana bisa"cecar Anton.
Teo yang mendengarnya pun kembali emosi dan akan kembali memukul Anton tapi berhasil ditahan Koko dan dua orang lainnya.
"Apa maksud lo,dari tadi lo yang mancing mancing bukan gue"sengit Teo.
"Apa namanya kalo bukan bajingan.Disaat bini lo hamil anak lo,tapi dibelakangnya lo malah selingkuh sama pacar gue.Lo emang bangsat tau ga"teriak Anton.
Jedeeerrrr!!!
Laksana petir menyambar di siang yang panas terik Teo begitu terkejut mendengar ucapan Anton.
"Maksud lo apa Ton,gue bener bener ga ngerti.Gue juga ga tau pacar lo siapa"kata Teo dengan nada rendah.
Anton tersenyum sinis mendengarnya.Sungguh masalah hati dengan para wanita memang membuat otak harus bekerja lebih keras.
"Asal lo tau,cewe yang sekarang jadi selingkuhan lo itu udah jadi pacar gue sejak 3 bulan lalu.Dan lo tega nusuk gue dari belakang.Sahabat macam apa lo"teriak Anton.
Sungguh...
Teo melemas mendengarnya.Otaknya sungguh belum mampu mencerna semua yang kini dihadapinya.Ia jatuh terduduk setelah Anton meninggalkannya dengan emosi yang masih terpendam.
"Gue ga nyangka Te lo udah sejauh ini.Apa benar lo selingkuh?Apa lo ga mikirin gimana perasaan istri lo?"tanya Koko.
"Gue ga tau kalo semuanya bakal kaya gini"lirih Teo.
"Gue emang ga tau gimana masalah sebenarnya Te,tapi kalo emang lo beneran selingkuh gue bakalan bilang kalo ini ga bener.Dan gue harap lo bisa berubah sebelum semuanya terlambat.Lo bakalan rugi kalo lo nyia nyiain orang sebaik bini lo"kata Koko.
"Jangan sampe lo ngambil keputusan yang salah Te".kata Koko lagi seraya menepuk bahu Teo."Kehilangan wanita yang mau menerima kita tanpa syarat dan berjuang bersama itu jauh lebih menyakitkan"
Teo meremas rambutnya kasar.Rasa perih akibat pukulan Anton pun tak lagi dirasakannya.Kepalanya kini justru lebih pening dengan kenyataan yang diterimanya.
Ia main hati dari istrinya dan selingkuhannya adalah pacar sahabatnya sendiri.
...****************...
Haaaaiiii kakak readers yang budiman dan pastinya baik hati,,maaf yaaa kalo ceritanya masih berantakan,,harap maklum ini novel pertamaku,,,
__ADS_1
So i hope,akan ada banyak like and coment yang mampir biar aku lebih semangat buat terus nulis dan berkarya,,,