
Dengan rasa bahagia yang meluber kemana mana Teo meninggalkan tempat kerja Gea.Angannya untuk bisa bertemu Reihan raib sudah entah kemana berganti dengan senyum pepsodent yang terus menghiasi bibirnya.Tiada ia duga Gea masih mau memberinya peluang untuk lebih dekat.Setidaknya ia masih punya kesempatan untuk meraih maaf dari istrinya.
Wajah yang ceria senantiasa terlihat tanpa tertutupi seolah ia sedang tidak menghadapai masalah apapun.
"Seneng amat kayanya"kata Anton yang baru saja dan duduk di samping Teo."Pasti ada kaitannya sama Gea"
Teo tersenyum menanggapinya"Apalagi selain itu"
"Udah baikan?"tanya Anton.
"Belum sih,tapi ntar siang Gea minta dijemput"
"Lumayan ada kemajuan"
"Iya sih,seenggaknya masih ada harapan"kata Teo.
"Trus tu orang gila gimana?"tanya Anton.
"Orang gila siapa?"heran Teo
"Saingan lo"ketus Teo.
"Tadinya gue jemput Gea mau sekalian nemuin tu orang,tapi ga boleh sama Gea"kata Teo
Anton yang mendengarnya menjadi heran."Kenapa?
"Gue juga ga tau.Tadi Gea cuma bilang yang terlibat masalah sama Reihan itu dia,jadi dia mau seleseikan sendiri dulu.Ya mau ga mau aku diam"jelas Teo
"Tapi lo ga boleh diem aja.Kalo Gea kenapa napa gimana"kata Anton
"Gue tetep waspada di belakang.Gue ga mau kecolongan lagi"kata Teo
"Kirain lo diem aja"
"Ga mungkin lah,kalo misalnya Gea ga ambil tindakan gue tetep maju buat ngasih pelajaran ma tu orang.Gue ga mau rumah tangga gue bener bener hancur disaat gue mencoba berubah untuk lebih baik"kata Teo.
"Iya.Pertahankan Gea karena jaman sekarang susah nyari wanita yang bener bener tulus mau menerima kita apa adanya"balas Anton
Teo memicingkan mata mendengar ucapan Anton.Bau baunya something wrong nih!.
__ADS_1
"Lo ada masalah?"tanya Teo.
Yang ditanya hanya menghela nafas berat.Seolah bebannya sama seperti temannya.
"Ada apa?Lo ga sendiri kalo lo lupa"kata Teo.
"Riri balik ke rumah ortunya"ucap Anton pelan.
"Hah?seserius itu?Emang kenapa?"cecar Teo.
"Sebenarnya sepele.Dia minta di anterin ke toko emas buat benerin kalungnya dia yang putus.Tapi saat itu gue capek banget,ngantuk juga makanya gue bilang besok besok aja.Gue takut nantinya ada apa apa.Trus gue ketiduran.Ga taunya dia marah trus pulang ke ortunya ga bilang bilang"terang Anton.
"Yang sabar aja"kata Teo.
"Kalo ga inget ada anak gue juga udah gue tinggal Te"kata Anton.
"Maksud lo istri lo hamil?"tanya Teo yang hanya dibalas anggukan oleh Anton.
"Kalo gitu tambahin stok sabarnya.Ibu hamil itu pasti menang"kata Teo.
"Iya bener.Minta ini itu dikasih salah apalagi ga dikasih"
.
.
.
Teo baru saja mematikan mesin motornya di depan gerbang tempat Gea bekerja.Ia melepas helm lalu duduk santai di jok motornya.Tak masalah berapa lama ia harus menunggu istrinya itu karena semua demi Gea.Seberat apapun ia akan berjuang melakukannya agar bisa mendapatkan kesempatan untuk kembali bersama Gea dan putrinya.
Hal baru yang kini harus ia lakukan.Jika dulu ia yang membuat para kekasihnya menunggu maka kini ia lah yang harus menunggu.Sesuatu yang ternyata berbanding terbalik dalam hidupnya.
Sepuluh menit menunggu Teo merasakan vibrasi di kantongnya yang ternyata berasal dari ponselnya.
"Dimana?"
Sebuah pesan dari Gea yang menanyakan keberadaannya.Teo menghela nafas kasar.Jika istrinya bertanya tanpa embel embel Kak,itu artinya Gea masih marah.
"Aku udah di luar gerbang sayang,menunggu bidadari cantikku ini keluar"
__ADS_1
Balasan mesra bernada gombal ia kirimkan berharap sedikit meluluhkan hati sang pujaan hati.Tak tahu saja Teo pesannya itu membuat wajah Gea merona dengan senyum menghiasi bibirnya.
"Masuk aja,aku tunggu di dalem"
Teo mendelik melihat balasan dari istrinya
"Hah,kamu menyuruhku masuk ke tempat itu Ge,trus kapan aku masuknya ke surga dewimu.Aku sungguh merindukanmu"batin Teo.
Usai mengunci motornya Teo bergegas masuk ke dalam.Ia tak ingin membuat kesayangannya menunggu lama.
"Assalamualaikum"kata Teo saat memasuki ruangan Gea.Hatinya mendadak awas saat melihat rivalnya juga ada di ruangan itu.Namun ia sedikit tenang saat melihat disana juga ada Pak Yuli.
"Waalaikumsalam"
Gea beranjak dari duduknya lalu menghampiri suaminya.Ia bahkan juga salam takzim pada suaminya membuat Teo sedikit heran.Meski begitu Teo tetap bersalaman dengan tenang pada Pak Yuli bahkan juga pada Reihan.
"Wah,sampe disusulin sama suaminya Ge"seloroh Pak Yuli.
Gea hanya tersenyum saja mendengarnya.
"Jadi apa yang ingin kamu sampaikan Ge?"tanya Pak Yuli.
Gea menghela nafas sejenak,seperti sedang menyusun kata kata yang ingin ia sampaikan.Teo bahkan menatapnya tanpa berkedip,seolah bertanya apa yang ingin diungkapkan istrinya itu
"Sebelumnya saya mohon maaf Pak bila nanti yang saya utarakan tidak berkenan di hati Pak Yuli.Tapi sebelumnya saya sudah memikirkannya matang matang dan tentunya ini demi kebaikan bersama"kata Gea.
"Apa ada masalah Gea?.Sejauh saya mengenal kamu selama bekerja disini bertahun tahun kamu tidak pernah seperti ini"sela Pak Yuli.
"Maaf Pak mungkin ini akan mengecewakan Bapak"kata Gea.
"Ada masalah sama kerjaan kamu?"tanya Pak Yuli.
"Sama sekali tidak Pak.Saya hanya ingin mengundurkan diri dari pekerjaan ini.Dan ini surat pengunduran diri saya,mohon diterima"kata Gea dengan berat hati.
Meskipun kaget luar biasa tapi Pak Yuli mencoba tetap tenang.
"Saya yakin ada masalah besar yang sedang kamu coba sembunyikan dari saya Gea.Saya tahu seprofesional apa kamu dalam bekerja"kata Pak Yuli dengan sorot mata penuh kecewa.
Tapi apa mau dikata,ini sudah keputusan final Gea.
__ADS_1
Dan tak bisa diganggu gugat lagi.