Mencinta Tanpa Batas

Mencinta Tanpa Batas
Kebuasannya


__ADS_3

Teo masih memeluk istrinya dengan erat.Sedikitpun ia tak memberi celah pada Gea untuk lepas darinya meski istrinya itu sempat meronta.Ia ingin Gea bisa merasakan bahwa ia bukan lagi Teo yang dulu mengabaikan cinta tulusnya.


"Apa kamu tak bisa merasakannya Ge?"tanya Teo dengan begitu lirih.


"Merasakan apa Kak?"balas Gea.


"Aku mencintaimu"


"Aku tahu Kak"


"Lalu apa yang membuatmu ragu padaku,katakanlah padaku"pinta Teo.


"Aku gak pernah ragu padamu Kak.Tapi jujur aku tak bisa menepis kenyataan.Dulu aku menyerahkan segenap hatiku tanpa syarat padamu.Namun kau terus saja memberiku luka yang sama berulangkali"


"Apa tak ada maaf bagiku?"


*Aku sudah memaafkanmu sebelum kata maaf itu terucap darimu Kak.Tapi untuk melupakan rasa sakitnya itu amatlah sulit bagiku"


Yah,Teo paham.Sakit yang ia beri untuk istrinya memang bukan hanya sekali tapi berulang kali.Dan tentunya luka itu juga akan semakin dalam menggores hati.


Teo membalik tubuh Gea dengan perlahan hingga kini menghadapnya.


"Maaf jika luka yang kutorehkan memang terlalu dalam.Ijinkan aku untuk menggantinya dengan cinta hingga kamu lupa bagaimana rasa sakit itu menyakitimu"


Manik mata keduanya bertemu dengan pandangan yang lembut hingga tanpa sadar bibir keduanya sudah saling bertautan.


Teo menjelajahi rongga mulut istrinya dengan rakus namun lembut.Ia ingin Gea merasakan bahwa cintanya kini benar benar ada tanpa keraguan seperti dulu.


Tanpa bayangan kelam masa yang telah lalu.


"Bersediakah bertahan denganku hingga menua?"tanya Teo setelah ia melepas pagutannya.


"Jika aku tak mau bertahan sudah dari dulu aku pergi"

__ADS_1


"Jangan pergi"


"Kalo begitu pertahankan dan perjuangkan aku"


"Itu pasti.Aku akan berjuang sekuat mungkin demi dirimu,juga putri kita"


Gea menatap suaminya dengan haru.Sebesar itu perubahan suaminya,namun sakitnya tetaplah sakit yang teramat sulit untuk diabaikan.


Tatapan sendu itu kembali bertemu dengan penuh cinta.Lagi lagi benda kenyal milik keduanya kembali bertautan.Menghadirkan gelora panas di raga.


"Berapa lama lagi?"tanya Teo.


"Apanya?"bingung Gea.


Teo tak menjawab.Ia hanya memeluk Gea semakin erat dan menggesekkan bagian bawahnya hingga Gea merasakannya dan mengerti apa yang ia tanyakan tadi.


"Masih lama,sabar ya"


"Mana bisa ,aku ga kuat sayang"rengek Teo.


"Ga bisa,kamu sih"


"Kok aku"bingung Gea.


"Iya lah,salah sendiri kamu tambah cantik,montok dan seksi"


Bibirnya berkata kata tapi tangan Teo sudah merayap tak terkendalikan.Bahkan kini sudah meremas gundukan kenyal di dada Gea.


"Kak,nanti asinya keluar"kata Gea.


Teo tersenyum miring mendengarnya.Ia mendorong pelan hingga tubuh Gea bersandar di lemari.Dengan gerakan cepat ia menaikkan baju atasan Gea hingga tampaklah gunungan Gea yang sudah menyembul keluar dari wadahnya.


Gunung kembar Gea kembali menjadi sasaran.Kali ini bukan dengan tangan melainkan dengan mulut.Teo menjilat dan menyesapnya dengan penuh gairah hingga Gea menggelinjang dibuatnya.

__ADS_1


"Kak,"desah Gea yang terdengar begitu menggoda ditelinga Teo.


Bukannya berhenti,tapi Teo malah semakin bergairah karenanya.Gea bahkan harus menggigit bibir bawahnya untuk mengimbangi kebuasan gairah suaminya.


Suaminya itu semakin pintar mempermainkan benda kenyalnya.Seluruh tubuh bagian atasnya kini sudah penuh dengan tanda kepemilikan yang menyebar dimana mana.


"Mendesahlah sayang,jangan menahannya.Aku menyukainya"bisik mesra Teo di telinga Gea.


Cukup lama Teo bermain hingga tubuh Gea sedikit lemas karena harus mengimbangi keganasannya.


"Sayang,bantu aku.Aku tak sanggup lagi menahannya"


Dahi Gea berkerut mendengar.Tak paham apa yang suaminya inginkan.Otaknya baru ngeh dengan apa kata suaminya saat tangan Teo membawanya masuk ke dalam celananya.Tangannya sudah menyentuh sesuatu yang sudah tegak mengeras membuat Teo melenguh karenanya.


Paham kondisi suaminya tangan Gea pun bermain dengan benda panjang itu.Benda yang sudah membuat seorang Silvi hadir diantara keduanya.


Cukup lama tangan Gea bermain main hingga akhirnya Teo ambruk dibahunga dengan nafas yang masih memburu.


"Iihh,Kak Teo"kesal Gea saat Teo sudah mencapai pelepasannya dan tangan Gea basah dengan cairan kentalnya.


Teo menarik tisu basah yang ada di pinggir meja.Ia lalu membersihkan tangan Gea yang kotor karena ulahnya.


"Makasih ya"ucapnya dengan senyum manis yang mempesona.Raut kebahagiaan terlihat jelas dimatanya.


Gea hanya menampilkan wajah masamnya.


"Jangan manyun,nanti aku khilaf lagi"ujar Teo.


Mendengar ucapan suaminya Gea langsung saja menampilkan senyum manisnya.


"Nah,gitu kan cantik"


Tangan Teo merapikan baju atasan istrinya yang berantakan karenanya.Tak lupa ia menghadiahkan kecupan lembut di wajah istrinya."Makasih ya"

__ADS_1


Gea hanya mengangguk dan segera berlalu saat suaminya juga berlalu ke kamar mandi.Ia beranjak mengambil pakaian ganti suaminya.Setelah memastikan putrinya masih terlelap iapun bergegas keluar kamar untuk menyiapkan makan malam untuk suaminya.


Meski hanya makanan sederhana ia selalu berusaha memasaknya sendiri.Dan Teo juga selalu menyukai apa saja yang dimasak oleh istrinya.Mungkin benar pepatah yang mengatakan kalau cinta turun dari lidah ke hati.


__ADS_2