
Wajah Gea semakin panas dan memerah mendapati dirinya berada di atas tubuh suaminya.Ia merasa sudah seperti wanita murahan yang menggoda para pria hidung belang yang kurang kasih sayang dan belaian.Namun yang dilakukannya kini tidaklah berdosa malah berpahala
Dengan santainya Teo melepas kancing baju istrinya hingga Gea hanya tinggal mengenakan bra di bagian atas tubuhnya.Matanya tak lepas memandangi wajah Gea yang semakin menggoda karena menahan malu.
Tak tahan melawan tatapan mata suaminya Gea menggulingkan dirinya hingga jatuh ke samping suaminya dan berbalik memunggungi Teo.Ia menutup wajah dengan kedua tangannya karena begitu malu.
Teo beringsut dan memeluk Gea dari belakang.
"Kenapa?"tanya Teo.
Tangannya mengusap lembut perut Gea meski sebenarnya ingin sekali meremas gunung kembar Gea yang terlihat menantang di balik bra nya.Tapi ia harus menahan keinginannya karena tak ingin merusak suasana yang baru saja membaik.
"Aku malu Kak"kata Gea.
"Malu kenapa?"
Teo membalik tubuh Gea hingga menghadapnya lalu melepas kedua tangan Gea yang masih menutupi wajahnya."Aku bahkan sudah melihat dan merasakan setiap inci tubuhmu hingga hafal semuanya.Lalu apa yang membuatmu malu?"
"Aku merasa seperti ****** yang menggoda pria hidung belang"kata Gea
Teo terkekeh mendengarnya.
"Jika begitu ayo kita praktekkan"kata Teo
Gea menolak dengan gelengan kepala."Aku ingin tidur sebentar Kak"
"Ya udah sini tidur"kata Teo meraih Gea hingga kepala Gea bersembunyi di lehernya.Diusapnya lengan Gea selembut mungkin agar cepat terlelap.Meski ingin bercinta ia mencoba menahan hasratnya.Ia lebih mengutamakan kenyamanan istrinya.Hingga akhirnya ia sendiri ikut terlelap bersama sang istri.
Dua jam kemudian..
Teo mengerjapkan matanya saat merasa terusik.Bibirnya membentuk senyuman manakala menemukan sang istri menduselkan wajahnya di lehernya dan memeluk perutnya dengan erat.Dikecupnya kening Gea cukup lama.
__ADS_1
"Terimakasih sayang sudah memberiku kesempatan untuk tetap bersamamu.Aku akan terus berjuang untukmu dan anak anak kita nanti.Jangan pernah lelah dan menyerah untuk menemani dan mengingatkanku.Kamu segalanya bagiku"lirih Teo usai melepas bibirnya dari kening Gea.
Potongan kejadian demi kejadian yang telah ia lewati bersama istrinya kembali melintas di benaknya.Dari semua yang mampu ia ingat,begitu besar pengorbanan wanita yang kini ia peluk itu.Awalnya ia bukan siapa siapa,hanya pria dari kalangan kurang mampu yang merantau ke kota ini.Hanya pria dengan hidup yang tak tentu arah.
Tapi bersama sang istri semua berubah perlahan.Yang tadinya tak punya apa apa kini ia bisa menghidupi anak dan istrinya meski tak mewah setidaknya lebih layak.Tujuan hidupnya kini pasti tergambar lebih jelas dengan hal hal positif yang banyak ia rencanakan.Meski takdir yang menentukan setidaknya ia tahu kemana arah tujuan hidupnya.
Lama Teo berkutat dengan pemikirannya tanpa ia sadari sang istri terus memandanginya cukup lama.Melihat suaminya melayang dengan pemikirannya sendiri Gea pun menyentuh rahang suaminya dengan lembut.
"Mikirin apa?"tanya Gea.
"Kamu"
"Kenapa aku?"tanya Gea lagi.
"Karna kamu nyawa hidupku.Aku hanya butiran debu tanpamu"kata Teo.
"Gombal"cebik Gea
Teo meraih punggung tangan Gea lalu menciumnya."Terima kasih untuk semuanya"
Tangan Teo mengusap lembut punggung Gea,menimbulkan sensasi panas di tubuh keduanya.Menelusuri kulit mulus hingga hingga ke perut lalu merambat naik.Namun ketika hampir menyentuh sesuatu yang tersembunyi di balik bra,Teo menarik tangannya.Ia menarik nafas dalam untuk mengontrol libidonya.
Sesuai janjinya,ia tak akan melakukannya tanpa persetujuan Gea.Apalagi di tengah keadaan keduanya yang baru saja berbaikan.
Namun tanpa di duga Gea menahan tangannya lalu membawanya untuk menyentuh asetnya yang berharga.
"Lakukanlah,aku tak akan menghalangi pemiliknya menyentuh apa yang ia miliki"
Mendapat lampu hijau dari istrinya Teo pun tak membuang waktu lagi.Usai melantunkan doa ia kembali menjelajahi surga dunianya bersama sang istri.Menggapai puncak kenikmatan bersama sama,demi menghapus semua kenangan buruk yang pernah tercipta.
Kini keduanya terkulai lemas setelah mencapai puncaknya berkali kali.Teo menarik Gea yang masih mengatur nafas dalam pelukannya.Ia bisa begitu bahagia bisa kembali merasakan manisnya bercinta.
__ADS_1
"I love you,thanks dor everything"
"Sok inggris"cibir Gea.
Teo terkekeh."Gapapa,kan sayangku ini pinter"katanya seraya menjawil hidung Gea.
"Mau pulang sekarang apa nanti,aku anterin"kata Teo.
Gea memicing mendengar ucapan suaminya."Kamu ga ikut pulang?"
"Aku ingin ikut kemanapun kamu pergi.Tapi seperti janjiku,aku tak akan kembali jika bukan kamu yang memintanya"kata Teo.
Gea menatap suaminya dengan berkaca kaca.Sungguh ia tak menduga suaminya akan seteguh itu memegang janjinya.
"Pulanglah bersamaku dan jangan pergi lagi"pinta Gea.
Teo menatap Gea seolah meyakinkan pendengarannya.Dan saat Gea mengangguk ia kembali merengkuh Gea dalam dekapan eratnya.
"Sayang,boleh aku bertanya?"tanya Teo
"Kenapa Kak?"balas Gea.
"Apa kamu benar benar ingin resign?"
"Apa Kakak melarangnya?"
"Tidak sayang,aku senang jika kamu benar benar mau resign,bisa fokus di rumah"tutur Teo.
"Lalu bagaimana dengan temanmu itu?"tanya Teo.
"Dia biar jadi urusan aku aja.Aku sendiri nanti yang memberinya sedikit pelajaran"jawab Gea
__ADS_1
"Tapi hati hati ya,aku ga mau terjadi sesuatu sama kamu"kata Teo.
"Iya tenang aja"