Mencinta Tanpa Batas

Mencinta Tanpa Batas
Aku Yang Akan Berjuang


__ADS_3

Teo memejamkan mata sejenak,mencoba mencari kesabaran.


Lelah...


Ya,istrinya merasa lelah dengan semua luka yang ia beri.


Wajarkah?


Atau salahkah?.


Melihat istrinya yang masih terisak dan ketakutan ia kembali memeluk istrinya.Kali ini ia berusaha menyingkirkan sejenak amarah yang melandanya.Setidaknya untuk kali ini ia harus bisa mengalah dalam menghadapi istrinya yang tengah kalut dengan perasaannya sendiri.


"Tidurlah dulu ini sudah terlalu larut.Besok kita bicara lagi"kata Teo namun Gea tak bergeming.Ia membiarkannya sejenak agar istrinya lebih tenang.


Namun tangis Silvi mengusik keduanya.


"Istirahatlah,biar Silvi sama aku"titah Teo seraya melepas pelukan Gea namun Gea tak jua mau melepaskan tangannya.


"Aku tak apa,sekarang tidurlah"


Ia tahu Gea masih takut dengannya.


Teo mengangkat putrinya dari dalam box dan menimangnya.


"Anak ayah bangun ya"


Teo kembali menidurkan putrinya di ranjang lalu mengambil popok ganti untuk putrinya.Tanpa banyak kata ia mengganti popok Silvi yang sudah basah meski gerakannya terlihat masih kaku.Sementara Gea menatapnya dengan tatapan penuh arti.


"Apa kamu mau menyusuinya?"tanya Teo setelah selesai mengganti popok.Melihat Gea yang mengangguk ia lalu menyerahkan Silvi kedalam gendongan istrinya.


Saat Gea menyusui putrinya Teo mengambil rokoknya dan beranjak keluar kamar.


.


.


Gea masih mendekap putrinya meski telah kembali terlelap setelah kenyang menyusu.Ia bahkan tak berniat menidurkan putrinya di box bayinya.Ia malah menidurkan bayinya disampingnya.

__ADS_1


Pintu kamar dibuka oleh Teo yang entah darimana.Mata Gea tak lepas mengikuti kemana langkah suaminya.Hatinya berdenyut nyeri melihat Teo mengambil selimutnya kembali lalu keluar dari kamar.


"Ya Allah,aku harus bagaimana?suamiku benar benar marah.Aku tak bermaksud meragukannya.Aku hanya takut kembali terluka"sesal Gea.


Apa ini sepenuhnya salah Gea?.


Tidak.Teo tidak menyalahkan Gea.Ini semua murni kesalahannya.Dan sekarang ini adalah saatnya dia menuai apa yang selama ini telah ditanamnya.


Dirinya terlalu angkuh mengatasnamakan cinta yang selama ini membelenggunya.Sibuk memperjuangkan yang bukan seharusnya.Tapi ia lupa pada apa yang seharusnya ia prioritaskan.Istri yang seharusnya ia jaga dan ia cintai sepenuh hati.


Merasa lelah dengan semua beban Teo pun memejamkan mata.Membawa segala kepiluan dalam mimpi yang sempurna tentang kehidupan rumah tangganya.


Sementara Gea tak dapat memejamkan mata sedikitpun.Pikirannya terlalu terbebani dengan masalah yang kini dihadapinya.


Disudut hatinya ia tak ingin berpisah dengan suaminya.Tapi sebelah hatinya yang lain berkata bahwa ia lelah dipermainkan terus menerus.Berulangkali ia memberi maaf tapi berulangkali juga ia kembali terluka.Hingga rasanya ia tak ingin percaya lagi meskipun ia begitu mencintainya.


Dirinya hanya manusia biasa.Dan ia juga bukan manusia bodoh yang bisa memberikan hatinya untuk disakiti berulang kali.


Dia juga wanita yang punya batas kesabaran dan rasa lelah.


.


.


.


Selesai memasak ia membereskan rumah.Meskipun hasilnya tak sebaik istrinya tapi tak apa.Setidaknya ia bisa meringankan pekerjaan Gea.Apalagi istrinya belum sepenuhnya pulih pasca melahirkan.Dan ini juga merupakan salah satu usahanya untuk kembali memenangkan hati istrinya.


Teo masuk ke kamar tepat saat istrinya selesai memandikan Silvi.Ia lantas membereskan bak yang dipakai untuk memandikan putrinya.Bahkan ia juga mencuci semua baju kotor miliknya dan milik dua gadis kesayangannga.Sedikitpun ia tak merasa terbebani dengan semua pekerjaan itu.


Kini Teo telah siap untuk bekerja.Ia sudah mandi dan juga berpakaian rapi.Tak dipungkiri ia memang cukup tampan.Wajar saja banyak yang menyukainya.Gea tersenyum kecut melihat penampilan suaminya.Meskipun gaya pakaiannya seperti anak punk tapi Teo memang selalu rapi.Tapi sudut mata Gea kini melihat suaminya itu melepas beberapa aksesoris yang dipakainya.


Teo melepas semua gelang yang dipakainya.Ia juga menanggalkan semua tindik yang ada di telinganya.Dan ia justru terlihat lebih tampan tanpa aksesorisnya itu.


"Boleh aku menggendongnya sebentar saja?"tanya Teo yang tiba tiba sudah ada di hadapan Gea.Membuat Gea tergagap kerenanya.


Gea memindahkan putrinya yang sudah terlelap kedalam gendonga. suaminya.

__ADS_1


Teo menimangnya dengan lembutnya.


"Anak ayah sudah cantik ya,wangi lagi".Ia terus mengayunkan dan menciumi putrinya.Seakan ingin mengatakan bahwa ia sangat menyayangi putrinya itu.


Teo lalu menidurkan putrinya di box bayi setelah puas memeluk dan menciuminya.Setelahnya ia keluar kamar dan kembali lagi dengan senampan sarapan untuk istrinya.


Sejujurnya Gea begitu tersentuh dengan apa yang dilakukan suaminya Namun iapun masih terlalu takut untuk kembali tersakiti.


"Sarapan dulu ya"kata Teo pada Gea.Tangannya sudah mengajukan sesuap nasi ke mulut istrinya.Ia tahu Gea masih kalut hingga tak akan makan jika tak dipaksa.Padahal masih membutuhkan banyak nutrisi untuk ia bagi dengan putrinya.


Awalnya Gea menolak tapi Teo terus memaksanya.Percaya atau tidak,makan disuapi orang tercinta memang rasanya lebih nikmat.


Selesai menyuapi Gea Teo bersiap untuk berangkat kerja.Kini ia menghampiri istrinya.Tangannya mengulur pada Gea.Menyerahkan ponselnya pada Gea.


Gea menatap suaminya tak mengerti.


"Kamu pegang aja hape aku"tuturnya.Gea terlihat ragu untuk menerimanya hingga Teo meraih tangannya dan meletakkan hapenya dalam genggaman istrinya.


"Aku tahu,kamu masih sulit buat percaya sama aku setelah semua yang aku lakuin ke kamu.Dengan begini kamu bisa tahu siapa aja yang hubungi aku.Kamu bisa angkat telepon ataupun balas chat yang masuk ke hp aku.Kalau ada apa apa nanti kabari aja ke nomor Anton.Kamu juga bisa nanya apa aja yang aku lakuin ke Anton.Aku memberimu kebebasan untuk itu"terang Teo.


Teo menghela nafas sejenak.Ia seperti ingin mengatakan sesuatu tapi ragu.


"Apa masih boleh aku memelukmu?"tanya Teo.Sungguh ia takut Gea akan menolaknya.


Gea hanya mengangguk pelan tanpa suara.Teo langsung menariknya dan mendekapnya begitu erat seakan akan tak bertemu sekian lama.


Saat ini ia hanya ingin Gea tahu apa yang kini ia rasakan padanya.


"Aku tahu ini berat buat kamu.Aku tak akan memaksamu untuk secepatnya memaafkanku.Tapi tolong biarkan aku berusaha untuk membuktikan bahwa aku memang ingin selalu bersamamu.Seperti yang kamu bilang,satu bulan ini mari kita jalani dulu.Selama itu biarkan aku meyakinkan hatimu.Setelahnya aku akan menerima apa keputusanmu"


"Setidaknya aku akan berjuang untuk mendapatkan hati dan cintamu lagi.Saat ini aku hanya ingin kamu tahu Ge,aku akan berjuang sebisaku untuk kamu dan anak kita.Kamu berhasil Ge,merampas hatiku dan menguasainya.Sekarang hanya ada kamu.Dia hanya masa lalu yang mewarnai kisah kita.Masa depanku adalah kamu dan putri kita.Aku tahu kamu lelah dengan semua ini,karenanya biarkan aku yang kini berjuang untuk rumah tangga kita".


Teo terdiam sejenak.Masih dalam dekapannya,ia mendekatkan bibirnya ke telinga Gea."I love you Gea Anastyana"lirihnya mesra.


Sejenak Teo terdiam.Ia ingin menikmati saat ini saja.Agar istrinya tahu seberapa besar kasih yang ia miliki untuknya.Setelah puas barulah ia melepas dekapannya.Ia menatap mata Gea intens.Kedua tangannya menangkup wajah Gea.Sebuah kecupan nan dalam mendarat di kening Gea.Setelahnya berganti dengan ciuman lembut di bibir.Tanpa nafsu.Hanya ada cinta dan kelembutan dalam ciumannya.


Teo tersenyum saat ciumannya selesai.Ia mengusap bibir istrinya yang basah.

__ADS_1


"Aku berangkat ya.Makasih buat semangatnya pagi ini"pamit Teo.


__ADS_2