
Setelah menyematkan ciuman yang cukup lama Teo melepaskan bibir Gea.
"Aku tahu kesalahanku terlalu banyak Ge,tapi percayalah aku telah melabuhkan hati ini hanya padamu.Tiada yang lebih berharga selain kamu dan anak anak kita"kata Teo.
"Percuma jika kamu tak percaya pada kesetiaanku"lirih
Teo menghempaskan nafas berat.Begitu sulit meluluhkan kembali hati wanitanya ini.Wanita hebat yang terus saja ia sakiti.
"Apa tak ada lagi kesempatan untukku?"tanya Teo.
"Entahlah Kak,hatiku masih terlalu sakit dengan semua ini"kata Gea.
"Jika begitu pulanglah ke rumah.Aku tak ingin orang berfikir buruk tentangmu"pinta Teo.
"Aku ingin sendiri dulu"
Teo mengambil tangan Gea dan menangkupnya dengan kedua tangannya.
"Aku mohon Gea,pulanglah ke rumah.Aku terima jika kamu ingin sendiri dulu.Tak apa bagiku,biar aku yang keluar dari rumah.Aku terima jika ini maumu Gea"kata Teo.
"Lalu kamu akan kemana?"tanya Gea.
"Tak usah pikirkan aku,dimanapun aku bisa berteduh.Yang terpenting kamu dan Silvi selalu aman dan nyaman"
Teo menatap wajah Gea yang terlihat bingung.Hatinya begitu nyeri melihatnya.
"Sekarang kita pulang ya,aku antar kamu sampai rumah"
"Tapi..."
Teo menempelkan telunjuknya di bibir Gea."Kali ini aku ga mau ditolak.Ayo kita pulang"
Teo menarik tangan Gea untuk beranjak lalu menghampiri Silvi yang masih tidur.Diraihnya putrinya itu dalam gendongan lalu diciuminya penuh kasih.
"Maafkan ayah ya dek,ayah kembali melakukan kesalahan besar"gumam Teo dengan airmata yang sudah membasahi pipinya.
__ADS_1
Di usapnya pipinya lalu kembali di peluknya putri cantiknya itu seolah mencurahkan seluruh kasih sayangnya membuat Gea yang melihatnya tertegun sejenak.Perasaannya bergejolak tak menentu.
"Udah siap?"tanya Teo membuyarkan lamunan Gea.
Teo menyerahkan putrinya kepada Gea.Bahkan dalam kondisi yang masih menegang ia masih sempat mencuri sebuah kecupan di bibir Gea.
Usai membereskan barang bawaan Gea dan Teo keluar rumah.Dengan penuh senyuman Teo membawa istrinya melaju bersama motornya setelah sebelumnya menitipkan kunci rumah Isna pada tetangga.
...****************...
Setibanya di rumah Teo memarkirkan motornya setelah Gea lebih dulu masuk ke dalam rumah.Ia lalu menyusul istrinya masuk dengan membawa barang bawaan Gea.
Saat masuk ke kamar Teo melihat istrinya berdiri termenung di sisi box bayi putrinya.Dengan perlahan ia menaruh barang bawaannya lalu mendekati istrinya.Dipeluknya Gea dari belakang membuat sang empunya badan berjingkat karena kaget.
"Tolong biarkan seperti ini dulu sebentar saja"kata Teo.Dihirupnya dalam dalam aroma tubuh Gea karena ia tak tahu kapan lagi ia bisa memeluk kesayangannya itu.Sesuai janjinya tadi bahwa ia akan meninggalkan rumah ini.
"Jaga diri baik baik ya selama aku pergi.Titip anak kita,kalau ada apa apa segera kabari aku"kata Teo di telinga Gea.
"Seberapa lama dan seberapa jauh aku pergi,aku berharap suatu saat nanti ada kesempatan untukku kembali ke rumah ini.Meski aku tahu kesalahanku kali ini terlalu menyakitimu tapi tolong percayalah hati ini sepenuhnya milikmu.Aku terlalu takut kehilangan wanitaku ini,karena aku sadar aku tak punya apa apa yang bisa membuatmu bahagia.I love you with all my heartbeat"
Teo kembali menghampiri istrinya yang kini sudah duduk di tepian tempat tidur.Ia meletakkan tasnya sebentar lalu berjongkok di depan istrinya.
"Jangan menangis"kata Teo seraya menghapus airmata di pipi Gea.
"Ini terlalu berat"lirih Gea.
"Seberat apapun,yakinlah kita pasti mampu melewatinya.Ini juga berat bagiku Ge,meninggalkan wanita tercintaku dan juga putri kita.Tapi aku harus menepati janjiku padamu.Anggap saja ini waktunya kita untuk saling introspeksi diri.Aku berharap setelahnya aku masih bisa memandang wajah bidadariku ini tanpa jarak yang memisahkan"kata Teo.
"Lalu Kak Teo mau kemana?"
Bagaimanapun Gea tetap tak bisa menutup mata kemana suaminya akan pergi.Bukankah suaminya tak punya saudara di daerah sini?.
Teo meraih tangan Gea lalu menaruh berkas yang tadi ia ambil.
"Apa ini?"tanya Gea dengan bibir bergetar.Pikiran sudah membayangkan yang tidak tidak melihat berkas yang terbalik di tangannya itu.
__ADS_1
"Itu sertifikat ruko,bukalah"kata Teo.
Dengan tangan bergetar Gea membuka berkas itu dan ia terkejut mendapati sertifikat itu atas namanya.
"Kak,ini.."
"Hanya sedikit hadiah untuk wanita hebatku ini.Tadinya ini mau aku berikan tadi malam,tapi sayangnya amarahku mengacaukan segalanya dan berakhir seperti ini.Ini untukmu,tapi maaf jika boleh sementara ini aku akan menumpang disana.Jika nanti aku sudah menemukan tempat baru aku akan mengembalikan kuncinya padamu.Apakah boleh?"tutur Teo.
Gea semakin kencang terisak mendengar penuturan suaminya.Hatinya semakin dilanda kebimbangan.Sejauh inikah pria di depannya ini berjuang untuknya?.Tak ingin rasanya ia membiarkan prianya ini pergi namun entah mengapa ia masih saja menganggukkan kepalanya.
Teo tersenyum miris.Dalam hati ia berharap Gea akan menahan kepergiannya.Namun sepertinya Gea terlalu sakit dengan semua yang telah terjadi.
"Baiklah,aku pergi.Jaga diri baik baik"pamit Teo dengan nada putus asa.
Teo beranjak lalu mengambil tas punggungnya.Tanpa di duga Gea menubruk dan memeluknya dari belakang.
"Maaf"lirih Gea dalam isaknya di punggung Teo.
Teo mengendurkan pelukan Gea lalu berbalik dan memeluk kembali istrinya itu dengan lebih erat.
"Jangan merasa bersalah.Semua yang terjadi memang karena kesalahanku.Aku pantas mendapatkan semuanya ini.Aku hanya berharap masih ada maaf dan kesempatan untukku tetap di sisimu"kata Teo.
Tak ada balasan namun isakan Gea semakin jelas terdengar membuat hati Teo semakin perih dan nyeri karenanya.
Kembali Teo meregangkan pelukan istrinya.Ditatapnya dalam dalam wajah sembab yang telah merubah hidupnya ini.Wajah yang akan selalu menghiasi mimpi mimpi malamnya.
Dengan lembut Teo melabuhkan kecupan mesra di kening Gea.Cukup lama ia menahan kecupan itu seolah ingin menyalurkan rasa cintanya yang dalam untuk istrinya itu.Setelahnya ia berpindah menuju bibir manis milik kesayangannya.******* dan menyesapnya penuh kelembutan seakan ia tak lagi punya kesempatan untuk merasai manisnya bibir gadis kesayangannya.
"Aku pamit ya.Jaga diri jaga kesehatan.Jika boleh jaga hati ini hanya untukku"kata Teo saat tautan bibir keduanya terlepas.
Teo kembali menggendong tas punggungnya.Sebelum keluar kamar ia masih sempat menghampiri putrinya dan menyematkan ciuman di seluruh wajah Silvi.
"Ayah pamit ya dek.Jaga bunda buat ayah ya,jangan rewel terus sama bunda.Diakan ayah semoga bunda segera memberi kesempatan pada ayah untuk kembali lagi ke rumah ini"lirih Teo.
Setelahnya Teo berlalu tanpa menoleh lagi ke belakang.Ia membawa airmata bersama penyesalan yang hebat dalam setiap langkahnya.
__ADS_1