
Hari berganti hari.
Roda kehidupan terus berputar dengan semestinya.Begitu juga dengan hubungan Gea dan Teo.Adakalanya hubungan manis tercipta dengan segala perubahan Teo yang selalu berusaha menjadi lebih baik bagi anak dan istrinya.Namun disisi lain masih ada Gea yang belum bisa menerima segala luka dihatinya.Apalagi mantan sang suami masih saja terus mengusik rumah tangganya.
Masa cuti kerja Gea juga hanya tinggal tiga hari.Selebihnya ia akan kembali menjalani rutinitasnya di luar rumah lagi.
"Kamu sudah bilang sama Mba Santi belum?"tanya Teo yang masih menimang putrinya.
"Udah tadi siang"balas Gea.
"Yakin mau kerja lagi?"tanya Teo seraya mendekat pada istrinya yang tengah melipat baju anaknya.
"Menurut kakak?"Gea malah balik tanya.
Teo menghela nafas.Lalu ia menidurkan putrinya di ranjang.
"Satu tahun lagi aja ya"pinta Teo.
"Kenapa satu tahun?"
"Aku ga mau terlalu sibuk di luar rumah.Aku pengen kamu fokus sama aku dan Silvi"
"Pengennya juga gitu Kak"
Teo duduk di samping Gea.Diraihnya kedua tangan istrinya.
"Maaf ya,aku belum bisa jadi imam yang baik.Aku akan berusaha lebih keras lagi buat kebahagiaan kalian"
"Lalu setelah satu tahun lagi?"tanya Gea.
"Semoga apa yang sedang aku perjuangkan memberikan hasil yang terbaik.Doakan saja"
"Bukan karena yang lain?"selidik Gea.
Teo menghela nafas kasar.
"Apa perubahanku selama ini masih belum cukup Ge?"lirih Teo.
"Selama dia masih mengganggu,selama itu pula ketakutan akan menghantuiku Kak.Dan apa kamu pikir aku tenang dengan semua ini?Tidak Kak.Aku justru semakin tersiksa dengan semua ini"papar Gea.
"Kalau begitu ikhlaskan semua yang pernah terjadi Ge.Akupun tak ingin mengingatnya lagi.Aku hanya ingin mengingat kalian,memperjuangkan kamu dan Silvi"
"Dengan cara apalagi aku melupakannya?Aku pun lelah dengan perasaan ini.Rasa cemburu yang terus menyakiti"
Bukannya miris,tapi Teo justru tersenyum mendengarnya.
"Apa benar kamu cemburu?"
"Aku juga manusia biasa Kak.Akupun sama seperti wanita lain.Ingin disayang dan dicinta.Aku juga cemburu kalau ada yang mengusik milikku"
__ADS_1
Teo tercenung mendengarnya.Laksana ada yang menampar hatinya.Menyadarkannya bahwa selama ini ia memang lebih banyak mengabaikan istrinya daripada mengasihinya.
"Apa Mba Santi mau momong Silvi?"tanya Teo mengalihkan pembicaraan.
"Iya mau.Tapi cuma sampai salah satu dari kita pulang kerja"jawab Gea.
"Ya udah gapapa.Nanti kalau ga ada kerjaan tambahan aku usahain buat jaga Silvi dulu"
"Emang Kak Teo mau nyari kerjaan tambahan?"tanya Gea.
"Bukan nyari,tapi lagi bikin kerjaan tambahan aja.Doain ya biar berhasil"
"Pasti Kak,aku selalu menyebut namamu disetiap doa doaku"tutur Gea."Emang bikin kerjaan apa Kak?"
"Pengennya sih ternak ayam.Dibidang ini setidaknya aku ada bekal tentang pengolahan pakannya.Kalau masalah lain yang belum aku tahu kan aku bisa nanya kamu"
"Ga gratis tapi"balas Gea.
"Perhitungan ya ama suami"cibir Teo.
"Harus dong,hari gini gitu"
"Minta apa sayang?"goda Teo.
"Hmmm,apa ya?Semuanya boleh ga?"
"Apa sih yang ga buat kamu"
Sementara Teo cukup mengangguk dengan pasti."Jangankan hati ini,jika kamu meminta nyawakupun akan aku berikan asal kamu selalu bahagia"
Diraihnya tangan Gea yang tadi menunjuk dadanya lalu dikecupnya dengan mesra.Sebisanya Teo hanya ingin menunjukkan bahwa hatinya kini benar benar takluk pada pesona Gea.Gadis sederhana dengan segala cinta dan ketulusannya.
"Aku tak akan memaksamu untuk kembali seperti dulu.Satu bulan kita hanya tersisa satu minggu lagi Ge.Aku hanya ingin menikmatinya.Mencurahkan segenap hati dan cintaku padamu.Jika memang aku tak lagi punya kesempatan kedua,setidaknya aku pernah mencobanya meskipun aku tak pernah ingin ada perpisahan antara kita.Tapi aku sadar,sudah begitu banyak luka yang kutoreh untukmu gadis kesayanganku".kata Teo sendu.
Sorot matanya menyiratkan harapan yang begitu besar untuk sang istri tercinta.
Teo melepaskan genggaman tangannya lalu beranjak.Tapi baru satu langkah dirinya berlalu,Gea sudah menubruknya dari belakang.
"Maaf Kak,aku egois"lirihnya dengan terisak.
Merasakan isakan sang istri di punggungnya Teo segera berbalik dan memeluk kesayangannya itu.
"Tidak sayang,kamu tak pernah egois.Disini akulah yang egois.Bertindak tanpa memikirkan perasaanmu"kata Teo.
"Jangan pergi Kak"
"Kenapa?"
"Aku tak ingin kehilangan"
__ADS_1
"Sama Ge,aku juga tak ingin kehilangan wanitaku yang berharga ini.Tapi aku juga tak bisa melihatmu terus merasa sakit disisiku"tutur Teo.
"Apa maksudmu Kak?"tanya Gea seraya mendongakkan kepalanya untuk menatap suaminya.Airmata masih saja terus mengalir di pipinya."Apa kamu akan meninggalkanku?"
Teo tersenyum mendengar pertanyaan Gea.
"Kamu tahu pasti apa jawabannya Ge.Aku tak akan pernah meninggalkanmu.Hatiku ini sepenuhnya milikmu".
"Lalu apa maksudmu kak?"tuntut Gea.
"Aku ingin kamu berada disampingku dengan hati yang yakin,bukan dengan hati yang diliputi ketakutan dan keraguan.Jadi satu minggu ini,mari kita yakinkan hati dengan apa yang kita ingini.Yang kamu harus tahu,aku akan selalu mencintaimu dan menantikan hatimu.Tapi apapun keputusanmu aku akan menerimanya"jelas Teo meski dalam hati ia mengatakan bahwa apapun keputusan Gea nanti ia tak akan pernah melepaskan istrinya itu.
"Bagaimana jika keputusanku nanti tak sesuai harapanmu Kak?"
"Aku akan berusaha ikhlas menerimanya"
"Apa kamu menyerah begitu saja?"
"Tidak sayang.Tidak akan ada kata menyerah untuk memperjuangkanmu.Tapi aku yakin,cinta tahu kemana ia harus pulang.Dan tempatmu kembali adalah aku"
"Seyakin itu?"tanya Gea.
"Sepertimu yang selalu yakin jika aku bisa menjadi lebih baik.Seyakin itu pula aku akan cintamu"
Mata Gea kembali berkaca kaca.Hatinya diliputi rasa haru.Sebesar itukah suaminya mencintainya kini?.Ataukah semua itu hanya kata kata semu agar ia tetap bertahan?
"Udah ya,jangan terlalu dijadikan beban.Udah malem,kamu istirahat dulu"kata Teo.
Tapi Gea justru semakin erat memeluknya.
"Kenapa?"tanya Teo lembut.
Gea hanya menggeleng saja tanpa melepas pelukannya.Biarkan saja.
Biarkan untuk sesaat saja ia merasakan hangatnya dekapan suaminya.Ia memang butuh waktu dan alasan untuk membuang semua rasa ragu dalam hatinya.Melepas semua ketakutan yang slalu menyiksa jiwa.
Dan mulai hari ini ia akan menguatkan hatinya agar esok tak lagi salah dalam memutuskan.
Satu minggu.
Ya,hanya satu minggu yang tersisa dari kesepakatan antara Gea dan Teo.
Semoga jika saat itu tiba tak ada lagi keraguan dan ketakukan.
"Rasakan dan resapi Ge.Aku yakin hatimu yang tulus tahu mana yang terbaik"bisik Teo di telinga Gea.
Setelahnya hanya ada keheningan tanpa melepas dekapan.
Saling merasakan dalam diam.
__ADS_1
Berusaha saling memahami meski tanpa kata.
Dan saling menguatkan lewat tatapan.