Mencinta Tanpa Batas

Mencinta Tanpa Batas
Aku Butuh Kamu


__ADS_3

Setelah kejadian saling pukul Anton dan Teo hampir semua teman kerjanya seperti mendiamkan Teo.Tak bermaksud menjauhi tapi mereka kecewa dengan apa yang sudah dilakukan Teo.


Bagaimana ada suami yang setega itu pada istrinya sendiri?.


Bagaimana ada sahabat yang seperti itu pada sahabatnya sendiri?.


Merasa frustasi dengan masalah yang dihadapinya Teo memutuskan menenangkan dirinya lebih dulu sebelum pulang ke rumahnya.Seperti biasa ia akan pergi ke tempat favoritnya,kali ini ditemani dengan sebotol vodka.


Lagi lagi tanpa sadar ia kembali menghancurkan harapan istrinya.


Dan lagi lagi ia merasa Tuhan tak pernah adil padanya.


Perasaannya yang benar ataukah mata hatinya yang sebenarnya buta?.


"Aaccchhh....."teriaknya kencang meluapkan segala kecewanya.


"Kenapa harus seperti ini Tuhan?Salahku dimana?Apa aku tak pantas bahagia?"tangisnya.


Menangis?.


Apa ada yang salah jika seorang Teo menangis?.Meskipun laki laki tapi ia juga manusia.Ia juga punya hati dan perasaan seperti manusia yang lainnya.


"Kenapa rindu ini terbalas saat ada wanita lain disampingku?Kenapa?Apa aku tak boleh mencintainya?Apa aku salah bila aku masih berharap akan cintanya?"lirihnya.


Apa yang salah dengan rasa?Bukankah kita memang tak bisa mengatur datangnya rasa di hati kita?


Begitu pula dengan Teo.


Rasa kecewa datang begitu saja di hatinya saat Riri mengkhianati cintanya dulu.Ia pikir Riri adalah cewek yang benar benar tulus padanya hingga ia menyerahkan segenap hatinya.Nyatanya ia hanya persinggahan sementara.


Ia kira Riri mau berjuang bersamanya menerimanya apa adanya.Tapi realitanya tingkatan materinya dipertanyakan.Hartanya diperbandingkan.


Apa yang bisa ia perjuangkan jika harta menjadi ukurannya sedangkan ia hanya anak orang tak mampu.Jangankan untuk kemewahan,untuk makan saja ia harus berjuang sendiri.


Tertusuk duri tepat di hati yang Teo rasa saat itu.Marah dan kecewa tak dapat terelakkan.Tapi ia bisa apa?.Ia memang tak punya harta dan tahta yang dijadikan tolak ukur oleh Riri dan keluarganya.


Disaat ia terperosok dalam kubangan kecewa ia dipertemukan dengan Gea.Sosok Gea yang sederhana seperti magnet tersendiri yang mampu menyentuh hati Teo.Perlahan ia semakin dekat dengan gadis polos itu.


Semakin mengenal Gea ia tahu Gea memanglah sosok yang berbeda dengan Riri.Kesederhanaannya bukanlah topeng tapi murni apa adanya.


Meski sebentar mengenal Gea,Teo merasa nyaman bersamanya.Karenanya Teo memutuskan menjadikan Gea pelabuhan terakhirnya.Meski tanpa bekal cinta,ia berharap bersama Gea bisa melupakan semua kisah kelam percintaannya.Menjadikan Gea teman hidup selamanya.


Namun dalam hidup ini manusia hanya bisa menjadi perencana ulung sedang penentu jalannya tetaplah Allah.Begitupun dengan hidup Teo.

__ADS_1


Kisah hidup yang ia rancang indah bersama Gea ternyata tak sesuai ekspetasinya.Riri kembali datang mengusik kehidupannya.Menawarkan kembali nuansa indah yang dulu pernah ia harapkan.


Tergoda?Pastinya.


Rasa nyaman yang ia miliki bersama Gea ternyata tak mampu menahan badai godaan yang datang menerpanya.Ia kembali terjatuh dalam cinta lama yang tak seharusnya ia biarkan masuk dalam kehidupannya kini.


Airmata masih terus mengalir,seakan ingin membawa semua kesedihan yang kini Teo rasakan.


"Gea,gue butuh lo,tapi apa lo masih mau bertahan dengan keadaan gue yang kaya gini?Gue tahu semua ini salah,tapi gue juga ga bisa ngatasi rasa ini.Bukan ini kemauan gue Gea"isaknya.


Tangis tanpa suara,begitu lirih namun pedih.


Merasa sesak didadanya tak berkurang Teo memutuskan untuk pulang.Saat ini ia butuh Gea.


Sangat membutuhkannya.Hanya istrinya yang selalu memahami keadaannya.


Setibanya di rumah Teo langsung mencari keberadaan istrinya.Meski kepalanya sudah terasa berat ia berusaha menahannya.Yang ia inginkan saat ini hanya Gea.


Ia mendesah kasar saat tak mendapati istrinya di kamar.Ada rasa takut Gea meninggalkannya.Ia kembali melangkah mencari istrinya dan tersenyum carah saat mendapati istrinya ada di dapur.


Ia melangkah pelan mendekati istrinya lalu memeluknya dengan begitu eratnya.


"Lagi ngapain?"tanyanya seraya memberikan sebuah kecupan di pipi Gea.


Selesai dengan susunya Gea kembali mengambil sebuah cangkir.Ia bermaksud membuat minuman herbal untuk mengurangi bau alkohol yang dikonsumsi suaminya itu.


"Bikin apalagi sih"sungut Teo karena merasa Gea masih saja sibuk walaupun sudah ia peluk seperti itu.


"Bikin minum buat kamu"singkat Gea.


Setelah selesai dengan minumannya Gea berbalik menghadap suaminya.Kali ini ia terkejut mendapati wajah suaminya yang memar.


"Kak ini kenapa?"tanya Gea cemas.


"Gapapa,cuma lecet dikit"kata Teo.


Gea berdecak kesal karenanya.Ia lalu membawa suaminya untuk duduk di kursi dapur,lalu mengambil minuman yang tadi dibuatnya dan memberikannya pada Teo.


"Minum dulu biar enakan"


Tanpa peduli pada Teo yang terus menatapnya ia beranjak mengambil kotak obat.Terlihat Gea mengambil nafas dalam dan membuangnya perlahan.Menghadapi suaminya dalam keadaan seperti ini memanglah butuh ketenangan dan kesabaran.Salah sedikit saja bisa bisa Teo mengamuk.


Gea menarik kursi lain untuk duduk tepat di depan Teo.Dibersihkannya luka di wajah suaminya dengan telaten.Meski mulutnya bungkam tapi ia begitu serius melakukannya.Terakhir ia mengoleskan salep agar luka suaminya cepat sembuh.

__ADS_1


'Done"kata Gea.


Tangannya kembali membereskan kotak obat yang tadi dipakainya.


"Udah makan?"tanya Gea lembut.Ia menatap suaminya yang juga terus menatapnya sedari tadi.Teo hanya menggeleng sebagai jawaban.


"Aku ambilin makan ya?"


Lagi lagi Teo hanya menggeleng.


"Something wrong?"tanya Gea.Kali ini Teo mengangguk.Ternyata instingnya sebagai istri memang kuat.Bila sudah seperti ini,ia hanya cukup diam menunggu suaminya itu bicara sendiri padanya.


"Mau ke kamar?"tanya Gea.Ia beranjak untuk membereskan gelas bekas minumnya.Ia kira suaminya akan duluan,ternyata masih menunggunya.


"Sepertinya kali ini beneran pusing dia"batin Gea.


Bahkan Teo masih menunggunya saat ia mengunci pintu rumah dan mematikan lampunya menyisakan lampu kamar saja yang masih menyala.


"Kak,ganti baju dulu ya"katanya pada Teo seraya menyerahkan pakaian yang baru ia ambil dari lemari.


Gea menghela nafas saat Teo masih saja hanya bungkam dan berlalu ke kamar mandi.


"Harusnya disaat saat seperti ini kamu yang siaga buat aku Kak"lirihnya.


Ya,disaat menantikan masa kelahiran anaknya seharusnya memang Teo yang siaga untuk menjaga Gea.Tapi keadaan justru sebaliknya.Justru Teo yang kini terpuruk dengan masalahnya.


Saat pintu kamar mandi terbuka Teo melihat istrinya sudah berbaring di ranjang.Ia pun menaruh handuknya dengan cepat dan segera menyusul Gea.


Dipeluknya kembali tubuh Gea seakan ia bicara lewat pelukannya.Gea pun membiarkannya saja,menyuruh Teo untuk segera bicara pun percuma saja.


Setelah sekian menit terdiam Gea membuka suaranya.


"Mau bicara?"


Teo masih menggeleng.Ia masih memeluk Gea erat seakan takut kehilangan.Bahkan kini ia menduselkan kepalanya di leher Gea seakan mencari kenyamanan.


"Aku butuh kamu"kata Teo.


Meski lirih Gea masih mendengarnya.


Daaaannn.....


Jika sudah begitu Gea hanya perlu diam dan memberikan bahunya untuk Teo bersandar.Memaksa bicara juga akan sia sia.Biarkan Teo memeluknya sepuasnya untuk bisa mengembalikan kekuatan dirinya.Jika memang sudah lebih baik,toh dia sendiri yang akan buka suara.

__ADS_1


Suaminya memang unik.


__ADS_2