
Usai melaksanakan sholat maghrib Ges bersiap untuk berangkst bersama suaminya.Tak lupa ia memoles wajahnya dengan sedikit riasan yang natural sehingga ia tampil semakin cantik.Aura kecantikannya yang selama ini ia sembunyikan dan hanya akan ia tampilkan ketika bersama suaminya seakan memancar tiada tara.
Teo menghampiri istrinya dan berdecak kesal saat melihat tampilan istrinya.Wajahnya seketika berubah bagai baju tak pernah disetrika.Andai saja ia bisa menghentikan waktu,ingin rasanya ia menyimpan kecantikan istrinya hanya untuk ia nikmati sendiri meski sebenarnya Gea sudah berusaha seperti itu.Menampilkan kecantikannya hanya untuk suaminya seorang.
"Cantik banget sih"sungut Teo saat tangannya berhasil memeluk tubuh istrinya dari belakang.
"Cantik ding,kan mau jalan bareng ayang beb,masa iya tampilannya kucel kumel"balas Gea.
"Tapi aku ga rela kamu kaya gini"lirih Teo.
Dahi Gea berkerut beberapa lipatan mendengar ungkapan suaminya."Maksudnya aku ga boleh ikut pergi gitu"bingung Gea.
Teo menghela nafas sejenak.Ia lalu menunjuk cermin di depan istrinya itu.
"Kamu lihat itu.Bidadariku ini begitu cantik dan nantinya akan ada banyak mata liar yang menikmati kecantikanmu ini.Sungguh aku cemburu karenanya"kata Teo.
Sementara Gea masih terdiam dengan mata menatap cermin.Disana terpampang bayangan dirinya dan suaminya.Suaminya yang terlihat begitu tampan di matanya meskipun raut wajahnya terlihat kesal.Dan ia dengan sedikit polesannya itu setidaknya sedikit mengimbangi ketampanan suaminya.Terlihat begitu serasi meskipun tak semewah tampilan Raffi Ahmad dan Nagita Slavina,namun setidaknya tak seperti pangeran dan upik abu.
"Ini tak adil"kata Gea setelah ia terdiam cukup lama.
"Apanya yang tak adil?"tanya Teo ditengah kebingungannya.
"Lihatlah,kamu begitu tampan.Dan aku dengan sedikit polesan ini setidaknya tidak begitu memalukan berjalan berdampingan denganmu.Jika kamu terlihat begitu tampan,apa aku tak boleh memantaskan diriku untuk berada di sisimu?"tutur Gea dengan tatapan yang tak beralih dari bayangan di depannya.
Teo terkesiap mendengar ucapan istrinya membuatnya semakin erat memeluk istrinya.
"Janji ya nanti jangan jauh jauh dari aku"pinta Teo.
"Kamu kok jadi posesif gini sih Kak"kata Gea seraya terkekeh kecil.Sungguh sikap suaminya saat ini membuatnya gemas.
Teo menghela nafas kasar.
"Entahlah sayang,rasanya aku malas pergi.Pengennya ngurung kamu di kamar aja.Tapi ga mungkin juga kan aku membuat mereka pada nungguin kita"
Gea tertawa mendengar ucapan suaminya.Ia berbalik menghadap suaminya dan justru mendapat pelukan yang semakin kencang saja.
__ADS_1
"Sekarang pergi dulu ya.Nanti malem aku kasih yang istimewa"kata Gea.
"Apa?"
Gea mendekatnya wajahnya ke wajah suaminya.Ia lalu membisikkan kalimat yang terdengar indah di telinga Teo.
"Si merah yang menggoda"
Hanya empat kata yang keluar dari mulut Gea,tapi mampu merubah wajah Teo yang tadinya kusut tak berbentuk menjadi bersinar seketika.
Bahkan kini dengan begitu semangatnya Teo mengajak Gea segera berangkat membuat Gea menggelengkan kepala.
.
.
.Setibanya di tempat yang dijanjikan suasana masih terlihat sepi.Teo mencari tempat duduk dan mengajak Gea untuk menunggu yang lainnya.
"Kok sepi"kata Gea.
"Gue udah disini dari tadi"
Tak tahu darimana datangnya tiba tiba Viko menyela ucapan Teo membuat Teo dan istrinya menoleh karena kaget.
"Hai,kirain belum datang"kata Teo seraya menjabat tangan Viko dan berpelukan sesaat.
"Ke belakang sebentar gue tadi"kata Viko.Ia lalu beralih menyalami Gea.
Sesaat Viko terpana melihat Gea,membuat Teo segera menarik tangan Gea dan menyuruhnya pindah kesampingnya.
"Yaelah,posesif amat lo"kata Viko.
"Biar mata lo ga jelalatan"balas Teo yang membuat Viko ma1aendelik kesal karenanya.
"Gue masih waras,ga mungkin bini lo gue embat"sungut Viko."Kaya ga ada cewe single aja"
__ADS_1
Sementara Gea meloloskan nafas berat melihat tingkah suaminya.Matanya menatap sebelah tangannya yang masih digenggam suaminya.Sungguh posesif yang luar biasa seolah ingin menunjukkan bahwa Gea hanya miliknya.
"Elaaah,lepas napa tangannya kaya takut ilang aja.Ga kasian tu sama Gea"kata Viko.
"Bini bini gue kenapa lo yang sewot"balas Teo.
Viko hanya menggeleng kepala saja.Sungguh perubahan yang sangat besar dalam diri sahabatnya itu.
"Yang lain molor ini pasti"kata Teo.
"Kaya ga tau aja,jam karet masih berlaku di negeri ini"balas Viko.
"Lo balik kesana lagi ga?"tanya Teo.
"Pengennya balik lagi,tapi ga boleh sama bokap.Malah disuruh ngurusin bengkel"
"Ya ikutin aja sih kalo lo mau"kata Teo.
"Paling iya,kasian juga bokap udah tua.Abang gue juga udah netap di tempat istrinya"kata Viko.
Sementara keduanya terlihat obrolan Gea hanya bisa menatap jengah.Ia seperti obat nyamuk saja.
"Kak,aku ke toilet dulu ya"kata Gea.
"Iya,jangan lama lama"kata Teo.
Gea memutar bola matangah jengah.Bagaimana ia bisa pergi jika suami posesifnya itu tak melepas genggaman tangannya.Sementara Viko sudah tertawa saja melihatnya.
"Kenapa?Ga jadi ke toilet?"tanya Teo.
Viko semakin terbahak mendengar ucapan Teo.
"Gimana bisa pergi,tangannya aja ga lo lepasin gitu"kata Viko.
Teo menatap tangannya lalu tersenyum menatap istrinya."Sorry"
__ADS_1
Gea melenggang pergi dengan muka kusut karena tingkah suaminya.Terlalu cinta ataukah takut kehilangan suaminya itu.