Mencinta Tanpa Batas

Mencinta Tanpa Batas
Hatimu Belum Sepenuhnya Milikku


__ADS_3

Teo meremas rambutnya kasar.Jam dinding telah menunjukkan pukul satu dini hari tapi matanya belum juga mau terpejam.Ia melirik istrinya yang tengah terlelap dengan damainya meyakinkan bahwa istrinya benar benar tak terjaga lagi.


Ia lalu mengambil ponselnya dan mengirimkan sebuah pesan.


"Ton,udah tidur?"


Berharap sahabatnya itu belum tertidur karena jam segini memang biasanya masih melek.


"Belum,napa lo tumben chat gue di jam segini"


"Sumpek gue"


"Napa,berantem lagi ma bini lo?"


"Engga Ton,bini gue orangnya ga emosian.Gue pusing karena Riri masih ganggu gue mulu".


Lama gak ada balasan dari Anton membuat Teo berasumsi jika Anton marah padanya.Saat ia ingin menutup ponselnya barulah balasan dari Anton muncul.


"Kita ketemuan aja kalo masalah tu cewe biar ga ada salah paham kedepannya".


Lega Teo membacanya,setidaknya ia masih bisa minta saran dari sahabatnya itu.


"Oke,besok kita ketemu".


Sebelum beranjak menyusul istrinya ke peraduan Teo melihat keadaan putrinya terlebih dahulu.


"Doakan ayah sayang biar ayah kuat melewati ini semua.Ini sungguh pilihan yang berat buat ayah.Melupakan masa lalu ini begitu berat buat ayah,tapi ayah akan berusaha melupakannya biar kita bisa sama sama terus"


Tanpa Teo sadari ada yang mendengar ucapannya dengan begitu jelasnya hingga rasanya ia ingin membunuh Teo saat ini juga.


...****************...


Teo mendaratkan pantatnya di kursi yang berhadapan dengan Anton.Hari ini dia benar benar menemui Anton hanya karena masalah yang terus menganggunya.Mereka janjian di sebuah warkop seperti biasanya.


"Serius amat kayanya masalah lo ya"kata Anton hang memecah keheningan antara keduanya.


"Lumayan juga sih.Sory juga kalo gue ganggu waktu lo"ucap Teo.


"Ga kok,santai aja"kata Anton seraya menyalakan sebatang rokok lalu menghisapnya.

__ADS_1


"Hubungan lo sama Riri gimana?"tanya Teo hati hati.Ia takut kembali menyakiti sahabatnya,tapi Antin justru membalasnya dengan senyuman di bibirnya.


"Ga ada kejelasan,putus engga lanjut juga engga"ujarnya santai.


"Lo ga pengen balikan apa?"tanya Teo.


"Pengennya gue nikahin sekalian"


"Trus lo nyerah gitu aja?"cecar Teo.


"Gue perjuangin juga percuma kalo dia masih terobsesi sama lo.Apapun yang gue korbanin buat dia juga ga akan ternilai dimatanya karena yang dianggap berarti buat dia cuma lo"


Teo terdiam karena ucapan Anton memang benar adanya.


"Dan apa yang gue rasain itu juga sama dengan apa yang istri lo rasain"lanjut Anton.


"Sory,gue bener bener ga nyangka bakal kaya gini jadinya"sesal Teo.


"Trus lo mau kaya gimana sekarang?"tanya Anton.


"Entahlah,gue juga bingung.Gue pengen bisa melupakan semuanya dan membuka lembaran baru sama Gea.Tapi jujur Ton,melupakan masa lalu itu ga mudah seperti apa yang gue bayangkan.Lo tahu gue pernah berharap lebih sama dia".


"Gea ngasih gue waktu sebulan.Kalo dalam kurun waktu itu gue masih hubungan sama Riri,Gea minta pisah dari gue.Gue udah berusaha buat perbaiki semuanya,tapi Riri malah neror gue terus sekarang.Dia ga terima gue akhirin semuanya sama dia" terang Teo."Dan gue takut Gea ga mau percaya sama gue lagi".


"Sepertinya lo butuh Gea buat ngomong ke Riri"kata Anton.


"Maksudnya?"


"Ya lo bilang aja ke Gea biar dia yang ngomong ke Riri.Mungkin kalo sesama wanita yang ngomong dia lebih bisa nerima keadaan"terang Anton.


"Gue takutnya ntar mereka malah berantem"


"Dicoba dulu aja,mungkin lo bisa ajak bini lo buat ketemu Riri"


"Ya ntar gue ngomong dulu ke Gea lah.Semoga aja dia mau"


"Kapan lo masuk kerja lagi?"tanya Anton.


"Cuti gue masih dua hari lagi,nunggu Gea pulih dulu lah.Ga mungkin gue biarin dia dirumah sendirian ngurus anak kalo dia belum pilih"terang Teo.

__ADS_1


"Selamat ya buat kelahiran anak lo.Sory gue belum sempet ke rumah buat nengok ponakan gue"kata Anton."Nitip ini aja,sedikit hadiah buat ponakan gue"imbuh Anton seraya menyerahkan sebuah paper bag ke hadapan Teo.


"Dikit apaan,setas gede gini lo bilang dikit.Tapi makasih buat hadiahnya"


Selanjutnya dua lelaki itu terlibat obrolan santai walau entah apa saja yang mereka bicarakan.


.


.


.


Di rumah Gea.


Kini Gea termenung seorang diri setelah suaminya pamit untuk keluar menemui Anton.Sedikitnya Gea tahu apa yang akan dibicarakan suaminya pada sahabatnya itu.Dan itu kini menyebabkan rasa sakit dihatinya kembali menghimpit.


"Apa selamanya kamu akan menyimpan duri dalam pernikahan kita Kak?.Kenapa begitu sulit bagimu melupakannya setelah semua apa yang aku korbankan?"lirih Gea.


"Apa aku harus menyerah setelah semua pengorbananku selama ini?.Tapi bagaimana dengan putri kita?Apa kamu tega membiarkannya besar tanpa kasih sayang yang utuh?"


Bimbang.Antara ingin berjuang dan menyerah.


Sesak menghimpit dada membelenggu jiwa dan raga.


"Lalu untuk apa semua hal manis yang selama ini kau berikan padaku?Apa itu benar dari hatimu atau hanya sekadar menutupi semua rasamu?"


Kembali terlintas di benak Gea hal hal manis yang akhir akhir ini ia terima dari suaminya.Semua terasa begitu manis dan membahagiakan.Hingga ia mulai percaya dan kembali memberi hati pada suaminya.


Mahligai indah yang ia bayangkan.Rumah tangga harmonis menjadi impian.Bayangan buah hati yang berlarian,bermain dengan bahagianya bersama sang ayah.Jalinan kasih tulus berbalut kemesraan gambaran yang tanamkan dalam angannya.


Namun kini lukisan kebahagiaan itu jatuh berantakan.Pecah berkeping keping menyisakan serpihan luka yang kembali mengoyak dinding hati.Menggoreskan luka baru di atas luka lama yang belumlah mengering sepenuhnya.


Masih bisakah luka itu sembuh kembali?.Masih bisakah luka membiarkan kasih berlalu dengan indahnya?Ataukah hanya akan menjadi parasit yang mengerogoti teguhnya cinta di hati.


"Aku harus bagaimana?Aku juga hanya wanita biasa.Akupun bisa terluka dan sakit hati.Aku hanya ingin bahagia bersamamu.Apa impianku terlalu indah?Atau aku yang salah berharap bahagia bersamamu?"lirih Gea.


"Egokah aku?Aku yang ingin memilikimu sepenuhnya tapi nyatanya hatimu belum sepenuhnya milikku.Harus dengan apa lagi aku membuatmu sepenuhnya berpaling padaku dan hanya memikirkan aku.Haruskah aku bertahan atau menyerah dengan keadaan dan selamanya menghilang dari hidupmu?"


Gea masih bergelut dengan angan tentang suaminya hingga suara tangis Silvi membuyarkan pemikirannya.Ia lalu menghampiri putrinya dan menggendongnya.Ditengah airmata yang masih mengalir ia masih bisa tersenyum menatap putrinya."Semoga kamu menjadi penerang dalam rumah tangga ayah dan bunda nak"

__ADS_1


__ADS_2