Mencinta Tanpa Batas

Mencinta Tanpa Batas
Ga Nyaman


__ADS_3

Gea membereskan meja kerjanya dengan buru buru.Rasanya ia sudah tak nyaman berada di ruangannya sendiri.Meskipun ada Pak Zain juga tapi Gea tahu bahwa mata Reihan tak pernah lepas memperhatikannya.


"Tumben buru buru Ge,emang Teo udah datang apa?"tanya Pak Zain.


"Masih jalan Pak,tapi udah ditunggu bala kurawanya.Kalo ga cepet nanti malah jadinya tunggu menunggu"balas Gea.


"Ga usah ikut aja lah Ge"seloroh Pak Zain.


"Hahaha,big no Pak.Kak Teo mana bisa lepas sendirian.Katanya pergi ga sama bini ga asik"kata Gea.


"Bucin"ledek Pak Zain.


"Yah,si bapak gimana sih.Kan situ yang ngajarin"balas Gea seraya menaik turunkan alisnya.


"Kapan saya ngajarin?"heran Pak Zain.


"Nah,pura pura lupa lagi.Yang kemaren bilang,Gea kalo jadi istri itu yang manis kaya istri saya.Di luaran kalem anteng,tapi kalo dikamar wauw jadi lakinya bakal betah trus ga lirik lirik kanan kiri"


"Wah buka kartu kamu"seru Pak Zain.


Gea tertawa lepas mendengarnya."I am so sory Pak,tapi makasih atas ilmunya.Saya sudah praktek dan hasilnya memang wauw"


"Udah Ge,jangan diterusin,malu"sela Pak Zain.


Gea masih tertawa melihat muka merah mandornya itu.Bahkan saat pamit pun ia masih sempat menjahili Pak Zain hingga mandornya itu geleng geleng kepala.


Usai menutup pintu gerbang Gea bersandar di tembok sambil menunggu suaminya.Ia menghela nafas kasar.


"Belum ada sehari rasanya udah ga nyaman kaya gini.Gimana besok kalo udah beneran satu ruangan cuma berdua?"batinnya.


Pikiran Gea melayang entah kemana.Sungguh ia takut akan kembali terjadi sesuatu yang buruk pada rumah tangganya dengan adanya Reihan yang seprofesi dengannya.Apa dan bagaimana ia harus menghadapinya esok.


Cup!


Sebuah kecupan mendarat di pipi Gea hingga reflek membiat Gea ingin memukul orang yang sudah berani menciumnya.Namun belum sampai tangannya mendarat,sebuah tangan kekar sudah menahannya.


"Ngelamunin apa sih sampe segitunya"tanya Teo.


"Eh,maaf Kak,aku kira bukan Kakak tadi"kata Gea.


"Kamu kira siapa?Ada yang lagi kamu tunggu selain aku?"tanya Teo.


Gea hanya menggeleng."Aku gapapa Kak.Ayo berangkat"


Baru saja selangkah ia maju,tangan Teo sudah menahan pinggangnya.


"Apa ada yang mengusikmu di dalam sana?"tanya Teo dingin.

__ADS_1


"Aku gapapa Kak"kekeh Gea.


Tanpa diduga Teo justru mendorong Gea hingga kembali bersandar di tembok.Dengan gerak cepat ia mengunci tubuh istrinya.


"Bibir manismu ini bisa berkata tidak apa,tapi tidak dengan ini sayang"kata Teo seraya mengusap mata Gea.Ia tahu sorot mata Gea sedang berusaha menutupi sesuatu.


"Katakanlah,aku suamimu bukan orang lain"kata Teo dengan lembutnya.


Mata Gea berkaca kaca karenanya.


"Kak,aku akan cerita nanti.Aku janji.Tapi saat ini aku hanya ingin segera pergi dari sini.Please"pintanya


Teo tersenyum mendengarnya.Tanpa bicara ia membawa Gea ke samping motor dan memakaikan helm.Usai menstarter motornya Teo menyuruh Gea naik.Tanpa diminta Gea memeluk pinggang suaminya dengan erat.


"Ada apa denganmu Ge?"batin Teo.


Sungguh Teo benci melihat kesayangannya seperti ini.Dan ia pasti akan membuat perhitungan dengan siapapun yang membuat wanitanya seperti ini.


"Jadi ikut ke rumah Anton engga?"tanya Teo setelah ia menepikan motornya di jalan yang lumayan sepi.


"Terserah Kak Teo aja"jawab Gea.


Teo menghela nafas pelan.Jika sudah begini dibawa kemanapun istrinya itu hanya akan diam dan sibuk dengan lamunannya sendiri.Tidak mungkin juga kan di rumah Anton nanti hanya akan diam dan melamun.Akhirnya ia pun memutuskan membawa istrinya pulang setelah memberi kabar pada Anton dan teman temannya.


"Kak,ga jadi ke rumah Anton?"tanya Gea saat menyadari jalan yang mereka lewati adalah arah ke rumah.


"Kenapa?"


"Bidadarinya lagi butuh ketenangan,kalo kesana nanti malah ambyar"


Gea tersenyum mendengarnya.Itulah Teo yang sekarang.Lebih mementingkan Gea daripada yang lain.Tanpa kata kini ia memeluk suaminya lebih erat lagi.


Sesampainya di rumah Gea langsung masuk ke kamar dan rebahan begitu saja tanpa cuci tangan apalagi cuci kaki.Ia meringkuk memeluk guling dan membenamkan wajahnya.


Selang sekian menit Teo masuk.Ia pun lalu mendekati sang istri.


"Kayanya guling lebih enak dipeluk ya daripada aku"kata Teo.


Perlahan Gea menjauhkan guling yang menutupi wajahnya.Terlihatlah mata Gea yang sembab hingga membuat rahang Teo mengeras.


"Apa kamu sungguh sungguh tak ingin berbagi padaku?"tanya Teo dengan dinginnya.


Gea bangkit dari rebahannya dan langsung memeluk suaminya.Bahkan kini isakan terdengar dari mulutnya.Menyadari istrinya menangis,Teo pun balas memeluk dan mengusap punggung Gea agar tenang.


Teo membiarkan Gea menangis dan meluapkan apa yang tengah dipendamnya.Namun selanjutnya ia tak akan membiarkan istrinya itu terus diam saja.Berulagkali Teo mengecup kepala Gea seolah meyakinkan kesayangannya itu bahwa semua akan baik baik saja


Setelah tak lagi tersengar isakan Gea,Teo sedikit merenggangkan pelukannya.Dihapusnya sisa airmata di pipi Gea.

__ADS_1


"Ada apa?"tanya Tep lembut.


Gea melepas pelukannya di tubuh Teo.


"Aku takut Kak"cicitnya dengan wajah yang menunduk.


Kening Teo berkerut mendengarnya."Takut apa?"


Gea menghela nafas sedikit kasar.Dengan segenap keberaniannya ia menatap wajah teduh suaminya itu.Mau tidak mau ia harus jujur pada suaminya.


"Kak,pengganti Pak Zain di kantor ternyata Reihan"lirih Gea.


"Hah!"seru Teo.Sungguh ia pun begitu terkejut mendengarnya."Bagaimana bisa?"


Gea hanya menggelengkan kepalanya.Ia takut menghadapi suaminya saat ini.


"Apa yang kamu takutkan?"tanya Teo.


"Aku takut dia mengusikku lagi Kak, aku ga mau kita salah paham lagi nanti"cicit Gea.


Teo mengangkat dagu Gea lalu mengecup bibirnya.


"Apa kesayanganku ini akan mudah pindah ke lain hati?"tanya Teo.


Gea kembali menggeleng."Tidak Kak.Tak pernah aku berfikir untuk itu.Aku hanya tak ingin ada hal buruk yang kembali mengusik kita"


"Jujur aku cemburu karna nantinya kamu pasti akan bertemu dengannya setiap hari.Tapi aku akan mencoba menerima dan percaya bahwa cinta di hati ini hanya milikku"kata Teo seraya menunjuk dada Gea.


"Hanya milikmu dan selamanya akan seperti itu Kak"balas Gea.


"Apa aku resign aja Kak"


"Kenapa?"heran Teo.


"Rasanya ga nyaman aja"


"Tolong sabar dulu ya sebentar lagi aja.Jika semuanya sudah beres kamu bisa sepenuhnya menjadi nyonya Teo dan fokus buat ngurus aku sama adek"kata Teo.


"Emang kamu lagi nyiapin apa sih?"tanya Gea.


"Ada deh,tapi yang pasti itu untuk masa depan kita"


Gea memberenggut."Curang aku ga boleh tau"


"Sabar sayang,aku cuma mau ngasih yang terbaik buat kamu dan anak kita"


"Uluh jadi ga sabar deh nunggunya"manja Gea.

__ADS_1


Melihat mode manja kesayangannya muncul Teo pun melancarkan aksinya.Satu fitrah yang tercipta antara mereka bahwa bercinta mampu menjadi obat penawar bagi setiap keluh kesah rumah tangga mereka.Menghalau segala badai kehidupan yang memporakporandakan perasaan.


__ADS_2