Mencintaimu Hingga Akhir

Mencintaimu Hingga Akhir
Episode 17 Kepulangan Taufik


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang ditunggu - tunggu oleh Salma, yaitu hari dimana Taufik akan pulang setelah beberapa hari yang lalu pergi untuk perjalanan bisnisnya.


Salma pun dengan sengaja tidak akan pergi ke butik karena ingin menyambut kepulang Taufik secara langsung. Meski dia tidak tahu jam berapa pastinya Taufik akan pulang, tapi dengan semangat Salma mempersiapkan semuanya sejak pagi hari tadi.


Salma terus saja melihat jam yang terpajang di dinding kemudian bergantian melihat kearah pintu utama rumah, dengan hati yang berdebar Salma terus saja menunggu Taufik detik demi detiknya. Hingga tanpa ia sadari hari sudah menjelang siang, akhirnya Salma memutuskan untuk sholat dzuhur terlebih dahulu. Selepas sholat dan seperti biasa membaca ayat suci Al - Qur'an, Salma bergegas turun melangkah dengan tergesah dan dengan hati yang riang.


Sampai dilantai dasar Salma belum juga mendengar suara deru mobil Taufik, ia memutuskan akan membantu menyiapkan makan siang saja dulu. Dan di dapur sudah ada Bi Ati dan yang lain, Salma segera bergabung dan membantu beberapa pekerjaan yang masih belum selesai. Masakan pun akhirnya beres mereka membantu Salma menyajikan beberapa menu makanan dimeja makan, usai itu Salma beranjak ingin menunggu Taufik di teras depan saja karena entah mengapa ia merasa tidak sabar ingin segera melihat wujud Taufik. Namun, sebelum ia berhasil melangkahkan kakinya suara Bi Ati telah lebih dulu menghentikan langkah Salma.


''Non.. emm.. gimana ya..'' panggil Bi Ati seperti ingin mengatakan sesuatu namun terlihat ragu juga bingung.


''Ya Bi, katakan saja tidak apa.'' ucap Salma dengan tersenyum seperti mengerti maksud Bi Ati.


''Begini non, lebih baik non makan siang dulu saja, karena takutnya nanti non malah melewatkan waktu makan siang non.'' ujar Bi Ati sopan dan hati - hati.


''Tidak Bi, aku ingin menunggu Mas Taufik pulang dulu. Aku sengaja menunggunya untuk makan siang bersama, mungkin sebentar lagi dia akan pulang. Mungkin sekarang dia sedang diperjalanan menuju rumah.'' balas Salma dengan riangnya.


Bi Ati semakin bingung harus mengatakannya atau tidak, ia tidak ingin mematahkan semangat Salma apalagi kalau sampai membuatnya kecewa. Tapi ia juga tidak mungkin membuat Salma terus menunggu Taufik hingga melewatkan makan siangnya.


''Non, sebenarnya.. tuan tidak akan pulang ke rumah siang ini..'' ujar Bi Ati setelah beberapa saat mempertimbangkan untuk mengatakannya pada Salma atau tidak.


''Maksudnya Bi? Tidak Bi, Bibi salah. Kemarin aku sudah menghubunginya, dan dia bilang dia akan pulang hari ini. Maka dari itu aku menunggunya sedari tadi.'' timpal Salma walau sempat bingung, namun ia tetap tak menghilangkan lengkungan dibibirnya yang dari tadi terus menghiasi wajahnya.


''Iya non, tuan memang akan pulang hari ini. Tapi setahu Bibi, tuan tidak akan langsung pulang kesini. Huh.. maksud Bibi.. tuan akan pergi ke perusahaan terlebih dahulu baru dia akan pulang ke rumah, mungkin nanti sore baru tuan akan pulang non.'' jelas Bi Ati dengan berat hati dan sedih harus mengatakan kebenaran ini.


Melihat Salma yang sepertinya belum berniat menjawab dan masih tergugu dalam diamnya, akhirnya Bi Ati melanjutkan kembali ucapannya. Meski Bi Ati melihat dengan sangat jelas perubahan ekspresi Salma, senyuman yang sedari tadi menghiasi wajahnya kini sudah hilang tak tersisa berganti dengan raut yang sarat akan kekecewaan. Tapi mau bagaimana lagi, Bi Ati tetap harus menyampaikannya bukan?


''Jadi begini non, tuan Taufik sejak dulu memang seperti itu dia akan kembali ke kantor dan melanjutkan pekerjaannya disana setelah ia berpergian cukup lama atau jauh, karena dikhawatirkan adanya suatu kendala atau apalah itu selama tuan Taufik meninggalkan kantor.'' lanjutnya sedangkan Salma masih membisu dengan perasaan yang berkecamuk.


"Hah.. aku sampai lupa, Mas Taufik 'kan memang sangat pekerja keras dan menggilai pekerjaannya. Dan yang Bi Ati bilang memang benar, dia pasti pergi kesana." Batin Salma yang baru menyadari hal itu, meski tak dapat dipungkiri hatinya sedang sakit sekarang.


Melihat Salma yang terus terdiam, Bi Ati semakin tak enak hati pada nonanya itu.


''Bibi mohon maaf non, bukan maksud Bibi untuk lancang.'' tukasnya.

__ADS_1


''Ehh.. tidak Bi, tidak sama sekali. Aku malah berterima kasih, karena Bibi sudah memberi tahu aku. Kalau begitu Salma permisi ke kamar dulu ya.. Bi '' sahut Salma akhirnya setelah tersadar dari lamunannya. Tak lupa ia menepiskan senyum tipis, sangat tipis hingga Bi Ati pun dapat melihat bahwa Salma kini sedang berusaha memaksakan diri untuk tersenyum dikala hatinya sedang kecewa, kemudian Salma melangkah menuju anak tangga.


''Tapi non, apa non tidak makan siang dulu?" seru Bi Ati sebelum Salma berlalu.


''Tidak Bi, Bibi dan yang lain saja yang makan.'' sahut Salma kembali tanpa membalikan badannya yang sudah memunggungi Bi Ati.


Bi Ati pun hanya bisa menghela nafas sambil terus menatap punggung Salma yang semakin jauh melangkah dengan langkah lesunya.


''Kasihan non Salma, pasti dia sangat kecewa saat ini.'' gumam Bi Ati pada dirinya.


Di kamar Salma terduduk disofa kamarnya, termenung merenungkan semua usahanya dan semua sikap dan tindakan yang Taufik lakukan padanya.


Tanda disadarinya air matanya pun menetes juga, lelah.. ya mungkin itu yang ia rasakan saat ini.


''Kamu kenapa Mas, selalu saja seperti ini? Apa kamu tidak merindukanku sekarang? Apakah aku begitu tidak ada artinya dalam hidupmu?'' ucap Salma dengan derai air mata yang semakin deras.


🌟🌟🌟🌟


''Pak, langsung antarkan saya ke kantor.'' seru seorang pria yang duduk dikursi penumpang, yang tak lain adalah Taufik.


''Baik tuan.'' patuh Pak Aji seraya menganggukan kepalanya.


''Tuan, apa tidak sebaiknya tuan pulang saja ke rumah? Pasti sekarang nona Salma sedang menunggu anda disana.'' ujar Husain yang duduk dikursi samping Pak Aji.


Meski Husain tahu bahwa Taufik memang selalu seperti ini, dulu Taufik memang akan langsung kembali ke kantor untuk lanjut bekerja setelah pergi dari perjalanan bisnisnya, hal itu dikarenakan waktu itu Taufik belum memiliki seorang istri yang akan menungguinya untuk pulang. Namun sekarang situasinya berbeda, Taufik sudah menikah dan mungkin istrinya sekarang sedang menantinya pikir Husain.


''Tidak sen, aku akan ke kantor saja. Salma pasti akan mengerti dan mungkin saja dia sekarang sedang berada di butiknya.'' sahut Taufik yang dijawab anggukan oleh Husain, tak mau terlalu ikut campur urusan bossnya.


Walau jauh dilubuk hati Taufik, dia ingin sekali segera bertemu dengan Salma, rasa rindu yang seakan sudah menggunung itu seperti ingin segera dileburkan saat itu juga. Namun Taufik tak ingin dulu kembali pulang, karena takutnya Salma sedang tidak ada di rumah jika benar seperti itu maka itu akan percuma saja. Selain itu, juga ia yang tidak bisa membuat pekerjaannya terbengkalai di kantor. Dengan terpaksa ia harus menunda dan kembali bersabar untuk bisa berjumpa dengan Salma.


''Semoga pekerjaan di kantor sedang tidak banyak.'' batin Taufik.


Mereka akhirnya sampai di kantor, Taufik memasuki lift dengan Husain yang mengikutinya dibelakang. Saat sedang didalam lift Taufik berucap,

__ADS_1


"Oh iya sen, nanti kamu ikut dulu ke ruanganku. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu." lmbuh Taufik.


"Iya baik, tuan." sahut Husain.


Ting!


Suara lift berdenting, merekapun keluar dan melanjutkan langkahnya menuju ke ruang kerja Taufik.


"Seperti yang kamu ketahui, bahwa beberapa waktu kedepan nanti kita akan lebih sering pergi ke luar kota untuk memantau berjalannya proyek disana." tutur Taufik setelah duduk dikursi kerjanya dan Husain yang duduk dihadapannya.


"Maka dari itu, saya ingin kamu meminta bagian HRD mencarikan sekretaris untuk saya. Agar saat kita tidak sedang di kantor, ada orang yang menghandle pekerjaan disini." lanjut Taufik setelah tadi sempat terdiam sejenak.


"Baik tuan, saya akan pastikan tuan akan mendapatkan sekretaris dalam waktu dekat ini. Apa ada persyaratan tertentu untuk itu tuan? Seperti jenis kelamin misalnya?" tanya Husain.


"Emm.. sepertinya tidak, buat saja persyaratan seperti biasanya seorang sekretaris harus bekerja. Dan tentunya dia harus profesional." balas Taufik kemudian.


"Baik tuan, saya akan mengatakannya pada bagian HRD sekarang. Apa ada lagi tuan?" tanya Husain kembali sebelum ia pamit.


"Tidak, itu sudah cukup. Silahkan kamu lanjutkan pekerjaanmu." ujar Taufik.


"Baik, kalau begitu saya undur diri dulu tuan." Husain pun melenggang pergi dari ruangan Taufik dan Taufik mulai melanjutkan pekerjaannya.


.


.


Bersambung...


.


.


Tolong untuk Like dan Votenya ya..

__ADS_1


__ADS_2