
"Assalamu'alaikum.. wah.. siapa ini yang datang?" Sapa Salma ketika ia baru memasuki ruang tamu dan melihat bocah kecil yang tak lain adalah Akmal.
"Wa'alaikumsalam, sayang.. salam dulu sama aunty dan nenek nak." Ingat Izma pada anaknya dan segera dipatuhi oleh Akmal.
"Anak pintar.." puji Bu Sahidah sesaat setelah tangannya dicium oleh Akmal.
"Aunty boleh aku duduk disini?" Tanya Akmal yang meminta izin untuk duduk didekat Salma.
"Oh tentu sayang, ayo sini aunty bantu." Jawab Salma yang kemudian membantu Akmal duduk didekatnya.
Melihat hal itu Bu Sahidah dan Izma pun tersenyum hangat, sebenarnya Izma sempat ragu untuk berkunjung dan menjenguk Salma saat ini. Karena khawatir akan membuat Salma kembali sedih dan teringat pada calon anaknya, tapi ia sudah tidak tahan untuk melihat kondisi Salma setelah beberapa minggu lalu ia mendapat kabar tak menyenangkan itu. Izma sudah tidak bisa lagi menahan dirinya untuk menjenguk sahabat karibnya itu, ia juga merasakan kesedihan dan kehilangan yang Salma rasakan, namun suaminya mencegahnya untuk menjenguk Salma saat itu. Mereka mendengar dari Taufik bahwa Salma masih dalam kondisi yang belum memungkinkan untuk dijenguk, jadi dengan berat hati Izma pun mengurungkan niatannya itu.
Dan ketika mendapat kabar Salma sudah lebih baik, dengan segera Izma pun ingin bertemu dengan Salma walau masih ada rasa ragu karena ia yang membawa Akmal, takut rasanya ia membuat Salma kembali bersedih. Tapi Alhamdulillah, yang ia takutkan ternyata tidak terjadi. Salma sepertinya bersiap biasanya saja dan seperti biasanya pada Akmal dan hal itu jugalah yang terlihat dan dirasakan oleh Bu Sahidah, ia juga merasa lega karena ternyata menantunya sudah bisa kembali bersikap sewajarnya.
"Salma bagaimana keadaan kamu sekarang?" Tanya Izma hati-hati.
"Alhamdulillah Iz, aku jauh lebih baik. Ya.. seperti yang kamu lihat sekarang." Timpalnya sambil sesekali bermain dan mengusili Akmal.
"Em.. sebelumnya aku minta maaf ya Sal, karena aku baru bisa datang sekarang. Aku benar-benar tak enak hati padamu Sal." Lanjut Izma yang kemudian ia tertunduk dalam menyesali ketidakhadirannya saat keadaan terburuk sahabatnya.
Melihat hal itu seketika Salma bangkit dan menghampiri Izma, ia duduk disebelah sahabatnya itu.
"Tidak apa Iz, semua sudah berlalu. Lagi pula aku sudah tidak pa-pa sekarang, dan yah.. semua terjadi atas kehendak-Nya jadi tidak ada yang perlu disesali saat ini olehku." Ujar Salma menyakinkan Izma kalau ia kini sungguh sudah merasa jauh lebih baik dan ikhlas akan semuanya.
__ADS_1
"Dan aku juga yakin, kamu pasti ikut mendo'akanku kan agar aku bisa dikuatkan dalam menjalani semua ini. Aku yakin itu Iz." Sambung Salma dengan senyuman menawannya.
"Iya, tentu saja Sal. Aku tidak pernah lupa untuk selalu mendo'akanmu, kamu jangan pernah ragu. Aku, sahabatmu ini akan selalu berusaha untuk selalu ada untukmu bagaimana pun sulitnya keadaanmu, percayalah." Ucap Izma dengan penuh keyakinan dan mantap saat mengucapkannya.
Salma terkekeh kecil.
"Ya, aku percaya Iz, sangat percaya. Karena kamu memang sahabatku." Timpal Salma lagi dan akhirnya keduanya pun terkekeh lucu, menertawakan ucapan mereka sendiri.
"Mama, aunty kenapa ketawa?" Tanya Akmal yang menatap mereka dengan penuh kebingungan begitu pun dengan Bu Sahidah, karena ia tidak mendengarkan perbincangan kedua sahabat itu dan sibuk bermain dengan Akmal.
"Ah.. tidak sayang, Mama dan aunty hanya sedang ingin tertawa saja. Iya kan aunty?" Jawab Izma dengan kemudian meminta persetujuan pada Salma.
"Hemm, kami hanya sedang bercanda tadi." Timpal Salma.
"Oh.. ayo diminum dulu minuman ya.. nak Izma." Pinta Bu Sahidah setengah ia mengangguk mendengar alasan mereka tertawa.
Selanjutnya, seperti biasa mereka pun berbincang dengan serunya dengan sesekali mereka mendengarkan celotehan Akmal dan mengajaknya bermain. Sungguh hari ini, yang seharusnya Salma akan dilanda rasa bosan seperti hari-hari sebelumnya. Namun kini berbeda karena kehadiran Izma dan juga Akmal benar-benar meramaikan rumahnya dan secara otomatis juga menghibur dirinya.
🌟🌟🌟🌟
"Pelakunya memang sudah ditemukan dan kini dia sudah mendekam didalam penjara, Tuan. Tapi dalang dan orang yang membayar si pelaku masih dalam pencarian, dan dari pihak polisi pun sudah mengintrogasi si pelaku untuk mendapatkan informasi siapa dalang dari semua ini. Namun sepertinya dia benar-benar setia dan tidak memberikan informasi apapun pada kami, Tuan." Papar Husain panjang lebar melaporkan hasil penyelidikannya tentang kasus tabrak lari Salma.
Taufik nampak sedang berpikir dan mencerna siapa sebenarnya dalang dari semuanya. Ia terus berpikir, mungkin saja ada orang yang memang tidak menyukainya dan ingin membuat dirinya jatuh dan hancur. Tapi sejauh ini ia memang tidak memiliki musuh atau pernah memiliki perselisihan dengan siapapun, jadi siapa sebenarnya orang itu? Pikiran Taufik sungguh terasa sudah buntu memikirkannya.
__ADS_1
"Upayakan segala cara Sen, agar dia segera ditangkap dan mendapat hukuman yang setimpal. Aku percayakan semuanya padamu." Sahut Taufik akhirnya, kala dia benar-benar tidak tahu harus mencurigai siapa.
"Baik Tuan, terima kasih atas kepercayaannya. Dan untuk masalah proyek di kota A, saya minta maaf Tuan karena sepertinya kita belum bisa melanjutkan kembali pembangunannya. Sehingga mau tidak mau kita akan menundanya dalam beberapa waktu kedepan." Lanjut Husain yang kini menjelaskan soal proyek mereka.
"Hmm, mau bagaimana lagi jika memang harus seperti itu Sen. Tidak pa-pa, aku mengerti kesulitanmu dan terima kasih kamu sudah bekerja keras, kamu sungguh bisa diandalkan." Tanggap Taufik yang diakhiri sanjungan untuk orang kepercayaannya itu.
"Iya Tuan sama-sama, ah.. Tuan jangan seperti itu. Ini sudah menjadi tugas saya." Balas Husain kemudian ia pun pamit izin diri meninggalkan ruangan Taufik.
"Siapa sebenarnya dia? Jika seperti ini, aku harus waspada terhadap siapapun. Karena bisa saja orang yang tidak ada kemungkinan sekali pun bisa menikamku, bahkan orang yang aku percaya sekalipun." Gumam Taufik dengan pikiran yang sudah melayang entah kemana, yang harus ia pastikan sekarang adalah keselamatan keluarganya.
Maksud orang yang Taufik percaya disana tidak termasuk Husain ya.. karena Taufik sudah tahu benar dan yakin akan kesetiaan Husain padanya. Ia bahkan sudah menganggap Husain sebagai adiknya sendiri.
.
.
.
Bersambung...
.
.
__ADS_1
.
Untuk episode selanjutnya, InsyaAllah nanti membahas Husain dan Fitri ya.. ditunggu aja😊😊