Mencintaimu Hingga Akhir

Mencintaimu Hingga Akhir
Episode 49 Disudutkan


__ADS_3

Keempat orang tua mereka kini sudah berkumpul di rumah Taufik, mereka begitu bersemangat dan bahagia mendengar kabar yang sangat mereka tunggu-tunggu beberapa bulan terakhir ini dan akhirnya kini mereka mendapatkan berita bahagia ini juga.


Cucu pertama mereka akan segera hadir di dunia ini, dan tak lama lagi  akan ada yang menyapa dan memanggil mereka dengan panggilan kakek-nenek.


"Assalamu'alaikum maaf membuat kalian menunggu lama." Seru Salma ketika ia dan Taufik menghampiri orang tuanya yang sedang duduk di ruang keluarga menunggu mereka turun.


"Wa'alaikumsalam Warahmatullah." Balas mereka serempak.


"Sayang, bagaimana keadaanmu pagi ini?" Tanya Bu Sahidah kepada Salma, ketika Salma dan Taufik sudah menyalami mereka semua.


"Iya sayang, apa kamu terus merasakan mual dan muntah?" Tambah Bu Ilma yang juga sudah tidak sabar mendengar cerita Salma. Sebab kemarin saat mereka telponan, Salma hanya sempat bercerita sedikit tentang dirinya yang mengalami mual dan muntah yang cukup hebat.


Kini Salma sudah duduk dengan diapit oleh kedua wanita paru baya yang sangat ia hormati dan sayangi itu.


"Alhamdulillah keadaan Salma jauh lebih baik Ma, Bu. Pagi ini aku tidak terlalu merasa mual, hanya sedikit muntah saja tadi." Sahut Salma dengan seadanya.


"Tadi Mama sempat ngobrol dengan Bi Ati, Bi Ati bilang kalau sekarang porsi makanmu lebih sedikit dan katanya kamu hanya akan memakan makanan tertentu saja, itu kenapa sayang?" Tanya Bu Sahidah yang sejak tadi hal itu ingin sekali ia tanyakan, karena merasa khawatir dengan keadaan Salma.


"Bukankah seharusnya wanita hamil akan makan dengan porsi yang lebih banyak dari sebelumnya? Karena sekarang ada nyawa lain didalam perutmu yang membutuhkan nutrisi dan itu hanya bisa didapat melalui dirimu, nak." Sambung Bu Sahidah berusaha sepelan mungkin, karena tidak mau jika menantunnya itu nanti tersinggung atau merasa tidak nyaman akan ucapannya.


"Apa?! Apa itu benar sayang? Kenapa kamu seperti itu Salma? Kamu tidak boleh egois nak, kasihan anakmu nanti." Timpal Bu Ilma yang kaget mendengar penuturan besannya tadi.


Salma hanya tersenyum melihat perhatian dan khawatiran kedua ibunya itu, ia merasa sangat bersyukur telah dianugerahi kedua wanita yang sangat menyayanginya itu.


"Begini Ma, Ibu, sebenarnya Salma juga tidak menginginkan hal ini. Tapi, aku benar-benar tak berdaya, karena apapun yang aku makan itu membuatku mual dan terkadang aku akan kembali memuntahkannya." Jelas Salma mengatakan kondisinya saat ini.

__ADS_1


"Jadi, Salma hanya bisa makan sedikit dan itupun hanya makanan yang tidak memiliki bau yang menyengat. Namun, Mama dan Ibu tidak usah khawatir. Karena meski aku makan dengan porsi yang sedikit, aku masih bisa mengantisipasinya dengan makan lebih sering. Bahkan sampai setiap 2 jam sekali Salma akan makan." Imbuh Salma dengan senyuman menatap wanita disampingnya bergantian.


"Ya ampun sayang, kasihan sekali dirimu. Kamu pasti tersiksa dengan rasa mualmu itu, Ibu juga mengalaminya dulu saat Ibu sedang mengandungmu." Ujar Bu Ilma prihatin pada Salma yang harus mengalami hal yang sama sepertinya.


"Tidak Bu, aku justru sangat menikmatinya dan bersyukur karena diberi kesempatan untuk merasakan hal ini." Sahut Salma dengan raut bahagianya.


"Hah.. kamu selalu saja begitu nak, tapi tidak apa jika kamu baik-baik saja." Balas Bu Ilma lagi dengan mengelus tangan Salma yang ia genggam.


Bu Sahidah belum kembali bersuara, ia seperti sedang memikirkan sesuatu. Kemudian, ia menatap Taufik yang sedang berbincang kecil dengan dua pria lainnya.


"Em.. apa kamu belum membawa Salma untuk diperiksa oleh dokter, Fik?" Tanya Bu Sahidah pada anaknya.


Dan Taufik pun segera menoleh kepada ibunya yang sedang bertanya.


"Belum Ma, rencana setelah ini kami akan pergi ke dokter." Sahutnya dengan santai.


"Memangnya ada ya Ma, obat seperti itu?" Tanya Taufik yang memang tidak tahu menahu soal seperti itu.


"Tentu saja ada Fik, jika kamu tidak percaya coba kamu tanyakan saja pada mertuamu, beliau juga pernah mengalami hal yang sama seperti Salma. Dan pasti dokter memberinya obat itu juga." Sahut Bu Sahidah dengan melibatkan besannya itu.


"Iya nak, obat seperti itu memang ada. Dan sebaiknya kalian segera pergi ke dokter, dia pasti akan memberikan resep obatnya. Itu akan sangat membantu dan mengurangi rasa mual Salma." Ucap Bu Ilma menyahuti ucapan anak dan ibu itu, yang segera mendapat anggukan setuju dari Bu Sahidah.


"Tuh.. apa Mama bilang!" Ujar Bu Sahidah lagi.


"Iya Ma, maaf. Taufik kan tidak tahu, kalau memang ada obat-obatan seperti itu. Mama dan Ibu tidak perlu mencemaskan hal itu, karena nanti sore aku dan Salma memang akan pergi konsul ke dokter." Sahut Taufik dengan sopan.

__ADS_1


Bu Ilma hanya mengangguk lega mendengar perkataan Taufik, tapi berbeda dari reaksi Bu Sahidah yang sepertinya masih ingin membicarakan hal lain dengan Taufik.


"Hmm.. bagus, lebih cepat lebih baik. Tapi ngomong-ngomong, apa kamu sengaja tidak pergi ke kantor untuk menjamu kami makan siang disini?" Tanya Bu Sahidah yang merasa heran, karena memang kejadian seperti ini sangatlah langka Taufik lakukan.


"Iya Ma, sudah dua hari ini Taufik tidak pergi ke kantor." Balasnya seadanya.


"Apa?! Dua hari? Apa Mama tidak salah dengar, tumben sekali kamu mengambil libur. Biasanya ditanggal merah pun kamu akan tetap bekerja." Sergah Bu Sahidah dengan menyindir Taufik, yang pada kenyataannya memang sulit untuk dipisahkan dari pekerjaannya itu.


"Kenapa hari ini Mama sangat menyebalkan ya..? Maaf Ma, tapi aku merasa sepertinya Mama sengaja ingin menyudutkanku didepan kedua mertuaku." Gerutu Taufik dalam hati yang merasa kesal, Mamanya itu selalu saja menguji kesabarannya.


Salma tersenyum melihat ekspresi wajah Taufik, dan dengan sekuat tenaga ia menahan tawanya agar tidak pecah. Ia tahu betul apa yang Taufik pikirkan dan rasakan saat ini, ia juga hapal betul bagaimana hubungan suaminya dan ibu mertuanya itu. Yang selalu saja akan saling meledek, menggoda dan bahkan terkadang bisa saling menjatuhkan jika jiwa jahil mereka keluar ke permukaan. Tapi biarlah mereka seperti itu, mungkin memang dengan cara itu mereka menunjukan kasih sayang mereka masing-masing.


Menarik nafasnya sejenak, sebelum selanjutnya ia akan menjawab pertanyaan menjebak dari wanita yang telah melahirkannya itu.


"Iya Ma, karena hari ini sangatlah istimewa. Dan aku tidak mau kalau sampai melewatkan kejadian penting seperti ini." Sahut Taufik dengan bangga karena menemukan jawaban yang pas untuk pertanyaan Mamanya.


"Hmm.. itu memang harus kamu lakukan Fik. Mama harap, kamu akan semakin meluangkan banyak waktu lagi untuk Salma. Karena dalam kondisi Salma saat ini, dia pasti sangat membutuhkam kehadiranmu selalu disisinya." Balas Bu Sahidah dengan menatap menantunya penuh kasih sayang dan dibalas juga oleh Salma serupa.


Taufik mengangguk dan tersenyum sambil melihat kearah Salma dengan tatapan penuh cinta, ia merasa bahwa rasa cintanya itu kini seakan semakin bertambah dan membuncah terhadap Salma.


.


.


LIKE, COMENT DAN VOTE JANGAN SAMPAI LUPA!!😊

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2