Mencintaimu Hingga Akhir

Mencintaimu Hingga Akhir
Episode 73 Masa lalu


__ADS_3

Dikala kesibukannya yang kini sedang terus berusaha mencari dalang dari semua kekacauan proyek dan kasus tabrak lari Salma. Entah kenapa justru ucapan dan bayangan wajah terluka Fitri pada hari itu, yang malah muncul dibenaknya saat ini. Entah sudah berapa kali ia berusaha mengenyahkan semua bayangan itu dari benaknya, tapi justru hal itu masih terus saja mengusiknya bahkan sampai beberapa hari belakangan ini. Perasaannya jadi tak karuan saat ini, yang malah justru membuatnya menjadi merasa bersalah akan ucapan dan tindakannya pada hari itu.


"Apa aku sudah terlalu keras ya.. padanya? " Monolognya saat pikirannya terus diserang oleh kejadian tempo hari.


"Tapi, jika aku tidak bersikap seperti itu. Dia pasti tidak akan berhenti, dia akan terus berpikir bahwa aku masih menginginkannya. " Lagi ia berbicara pada dirinya sendiri.


"Tapi bagaimanapun itu, aku tetap salah. Karena sudah bersikap dan berbicara cukup kasar padanya. Dan dari sisi manapun tindakanku tempo hari tidak bisa dibenarkan. " Kembali sisi lain dari jiwanya membantah.


"Aah... Mengapa harus jadi seperti ini! Mengapa disaat semuanya sudah baik-baik saja dan disaat aku hampir saja berhasil, dia justru kembali dan mengusikku. " Erangnya frustasi, ia bahkan menjambak dan mengacak-acak tatanan rambutnya sendiri.


"Ya.. dia memang tidak bersalah, tapi aku pun tidak bisa disalahkan begitu saja. Aku juga terluka disini. Dan ini semua terjadi karena memang alam menginginkannya terjadi. Bukan aku! Ya, ini bukan salahku." Husain berusaha menyakinkan dirinya, kini ingatannya kembali akan hari yang membuatnya harus memilih pilihan yang sangat sulit menurutnya kala itu.


Flashback on


"Kamu bersedia atau tidak? Cepat berikan jawabanmu, sebelum saya berubah pikiran untuk tidak menolong mu." Ucap seorang pria berjas rapi yang duduk dengan melipat tangannya didepan Husain.

__ADS_1


"Tidak adakah cara lain? Kenapa harus itu yang Om minta?" Sahut Husain berusaha menawar


"Tidak ada. Ini saya lakukan demi kebaikan kalian, lebih tepatnya demi kebaikan dan cerahnya masa depan anak saya. Saya tidak mau anak saya salah dalam bergaul, dan sembarangan dalam memilih jalan atau bahkan seseorang dalam hidupnya yang nantinya saya khawatir malah merusak masa depannya." Tegas pria itu berucap tanpa mau melihat keadaan Husain yang sedang kesulitan saat itu.


Husain yang benar-benar sedang mengalami dilema terberat dalam hidupnya, antara harus memilih mimpi dan cita-citanya yang ingin melanjutkan pendidikannya ke universitas impiannya. Atau justru mengorbankan semua itu, demi untuk keselamatan dan kesehatan ibunya yang saat itu sedang memerlukan cukup banyak biaya untuk menjalani operasi cangkok jantungnya.


Ya, karena Husain terlahir dari keluarga yang sederhana ia bahkan sudah menjadi anak yatim, kala sepuluh tahun lalu ia ditinggal wafat oleh ayahnya. Jadilah ia anak semata wayang yang juga merangkap menjadi tulang punggung keluarga. Membiayai sekolahnya sendiri dan uang berobat sang ibu yang memang sudah sejak lama memiliki riwayat penyakit jantung.


Mungkin karena itu jugalah, mengapa pria tadi seakan menentang keras hubungan Husain dengan sang putri. Sebenarnya sudah berkali-kali pria itu mengajak putrinya bicara bahkan sampai melarangnya, namun mungkin karena rasa cinta putrinya yang sudah terlanjur besar hingga tak menghiraukan lagi semua ultimatum darinya. Dan kali inilah, ia memiliki kesempatan untuk menjauhkan dan menyelamatkan kehidupan putrinya dari kehancuran dan kesengsaraan. Pikirnya.


"Bagus! Kamu tenang saja. Semua biaya rumah sakit ibumu, akan saya urus. Dan sebagai ganti atas batalnya kamu menerima beasiswa, saya akan carikan universitas dan tempat tinggal baru untukmu. Yang pastinya itu harus jauh dari kota ini." Timpal pria bernama Burhan itu, ia langsung berdiri dan meninggalkan Husain sendiri di lorong rumah sakit itu.


"Terima kasih Om" Ucap Husain sebelum lawan bicaranya benar-benar pergi.


"Maafkan aku Fitri.. mungkin ini memang yang terbaik untuk kita. Ayahmu benar, kamu hanya akan sengsara bila di dekatku." Seru Husain dalam hati, dengan kepala tertunduk melihat lantai yang ia pijak.

__ADS_1


Dan setelah hari itu Husain dan Fitri tidak pernah bertemu lagi, alamat rumah ataupun kontak manapun tidak bisa memberikan sedikit informasi apapun untuk Fitri yang saat itu mencari keberadaan Husain. Begitupun dengan Husain, yang secara terpaksa mengasingkan diri atau lebih tepatnya diasingkan secara paksa. Bahkan baru saja ibunya mulai sedikit lebih pulih paska menjalani operasi, dengan tergesa ia langsung memboyong sang ibu meninggalkan kota kelahirannya itu.


Tindakan Husain tersebut sontak saja membuat ibunya kebingungan, disaat ia masih bertanya-tanya dari manakah Husain mendapatkan uang untuk biaya operasi dirinya ditambah lagi sekarang tanpa perencanaan dan bertanya terlebih dulu padanya Husain memutuskan hal besar ini. Yang jelas ini membutuhkan biaya yang tidaklah sedikit, banyak sekali pertanyaan dibenaknya. Namun ketika melihat raut wajah sang anak, sepertinya saat itu bukanlah hal yang tepat untuk ia bertanya.


Ia tahu, terlalu banyak dan terlalu berat beban yang anaknya itu pikul. Selama ini tak pernah sedikitpun anaknya mengeluh ataupun meminta hal untuk dirinya sendiri. Bahkan dikala anak-anak seusianya bermain dan menghabiskan masa mudanya untuk bersenang-senang, Husain justru bekerja banting tulang untuk dirinya untuk membiayai pengobatannya. Belajar dan bekerja, itu saja yang anaknya itu lakukan bahkan tidak ada waktu untuknya hanya untuk sekedar bersenda gurau.


Hidup memang serangkaian pilihan yang meski dengan bijak dan ikhlas dalam melaluinya, meski terkadang kita merasa seakan semua hal itu terlihat tidak adil dan cukup sulit untuk kita bisa menerimanya. Kita seakan dituntut untuk memilih sesuatu hal yang meski kita lebih prioritaskan diantara prioritas-prioritas lain dan hal penting lainnya yang saat itu sama-sama sedang kita usahakan secara mati-matian.


Flashback off


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2