
Setelah mengantar dan memastikan ibunya pulang, Taufik pun akhirnya kembali ke ruangan tempat Salma dirawat saat ini. Sebenarnya ia sudah sangat, sangat ingin melihat wajah cantik istrinya itu sejak ia tiba di rumah sakit. Apalagi sudah beberapa hari terakhir ini ia harus memendam rasa rindunya pada Salma karena masalah proyeknya yang tak kunjung selesai juga hingga saat ini.
Namun, sepertinya kali ini ia akan melepas dan meleburkan rasa rindunya dengan cara yang berbeda. Bagaimana tidak, jika biasanya ia akan langsung disambut dengan senyum manis dan pelukan hangat dari Salma ketika pulang dari berpergian jauh, kini justru kabar buruk inilah yang mengharuskannya pulang bahkan sebelum urusan pekerjaannya ia selesaikan. Ditambah lagi rasa cemas dan takutnya akan kondisi sang istri membuatnya tak mampu lagi untuk berpikir jernih dan bersikap tenang. Dan disaat ia sudah sampai, ia bahkan tidak bisa langsung menemui sang pujaan hatinya itu, mau bagaimana lagi jika justru ia harus mendahulukan hal lainnya terlebih dahulu, ia tidak mungkinkan mengabaikan dan membiarkan orang tuanya terus dirundung kesedihan jika saja mereka memaksa untuk tetap tinggal dan bermalam di rumah sakit.
Cklek..
Pintu ruang rawat Salma pun terbuka, Taufik mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam sana.
Deg..
Langkahnya terhenti kala ia sudah bisa melihat tubuh lemah Salma yang terbaring tak berdaya dengan beberapa luka lebam ditubuhnya. Taufik memejamkan matanya sesaat, berupaya menepis rasa sakit yang ia rasakan saat melihat pujaan hatinya terlihat sangat lemah dan tak berdaya. Ia merasa tersayat-sayat kala melihat wajah Salma yang pucat, kedua mata yang tertutup rapat seakan ia tak akan pernah terbuka lagi, dan hal itulah yang sangat Taufik takutkan saat ini. Jangan lupakan juga bibir mungilnya yang biasanya selalu terlihat ranum dan menggemaskan kini kering dan memucat.
Dihampirinya tubuh ringkih itu dekat, dan semakin dekat. Hingga kini ia sudah berada tepat disamping tubuh Salma yang belum juga mau terbangun dari tidurnya.
"Sa..sayang.." panggil Taufik dengan suara tercekat, perlahan diraihnya tangan kiri Salma yang terpasang jarum infus itu.
Dan ya.. sedikit info, alasan Taufik lebih memilih meraih tangan kiri Salma bahkan kala tangan itu terpasang infus, hal itu dikarena tangan Salma yang sebelah kanan dinyatakan mengalami keretakan. Ya sebenarnya itu hanya keretakan ringan, namun tetap saja dokter tetap harus menindaknya dan memasang alat penyangga ditangan Salma tersebut.
Cup..
Dikecupnya tangan itu dengan lembut dan begitu dalam hingga Taufik pun memejamkan matanya saat mencium tangan pujaannya itu.
"Maafkan aku.. maaf, aku tak bisa menjagamu dengan baik. Maaf karena aku, kita harus kehilangan calon bayi kita. Maaf Salma, maafkan aku." Ucap Taufik selanjutnya dengan sangat lirih dan suara yang semakin tercekat.
__ADS_1
Taufik yang semula berusaha menahan diri dan perasaannya untuk tidak bersikap lemah dihadapan sang istri. Tapi kini justru tanpa permisi dan tanpa bisa diajak kompromi air matanya jatuh juga dan mengalahkan semua usahanya yang ingin tetap terlihat kuat dan gagah dihadapan pujaan hatinya, yang meski kini ia tak mampu hanya untuk sekedar membuka mata dan melihatnya disini.
"Sayang.. buka matamu sayang.. lihat! Ini aku sayang, aku sudah pulang sekarang. Aku ada disini, aku ada disampingmu, bangunlah sayang.. ku mohon. Aku sungguh merindukanmu, apa kamu tidak merindukanku juga? Ku mohon bangunlah, tolong lihat dan jawab aku sekarang." Ucap Taufik yang semakin membuat hatinya sendiri sakit dan perih.
Dipeluknya tubuh lemah yang sedang terbaring itu hati-hati, ia tak ingin jika malah sampai membuatnya semakin kesakitan. Jujur saja, selama ia hidup tak pernah sekalipun ia merasakan ketakutan setakut saat ini, ia begitu terguncang dan terlihat sangat takut akan kehilangan istrinya.
Bahkan tak pernah terpikirkan sebelumnya jika ia akan serapuh dan selemah ini, dan hal itu hanya karena seorang wanita. Ini benar-benar diluar ekspetasinya terhadap dirinya sendiri, namun terlepas dari semua itu kini yang ada dipikirannya hanya ingin Salma sembuh dan sehat seperti sedia kala. Juga bagaimana caranya ia membahagiakan Salma untuk kedepannya.
🌟🌟🌟🌟
Hari kini beranjak semakin malam, setelah beberapa jam yang lalu Husain datang mengantarkan pakaian ganti juga makan malam untuk Taufik. Akhirnya Taufik pun kini sudah membersihkan diri dan berganti pakaian, dan ia terus saja berada disamping Salma tak sedikit pun pandangannya teralihkan dari menatap sang istri. Taufik melakukan itu semua semata-mata karena ia merasa takut, jika nanti istrinya terbangun ia tak mengetahuinya atau bahkan saat ia tak ada disana, sebegitu besarnya cinta Taufik pada Salma. Padahal sebelum tadi Husain kembali untuk pulang ia sudah mewanti-wanti dan mengingatkan atasannya itu untuk beristirahat karena bagaimanapun Taufik pasti merasakan lelah hari ini. Dimana hari ini ia baru saja melakukan perjalanan jauh, juga kini ia harus menjaga dan mengkhawatirkan keadaan sang istri.
Tak lama dari itu, datanglah dokter dan seorang perawat yang akan memeriksa keadaan Salma.
"Permisi.." ujar dokter tersebut kala ia sudah masuk dan membuka pintu ruang rawat Salma.
Taufik pun menoleh pada arah pintu, setelah itu ia pun bangkit dan akan mempersilahkan dokter tersebut memeriksa keadaan istrinya.
"Ah.. iya dok silahkan." Ucap Taufik yang segera memberi ruang untuk dokter.
Dokter mengangguk. "Bagaimana, apa sudah ada perkembangan dengan keadaan Nyonya, Tuan?" Tanya dokter sedikit berbasa-basi pada Taufik. Tak lama ia pun mulai mengarahkan stetoskopnya pada tubuh Salma.
"Ya beginilah dok, belum ada tanda-tanda bahwa ia akan bangun sejak tadi dok." Balas Taufik dengan matanya yang hanya fokus melihat sang istri.
__ADS_1
"Emm.. ya hal itu wajar Tuan, memang akan perlu waktu bagi tubuh Nyonya untuk kembali dari trauma yang diakibatkan kecelakan kemarin. Tuan tenang saja, mungkin sekitar 2 atau 3 hari lagi InsyaAllah nanti Nyonya akan segera kembali siuman, Tuan." Lanjut dokter yang baru saja selesai memeriksa Salma.
"Apa dok? Kenapa lama sekali, em.. maksud saya kenapa harus sampai berhari-hari?" Kaget Taufik dengan mata yang membelalak.
Dokter paruh baya tersebut tersenyum melihat reaksi Taufik.
"Iya Tuan, karena tubuh Nyonya sedang berusaha untuk kembali pulih dan menyesuikan dirinya." Sahut dokter wanita itu menjelaskan keadaan pasiennya.
Taufik hanya mengangguk lemah mendengar penjelasan dari dokter, ia semakin menatap wajah Salma lekat ada rasa sakit dan tak tega mendengar apa yang harus istrinya itu alami.
"Baiklah Tuan, saya sudah selesai. Kalau begitu saya permisi, dan maaf sudah mengganggu istirahat anda." Pamit dokter tersebut yang diikuti oleh perawat tadi.
"Ya, terima kasih dokter." Balas Taufik ramah.
"Huh.. semoga saja apa yang dikatakan dokter tadi benar, sayang. Segeralah bangun dan sehat seperti sebelumnya." Ucap Taufik dalam hati yang kemudian mengecup kening Salma.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1