Mencintaimu Hingga Akhir

Mencintaimu Hingga Akhir
Episode 50 Dokter kandungan


__ADS_3

Sore harinya setelah kepulangan orang tua mereka, yang tadi sempat memberikan beberapa wejangan untuk Salma dan juga Taufik dalam menghadapi masa-masa kehamilan Salma, sebelum mereka akhirnya pamit pulang.


Kini Salma dan Taufik sudah siap untuk berangkat ke sebuah rumah sakit dan telah membuat janji juga sebelumnya dengan salah satu dokter kandungan terbaik disana. Mereka tampak bersemangat dan antusias untuk melihat calon bayi mereka untuk yang pertama kalinya.


"Assalamu'alaikum dok!" Seru keduanya saat memasuki ruangan dokter kandungan yang bernama dokter Sarah itu.


"Wa'alaikumsalam, silahkan duduk Tuan dan Nyonya Taufik." Sahutnya ramah dan sopan.


"Jadi.. apa yang bisa saya bantu Tuan, Nyonya Taufik?" Tanya dr. Sarah pada mereka, saat mereka sudah duduk berhadapan dengannya.


"Begini dok, saya ingin memeriksakan kandungan saya dan ingin mengetahui usia kandungan saya dok." Balas Salma tak kalah sopan.


"Hmm.. baiklah, kalau begitu mari langsung saja kita ke sebelah sana." Lanjut dr. Sarah berdiri dari duduknya dan mengarahkan Salma untuk berbaring diatas ranjang.


Dengan dibantu oleh Taufik, Salma pun membaringkan dirinya. Dan tak lama dari itu seorang suster menghampirinya.


"Permisi Nyonya, mari saya bantu." Tuturnya sopan, dan setelah mendapat anggukan dari Salma. Ia pun mulai menyingkap pakaian Salma dan membantu mengoleskan sesuatu di permukaan perut Salma.


"Ekhm.. mari kita mulai Nyonya." Ujar sang dokter yang kemudian mulai menempelkan dan menggerak-gerakkan alat kedokterannya diatas perut Salma.


"Lihat itu Tuan, Nyonya. Itu adalah cikal bakal calon bayi kalian, ukurannya memang masih sangat kecil. Namun, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia kandungan Nyonya, nanti ia secara berperlahan dan berangsur akan terbentuk menjadi bentuk bayi yang sempurna." Jelas dr. Sarah dengan menunjuk kearah monitor, agar Salma dan Taufik tahu dan tidak bingung yang manakah yang ia maksudkan.


Taufik dan Salma terlihat begitu bahagia dan takjub dengan apa yang mereka lihat, mereka juga dengan seksama dan penuh perhatian mendengarkan apa yang dijelaskan oleh dr. Sarah. Seakan tidak ingin jika ada sepatah katapun yang terlewatkan dari penjelasan dr. Sarah, Taufik dengan setia berdiri disamping Salma dan menggenggam tangan Salma seakan sedang saling menyalurkan rasa syukur dan bahagia yang keduanya rasakan.


"Dan usia kandungan anda saat ini, sudah berada di minggu ke 3. Em.. lebih tepatnya akan memasuki minggu ke 4, mungkin pada trisemester awal kehamilan ada beberapa wanita yang mengalami morning sickness. Dan, apakah anda juga mengalaminya Nyonya?" Lanjut dr. Sarah sambil membereskan kembali alat-alatnya, dan Salma pun kembali dibantu seorang suster untuk membersihkan sisa gel diperutnya.


"Hmm.. saya juga mengalaminya dok, dan hal itu juga merupakan salah satu alasan saya kesini." Sahut Salma yang sudah turun dari ranjang dan kini ia sudah kembali duduk berhadapan dengan dr. Sarah.

__ADS_1


"Saya menjadi sangat sensitif terhadap bau-bau tertentu dan terkadang karena merasa mual saya juga jadi tidak memiliki nafsu makan yang baik, dok." Sambung Salma menjelaskan keluhannya.


Dokter Sarah tersenyum menanggapi ucapan Salma, sambil tangannya mulai menuliskan resep vitamin dan obat lainnya untuk Salma.


"Ya, keadaan yang seperti itu terkadang memang menjadi kendala bagi beberapa wanita hamil, bahkan salah satu pasien saya ada yang sampai kesulitan hanya untuk makan sesuap nasi saja. Karena saking parahnya rasa mual yang ia rasakan, tapi syukurlah keadaan Nyonya tidak sampai separah itu." Sahut dr. Sarah dengan sesekali menatap Salma saat sedang menuliskan resep.


"Dan Nyonya tidak usah khawatir, saya sudah tuliskan beberapa resep obat juga vitamin untuk Nyonya. Semoga ini bisa membantu Nyonya melalui masa awal kehamilan Nyonya, juga jangan lupa untuk meminum susu ibu hamil karena itu akan sangat baik untuk kandungan anda." Sambungnya yang kemudian menyerahkan resep tersebut pada Salma.


"Iya dok, terima kasih. Tapi.. soal minum susu, apa itu tidak bisa diganti dengan yang lain dok? Karena jujur saja, saya merasa sangat mual jika harus meminumnya." Balas Salma dengan menerima resepnya.


"Em.. anda bisa mencobanya dulu Nyonya, semoga saja dengan dibantu oleh obat pereda rasa mual, itu dapat mengurangi mual anda nantinya. Dan jikapun masih mual, saya harap Nyonya bisa tetap melakukan ajuran saya itu juga memakan makanan yang bergizi. Jangan biarkan karena rasa mual, anda jadi mengurangi bahkan tidak memenuhi asupan nutrisi yang baik untuk janin anda." Ujar dr. Sarah menanggapi dan memberi Salma saran, dan Salma mengangguk-anggukan kepala pertanda ia mengerti.


"Dan untuk Tuan, saya harap anda selalu mendampingi dan harus memastikan jika Nyonya makan dengan baik dan jauh dari hal-hal yang akan membuatnya stres." Pesan dr. Sarah pada Taufik.


"Ya baik dok, akan saya usahakan." Balas Taufik dengan dibarengi sebuah anggukan.


"Em.. sepertinya tidak ada dok, saya rasa hanya itu saja." Sahut Salma.


"Baiklah jika seperti itu, untuk selanjutnya anda bisa kembali kesini lagi bulan depan. Karena cukup satu bulan sekali saja pertemuan kita, jikalau tidak ada keluhan atau kendala apapun yang Nyonya rasakan." Pungkas dr. Sarah.


"Iya terima kasih banyak dok, kalau begitu kami permisi. Assalamu'alaikum." Pamit Salma yang juga diikuti oleh Taufik.


"Wa'alaikumsalam Warahmatullah." Balas dr. Sarah.


Setelah Salma dan Taufik keluar dari ruangan dokter Sarah, mereka pergi untuk menebus obat yang telah dokter Sarah resepkan tadi. Beberapa waktu menunggu hingga akhirnya nama Salma pun dipanggil, kemudian mereka melanjutkan langkahnya kembali menuju parkiran.


Didalam mobil dan menuju jalan pulang, Salma sedang tersenyum sambil memandangi secarik kertas hasil USG tadi. Raut wajah bahagia terpancar nyata diwajah cantiknya, sesekali ia mengelusi dan mencium benda ditangannya itu. Taufik yang melihat itupun, tak luput dari rasa bahagia dan merasa sangat bersyukur akan kebahagiaan dan berkah dari Sang Pencipta.

__ADS_1


"Pak, kita mampir dulu ke Supermarket didepan ya.." seru Taufik ketika ia teringat harus membeli sesuatu dulu sebelum pulang.


"Ya, baik Tuan." Sahut Pak Aji patuh.


Salma mengalihkan pandangannya pada Taufik dengan kedua alis yang sedikit bertaut.


"Kenapa Mas? Apa ada yang ingin Mas beli dan apakah Mas membutuhkan sesuatu?" Tanya Salma bingung karena tidak biasanya Taufik ingin mampir ke Supermarket, mengingat semua kebutuhan mereka pasti sudah dibeli dan disediakan oleh Bi Ati.


"Ya ada yang perlu kita beli disana. Apakah kamu begitu bahagianya, hingga lupa apa yang dokter tadi ucapkan padamu? Kamu bahkan sedari tadi mengabaikanku dan hanya fokus pada itu." Sahut Taufik dengan pura-pura mengkerucutkan bibirnya dan menunjuk pada benda yang Salma pegang dengan dagunya.


Salma tersenyum malu.


"Maaf Mas, aku tidak bermaksud seperti itu. Maaf jika kamu merasa terabaikan." Ucap Salma sambil menyimpan benda tadi dalam tasnya, kemudian meraih tangan Taufik. Salma tidak mau jika suaminya itu sampai marah dan merajuk padanya.


"Haha.. tidak aku hanya bercanda tadi, aku mengerti kamu pasti masih belum puaskan memandangi gambar anak kita? Aku bahagia bisa melihatmu tersenyum dan bahagia seperti tadi." Timpal Taufik yang segera mengakhiri kepura-puraannya saat Salma malah menganggapnya serius.


"Hmm, tapi apa yang tadi Mas mau beli?" Tanya Salma lagi belum mengetahui tujuan Taufik.


"Kamu ini, apa kamu sekarang jadi pelupa? Tentu saja, kita akan membeli susu hamil untukmu. Varian rasa apa yang nanti ingin kamu beli?" Ujar Taufik dengan diakhiri tanya, karena tadi ia sempat searching di internet tentang merk susu hamil terbaik beserta berbagai jenis dan varian rasa yang tersedia.


"Oh itu, maaf-maaf aku benar-benar tidak ingat. Emm.. kita lihat saja nanti ada varian apa saja disana." Sahut Salma yang diangguki oleh Taufik.


.


.


Jangan lupa Like, Coment dan Votenya ya!! Biar aku semangat nih😆

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2