
Salma dan Fikri berjalan menuju resto dan ternyata ayah, ibu dan Taufik sudah menunggu mereka diluar restoran tersebut. Sepertinya mereka sudah mencarinya dan Fikri, yang tak terasa telah mengobrol terlalu lama.
"Itu mereka, dari mana saja mereka itu. Membuat kita lama menunggu dan mencari, katanya mau sebentar." gerutu Bu Ilma setelah melihat kedua anaknya berjalan kearahnya.
"Sudahlah bu." tenang Pak Imam dan Bu Ilma pun kembali terdiam. Sedangkan Taufik tidak bersuara sejak tadi, dan kini sedang melihat kearah Salma yang berjalan menghampirinya.
"Kalian sudah lama menunggu ya, maafkan Salma ya.. bu,ayah dan mas Taufik." seru Salma dengan tak enak hati ketika ia sudah sampai didepan mereka.
"Pasti kamu ya.. yang membuat kakakmu lama kembali kesini. Kasihan kan kakak iparmu yang sedari tadi mencarinya." omel Bu Ilma pada Fikri.
"Lho kok jadi Fikri sih bu, justru kakak sendiri tuh.. yang lama." bela Fikri yang tak terima disalahkan ibunya.
"Kenapa jadi kakak, kamu yang terlalu lama curhatnya." kilah Salma yang juga membela diri.
"Siapa coba yang kepo dengan urusan orang." tandas Fikri yang membuat Salma kehabisan kata - kata.
"Kamu! Awas ya.." tunjuk Salma pada adiknya.
"Eh.. sudah.. sudah, Salma apa kamu tidak malu bertengkar seperti ini didepan suamimu?" lerai Pak Imam.
Aah.. iya Salma sampai lupa dengan yang satu itu, ia terlalu kesal dan terpancing oleh tuduhan Fikri terhadap dirinya tadi hingga ia kebablasan bertengkar seperti anak kecil didepan suaminya. Dan suaminya menyaksikan semua itu dengan diam seperti biasa, dan entah apa yang ia pikirkan saat ini tentang Salma.
"Eeh.. iya maaf yah, maaf juga mas membuatmu melihat semua ini." ujar Salma dengan wajah memerah menahan malu.
"Ya sudah, ayo kita pulang." ajak Bu Ilma yang diangguki oleh Pak Imam.
"Salma, nak Taufik kami pulang dulu, terima kasih sudah menyempatkan waktunya untuk datang ke wisuda Fikri. Semoga lain waktu kita bisa seperti ini lagi ya.." pamit Pak Imam pada anak dan menantunya.
"Ayah.. kenapa cepat sekali kalian pulangnya." cegah Salma yang langsung bergelayut ditangan ayahnya, seolah tak terima jika harus ditinggal oleh mereka.
"Ya.. karena memang ini sudah waktunya pulang sayang, sudah sore. Dan kita juga sudah merasa lelah." jelas Pak Imam.
"Salma sudahlah nak, kamu bersikap seperti ini seolah sudah lama tak berjumpa dengan kami. Padahal dua minggu sekali kamu selalu pulang ke rumah. Ada - ada saja kamu ini." timpal Bu Ilma sambil menggeleng - gelengkan kepalanya.
"Tapi bu, aku masih merindukan kalian." balas Salma dengan mengkerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Sudahlah nak, jangan mulai lagi. Kamu bisa datang ke rumah kapanpun kamu mau, jika ingin bertemu kami. Ibu dan ayah pamit, mari nak Taufik." pamit Bu Ilma yang segera disahuti oleh Taufik, dan meskipun Salma merasa berat hati tapi ia tetap menyalami ayah dan ibunya yang sudah akan pulang.
"Sudah nak jangan begitu, ayah pulang dulu." tutur Pak Imam mengelus punggung Salma kemudian mencium keningnya.
"Assalamu'alaikum." ujar mereka sesaat sebelum memasuki mobil.
"Wa'alaikumsalam, hati - hati ayah.. ibu." sahut Salma dan Taufik.
Fikri belum memasuki mobil, dia malah berjalan mendekati Salma dan berbicara dengan setengah berbisik.
"Eleh.. lebay kamu kak." ledek Fikri yang sengaja ingin mengoda dan mengganggu Salma. Yang dibalas dengan pelototan Salma, kemudian menyalami Salma dan Taufik hingga berlalu memasuki mobil.
Sebenarnya Salma ingin sekali membalas ledekan Fikri barusan, namun dia menahannya dengan sekuat tenaga meski rasa geram membuatnya ingin sekali mencubit adiknya itu.
Dan walau Fikri tadi berbicara dengan berbisik, tapi ternyata Taufik juga masih bisa mendengarnya dan melihat interaksi antara kakak beradik itu yang selalu usil satu sama lain. Taufik bahkan memperhatikan tingkah Salma sejak dari gedung sampai Salma mengajak Fikri keluar restoran dengan alasan ingin membeli sesuatu tadi, ia dapat melihat ada sesuatu dari mereka namun entah apa itu. Yang jelas sepertinya Salma sedang khawatirkan adiknya, itu terlihat dari Salma yang selalu mengawasi gerak - gerik adiknya.
Hal terpenting dari semua itu adalah Taufik yang baru mengetahui sisi lain dari istrinya, yang ternyata anak yang manja terhadap ayah dan ibunya dan saudara yang asik juga usil. Meskipun disisi lain ia juga merupakan kakak yang baik, perhatian dan juga penyayang terhadap adiknya.
Melihat Salma yang bersikap manja terhadap ayahnya, membuat Taufik seketika menjadi gemas terhadap Salma. Ia merasa benar - benar beruntung hari ini, karena dapat melihat Salma yang lain dari biasanya.
Mobil Taufik melaju meninggalkan parkiran resto, ditengah perjalanan Salma nampak bingung karena mobil melaju bukan kearah rumah mereka. Karena rasa penasarannya Salmapun bertanya pada Pak supir.
"Pak kok kearah sini, bukannya kita mau pulang ya?" bingung Salma sambil melihat kearah jalan.
"Tuan Taufik yang minta non." jawab Pak Aji sopan.
Salma mengerutkan keningnya melihat ke sampingnya dimana sekarang Taufik duduk.
"Kemana mas?" tanya Salma sambil melihat Taufik yang asik dengan handphonennya.
"Kita akan ke suatu tempat dulu sebelum pulang." jawabnya menoleh sedikit kearah Salma kemudian kembali pada handphonennya.
Salma masih menatap Taufik dengan agak kesal, karena Taufik bukan menjawab kemana mereka akan pergi tapi malah membuat teka - teki baru dikepala Salma. Akhirnya Salmapun hanya bisa menghela nafas berat dan bersabar hingga tiba sampai tujuan.
Salma dan Taufik akhirnya sampai di tempat yang dimaksud Taufik.
__ADS_1
"Mall? Mau apa mas Taufik datang kesini? Apa dia mau membeli sesuatu?" ucap Salma dalam hati.
Mereka berjalan memasuki Mall dengan Salma yang tak mau bertanya lagi meski dia sudah sangat penasaran.
Taufik menghentikan langkahnya kemudian menoleh kearah Salma, yang juga ikut menghentikan langkahnya.
"Ada apa mas?" tanya Salma.
"Apa kamu tidak mau menggandeng tanganku?" tanya Taufik yang membuat Salma terkejut sekaligus bingung.
"Haa.." sahut Salma yang menganga sambil menatap Taufik bingung.
"Ya.. gandeng tanganku, seperti yang kamu lakukan tadi pada ayahmu. Bergelayut manja dilengannya." jelas Taufik sambil meledek Salma diakhir kalimatnya dan hal itu berhasil membuat Salma malu, kini wajahnya sudah memerah menahan malu.
"Emm.. itukan pada ayahku mas." jawab Salma dengan suara kecil dan wajah tertunduk karena ucapan Taufik tadi. Ia bahkan bingung harus menyahuti apa pada Taufik.
"Apa bedanya denganku, aku inikan suamimu. Suami! ingat itu. Hah.. sudahlah jika kamu tidak mau." ujar Taufik melanjutkan langkahnya kembali.
"Eh.. tunggu mas, bukan begitu maksudku. Aku mau kok." Salma mengejar Taufik kemudian menggandeng tangan Taufik. Hal itu berhasil membuat Taufik membentuk sebuah senyuman dibibirnya tanpa Salma tahu.
"Kita akan kemana mas?" tanya Salma setelah beberapa saat menyusuri Mall.
"Kita akan pergi dan melakukan hal yang biasa anak - anak muda lakukan." Jawabnya sambil menatap lurus kedepan.
Salma mengerutkan keningnya.
"Seperti apa misalnya?" tanya Salma lagi.
"Salah satunya seperti ini. Kita akan pergi menonton film." Timpal Taufik yang berhenti tepat didepan sebuah bioskop.
Salma hanya tersenyum menanggapi ucapan Taufik barusan, ada rasa bahagia yang entah kenapa muncul dihati Salma. Padahal Taufik hanya mengajaknya nonton di bioskop tidak lebih, tapi ia merasa bahagia. Karena sebelumnya tak pernah mengira bahwa Taufik akan melakukan hal seperti ini, yang menurut Salma ini adalah hal yang mustahil untuk Taufik lakukan. Apalagi Taufik yang terus menggenggam tangan Salma sepanjang mereka menonton dan beberapa kali bersikap sangat romantis menurut Salma, hal itu tak pernah terlintas dipikiran Salma bahwa Taufik akan bersikap seperti sekarang.
.
.
__ADS_1
Bersambung...