Mencintaimu Hingga Akhir

Mencintaimu Hingga Akhir
Episode 41 Senjata makan tuan


__ADS_3

"Aaaaaah SIAL!" Teriakkan Husain untuk yang kesekian kalinya. Ia benar-benar tidak tahu harus menggambarkan situasinya saat ini bagaimana. Karena perasaannya saat ini seakan semua tercampur aduk, ia bahkan bingung harus memasang ekspresi seperti apa saat ini. Perasaan Syok, kesal, ingin marah tapi juga nelangsa dan seakan tidak berdaya dengan kejadian tak terduga ini.


"Aah.. kenapa aku bisa ceroboh seperti ini? DAN SIAPA INI, SIAPA YANG MENYIMPAN CANGKIR DISINI?!!" Teriaknya dengan sangat frustasi.


Bagaimana tidak, semua berkas-berkas penting yang tadi baru saja ditanda tangani oleh Taufik, kini sudah basah dan juga kotor tersiram oleh secangkir kopi hitam yang sama sekali belum diminumnya itu. Ya.. yang dimaksud oleh Fitri siasat itu adalah hal ini, ia memang menyimpan cangkir kopi itu ditempat biasa dan tempat yang seharusnya. Namun, tanpa sepengetahuan Husain ia dengan sengaja menarik beberapa berkas dan menghimpit ujung berkas tersebut oleh cangkir kopi tadi. Hingga saat Husain akan menarik berkas tersebut kopi pun akan tumpah menimpa semua berkasnya. Dan hal itulah yang kini sedang terjadi pada Husain, Fitri benar-benar melakukannya dengan baik hingga tidak ada kejadian yang meleset sedikitpun dari bayangannya.


"Huh.. huh.. " Husain menghela nafasnya berkali-kali berusaha menetralkan emosinya dan mengembalikan kesadarannya.


Kemudian dengan hati-hati, disingkirkannya ampas kopi hitam  tersebut dari permukaan berkas yang berada ditumpukan paling atas. Ingin sekali rasanya, Husain kembali berteriak dengan lebih keras untuk meluapkan semua kejengkelannya sekarang ini. Namun dengan sekuat tenaga ditahan itu, karena ia sadar berteriakpun tidak akan mengembalikan keadaannya seperti semula.


"Tapi.. memang benar, biasanya cangkirku memang selalu diletakkan disana. Dan selama itu, hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Hah.. ini memang real kesalahan dan kecerobohanku. Ada apa denganku hari ini!" Ujar Husain lagi yang sekarang mengakui bahwa itu adalah kesalahanya, tanpa ia ketahui dan menaruh curiga sedikitpun bahwa sudah ada orang yang memang sengaja menyiasati hal ini.


Mengambil gagang telpon yang ada dimejanya, menekan beberapa tombol hingga sambungan pun terhubung.


"Ke ruanganku sekarang!!" Titahnya dengan masih menahan geram didalam dirinya.


"Ya, baik tuan." Sahut orang disebrang sana dengan mengulum senyumnya.


"Haha.. aku sudah tidak sabar untuk melihat wajahnhya.." gumamnya setelah meletakkan kembali telponnya.


"Dan sepertinya ini akan jauh lebih menyenangkan dan seru, dibandingkan aku harus berpura-pura menjadi perempuan murahan. Ya.. aku akan membalasnya dengan cara seperti ini saja, aku bisa sepuasnya melihat wajah kesal dan frustasinya itu bahkan mungkin setiap hari. Haha.." Ucap Fitri lagi dengan bergegas pergi ke ruangan Husain.


Tak lama kemudian.


Tok.. Tok.. Tok..


"Masuk!!" Teriak Husain dari ruangannya.

__ADS_1


"Ada apa tuan memanggil saya?" Tanya Fitri berpura-pura tidak tahu.


"Kau tidak melihatnya? Bersihkan ini!" Sahut Husain dengan penuh penekanan dan terlihat kepayahan menahan kesalnya.


"Aah.. ya ampun.. kenapa ini? Kenapa bisa seperti ini tuan?" Tanya Fitri dengan berlaga kaget dan kemudian berjalan mendekati meja Husain.


"Sudah bersihkan saja, jangan banyak tanya kamu!" Balas Husain yang hanya mengambil berkas pentingnya saja dan dibawanya menuju sofa yang ada di ruangannya untuk dibersihkan.


"Mm.. ya baik tuan, sebentar akan saya panggilakan OB dulu." Sahut Fitri dengan setengah mati menahan tawa dan rasa senangnya melihat kekesalan Husain yang nampak jelas dimatanya.


Fitri kembali akan keluar untuk memanggil salah satu OB yang akan membersihkan meja kerja Husain. Namun, sebelum itu Husain sudah kembali bersuara dan menahan kepergian Fitri.


"Siapa yang menyuruhmu untuk memanggil OB, hah?" Ujar Husain lagi dengan sedikit membentak.


"Tuan memang tidak menyuruh saya memanggil OB, tapi bukankah tuan ingin meja kerja tuan kembali bersih? Maka dari itu, saya berinisiatif memanggilkannya untuk tuan." Balas Fitri dengan suara sedikit meninggi karena terpancing oleh bentakkan Husain.


"Haaah... tidak!! Aku tidak mau! Kenapa harus aku yang membersihkannya? Bukankah kita sudah punya tugas sendiri-sendiri di perusahaan ini? Untuk apa ada OB jika harus aku juga membersihkan ini?" Tolak Fitri seketika, ia tak terima diperlakukan seperti itu oleh Husain.


"Lho kenapa memangnya, aku ini atasanmu. Harusnya kamu ikuti dan turuti saja apa keinginan atasanmu, jangan banyak alasan. Jika tidak, akan ku keluhkan tindakanmu tadi hingga kontrak kerjamu nanti dibatalkan." Ancam Husain, padahal kenyataannya tidak ada peraturan atau kebijakan seperti itu sebelumnya. Ia hanya ingin menakut-nakuti Fitri saja.


"Aaah.. baiklah, baiklah." Ucap Fitri akhirnya karena takut dengan acaman bohongan Husain barusan, ia kemudian akan keluar untuk mengambil lap dan seperangkat alat pembersih lainnya.


"Hei mau kemana kamu? Tidak dengar, aku menyuruhmu membersihkan mejaku tadi. Atau jangan-jangan kamu benar-benar ingin dipecat dari sini hah?" Cegah Husain ketika melihat Fitri akan keluar.


"Iya tuan, saya mendengarnya bahkan sangat sangat mendengarnya. Tapi bukankah aku akan memerlukan lap untuk membersihkannya? Maka dari itu, ini aku akan mengambilnya." Timpal Fitri lalu kembali melanjutkan langkahnya tanpa ingin mendengar jawaban Husain lagi.


Dan Husain pun mengacuhkannya, ia hanya mengendikkan bahunya dengan bibir yang ia cebikkan saat mendengar sahutan Fitri tadi. Dan kembali fokus membersihkan berkas ditangannya.

__ADS_1


"Ah.. ini tidak akan membantu, mungkin aku akan membuat ulang semua berkasnya." Ujar Husain yang sudah menyerah membersihkan dan


menyelamatkan berkasnya.


Dan disisi lain Fitri pun sedang mengeluh atas perintah Husain yang sangat memaksa tadi.


"Ah.. ku kira ingin akan begitu menyenangkan, tapi kini malah jadi aku yang dikerjai. Ini sih namanya 'Senjata makan tuan'." Keluh Fitri sambil terus berlalu mencari alat pel.


Tak lama dari itu Fitri pun kembali, lengkap dengan alat kebersihan ditangan kiri dan kanannya. Melihat itu Husain segera akan bicara, namun berbicara tentang hal yang lain. Lebih tepatnya mengenai perintahnya yang lain.


"Oh ya.. Fitri, hari ini kamu akan lembur disini bersamaku." Ujarnya tanpa ingin menoleh dan melihat reaksi Fitri, karena meski Fitri menolaknya ia akan tetap membuat Fitri mengikuti keinginannya.


"A..apa tuan? Apa anda tidak salah bicara? Kenapa, kenapa saya harus lembur?" Protes Fitri hingga ia pun menghentikan akitivitasnya yang saat ini sedang me-lap meja Husain.


"Tidak ada apa-apa, aku juga tidak salah bicara. Aku hanya menginginkan hal itu, jadi apa masalahmu?" Balas Husain dengan tenang dan menatap Fitri seolah sedang menangtangnya.


Fitri sudah sangat geram saat ini, bukannya ia yang seharusnya senang dan ongkang-ongkang kaki saat ini? Tapi kenapa keadaannya berbalik sekarang? Bukankah dari awal rencananya berjalan dengan mulus, tapi kenapa disaat-saat terakhir malah jafi begini. Ingin sekali rasanya Fitri menjerit saat ini, ia tahu apa tujuan Husain memintanya untuk lembur.


"Aaaaaa.... menyebalkan!!" Jerit Fitri dalam hati dengan wajah merah menahan kesal.


.


.


Jangan lupa Like, coment dan Votenya😘


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2