
"Permisi.." seru dokter dan dua perawat yang baru saja tiba bersama dengan Bu Ilma. Kedatangan mereka secara otomatis mengalihkan perhatian Salma dan Bu Sahidah yang tadi sempat mengobrol, lebih tepatnya menghentikan rasa penasaran Salma untuk sejenak.
"Syukurlah Nyonya sudah sadar. Bagaimana Nyonya, apa yang anda rasakan saat ini?" Tanya dokter paruh baya itu ketika ia sudah berada disamping ranjang Salma.
Salma tersenyum. "Beginilah dok, emm.. dok apa kandungan saya baik-baik saja dok?" Jawab dan tanya Salma masih dengan suara lemahnya.
Mendengar pertanyaan yang diluncurkan anaknya, membuat Bu Ilma tersentak. Dan seketika ia pun menoleh kearah besannya yang teryata juga sedang menatap kearahnya, rasa khawatir dan was-was tergambar jelas diwajah keduanya. Mereka saling menatap seakan akan mata dan raut wajah keduanya bisa saling berbicara dan menjelaskan kecemasan masing-masing.
"Ya Allah.. ku mohon kuatkan Salma, jika memang hal ini harus dia ketahui sekarang maka kuatkan dan tabahkanlah dia. Hamba mohon, jangan biarkan hal ini mengganggu dan menurunkan kesehatan Salma." Do'a Bu Ilma dalam hati, ia pasrah jika akhirnya dokter mengatakan yang sebenarnya pada Salma saat ini.
Sebelum menjawab pertanyaan dari Salma, dokter tersebut pun menoleh kearah Bu Ilma dan Bu Sahidah bergantian. Melihat raut wajah mereka dokter mengerti situasi apa yang sedang terjadi saat ini, hingga akhirnya ia pun lebih memilih untuk memeriksa keadaan pasiennya terlebih dahulu sebelum mungkin nanti akan menjawabnya.
"Lebih baik saya periksa dulu saja ya, nanti saya akan jelaskan semuanya." Tukas dokter yang langsung mengecek kondisi Salma.
"Alhamdulillah kondisi Nyonya jauh lebih stabil, seharusnya sudah tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Namun, apa ada yang Nyonya keluhkan sekarang? Misalnya pusing atau yang lainnya?" Jelas dokter dengan beberapa pertanyaan yang ia ajukan.
"Iya dok, saya sedikit merasa pusing dan sakit dibeberapa bagian tubuh saya. Tapi ini tidak sampai mempengaruhi kandungan saya kan dok?" Salma kembali pada pertanyaan awalnya, yang kali ini mau tak mau dokter pun akhirnya menjelaskannya dengan perlahan dan hati-hati.
__ADS_1
"Emm.. jadi begini Nyonya, sebelumnya saya harap Nyonya tenang dulu jangan banyak pikiran ya.." perlahan dokter ingin membuat Salma mengerti.
"Sebenarnya sejak Nyonya dibawa ke rumah sakit, kondisi kandungan Nyonya sudah.. sudah tidak bisa diselamatkan. Benturan keras yang Nyonya alami mungkin menjadi salah satu penyebabnya, hingga tenaga medis disini pun tidak bisa lagi melakukan banyak hal untuk menyelamatkan kandungan Nyonya. Saya harap Nyonya bisa ikhlas dan tabah dengan semua ini." Sambung dokter masih dengan intonasi yang bisa diterima oleh Salma.
"Ap..pa? Do..dok, dokter bohongkan? Dokter pasti sedang bercanda kan? Tidak mungkin bayiku meninggal kan dok? Ini pasti bohong!" Ucap Salma dengan terbata dan bibir yang bergetar, air matanya sudah menggenang sejak dokter menyambung kata-katanya yang sempat terhenti tadi. Namun, meski begitu Salma masih berusaha menyangkal.
"Bu.. dokter ini bohongkan Bu? Mana mungkin aku keguguran, aku bahkan baru sebentar merasakan menjadi wanita hamil Bu. Tidak, ini tidak mungkin."
"Aku bahkan belum merasakan tendangannya, tapi apa ini? Hiks..hikss" lanjut Salma ketika sang ibu menghampirinya dengan deraian air mata, ia terus saja berucap yang semakin membuat hatinya perih dan teriris.
"Ma.. apa Mama juga percaya dengan apa yang dikatakan dokter itu? Dia mungkin salah kan Ma, ayo coba Mama rasakan dia masih disana kan Ma? Cucu Mama masih diperut Salma kan Ma?" Ujar Salma sambil meraih salah satu tangan mertuanya yang kemudian ia letakan diperutnya yang rata itu.
"Sayang.. kamu sabar nak, kamu harus ikhlas. Ini semua sudah menjadi ketetapan-Nya, kamu yang tabah dan kuat ya.. sayang jangan seperti ini." Ucap Bu Ilma lembut meski dengan suara yang sedikit tercekat karena sama-sama menangis.
"Iya sayang, jangan seperti ini. Kamu kuat nak, kamu pasti bisa melalui semuanya. Ikhlas sayang.. kamu harus ikhlas." Bu Sahidah pun menambahkan dan terus membisikan kata ikhlas ditelinga Salma sambil terus mengelusnya lembut berupaya dengan ini Salma bisa lebih tenang.
"Ya Allah ternyata yang aku takutkan kini benar-benar terjadi. Kuatkanlah kami Ya Allah dalam melalui ujian dari-Mu ini." Pinta Bu Ilma dalam do'anya, ia sungguh tidak tega dan tidak sanggup melihat putrinya yang terluka dan terpukul seperti ini.
__ADS_1
Salma masih tidak percaya dan tetap kekeuh jika apa yang dokter tadi ucapkan adalah sebuah kesalahan. Ia masih saja menyakinkan orang-orang disekitarnya, atau lebih tepatnya menyakinkan dirinya sendiri dengan berusaha menepis semua ucapan dokternya. Takut, ia takut untuk menerima dan mengiyakan perkataan dokter, meski tak dapat ia pungkiri ia sendiri pun memang sudah menduga hal ini sebelumnya. Kecelakaan itu, benturan kuat yang ia rasakan dan sakit yang teramat yang ia alami, itu semua jelas dan logis saja jika sampai membuatnya kehilangan calon buah hatinya. Tapi tidak! Salma tetap tidak bisa dan tidak mau menerima kenyataan ini.
"Hiks..hiks.. tidak! Hikssss..hiks..hiks.. tidak mungkin! Aku tidak mau seperti ini Bu.." pekik Salma histeris dengan deraian air mata dan suara tangisan yang menyayat hati setiap orang yang mendengarnya.
Terlihat ruangan itu kini dipenuhi suara isakan ketiga wanita yang saling menyayangi itu, dokter yang memeriksa Salma pun sudah pamit undur diri kala Pak Imam dan Pak Sulaiman tiba disana. Mereka tadi bergegas kembali ke ruangan Salma, ketika mendapat kabar jika Salma sudah sadar. Namun begitu mereka sampai, pemandangan yang memilukan inilah yang mereka dapat dan lihat. Sedih dan ikut terluka melihat anak mereka menangis histeris dan terpukul seperti sekarang ini. Salma maslmaterus menangis dan sesekali menumpahkan isi hatinya, melihat hal itu Pak Imam pun akhirnya menghampiri Salma dengan harapan apa yang akan ia ucapkan dan sampaikan pada Salma mampu diterima dan dimengerti oleh putri satu-satunya itu.
"Salma, nak.. sadar. Ingat, bahwa segala sesuatu itu milik Allah baik yang di bumi ataupun yang di langit. Tidak ada suatu apapun yang terjadi dimuka bumi ini, kecuali itu atas kehendak dan ijin dari-Nya. Kamu harus ingat bahwa tidak ada yang abadi dimuka bumi ini, Allah Maha Kuasa akan segala sesuatu. Allah kuasa memberikan kita kebahagiaan juga kesedihan, Allah juga kuasa memberikan ataupun mengambil kembali apa yang Dia titipkan pada kita. Setiap yang hidup pasti akan menemui ajalnya nak, begitupun anakmu bahkan kita pun begitu. Maka Ikhlaslah akan apa yang Allah tetapkan untuk kita, apa yang kita anggap buruk belum tentu buruk dimata-Nya. Sabarlah nak.." Ujar Pak Imam dengan suara halus dan lembut khasnya, suara itulah yang selalu mampu menguatkan dan menenangkan Salma selama ini, tak peduli masalah yang sedang ia hadapi sebesar apapun. Namun setiap kata dan nasihat yang diberikan sang ayah akan selalu berhasil membuatnya luluh dan tenang kembali.
Salma akhirnya menangis tersedu-sedu dengan memeluk erat tubuh ayahnya, tubuh hangat yang tak pernah lelah dan selalu ada disampingnya.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1