
Di kantor
Taufik dan Husain sedang membicarakan perihal proyek mereka yang sebelumnya sempat ditunda, dan kini mereka membahasnya lagi untuk mulai melanjutkan proyek tersebut.
"Kita jelas tahu bagaimana pentingnya proyek itu untuk perusahaan ini. Untuk itu saya ingin kamu yang memantaunya secara langsung ke sana, sulit bagi saya saat ini untuk percaya pada yang lain." Ujar Taufik pada Husain.
"Dan dikarenakan saya tidak bisa ikut memantaunya ke sana, sedangkan di sana pasti kamu akan dihadapkan dengan banyaknya urusan dan pekerjaan. Oleh karena itu, saya akan mengirim Fitri untuk membantu pekerjaanmu di sana." Putus Taufik yang malah dibalas dengan raut kaget oleh Husain.
Bersamaan dengan itu, terdengar suara ketukan pintu dan muncullah Fitri yang sebelumnya ternyata memang sengaja Taufik panggil tadi.
"Maaf tuan, tuan memanggil saya? " Tanya Fitri kala ia sudah di depan Taufik.
"Ya, kemari lah." Taufik pun mempersilahkan Fitri duduk di samping Husain.
"Maaf tuan, tapi menurut saya itu tidak perlu. Tuan tidak usah khawatir, saya masih bisa menanganinya sendiri. " Tolak Husain sebelum Taufik mengambil keputusan final.
"Tidak Husain, saya sudah memutuskannya. " Sia-sia sudah penolakan Husain tadi.
Sedang Fitri hanya terduduk bingung mendengar pembicaraan kedua atasannya itu, ia bahkan tidak tahu alasan apa yang membuatnya dipanggil ke sini.
"Khmm.. maaf tuan.. " Fitri berusaha menyadarkan mereka bahkan ia juga berada di sana.
"Ah ya.. maaf, dan untuk kamu Fitri. Selama satu pekan ini saya tugaskan kamu bekerja diluar lapangan. Lebih tepatnya mendampingi Husain memantau proyek kita yang berada di kota A, untuk lebih spesifiknya biar Husain saja nanti yang akan menjelaskannya. " Ujar Taufik telak membuat Husain tak berkutik untuk menolaknya.
"Baiklah, mungkin itu saja yang ingin saya sampaikan. Kalian sudah boleh kembali ke tempat kalian, dan jika masih ada yang ingin ditanyakan atau kamu (menunjuk Fitri) masih bingung boleh nanti ditanyakan langsung pada Husain ya.." Pungkas Taufik ketika masih melihat raut kebingungan di wajah sekretarisnya itu.
"Ya baik tuan, kalau begitu kami permisi" Pamit keduanya meninggalkan ruangan Taufik.
Tepat setelah mereka keluar dari ruangan Taufik, akhirnya Husain yang angkat bicara terlebih dahulu.
__ADS_1
"Sepertinya apa yang telah disampaikan tuan Taufik tadi sudah sangat jelas. Jadi tidak perlu ada lagi yang harus ditanyakan. " Ucap Husain yang memutuskan bahkan disaat Fitri belum sempat menanyakan sesuatu hal.
"Dan bersiaplah, besok pagi kita akan langsung pergi ke sana. " Lagi Husain berucap kemudian melenggang pergi meninggalkan Fitri, sedang Fitri hanya tertegun melihat punggung Husain yang berangsur menjauh.
"Ih.. apa-apaan dia itu, setidaknya biarkan aku bertanya sekali saja. Ah tidak, sedikitnya dengarkan dulu responku huh.. dasaaar! " Kesal Fitri akan sikap Husain.
"Sebenarnya takdir apa yang saat ini sedang aku jalani, kembalinya Fitri dalam kehidupanku jelas sangat mempersulit ku saat ini. " Keluh Husain saat ia sudah berada dalam ruangannya sendiri.
⭐⭐⭐⭐
"Mas kamu disini? " Tanya Salma dengan sedikit terkejut, melihat Taufik kini sudah berada di butiknya.
"Assalamu'alaikum.. sayang. " Seru Taufik sambil berjalan mendekati meja kerja milik Salma.
"Wa'alaikum salam Mas, kamu kok gak bilang-bilang dulu kalau mau kesini? " Sahut Salma dibarengi dengan pertanyaannya, segera melangkah mendekati Taufik lalu mencium punggung tangannya.
"Memangnya aku harus izin dulu ya.. untuk bisa kesini? Atau jangan-jangan kedatanganku membuatmu terganggu ya..? Ucap Taufik sengaja ingin membuat Salma kelabakan.
"Ini mas" Menyodorkan cangkir itu pada suaminya.
"Sebenarnya aku ke sini, ingin mengajakmu makan siang diluar. Apakah kamu bisa? Ah... tapi kelihatannya pekerjaanmu sedang banyak ya.. " Desah Taufik yang sengaja berbicara dengan nada sedikit dibuat seperti orang kecewa, ia sebenarnya ingin melihat reaksi Salma saja.
Entah kenapa menjahili dan mengusili Salma membuatnya senang akhir-akhir ini, seperti mendapat kepuasaan tersendiri saja saat melakukannya.
"Tidak juga kok mas, aku sedang tidak terlalu sibuk kok. Lihat saja, aku bahkan sudah menyelesaikan sebagian dari pekerjaanku. Jika kamu mau makan diluar, ayo.. aku akan pergi bersamamu. " Salma berusaha menepis ucapan Taufik tadi, ia tak ingin membuat suaminya itu merasa kecewa.
Taufik melihat kearah Salma yang saat itu sedang tersenyum manis untuk meyakinkannya. Ditatapnya wajah sang istri dalam dan semakin dalam, rasanya ia tak akan bisa berpaling dari sosok cantik didepannya itu walau hanya sebentar saja. Rasa sayang dan cintanya pada Salma semakin hari justru semakin tak terbendung lagi, seakan hatinya itu kurang cukup luas untuk diisi oleh wanita tercintanya itu.
"Salma.. " Panggil Taufik masih dengan kedua mata mereka yang saling bersitatap.
__ADS_1
"Hmm iya mas. " Sahut Salma menunggu kata selanjutnya yang akan Taufik ucapkan.
Tapi bukannya berucap Taufik justru semakin mendekati Salma dan mengikis habis jarak diantara mereka, mencondongkan wajahnya ke arah wajah Salma hingga tanpa sadar Salma pun menutup kedua bola matanya dan..
"Aku mencintaimu.. sangat sangat mencintaimu. " Bisik Taufik tepat ditelinga Salma kemudian tak lupa Taufik pun mengakhirinya dengan sebuah kecupan di dahi Salma.
Hangat.. terasa hembusan nafas Taufik yang Salma rasakan, membuat hatinya juga seakan dipenuhi kehangatan belum lagi kecupan lembut Taufik yang Salma rasai seakan menjelaskan rasa sayangnya Taufik terhadap dirinya yang begitu besar.
"Mm.. mas" Ucap Salma terbata, merasa tak percaya Taufik mengatakan hal itu. Kemudian Salma pun menatap mata Taufik menelisik apakah benar orang yang dihadapannya itu adalah suaminya atau bukan.
"Kenapa? Aku serius mengatakannya, apakah kamu tidak percaya? " Ujar Taufik menahan geli mendapat tatap seperti dari Salma, ia tahu pasti istrinya itu terkejut dengan pernyataannya barusan.
Namun, Salma masih tetap tak bergeming hingga akhirnya membuat Taufik kembali bersuara.
"Hey.. kamu meragukan ku? Huh.. benar, kamu meragukan ku ya... awas saja." Karena gemas sekaligus sedikit kesal Taufik pun akhirnya menggelitik tubuh Salma, hingga secara reflek Salma pun berteriak menahan geli.
"Aaaaaa.. hahaha... mas... hentikan! to.. long berhenti massss." Teriak Salma meminta Taufik menghentikan aksinya, namun bukannya berhenti Taufik justru semakin semangat menggelitik Salma.
"Aaaah.. masss, ku mohon berhentiiii.. ahahaaha.." lagi Salma berteriak, kedua matanya bahkan sampai mengeluarkan air mata karena terlalu banyak tertawa dan menahan kegelian.
Setelah beberapa saat, akhirnya Taufik pun berhenti mengerjai dan menggelitik Salma. Dikarena merasa lelah juga kasihan dengan Salma yang sudah beberapa kali berteriak dan memohon kepadanya, juga rasanya sudah cukup hari ini ia mengerjai Salma.
Salma dan Taufik pun akhirnya duduk bersandar berupaya menetralkan kembali napas mereka yang sekarang ngos-ngosan, sesekali keduanya tertawa kala tak sengaja mata mereka bersitatap. Lelah tapi juga merasa senang dan bahagia dengan tingkah konyol keduanya tadi.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...