Mencintaimu Hingga Akhir

Mencintaimu Hingga Akhir
Episode 45 Salma Sakit??


__ADS_3

Sebelum berlalu pergi ke Masjid, Taufik sempat berpesan pada Bi Ati agar ia membuatkan bubur dan segelas susu untuk menu sarapan Salma pagi ini. Namun, Bi Ati terlihat kebingungan kenapa majikannya itu tiba-tiba meminta untuk dibuatkan bubur.


"Apa Nona Salma sedang sakit ya..?" Batin Bi Ati yang seketika wajahnya kini berubah menjadi khawatir akan kondisi Salma.


 Melihat reaksi Bi Ati yang seperti itu, akhirnya Taufik menjelaskan bagaimana kondisi Salma. Taufik berkata jika Salma sedang tidak enak badan saat ini, namun ia juga meminta Bi Ati untuk tidak perlu khawatir karena kondisi Salma sekarang sudah baik-baik saja. Selepas dengan itu Taufik berlalu dan Bi Ati pun akan segera memenuhi permintaan Taufik setelah ia selesai shalat shubuh nanti.


Waktu berlalu, kini Taufik sudah kembali ke kamar untuk melihat dan menemani Salma yang masih saja terlihat pucat.


"Mas..." ucap Salma ragu-ragu kepada Taufik yang sedang duduk dipinggir ranjang dekat dirinya.


"Hmm.. apa kamu memerlukan sesuatu?" Sahut Taufik menatap Salma dan dengan tangan yang sedang mengelus dan sedikit memijat kepala Salma. Salma hanya menggeleng sebagai jawaban dari pertanyaan Taufik.


"Apa masih terasa pusing?" Tanya Taufik sebelum Salma melanjutkan ucapannya.


"Emm.. sedikit." Balas Salma dengan menatap Taufik penuh ragu.


Menelan ludahnya sebelum kembali berbicara.


"Apa.. kamu serius Mas, dengan yang kamu ucapkan tadi?" Ucap Salma akhirnya, kemudian ia menunduk tak ingin melihat ekspresi suaminya.


Taufik yang belum mengerti kemana arah pembicaraan Salma, akhirnya menautkan alisnya dengan menatap Salma yang tertunduk didepannya.


"Memangnya apa yang tadi aku ucapkan? Emm.. maaf Salma, tapi aku benar-benar lupa." Sahut Taufik yang merasa jika ia memang belum mengatakan apapun sejak tadi.


"Ekhmm.. mm.. itu lho Mas, yang kamu tidak akan.. mengizinkanku bekerja lagi." Ujar Salma masih dengan menunduk.


"Oh.. itu, ya.. aku serius sangat serius malah.." Ucapan Taufik terhenti karena Salma tiba-tiba saja kembali bersuara.


"Mas.. tolong jangan seperti ini padaku Mas. Aku.. hiks.. benar-benar minta maaf sudah mengecewakanmu, tapi hiks.. tolong beri aku kesempatan Mas. Tolong.. hiks.. hiks..." ucap Salma yang diiringi dengan isak tangisnya, sehingga membuat Taufik merasa tidak tega dan segera merengkuhnya.


Salma terus menangis dipelukan Taufik, dengan air mata yang semakin menderas disana. Ia takut dan tidak ingin, jika sampai Taufik benar-benar melarangnya bekerja.

__ADS_1


"Sstt.. sudah, dengarkan dulu aku bicara." Ujar Taufik melerai pelukannya, ia membantu Salma menghapus air matanya.


"Awalnya, aku memang ingin kamu berhenti bekerja. Karena aku tidak suka melihatmu kelelahan, aku juga tidak ingin jika nanti kamu kenapa-kenapa. Dan akhirnya.. kemarin, aku mendapatkan sebuah alasan untuk melarangmu bekerja.." pemaparan Taufik berhenti sejenak, ia menghela nafasnya sebelum melanjutkan lagi kalimatnya.


"Ya.. walaupun aku sebenarnya berat, untuk melakukan hal itu. Tapi, mengingat apa yang kamu lakukan kemarin.. sepertinya keputusanku memang sudah tepat." Sambung Taufik, Salma yang sejak tadi mendengarkan dengan masih sedikit terisak pun akhirnya kembali ingin menyanggah.


"Mas.." ucapan Salma terhenti, ketika Taufik mengisyaratkan Salma untuk diam dengan sebuah gelengan kepalanya.


"Namun.. akhirnya aku berubah pikiran, ketika melihatmu sangat sedih dengan keputusanku itu. Jadi, aku akan memutuskan untuk kembali mengizinkanmu bekerja, tapi.. dengan satu syarat!" Lanjut Taufik dengan penuh ketegasan.


"Syarat? Syarat apa Mas? Kenapa harus pakai syarat segala?" Protes Salma, padahal sebelumnya ia sudah kembali senang dan ingin segera memeluk Taufik. Namun ia urungkan ketika mendengar kalimat terakhir Taufik.


"Ya, syarat. Selama nanti kamu bekerja, kamu harus tetap memperhatikan kesehatanmu dan jangan biarkan dirimu sampai kelelahan. Jika kamu sudah mulai merasa lelah, segeralah untuk beristirahat. Jangan memaksakan diri untuk terus bekerja, dan JIKA kamu melakukan hal seperti kemarin lagi. Aku tidak akan segan-segan untuk menutup butikmu itu dan melarangmu bekerja untuk selamanya!" Ucap Taufik yang membuat Salma meremang merasakan takut, karena Taufik berbicara dengan sangat tegas. Seperti yang biasa ia lakukan kepada bawahannya di kantor.


"Bagaimana? Apakah kamu akan sanggup dan menerima syarat dariku itu?" Tanya Taufik yang kini sudah kembali dengan suara lembutnya lagi, lalu ia merangkul Salma karena dia tahu jika Salma sedang merasa takut padanya saat ini.


Salma mengangguk, kemudian berkata dengan kepala yang menunduk.


"Hmm.. baguslah, tapi hei.. apakah aku  semenakutkan itu? Kamu bahkan sampai tak berani untuk hanya menatapku?" Ujar Taufik berusaha mencairkan kembali suasana di kamar itu, ia benar-benar merasa bersalah karena mungkin sudah terlalu keras pada Salma hingga membuatnya ketakutan seperti ini.


"Hmm.. kamu sangat menakutkan, seperti monster, jahat!" Sahut Salma sembari menyandarkan kepalanya pada dada bidang Taufik dan mendaratkan sebuah pukulan kecil disana.


Mendapat perlakukan seperti itu, membuat Taufik tertawa dengan lepasnya. Ia merasa lucu melihat sikap Salma yang sangat membuatnya gemas itu.


"Hahha.. maaf.. maaf, aku tak bermaksud untuk menakutimu." Lanjut Taufik dengan mengelus punggung Salma.


Tok.. Tok.. Tok..


Suara ketukkan pintu, yang seketika membuat mereka melepaskan pelukannya.


"Permisi tuan, nona ini saya bawakan buburnya." Ucap Bi Ati dibalik pintu kamar Salma dengan membawa sebuah nampan ditangannya.

__ADS_1


"Iya Bi, masuk saja." Seru Taufik yang kini sudah kembali terduduk tegak disamping Salma yang sedang menyandarkan tubuhnya.


"Maaf, mengganggu tuan dan nona. Ini tuan, bubur yang tadi tuan minta." Kata Bi Ati ketika ia sudah berada dihadapan majikannya itu.


"Ya terima kasih Bi, Bibi letakkan saja disana." Balas Taufik.


"Iya baik tuan." Timpalnya.


"Em.. Non, bagaimana keadaan nona sekarang? Apa nona sudah merasa baik kan?" Tanya Bi Ati pada Salma ketika ia sudah meletakkan nampan yang dibawanya diatas nakas. Ia sungguh mengkhawatirkan Salma, sehingga ia tidak tahan lagi untuk tidak bertanya.


"Alhamdulillah Bi, aku sudah lebih baik. Dan terima kasih, Bibi sudah repot-repot membuatkanku bubur pagi-pagi begini." Sahut Salma yang merasa tak enak sudah merepotkan orang-orang pagi hari begini.


"Ah.. syukurlah non, jika nona sudah baik-baik saja. Tidak non, Bibi tidak merasa direpotkan sama sekali." Balas Bi Ati yang merasa lega ucapan Salma, lalu ia segera menyanggah ucapan Salma yang memang ia sudah mengerti bagaimana sifat Salma, yang suka merasa tidak enakkan.


"Baiklah, sekarang kamu minum dulu susunya. Sebelum nanti kamu makan bubur dan obatnya." Ucap Taufik yang segera menyodorkan susu itu pada Salma.


Namun, tiba-tiba Salma kembali merasa mual bahkan sangat mual ketika mencium aroma susu dalam gelas yang Taufik sodorkan padanya. Padahal ia sama sekali belum menyentuhnya.


Salma segera bangkit dari ranjangnya dan berlari ke kamar mandi dengan menutup mulutnya, Taufik dan Bi Ati yang melihat reaksi Salma seperti itu tertegun, merasa bingung juga heran dengan sikap Salma, kemudian keduanya saling menatap sejenak sebelum akhirnya Taufik bangkit untuk mengejar Salma.


"Hoek.. Hoek.. "


.....


.


.


Dukungannya jangan lupa! Like, Coment dan Vote ya..


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2