
Melihat Salma yang sudah lebih tenang dari sebelumnya, membuat para orang tua disana jadi merasa lebih lega. Namun, meski begitu ternyata masih tetap ada yang dikhawatirkan oleh Bu Sahidah hingga ia menghampiri suaminya dengan perasaan gelisahnya.
"Pa, dimana Taufik? Katanya dia sudah dijalan, tapi kok sampai saat ini tidak sampai-sampai. Mama bahkan sudah menghubunginya berkali-kali tadi, dia itu sebenarnya kemana sih." Gerutu Bu Sahidah dengan suara perlahan agar tidak terdengar oleh besannya.
"Papa juga tidak tahu Ma, mungkin sebentar lagi. Ditunggu saja ya.." balas Pak Sulaiman menenangkan istrinya.
"Bukannya begitu Pa, tapi Mama gak enak aja pada Bu Ilma dan Pak Imam. Masa disaat seperti ini Taufik tidak ada disamping Salma." Bu Sahidah kembali mengatakan keresahan hatinya.
"Iya Ma, kita berdo'a saja semoga Taufik sudah ada didepan sekarang. Mama tenang ya.." Lagi Pak Sulaiman meredam kegelisahan istrinya, meski sebenarnya ia sendiri pun merasakan apa yang Bu Sahidah rasakan saat ini.
🌟🌟🌟🌟
Sedangkan disisi lain, setelah mendapat telpon dari Bu Sahidah yang memberitahunya jika Salma saat ini sudah sadar, dengan segera bahkan tergesa-gesa Taufik langsung meluncur menuju rumah sakit. Ia bahkan beberapa kali meminta Pak Aji untuk menambah kecepatan laju mobilnya, ia sudah tak sabar ingin bertemu dan memastikan sendiri keadaan Salma. Rasa lega dan bahagia seakan telah memenuhi seluruh rongga dadanya, akhirnya kini Salma kembali kepelukannya. Tapi.. meski begitu tetap saja rasa cemas dan khawatirnya pun kini mulai kembali menelusup dan mengganggu rasa bahagianya itu, kala ia mengingat kembali akan keadaan Salma yang kini sudah tidak sedang mengandung lagi.
Bagaimana nanti ia akan menjelaskannya, bagaimana nanti reaksi Salma setelah mengetahuinya. Dan yang paling ia khawatirkan adalah bagaimana jika karena hal ini, keadaan Salma justru akan kembali memburuk. Sungguh Taufik tak kuasa jika harus menyaksikan semua hal itu, bahkan ia menjadi takut sendiri sekarang untuk menemui Salma.
__ADS_1
Sesampainya di rumah sakit, Taufik berjalan dengan cepat dan sedikit berlari kecil menuju ruang perawatan Salma. Bersiap untuk membuka handle pintu, namun belum sempat ia membukanya terdengar suara tangisan dan teriakkan yang menyesakan jiwanya. Suara yang tak lain berasal dari istrinya, Taufik terlihat mengepalkan kedua tangannya dengan kuat berusaha dengan itu ia bisa sedikit mengurangi rasa sesaknya ketika ia harus mendengar suara tangisan dan teriakkan histeris istrinya itu yang cukup menyayat hati dan seluruh jiwanya.
"Apa dia sudah mengetahuinya? Apa dia menangis karena hal itu?" Batin Taufik bertanya-tanya.
Kemudian ia pun akhirnya mendudukan dirinya dikursi tunggu yang ada disekitar ruangan Salma. Memejamkan matanya, mungkin dengan cara ini ia bisa meminimalisir rasa sakitnya. Ia harus kuat dan mampu menenangkan Salma, Salma sedang membutuhkannya, membutuhkan dukungan dan kehadirannya sekarang. Bukan saatnya bagi Taufik untuk bersikap lemah dan menjadi pengecut seperti ini, ia harus bisa menepis kesedihannya dan menyakinkan hatinya bahwa semua akan baik-baik saja. Demi Salma! Ya, ia harus kuat demi istrinya.
Hinggga tak terasa Taufik sudah cukup lama duduk disana, sampai tidak disadarinya suara tangisan Salma sudah tidak terdengar lagi. Hanya tinggallah suara isakan kecil yang terdengar saat ini, menyadari hal itu Taufik pun akhirnya bangkit dan sudah lebih siap untuk menemui Salma.
Ceklek..
"Assalamu'alaikum.." ucapnya ketika memasuki ruangan Salma, ia terus melangkah mendekati ranjang tempat Salma kini berada.
"Wa'alaikumsalam Warahamatullah" sahut mereka serempak termasuk Pak Imam pun menyahuti dan dengan perlahan ia pun mulai melepas pelukannya dengan Salma.
"Kamu dari mana saja Taufik, sejak tadi Mama menghubungimu!" Bisik Bu Sahidah menghampiri Taufik dengan mengerutukkan giginya. Ia merasa benar-benar kesal, sejak tadi ia terus saja menghubungi anaknya itu namun tak juga diangkat oleh sang anak.
__ADS_1
Ia jadi kesal, hingga mungkin bibirnya sudah bergumam berpuluh-puluh kali menanyakan tentang kemana anaknya itu pergi disaat sang menantu sedang sangat membutuhkan kehadiran dan dukungan teni suaminya, tapi putranya itu seakan malah mengulur-ulur waktu sehingga cukup lama untuk sampai.
"Maaf Ma, aku terlambat." Sahut Taufik sekenanya karena saat ini ia pun sedang merasa tak karuan, entah harus bagaimana kini ia bersikap dan membuat Salma kembali seperti sebelumnya.
Taufik melangkah mendekati brankar tempat kini Salma bersandar dengan tubuh lemahnya. Dan begitu pun kini Salma yang tengah menatap kearah Taufik, dengan tatapan penuh luka. Kesedihan masih terpancar jelas diwajahnya, Salma begitu merasa bersalah kini pada Taufik karena tidak bisa menjaga diri dan kandungannya dengan baik hingga semua hal ini terjadi.
"M..Mas.. maafkan aku hiks..hiks" Salma kembali menangis ketika Taufik sudah berada tepat dihadapannya.
"Shhttt, tidak apa-apa. Yakinlah semua pasti akan baik-baik saja." Ujar Taufik sesaat setelah ia berhasil merengkuh tubuh istrinya itu.
"Ada aku, ada aku yang akan selalu ada disampingmu. Percayalah kita pasti bisa melalui semuanya bersama." Lanjut Taufik dengan mempererat pelukannya pada tubuh Salma berusaha menyalurkan ketenangan dan membagi kesedihan keduanya.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...