Mencintaimu Hingga Akhir

Mencintaimu Hingga Akhir
Episode 28 Album foto


__ADS_3

Waktu terus berlalu, saat ini Salma dan Taufik sedang menikmati makan malam mereka dengan Taufik yang terus menatap dan memandangi Salma sedari tadi. Hal itu sontak saja membuat Salma gugup juga salah tingkah dibuatnya.


Andai saja Salma sekarang punya keberanian lebih untuk membalas menatap Taufik dan bertanya mengapa ia terus memandanginya, namun kenyataannya tidak. Salma benar - benar tak mampu lagi untuk bersikap seperti biasa pada Taufik, setelah apa yang terjadi tadi siang membuat Salma malu dan salah tingkah jika mengingat kejadian saat di bioskop.


Ia senang, bahkan terlampau senang hingga ia takut sendiri jika sewaktu - waktu ia terlalu berlebihan dalam mengekspresikan rasa bahagianya itu. Maka dari itu, ia mencoba untuk mengendalikan hatinya dengan sekuat tenaga. Akhirnya hal yang paling ia tunggu dan inginkan, yaitu perhatian dan cinta Taufik mungkin sebentar lagi akan benar - benar terwujud dan Salma dapatkan pikirnya.


Lama berargumen dengan pikirannya membuat Salma lupa, hingga tak menyadari kalau kini makanannya telah habis tak tersisa. Sedangkan Taufik yang sudah menghabiskan makanan lebih dulu, ia masih duduk ditempatnya dengan menyangga dagunya dengan kedua tangannya. Menunggu dan memperhatikan Salma hingga makanan dipiring Salma tandas.


Salma yang telah menyadari hal itupun segera mengangkat wajahnya dan melihat Taufik yang ternyata juga sudah selesai dan sedang melihat kearahnya dengan menopang dagunya.


"Ekhmm" dehem Salma berupaya meminimalisir kegugupannya.


"Mas juga sudah selesai ya, maaf aku tak menyadarinya." ucap Salma sambil beranjak dari duduknya dan bersiap membereskan piring kotor dimeja tersebut.


"Baiklah, aku akan membereskannya. Apa mas perlu sesuatu lagi?" ucap Salma lagi sedetik setelah ia berhasil berdiri, kemudian bertanya pada Taufik yang tidak seperti biasanya yang akan langsung pergi ke ruang kerjanya setelah makan malam usai.


Belum sempat tangan Salma menyentuh piring - piring kotor tersebut, tapi Taufik sudah menahan dan menggenggam tangan Salma.


"Tidak usah kamu bereskan, biar bi Ati saja nanti yang membereskannya. Dan kamu, ikutlah bersamaku ke ruang kerja." ujar Taufik sambil menarik tangan Salma menjauhi ruang makan.


"Tapi mas..." ucapan Salma terpotong.


"Ssstttt" potong Taufik yang tak ingin mendengar bantahan Salma.


Akhirnya Salmapun menurut dan mengikuti langkah Taufik yang memasuki ruangan kerjanya.


"Duduklah, aku ingin kamu menemaniku bekerja disini." ucap Taufik setelah berada di ruang kerjanya dan menarikkan kursi yang berada tepat didepan kursi kerjanya untuk Salma. Sehingga merekapun saling duduk berhadap - hadapan, Salma hanya menurut dan mengikuti perintah Taufik meski ia masih merasa bingung dengan tindakan Taufik.

__ADS_1


Taufikpun mulai membuka laptopnya dan bekerja, sesekali ia melirik kearah Salma yang sedang melihat - lihat isi ruangan kerjanya. Tersenyum dibalik sebuah file yang sedang ia baca, bahagia rasanya hati Taufik saat ini karena bisa ditemani bekerja oleh sang pujaan hati. Ini adalah keinginannya dari dulu, namun ia belum memilik alasan atau ia bingung jika harus tiba - tiba mengajak Salma ke ruangan ini atau bahkan ke kantornya hanya untuk sekedar duduk dan menungguinya bekerja.


"Apa kamu ingin melihat - lihat isi ruangan ini?" tanya Taufik ketika melihat mata Salma yang terus menelusuri ruangannya.


"Emm.. apakah boleh?" tanya Salma ragu.


"Tentu saja, kamu boleh melihat dan memegang apapun yang kamu ingin lihat dan sentuh di sini. Karena milikku, itu juga milikmu." jawab Taufik dengan tersenyum, membuat Salma tersipu malu mendengarnya. Dan jangan lupakan senyum manis Taufik yang menampilkan lesung pipinya itu membuat Salma tertegun untuk beberapa saat.


"Ya Allah tolong aku.. kenapa mas Taufik sangat manis sepanjang hari ini padaku. Kuatkan aku Ya Allah.." Hati Salma menjerit.


"Sungguh, aku boleh melihatnya mas?" tanya Salma lagi meyakinkan dirinya.


"Ya." sahut Taufik sambil mengangguk.


Salma beranjak dari duduknya dan berjalan menyusuri ruang kerja Taufik, melihat beberapa rak buku yang menjulang tinggi dengan buku - buku tebal yang isinya tidak jauh dari soal bisnis perbisnisan. Salma terus melangkah dengan sesekali menyetuh dan meraba apa yang ia lihat, hingga ia pun terhenti disebuah sudut ruangan tersebut saat melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Ia membuka rak buku didepannya yang memang semua rak buku disini dilapisi dengan kaca dan beberapa kaca diantaranya terdapat sebuah kunci, mungkin jika isi raknya buku - buku penting atau apalah itu sehingga Taufik sengaja membuatnya seperti itu. Dan jangan salah, kaca tersebut buka kaca sembarang kaca yang bisa dipecahkan dengan mudahnya. Tapi kaca tersebut merupakan kaca tebal yang dirancang secara khusus atas permintaan Taufik, bahkan sebuah peluru sekalipun tidak dapat menembusnya. Aah.. jangankan menebus untuk meninggalkan sebuah goresan pun itu tidak akan mungkin.


Terlihat dihalaman pertama album tersebut adalah foto pernikahan mertuanya, yang dibawahnya bertuliskan hari, tanggal serta tahun dimana foto tersebut diambil. Dilanjutkan dengan ucapan syukur dan bahagia dua orang didalam foto tersebut, yang saling mengungkapkan besarnya rasa cinta mereka pada satu sama lain dan berakhir dengan do'a dan harapan mereka untuk kedepannya.


Halaman selanjutnya masih tentang mertuanya, yang sedang pergi berlibur bersama untuk pertama kalinya setelah mereka menikah, menceritakan secara detail mengenai liburan mereka dan momen - momen yang terjadi disana. Salma terus asik membaca, tak henti - hentinya ia dibuat penasaran dengan kelanjutan isi buku album tersebut. Ia sampai duduk dilantai demi bisa melanjutkan membacanya, karena kakinya yang mulai merasa pegal setelah lama tadi berdiri. Hingga akhirnya Salma sampai disebuah halaman yang menunjukan bahwa ibu mertuanya itu hamil anak pertamanya, dan mengulas betapa bahagianya mereka mendapat anugrah yang mereka nanti - nantikan itu.


Saat Salma akan membuka halaman selanjutnya, ia terhenti karena mendengar suara teguran Taufik.


"Sedang apa kamu duduk dibawah sana?" tanyanya yang membuat Salma seketika menutup bukunya dan beranjak berdiri.


"Eh.. maaf mas, aku hanya sedang membaca ini. Apa mas keberatan?" tanya Salma takut - takut.


Melihat buku yang dipegang Salma.

__ADS_1


"Oh itu, tidak papa. Apa kamu sangat menyukainya hingga duduk dilantai seperti tadi?" tanya Taufik lagi.


"Ya.. aku sangat menyukainya, aku dibuat sangat penasaran dengan kelanjutan isi buku ini. Hingga aku ingin terus.. terus.. dan terus membacanya." ucap Salma dengan antusiasnya karena ia memang menyukainya.


Tersenyum melihat tingkah Salma saat ini, ingin rasanya Taufik menarik Salma dalam dekapannya.


"Emm.. begitu penasarankah kamu pada kehidupanku?" gumam Taufik yang tidak terdengar begitu jelas ditelinga Salma.


"Apa mas? Aku tidak terlalu mendengarnya tadi." ucap Salma yang mendengar samar - samar ucapan Taufik.


"Ahh.. tidak. Hanya.. kau boleh saja membacanya, tapi tidak sekarang. Ini sudah lama, lebih baik kita pergi tidur." sahut Taufik tak ingin membahas gumamannya tadi.


"Yah.. tapi aku masih ingin membacanya, bolehkan aku meminjam dan membawanya?" tanya Salma penuh harap.


Kembali tersenyum dan merasa gemas pada Salma.


"Ya.. tentu, bawa saja." balas Taufik yang kemudian menggandeng Salma menuju kamar mereka.


Setelah mencuci wajah dan menggosok gigi, merekapun sudah berbaring diranjangnya dan bersiap pergi tidur. Namun, sepertinya tidak. Karena ternyata Taufik yang sudah terlampau gemas sedari tadi pada Salma, akhirnya meminta Salma untuk menunaikan kewajibannya lagi yang merupakan kali kedua untuk mereka.


.


.


Bersambung...


Makasih yang masih bertahan dengan cerita recehku ini😊😘😘

__ADS_1


__ADS_2