
Setelah berada didalam kamar Salma cukup lama, karena ia diminta untuk membantu Salma membereskan dan membungkus oleh-oleh yang Salma kemarin beli untuk orang-orang terdekatnya. Bi Ati akhirnya keluar dengan membawa beberapa paper bag berisi oleh-oleh untuk para pekerja di rumah ini.
Tak lama dari itu, Taufik masuk dan menghampiri Salma dengan tujuan ingin meminta Salma melakukan tes tadi. Namun, sepertinya harus ia urungkan dulu, karena Salma terlihat sangat antusias untuk memperlihatkan barang yang ia beli khusus untuk suaminya itu kepada Taufik.
"Mas, kamu disini? Kebetulan sekali, kemarilah aku ingin memperlihatkan sesuatu padamu." Pintanya yang kini sedang mendudukan dirinya diatas sofa, dan menatap Taufik dengan binar bahagia.
Taufik pun berjalan mendekati Salma dengan kening yang sedikit mengerut, seperti sedang bertanya pada dirinya sendiri. Kenapa istrinya itu terlihat begitu bersemangat? Tapi ia tetap mendekat dan ikut mendudukan dirinya disamping Salma.
"Ya ada apa? Dan kenapa kamu duduk disini, bukankah tadi aku memintamu untuk istirahat?" Tanya Taufik dengan menatap Salma yang masih menampilkan raut wajah bahagianya.
"Mas.. aku merasa bosan jika hanya terus diam dan berbaring disana, dan ya.. aku ingin menunjukan ini padamu. Kemarin aku sempat membelikan ini untukmu, dan aku harap kamu akan menyukainya." Sahut Salma dan mulai membuka box yang berisi dua jam tangan mewah dengan merk yang biasa Taufik pakai, dan tentunya dengan harga yang tidak bisa dibilang murah itu.
"Bagaimana? Apakah ini bagus? Dan apa kamu menyukainya?" Tanya Salma beruntun. Ia sangat bersemangat dan sudah tak sabar untuk mendengar pendapat Taufik.
Karena tak kunjung mendapat sahutan dari Taufik, akhirnya Salma mengalihkan pandangannya yang semula melihat jam tangan yang ada ditangannya, kini menjadi melihat wajah Taufik yang ternyata ia juga sedang menatap Salma dengan dalamnya.
Taufik terpukau dengan kecantikan dan keceriaan yang terpancar dari wajah Salma. Meski disana juga terlihat wajah Salma yang masih sedikit pucat. Namun, hal itu tidak sama sekali menghilangkan bahkan memudarkan kecantikan yang Salma miliki.
"Kenapa? Apa.. kamu tidak menyukainya?" Tanya Salma yang seketika wajahnya berubah jadi sendu.
"Tidak, bukan seperti itu. Tentu aku akan menyukainya, apapun yang kamu pilihkan untukku aku akan dengan senang hati memakainya. Ayo, coba pakainkan padaku." Sahut Taufik dengan menyentuh kepala Salma dan mengelusnya. Kemudian ia mengulurkan tangannya agar Salma memakaikan jam tersebut padanya.
"Hmm.. baiklah, mari akan ku pakaikan." Timpal Salma segera memakaikannya.
"Ini sangat bagus, kamu pintar sekali dalam hal memilih." Puji Taufik membuat Salma tersipu malu.
Mereka terus berbincang dan sesekali saling melemparkan candaan, yang membuat keduanya tertawa dengan lepasnya.
ππππ
Tak terasa waktu kini sudah beranjak siang. Taufik yang baru pulang dari berjama'ah sholat dzuhur pun ingin segera menemui Salma dan akan memintanya untuk mengikuti saran Bi Ati yang tadi sempat gagal.
"Salma.." serunya ketika ia memasuki kamar mereka.
__ADS_1
"Iya Mas? Ada apa, apa kamu memerlukan sesuatu?" Tanya Salma yang kebetulan baru selesai melipat mukenanya yang ia gunakan untuk sholat dzuhur.
"Tidak, emm.. begini, apa kamu sudah merasa baikan sekarang?" Tanya Taufik berbasa-basi, karena jujur ia merasa bingung jika harus tiba-tiba meminta Salma untuk melakukan test itu.
"Hmm.. ya, aku sudah lebih baik sekarang." Sahut Salma meski ia dapat merasakan keanehan dari sikap Taufik.
"Sebenanya ada Mas? Katakan saja, tidak perlu ragu seperti itu." Imbuh Salma yang sudah bisa menutupi rasa penasarannya itu.
Taufik sedikit terperangah mendengar ucapan Salma, namun akhirnya ia pun menyakinkan diri untuk mengatakannya.
"Jadi begini, em.. kapan kamu terakhir kali datang bulan?" Tanya Taufik meski ia sendiri pun tidak mengerti kenapa harus memulainya dengan pertanyaan seperti itu.
Salma yang mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Taufik pun mengerutkan dahinya, bingung kenapa tiba-tiba suaminya menanyakan hal seperti itu? Tapi, meski begitu ia tetap berusaha untuk menjawabnya dengan mengingat kembali kapan terakhir kali ia datang bulan.
"Em.. sebenarnya aku juga lupa sih Mas, tapi jika tidak salah.. sepertinya sekitar satu bulan lalu deh Mas." Sahut Salma dengan masih menimbang dan mengingat jawabannya.
"Ah.. ya ampun! Iya, terakhir kali aku halangan itu bulan lalu dan seharusnya sekarang..." Sambung Salma terkejut dengan mata yang membola menatap pada Taufik.
Kemudian ia mengingat kembali apa yang terjadi pada dirinya akhir-akhir ini, dan..
"Mas!" Seru Salma yang sebenarnya ia bingung harus berbicara apa pada Taufik. Namun, karena Taufik yang memang sudah menduga kearah sana dan melihat Salma yang sekarang seperti sepemikiran dengannya. Maka, tanpa ragu lagi ia pun memberikan testpack yang sejak tadi dipegangnya.
"Cobalah! Jika memang itu rezeki kita, maka insyaAllah hasilnya pasti tidak akan mengecewakan." Ujar Taufik yangΒ memberikan alat tersebut pada Salma.
Melihat benda yang Taufik sodorkan padanya, Salma sangat terkejut. Ia tak menyangka jika Taufik akan lebih dulu menyadari hal ini, bahkan ia memintanya memastikan kondisinya saat ini, disaat dirinya saja baru menduga hal itu. Namun, dengan segera Salma kembali menyadarkan dirinya dari keterkejutannya barusan.
"Emm.. tapi Mas.." Salma masih ragu dan takut jika hasilnya nanti akan membuatnya kecewa, terutama mengecewakan Taufik.
"Tidak apa-apa, coba saja dulu. Ayo.. Bismillah." Timpal Taufik sambil mengelus rambut Salma, lalu menuntunnya untuk memasuki kamar mandi.
"Hmm.. baiklah." Sahut Salma yang kemudian menuruti ucapan Taufik. Dan Taufik pun menunggunya didepan pintu kamar mandi.
Beberapa menit berlalu, Salma masih didalam menunggu hasil testnya keluar. Salma terlihat sangat tegang bahkan kering dingin mulai membanjiri dahinya, ia mondar-mandir dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan. Setelah beberapa saat menunggu, hingga akhirnya ia memberanikan diri untuk melihat hasil dari benda tersebut. Dengan tangan yang gemetaran ia meraih benda kecil itu, dan secara perlahan melihatnya.
__ADS_1
Masih pada detik yang sama, tiba-tiba air mata Salma lolos begitu saja dari matanya. Ia menangis terisak, ketika ia telah berhasil mengetahui hasil dari testnya tersebut. Entah apa yang dia rasakan saat ini, yang jelas saat ini ia ingin segera menemui suaminya dan memeluknya erat.
Ceklek..
Pintu kamar mandi dibuka oleh Salma, ia keluar dengan diiringi isak tangis dan linangan air mata yang semakin menderas.
"Mas.." panggilnya dengan suara yang sedikit tercekat.
Melihat Salma yang keluar dengan keadaan yang seperti itu, membuat Taufik terpaku sesaat. Namun, dengan segera direngkuhnya tubuh Salma dan berusaha membuatnya tenang kembali. Ia memang belum mengetahui hasilnya seperti apa, tapi dilihat dari ekspresi Salma saat ini, ia menyimpulkan jika dugaannya tadi salah. Dipeluknya tubuh Salma dengan erat, untuk menyalurkan perasaan keduanya yang mungkin kini sedang merasakan kesedihan dan kecewa karena hasilnya tidak seperti yang mereka harapkan.
Taufik sungguh merasa bersalah sekarang pada Salma, karena telah menyarankan hal seperti itu hingga kini hal itu melukai mereka. Dan sekarang yang harus ia lakukan adalah menghiburnya dan membuatnya melupakan rasa kecewanya. Namun, belum sempat Taufik berbicara, Salma sudah terlebih dahulu membuka suara.
"Mas, hiks.. ak..aku hamil Mas, aku.. hiks.. aku sedang mengandung anakmu Mas. Hiks.. hiks.." Ucap Salma dengan terbata dan isak tangisannya.
Deg..
Taufik kembali terpaku, kali ini ia benar-benar tak tahu harus berekspresi seperti apa. Setelah tadi ia mengira bahwa hal ini tidak terjadi dan berusaha menguatkan dirinya dan Salma dari rasa kekecewan yang akan menyergapnya bersama Salma. Namun, sepertinya itu tidak akan terjadi kini.
Melerai pelukannya dan menangkup kedua sisi wajah Salma, dan menatapnya penuh dengan rasa haru dan bahagia.
"Ap..apakah itu benar? Kamu.. kamu sedang hamil sekarang?" Tanyanya dengan sedikit bergetar saat mengucapkannya.
Salma mengangguk kuat, kemudian memperlihatkan alat tes kehamilan tadi yang menunjukan dua garis dengan sangat jelas disana. Dan Taufik pun meraihnya, melihatnya kemudian kembali memeluk Salma dan mengecupi seluruh bagian wajah Salma dengan sangat bersemangat.
"Alhamdulillah ya Allah, terima kasih sudah mempercayakan hal ini pada kami. Dan terima kasih juga padamu sayang, karena kamu sudah mau mengandung anakku." Ucap Taufik tak lupa mengucapkan rasa syukurnya pada Sang Pencipta.
Salma hanya tersenyum dan mengangguk, untuk membalas ucapan Taufik. Ini untuk pertama kalinya ia melihat Taufik yang terlihat begitu bahagia dan bersemangat, dan ia sangat bersyukur karena ia juga termasuk salah satu alasan Taufik merasakan kebahagiaannya kali ini.
.
.
Hai.. maaf kemarin gak Up, dan maaf juga jika episode kali ini agak bertele-tele dan berbelit. Karena sebenernya aku juga bingung, untuk buat episode ini. Tapi, semoga aja gak terlalu membuat kalian kecewa ya..
__ADS_1
Dan kembali lagi aku mengingatkan kalian untuk jangan lupa LIKE, COMENT DAN VOTE cerita receh aku ini. I love you all?aππ.
Terima kasihπ