
"Bagaimana perkembangan kesehatan Salma, Fik?" Tanya Bu Sahidah yang kini sedang duduk disamping Salma sambil memegangi tangan menantunya itu.
Ya, setelah pulang dari rumah sakit tadi, Salma dan Taufik mendapat penyambutan dari Bu Sahidah yang ternyata tiba tanpa memberi tahu mereka terlebih dahulu. Ia sepertinya tiba ketika mereka masih berada di rumah sakit, dan kini mereka akhirnya berbincang di ruang keluarga.
"Alhamdulillah Ma, kata dokter keadaan Salma secara menyeluruh sudah membaik. Mama tidak perlu terlalu khawatir sekarang, bukan begitu sayang?" Sahut Taufik yang menyampaikan apa yang tadi dikatakan dokter, kemudian meminta persetujuan istrinya.
Salma pun mengangguk disertai senyumannya yang sangatlah tipis itu. Melihat itu Taufik membalas senyuman Salma, namun berbeda dengan Bu Sahidah yang justru merasa semakin khawatir dengan sikap Salma ini. Ia merasa harus melakukan sesuatu untuk menghibur dan membantu menantunya agar tidak berada dalam kesedihan yang berlarut-larut.
"Sebaiknya hal apa ya.. yang harus aku lakukan?" Batin Bu Sahidah yang memikirkan ide untuk Salma.
"Hah.. syukurlah sayang, jika kamu sudah semakin membaik. Mama sangat senang mendengarnya, emm.. kalau begitu mari kita makan siang, ini sudah waktunya untuk kita makan siang. Apalagi kamu sayang, Mama tidak ingin kamu telat makan dan kembali jatuh sakit. Ayoo.." ajak Bu Sahidah pada anak dan menantunya, ia menggandeng Salma untuk sampai ke ruang makan.
"Ayo, kamu mau makan dengan apa? Biar Mama yang ambilkan, tadi Mama juga ikut membantu Bi Ati memasak lho untuk kamu." seloroh Bu Sahidah lagi ketika sampai di ruang makan.
"Tidak Ma, biar aku saja yang membantu Salma. Mama duduklah." Cegah Taufik pada ibunya, kemudian bersiap mengambilkan nasi juga lauk pauk untuk Salma.
"Baiklah, ya sudah kalau begitu Mama duduk ya.." jawab Bu Sahidah tanpa merasa keberatan sedikitpun, ia justru masih fokus dengan isi kepalanya yang masih belum menemukan sebuah ide yang bisa dilakukannya untuk membantu memulihkan keadaan Salma.
Acara makan siang mereka berjalan dengan seharusnya, meski disisi lain Bu Sahidah masih terus saja memperhatikan tingkah kedua anaknya itu. Walaupun suasana saat ini sangat jauh berbeda dari sebelum-sebelumnya, namun ia bersyukur setidaknya hubungan Taufik dan Salma jadi lebih dekat. Terlihat dari perhatian dan kepedulian Taufik terhadap Salma, Taufik dengan telaten merawat dan melayani Salma bahkan tanpa rasa segan dan malu lagi ia menyuapi Salma didepan dirinya.
__ADS_1
🌟🌟🌟🌟
"Sayang, Mama temani boleh ya.." izin Bu Sahidah pada Salma yang telah terduduk dikursi taman.
Salma menoleh dan segera menyahut.
"Oh.. tentu Ma." singkat dengan disertai senyum kecilnya.
"Em.. nak, Mama boleh bertanya?" Tanya Bu Sahidah melihat kearah wajah Salma dan menunggu respon darinya.
Salma mengangguk lalu kemudian ia pun menghadapkan dirinya pada Bu Sahidah, sebagai respon bahwa dirinya siap mendengarkan.
"Sayang, apa kamu masih belum bisa mengikhlas soal hal itu nak?" Dengan perlahan Bu Sahidah mulai menanyai Salma.
Sedangkan Salma yang mendapat pertanyaan seperti itu, dia seketika diam mematung. Perasaannya kini campur aduk, sakit juga perih karena harus membahas masalah yang bersangkutan dengan luka hatinya. Namun juga merasa bersalah, iya kini Salma mulai disusupi rasa bersalah, ia sadar akan sikap dan tindakannya beberapa hari terakhir ini. Sebenarnya jika boleh jujur, ia merasa canggung dan juga segan pada mertuanya itu. Ia sadar betul, jika dirinya memang benar-benar lemah dan rapuh, hanya karena masalah seperti ini ia bahkan mengabaikan kewajibannya sebagai seorang istri dan menantu yang baik.
Namun, sekeras apapun dirinya mencoba bersikap baik-baik saja dia tetap saja tak mau melakukan hal itu. Salma sungguh merasa bahwa saat ini ia memang sedang berada dititik terendahnya, masa-masa tersulit dari kehidupannya. Rasa kecewa dan luka dihatinya mungkin sangatlah dalam, sehingga tidak semudah itu untuknya bisa bangkit dan kembali bersikap seperti biasanya.
Lama terdiam dan belum juga menyahut, hingga akhirnya terdengarlah suara isak tangis Salma. Salma menghambur memeluk erat Bu Sahidah, ditumpahkannya semua kesedihannya itu kepada sang mertua. Rasanya ia sudah tidak sanggup untuk menutupi rasa sakitnya itu, Salma membutuhkan teman untuk meluapkan keluh kesah dihatinya. Saat ini Salma memang benar-benar membutuhkan dukungan dan sokongan untuk bisa menguatkannya.
__ADS_1
"Salma, sayang.. mungkin saat ini kamu sangatlah sedih dan terluka, tapi nak tidak baik bagi kita untuk terus menerus meratap dan terpuruk dalam kesedihan. Kamu harus yakin dan percaya, bahwa apa yang terjadi itu adalah yang terbaik dimata Allah dan satu hal lagi sayang.. yakinlah bahwa Allah akan menganti semua kesedihanmu saat ini dengan hal yang jauh lebih besar dan luar biasa dikemudian hari. Yakinlah nak.." nasihat Bu Sahidah sambil mengelus punggung menantunya lembut, ia juga sampai tak kuasa untuk tidak ikut meneteskan air matanya.
"Hiks.. maafkan aku Ma.. aku salah. Aku mengecewakan kalian hiks..hiks.." ungkap Salma dipelukan Bu Sahidah.
"Tidak sayang, tidak sama sekali. Mama mengerti, Mama sangat, sangat mengerti dengan apa yang kamu rasakan saat ini." Tanggap Bu Sahidah yang bagaimanapun ia memang pernah mengalami rasa sakit dan keterpurukan yang saat ini dirasakan Salma. Jadi ia tahu betul dan mengerti apa yang dibutuhkan Salma dalam masa-masa seperti ini.
"Ak..ku benar-benar tidak tahu harus bagaiamana sekarang Ma, aku bahkan tidak tahu apa yang ku rasakan saat ini, aku.. hanya takut. Takut membuat diriku sendiri dan terutama kalian semua kembali mengalami kekecewaan." Keluh Salma menungkapkan keresahan hatinya.
"Iya sayang, Mama paham. Mungkin saat ini kamu masih shock, Mama paham nak, tapi untuk saat ini kamu jangan terlalu banyak berpikir yang macam-macam. Kamu cukup merilekskan diri kamu dan segeralah kembali sehat sayang." Bu Sahidah terus berusaha menenangkan dan menguatkan Salma.
Nasihat demi nasihat terus diluncurkan oleh Bu Sahidah secara perlahan dan hati-hati. Sehingga dengan ini dirinya tidak akan sampai menyinggung atau terlalu menekan Salma. Ia ingin Salma tenang dan rileks bersama dirinya, dan tak ingin membuatnya terus diliputi kesedihan.
Tanpa disadari oleh mereka, ternyata sejak tadi Taufik memperhatikan dan mendengar semua percakapan mereka. Meski sebenarnya ia cukup merasa sedih dan kecewa karena ternyata Salma belum sepenuhnya terbuka dan percaya padanya, sehingga ia lebih nyaman untuk mengatakan isi hatinya pada ibunya. Tapi Taufik tetap merasa lega dan bersyukur dengan ini keadaan Salma mungkin akan jauh lebih baik lagi, ia percaya pada sang ibu yang insyaAllah mampu membuat emosi Salma kembali stabil.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...