
"Hoek.. Hoek.. " suara muntah Salma.
Taufik mendekati Salma dan memijat tengkuk dan punggung Salma, berharap dengan begitu bisa membantu menghilangkan rasa mual yang Salma rasakan.
"Kenapa? Apa itu sangat mual?" Tanya Taufik masih setia memijat Salma.
Salma hanya menggeleng sebagai jawaban, ia masih sangat merasa mual dan memuntahkan isi perutnya yang bahkan belum ia isi dengan apapun.
"Hoeek... Hoeek... hiks.. kenapa sakit sekali. Mas, tolong.. kamu jauhkan susu itu dariku Mas hiks.." Ucap Salma dengan susah payah menahan mualnya.
"Apa, karena susu itu kamu mual begini?" Tanya Taufik yang seakan bertanya pada dirinya sendiri, ia terlihat kebingungan untuk bisa mengerti keadaan Salma.
"Hoeek.. Hoeek.. Hoeekk.." Salma terus muntah sampai perutnya seakan sudah melilit dan hal itu membuat Salma merasakan sakit juga perih diperut dan ulu hatinya.
Tubuh Salma melemas dan mulai merosot ke lantai, namun sebelum menyentuh lantai Taufik dengan sigap menahan tubuh Salma.
"Salma..." seru Taufik sambil menangkap tubuh Salma.
"Hikss.. sakit, perutku sangat sakit Mas hiks.. hiks.." Ucap Salma lagi menangis menahan rasa sakit diperutnya, hingga keringat dingin sudah banyak keluar di dahi dan tubuhnya.
"Baiklah, sekarang lebih baik kamu istirahat dan berbaring kembali di ranjang." Sahut Taufik yang kembali membopong Salma ke kamar.
"Bi tolong, bawa pergi susu itu. Sepertinya itu membuat Salma tak nyaman." Seru Taufik pada Bi Ati yang memang sejak tadi masih disana, sama seperti Taufik Bi Ati pun mengkhawatirkan Salma.
"Iya baik tuan, sekalian saya juga pamit kebawah. Dan semoga nona Salma segera kembali pulih." Ucap Bi Ati yang kemudian keluar dari kamar Salma dan Taufik dengan menutup pintu. Ia tersenyum karena sepertinya sekarang ia tahu, apa yang menyebabkan Salma seperti itu.
Salma kini sudah kembali terbaring lemah diatas ranjangnya, dan Taufik segera mengambilkan minyak angin untuk Salma yang tadi sempat mengeluh jika perutnya sakit.
"Sini biar aku bantu mengoleskan ini pada perutmu, bagian mana yang terasa sakit?" Tanya Taufik yang mulai menyingkap pakaian Salma.
"Apa perlu ku panggilkan dokter sekarang? Sepertinya kondisimu semakin memburuk." Sambung Taufik dengan tangan yang mulai sibuk melumuri perut Salma dengan minyak angin. Taufik merasa cemas karena mual dan muntah Salma semakin sering dan parah. Ia takut jika ini dibiarkan, maka akan membuat kondisi Salma lebih buruk dari saat ini.
__ADS_1
Salma menggeleng untuk menjawab pertanyaan Taufik barusan. Entah kenapa ia terus saja menolak, sedangkan Taufik semakin diliputi rasa cemas dengan terus mendapat penolakkan Salma.
"Tapi Salma.." bujuk Taufik yang terpotong oleh penolakan Salma.
"Tidak Mas, aku tidak mau." Potong Salma dengan suara lirih.
Taufik menyugar rambutnya frustasi dengan keadaannya saat ini. Ia takut dan mencemaskan keadaan Salma, namun ia juga tidak bisa untuk memaksa Salma disaat Salma benar-benar tidak menginginkan hal itu.
"Baiklah, jika kamu tidak menginginkannya. Sekarang lebih baik kamu makan buburnya, nanti keburu dingin." Ucap Taufik yang akhirnya mengalah dan mengambil mangkuk bubur, bersiap untuk menyuapi Salma.
"Eem.. tidak Mas, aku sedang tidak mau makan. Aku takut nanti malah mual lagi." Tolak Salma dengan menahan tangan Taufik yang sudah menyodorkan sendok pada mulut Salma.
Menghela nafas "Baiklah, jika kamu tidak mau memakan ini, aku akan segera memanggil dokter untuk memeriksamu." Ancam Taufik yang tak bisa lagi untuk mengalah pada Salma.
"Bagaimana? Kamu akan memilih yang mana?" Tantang Taufik, sedangkan Salma masih diam dengan mencebikkan bibirnya.
"Ayolah Salma, kamu sudah berjanji untuk menjaga kesehatanmu. Jika kamu tidak mau makan, bagaimana kamu akan sehat hmm? Lagi pula, jikapun nanti kamu kembali muntah setelah makan, setidaknya itu akan jauh lebih baik. Dari pada nanti kamu muntah tanpa bisa memuntahkan apapun, dikarena perutmu kosong. Itu akan lebih menyakitkan dan menyiksamu nanti." Ceramah Taufik panjang lebar pada istrinya.
"Hmm.. baiklah tapi hanya sedikit saja." Putus Salma akhirnya.
"Nah.. seperti itu dong, ayo buka mulutmu Aaa" timpal Taufik meminta Salma untuk membuka mulutnya.
Taufik terus menyuapi Salma dengan telaten, meski sesekali Salma akan meminta untuk berhenti dikala ia kembali merasa mual dan berusaha menahannya untuk tidak muntah.
"Sudah Mas, aku sudah kenyang. Sekarang lebih baik kamu bersiap untuk bekerja, mari akan ku bantu carikan pakaianmu." Ucap Salma dan berniat untuk turun dari ranjangnya.
"Eh.. mau kemana? Sudah kamu duduk saja, hari ini aku sudah memutuskan untuk tidak ke kantor dulu sampai kamu merasa lebih baik." Cegah Taufik.
"Tapi kenapa Mas? Aku baik-baik saja kok, kamu harus ke kantor karena mungkin ada banyak pekerjaan disana." Balas Salma.
"Tidak apa-apa, aku tadi sudah menelpon Husain. Dan dia pasti bisa menghandle semuanya. Sekarang kamu istirahat saja, aku akan kebawah dulu." Timpal Taufik yang membantu Salma kembali berbaring dan setelah itu ia pun berlalu ke lantai dasar.
__ADS_1
....
"Bi, tolong siapkan sarapan untukku dan tolong bereskan juga bekas makan Salma di kamar." Ucap Taufik ketika ia sudah sampai di dapur untuk menghampiri Bi Ati.
"Iya, baik tuan. Mohon tunggu sebentar." Sahut Bi Ati yang langsung menyiapkan sarapan untuk Taufik, sedangkan Taufik duduk di ruang makan menunggu sarapannya tersaji.
Taufik duduk dengan pikiran yang masih tertuju pada Salma, ia masih merasa cemas dengan kondisi Salma. Tapi juga heran, kenapa Salma sampai bereaksi seperti tadi hanya karena mencium aroma susu?
"Tuan, ini sarapannya. Maaf menunggu lama." Ujar Bi Ati membuyarkan apa yang dipikirankan Taufik, kemudian ia menyajikan makanan untuk majikannya.
"Emm.. tuan.." seru Bi Ati lagi ingin mengatakan sesuatu pada Taufik, namun ia ragu.
"Iya Bi, ada apa?" Timpal Taufik yang ingin mendengarkan dulu ucapan Bi Ati sebelum ia memulai makannya.
"Begini tuan, mohon maaf sebelumnya jika saya lancang. Tapi, melihat dari gejala dan keadaan nona Salma saat ini. Sepertinya.. nona Salma sedang hamil tuan, karena biasanya sebagian dari wanita hamil akan merasa mual dan muntah dipagi hari dan juga sangat sensitif terhadap aroma-aroma tertentu. Dan hal seperti itu memang biasa dialami oleh mereka, tuan." Jelas Bi Ati dengan melihat Taufik yang masih terdiam, karena ia sedang berusaha mencerna ulang kejadian pagi ini dan menghubungkannya dengan ucapan Bi Ati barusan.
"Apa benar seperti itu?" Batin Taufik masih diliputi dengan keraguan.
"Saya memang bukan dokter tuan, tapi sedikitnya saya tahu tentang hal ini. Dan saya menduga, jika nona Salma pun sedang mengalami hal yang sama, dengan yang dialami oleh para wanita yang sedang hamil muda lainnya, tuan."
"Untuk memastikannya, bagaimana jika tuan meminta nona Salma untuk melakukan tes urin. Tadi saya sempat meminta Pak satpam untuk membelikan ini untuk nona Salma, tuan. Dan ini hanya saran dari saya, jika tuan tidak ingin melakukannya pun itu tidak apa-apa." Sambung Bi Ati dengan menyodorkan kantong berisikan beberapa alat tes kehamilan kepada Taufik.
"Ah.. tidak Bi bukan seperti itu, saya hanya masih merasa ragu. Tapi, terima kasih Bi atas masukannya, nanti saya akan meminta Salma untuk mencobanya." Balas Taufik akhirnya dengan melirik kearah kantong yang tadi diberikan Bi Ati.
"Baiklah tuan, sekarang saya permisi ingin mengambil piring kotor di kamar nona." lanjut Bi Ati yang dibalas dengan anggukan oleh Taufik.
"Semoga saja apa yang dikatakan Bi Ati itu benar. Dan sekarang, bagaimana caraku berbicara dan meminta Salma melakukan tes itu." Ujar Taufik dalam hati yang kemudian mulai menyantap makanannya.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa Like, Coment dan Votenya ya.. teman-teman. Agar aku lebih semangat lagi, love you allππ