
Dua minggu sudah semenjak Salma mengetahui jika dirinya sedang berbadan dua. Selama itu juga, Taufik beserta seluruh keluarga menjadi lebih protektif terhadap Salma. Meski demikian, Salma tetap diizinkan untuk bekerja dan melakukan aktivitasnya seperti biasa.
Seperti saat ini, Salma kini sedang berada di ruangan kerjanya mendesain baju-baju pesanan kliennya. Yang kebetulan salah satu dari kliennya saat ini adalah sahabatnya, Izma. Ya.. Izma memesan pakaian untuk suami, anak, serta dirinya yang akan mereka kenakan dihari spesial anak pertama mereka, Akmal.
Karena tepatnya minggu depan ia akan mengadakan acara ulang tahun putra mereka itu, bahkan Salma dan Taufiklah yang berada didaftar teratas orang yang akan mereka undang.
Akmal yang tak lama lagi akan berusia dua tahun itu, bahkan dari jauh-jauh hari sudah mewanti-wanti Salma untuk datang ke acara ulang tahunnya itu.
Dan hari ini, rencana mereka akan datang ke butik Salma untuk menentukan desain mana yang akan mereka pilih. Sekalian akan langsung melakukan pengukuran dan keperluan lain yang berkaitan dengan penjahitan dan pembuatan pakaian mereka.
"Assalamu'alaikum.." seru Izma bersamaan dengan Akmal yang memanggil Salma, ketika mereka baru sampai didepan pintu ruangan Salma.
"Aunty.." Akmal berlari mendekati Salma.
"Wa'alaikumsalam, hallo.. sayang apa kabar?" Sahut Salma yang kemudian beralih pada Akmal yang sudah berada disamping kursi kerjanya.
Salma bangkit dan menuntun mereka untuk duduk disofa.
"Kabar Akmal baik aunty, bagaimana dengan Aunty?" Tanya balik Akmal.
"Alhamdulillah aunty juga baik. Bagaimana denganmu Iz?" Tanya Salma pada sahabatnya.
"Alhamdulillah baik Sal, jadi bagaimana apa kamu sudah mendesainkan baju yang indah untukku?" Sahut dan tanya Izma yang terlihat begitu antusias, karena ia memang sudah berpesan dan mengatakan keinginan bentuk pakaiannya.
"Iya sudah, coba kamu lihat ini! Apakah sudah sesuai atau belum? Tapi.. sebenarnya aku masih bingung lho Iz, yang ulang tahun'kan Akmal tapi sepertinya kamu yang ingin terlihat heboh." Ucap Salma dengan sengaja meledek Izma yang memang gaun pesanannya itu memiliki model yang sedikit heboh dan terkesan mewah.
"Hahaha... biarkan saja, aku juga ingin tampil cantik nanti disana. Lagi pula.. aku memang belum pernah tuh merayakan hari ulang tahunku, dan hitung-hitung saat ini aku menebeng pada Akmal untuk bisa merasakan pesta ulang tahun." Balas Izma yang meraih lembaran kertas yang Salma sodorkan. Ia juga sudah berandai-andai hadir diacara minggu depan dengan gaun yang sudah Salma desainkan itu.
Ya.. selalu saja seperti itu sahabat Salma yang satu ini, dia akan selalu menjadi yang paling bersemangat dan antusias dalam hal apapun dan itu memang sudah sejak dulu seperti itu.
"Ah.. kamu ini, jadi bagaimana apa kamu suka dengan gaunnya?" Tanya Salma yang sudah kembali ke topik awal.
__ADS_1
"Ya, sangat suka. Ini indah sekali Salma, kamu selalu paling handal dalam hal ini dan sangat tahu akan seleraku. Sayangnya.. dulu saat aku menikah, aku tidak bisa menggunakan gaun rancanganmu." Balas Izma dengan sedikit keluhannya.
"Sudah tidak apa-apa, bukankah kamu bisa menganggap acara nanti sebagai hari ulang tahunmu sekaligus juga hari pernikahanmu?" Ujar Salma dengan berusaha ingin membuat Izma terhibur.
"Haha.. kamu bisa saja Salma, tapi ya.. kamu memang selalu benar. Kenapa aku sampai tidak berpikir kesana, ditambah dengan gaun indah ini aku akan merasa seperti kembali menikah nanti haha.." lanjut Izma dengan tawa renyahnya.
"Ekhmm.. ekhmm.. siapa yang akan menikah kembali?" Tanya seorang pria yang baru tiba dan langsung mengeluarkan suara baritonnya.
"Papa.." teriak Akmal menghampiri pria tadi yang tak lain adalah Wijaya.
"Eh.. Mas, kenapa lama sekali?" Tanya Izma yang juga baru menyadari kehadiran suaminya, sedangkan Salma hanya tersenyum karena ia sudah melihat Wijaya terlebih dahulu.
"Assalamu'alaikum maaf datang terlambat." Ucap Wijaya yang ia tujukan pada Salma. Kemudian ia pun berjalan dengan menggandeng tangan Akmal untuk duduk disebelah Izma.
"Wa'alaikumsalam Warahmatullah, tidak apa-apa kak. Silahkan duduk Kak." Sahut Izma dan Salma, yang kemudian Salma mempersilahkan Wijaya untuk duduk.
"Iya, terima kasih Salma." Yang langsung memposisikan diri disebelah istrinya.
"Haha.. itu Mas tadi aku sedang bercanda dengan Salma." Sahut Izma seadanya.
"Aku tadi bertanya siapa yang kamu maksud akan menikah lagi itu?" Tanya Wijaya dengan sedikit penekanan dalam ucapannya, ia masih belum puas mendengar jawaban Izma.
Izma menautkan alisnya, bingung. Kenapa Wijaya bereaksi seperti itu, ia bahkan menganggapi hal ini dengan serius.
"Tentu saja aku. Lihat, Salma bahkan sudah mendesainkan gaunnya." Balas Izma menunjukkan desain Salma pada suaminya, dengan senyum-senyum membayangkan saat dia mengenakannya nanti. Izma tidak menyadari kalau ucapannya itu malah membuat Wijaya semakin salahpaham padanya.
"Apa? Menikah lagi dengan siapa maksudmu heh?" Tanya Wijaya yang sepertinya ia sudah benar-benar salah menanggapi ucapan Izma.
"Hah? Kamu kenapa sih Mas? Sepertinya kamu salahpaham, aku tadi hanya bilang.. kalau aku akan merasa seperti akan menikah kembali jika mengenakan baju rancangan Salma ini." Paparnya setelah akhirnya paham jika suaminya itu sedang mode on cemburuannya.
"Kamu tahu sendirikan jika aku sangat menginginkan gaun rancangan Salma sejak dulu, dan gara-garamu yang dulu main serobot mengajakku menikah jadi semua impianku berantakan." Lanjut Izma dengan sedikit sarkas mengingat cara mereka dulu menikah.
__ADS_1
"Berantakan katanya? Justru bukankah aku yang telah menyelamatkannya dari perjodohan itu, seharusnya dia bersyukur bukan? Tapi kenapa jadi menyalahkanku begini." Gerutu Wijaya dalam hati, ia tak berani mengatakannya secara langsung karena itu akan membuat masalahnya semakin besar lagi.
Salma yang sudah tidak bisa untuk menahan tawanya, akhirnya tawanya pun lepas melihat kesalahpahaman Wijaya dan kekagetan Izma yang dituding seperti itu oleh suaminya.
"Hahhaa.. Kak Wijaya.. kamu lucu sekali. Haha..." Salma terus tertawa bahkan sampai perutnya merasa sakit, baru setelah itu ia berusaha menghentikan tawanya karena tidak ingin kandungannya kenapa-kenapa.
"Iya dia memang selalu seperti itu Sal, sangat menyebalkan. Padahalkan mana mungkin aku bisa menikah lagi sedangkan aku jelas-jelas masih istri sahnya. Memangnya laki-laki yang bisa menikah lagi seenaknya." Ujar Izma dengan nada ketusnya, ia sengaja ingin menyindir Wijaya.
Wijaya hanya menanggapinya dengan senyum malu, ya.. mau bagaimana lagi ia selalu kalaf dan seakan kehilangan logikanya jika itu sudah berkaitan dengan istrinya, Izma. Wijaya memang tipe laki-laki pencemburu dan sangat posesif terhadap istri tercintanya itu.
"Hei.. apa maksud perkataanmu yang bilang bahwa 'laki-laki bisa menikah lagi seenaknya'? Aku tidak seperti itu ya.. mana mungkin aku menikah lagi, disaat hatiku hanya untukmu sayang.." Balas Wijaya yang tak terima dengan ucapan Izma, yang kemudian berlanjut dengan ia yang merayu dan menggoda Izma agar kekesalan istrinya itu tidak akan berlanjut sampai ke rumah.
"Memang seperti itukan kenyataannya, aku sering lihat tuh disinetron-sinetron banyak laki-laki yang seperti itu. Dan bisa saja'kan kamu salah satu dari mereka." Ujar Izma lagi kekesalannya semakin merambat kemana-mana.
"Sayang.. itu tidak mungkin, bukankah kamu tahu sendiri kalau aku sungguh sangat mencintaimu?" Timpal Wijaya lagi dengan meraih kedua tangan Izma, ia merasa jika omong kosong ini tidak akan selesai begitu saja dengan mudahnya.
"Itu hanya sinetron sayang, dan sebaiknya kamu jangan terlalu banyak menonton yang seperti itu, itu tidak baik untukmu. Oke, aku minta maaf karena tadi sempat menuduhmu hal bodoh itu. Tapi sudah ya.. jangan marah lagi, mau lho dilihat oleh Salma." Sambung Wijaya berusaha keras membujuk Izma.
Izma hanya mendengus mendengar perkataan Wijaya barusan.
Sedangkan Salma yang sedari tadi menyaksikan drama rumah tangga itu, hanya tersenyum dan mengulum tawanya. Ia masih tidak menyangka jika Wijaya yang selalu terlihat berwibawa dan gagah, bisa bersikap seperti itu pada Izma. Sangat terlihat jika Wijaya begitu mencintai dan takut sekali kehilangan Izma, membuat Salma menjadi berangan 'akankah suaminya, Taufik juga seperti itu padanya? Takut bila ia sampai kehilangan dirinya?'
.
.
Kembali lagi dengan cerita receh dan penuh kegajeanku ini, tapi semoga kalian tidak bosan ya.. dengan novelku ini😊.
.
Bersambung...
__ADS_1