Mencintaimu Hingga Akhir

Mencintaimu Hingga Akhir
Episode 33 Memenuhi Undangan


__ADS_3

"Begitu dulu saja, aku masih ada pekerjaan di tempat lain. Aku tunggu kalian nanti malam di rumah, jangan sampai telat apalagi lupa ya.. awas saja!" Ujar Wijaya mengakhiri perjumpaannya dengan Taufik dan Salma. Yang kemudian mengultimatum mereka supaya tidak terlambat menghadiri undangannya.


Salma dan Taufik hanya terkekeh mendengar ultimatum yang Wijaya berikan.


"Ya sudah, aku pamit. Assalamu'alaikum." Beranjak dari kursi dan melenggang pergi setelah mendengar sahutan dari pasangan itu.


"Wa'alaikumsalam Warahmatullah, hati - hari Wij." Sahut mereka dan ya.. Taufik memanggil Wijaya tanpa menggunakan embel - embel 'kakak' atau apalah itu, karena Wijaya sendiri yang memintanya begitu dengan alasan ia yang tidak mau dianggap tua oleh Taufik.


"Mas sepertinya aku juga akan pulang, sudah terlalu lama aku disini mengganggumu." Ucap Salma usai kepergian Wijaya.


"Memangnya kenapa? Mau selama apapun kamu disini aku tidak masalah dan tidak akan ada juga yang mempermasalahkannya. Dan bukankah aku tadi sudah bilang, jika kamu akan pulang bersamaku. Aku bahkan sudah meminta pak Atif untuk pulang terlebih dahulu tadi." Balas Taufik mencegah niat Salma.


"Lho kenapa mas meminta pak Atif pulang?" Ucap Salma yang kaget dengan ucapan Taufik barusan.


"Karena kamu akan pulang denganku Salma. Kenapa? Apa kamu sudah ingin pulang sekarang?" Tanya Taufik yang melihat Salma agak lesu dan sepertinya Salma kelelahan.


"Emm.. iya mas. Tapi 'kan ini belum waktunya untuk kamu pulang, baiklah tidak mengapa. Aku akan memesan taxi online saja." Balas Salma kemudian.


"Tidak, jangan! Biar aku yang mengantarmu. Soal pekerjaanku itu bisa ku tunda nanti atau bisa ku bawa pulang. Jadi sekarang mari kita pulang!" Taufik beranjak membereskan beberapa berkas yang akan dibawanyaย  ke rumah.


"Tapi mas, apa tidak papa?" Tanya Salma tak enak hati.


"Hei.. apa maksudmu? Jelas ini bukan masalah untukku." Sahut Taufik berjalan kearah Salma, merangkulnya dan berlalu keluar ruangannya.


"Beritahu Husain kalau saya pulang lebih awal." Ucap Taufik pada Fitri.


"Baik tuan." Sahut Fitri segera mengangguki ucapan Taufik.


"Mari mbak, Assalamu'alaikum." Pamit Salma pada Fitri, masih dengan Taufik yang merangkulnya sehingga ia pun harus mengimbangi langkah suaminya itu.


"Eh.. iya nyonya, Wa'alaikumsalam." Balas Fitri dengan sedikit mengeraskan suaranya, karena Salma sudah menjauh terseret langkah Taufik.


Ting!


Pintu lift terbuka, menandakan mereka kini sudah dilantai dasar.


"Mas.." seru Salma sedikit berbisik dan berusaha menjauhkan tubuhnya dari Taufik yang sejak tadi tak melepas rangkulannya pada Salma.


"Ya?" Sahut Taufik tanpa menghentikan langkahnya, bahkan saat ia merasa Salma merenggangkan rangkulannya dengan segera ia meraih tubuh Salma lagi dan mengeratkan rangkulan tangannya.


Taufik melihat Salma yang ternyata wajahnya sudah bersemu merah karena menahan malu menjadi pusat perhatian karyawan Taufik. Menyadari itu Taufik malah tersenyum dan merasa lucu melihat ekspresi Salma sekarang.


"Kenapa? Apa kamu malu?" Tanyanya pada Salma.


"Hm.. iya mas, sebaiknya kamu jangan seperti ini." Ucap Salma memberanikan diri.


"Lho.. memangnya kenapa? Aku 'kan merangkul istriku sendiri?" Ucap Taufik sengaja mencoba menggoda Salma dan Salma hanya membalasnya dengan dengusan kecil.

__ADS_1


"Sudahlah, dia tidak akan mengerti." Batin Salma.


Taufik membiarkan saja Salma yang seperti itu, karena ia memang sengaja melakukan itu semua. Hitung - hitung dengan itu ia telah mengumumkan pada seluruh karyawannya bahwa inilah istri dan wanitanya. Dengan begitu, mereka akan tahu dan akan menghormati Salma ketika nanti ia kembali berkunjung ke kantornya.


๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ


Brug...


Suara pintu mobil yang ditutup, Salma dan Taufik baru saja turun dari mobil mereka yang berhenti di halaman sebuah rumah yang tak kalah mewah dari rumah mereka.


Ya.. kini mereka sudah sampai di rumah Wijaya untuk memenuhi undangannya makan malam bersama.


"Ayo.." ajak Taufik mengulurkan tangannya pada Salma dan dengan segera Salma pun menyambut uluran tangan Taufik tersebut dan menggandengnya. Sedangkan ditangan kiri Salma, ia sudah menenteng beberapa jenis kue sebagai buah tangan untuk pemilik rumah.


"Iya, ayo.." sahut Salma dan mereka pun melangkah mendekati pintu utama rumah tersebut.


Ting.. Tong..


Taufik menekan bel yang ada disamping pintu.


"Nah.. itu mereka, sayang.. ayo mereka sudah datang! Bi tolong bukankan pintu untuk mereka." Teriak Wijaya pada istrinya, kemudian mengintruksi asisten rumahnya.


"Baik tuan" sahut asisten tersebut.


Ceklek..


"Iya terima kasih." Melangkah masuk sambil berseru.


"Assalamu'alaikum" seru mereka dan langsung dibalas oleh Wijaya yang sedang berjalan kearah mereka.


"Wa'alaikumsalam Warahmatullah, akhirnya kalian datang juga. Ayo.. ayo duduk." Timpal Wijaya yang kemudian mereka pun duduk di ruang tamu.


"Terima kasih." Ujar Salma sambil mendaratkan bokongnya untuk duduk dikursi.


"Mana dia?" Tanya Taufik setelah mereka sama - sama telah duduk.


"Ada, mungkin sebentar lagi mereka akan turun." Balas Wijaya dan Taufik pun mengangguk.


"Mohon maaf, menunggu.." ucap seseorang yang tak lain adalah istri Wijaya, yang datang dengan menggandeng anaknya.


"Aunty..." teriak anak kecil tersebut, selang beberapa detik dari ia datang.


Salma reflek berdiri saat kedatangan mereka, dan..


"Izma! Akmal!" Pekiknya terkejut dan tak percaya dengan siapa yang ada dihadapannya.


"Salma.." seru Izma yang juga tak kalah kagetnya dengan Salma.

__ADS_1


"Aunty.. aunty.. kesini? Akmal rindu.. sekali pada Auntyy." Kata Akmal dengan suara cadelnya, setelah ia menghampiri Salma dan saat sudah didepan Salma ia segera memeluk kaki Salma.


Salma mengerjapkan matanya, seolah kembali tersadar saat ada yang memeluk kakinya.


"Akmal, ini benar kamu sayang?" Tanya Salma terjongkok dihadapan Akmal, dan ingin memastikan bahwa penglihatannya tidaklah salah.


"Iya aunty, ini Akmal. Aunty datang ke rumahku pasti ingin mengajak Akmal mainkan?" Sahutnya sangat antusias.


Sedangkan Izma yang sejak tadi masih mematung di tempatnya, kini matanya ia arahkan pada Taufik kemudian pada Salma. Lalu berujar


"Jadi.. kamu istri kak Taufik Sal?" Tanya Izma akhirnya yang kemudian berjalan kearah Salma dan Akmal kini berada.


Salma bangkit dan melihat Izma. Kemudian ia mengangguk dan menjawab.


"Iya, dan kamu.. istrinya kak Wijaya?" Salma balik tertanya dengan nada agak kebingungan.


"Heem.. iya. Benar - benar tidak terduga ya, hahaha.." sahut Izma dengan anggukan antusias, kemudian ia tertawa senang.


Salma pun ikut terkekeh. "Iya, sungguh tidak pernah terpikirkan olehku jika istri kak Wijaya adalah dirimu..." Timpal Salma lagi yang kini disertai dengan sedikit nada meledek pada ucapannya.


"Hei.. apa maksudmu, memangnya aku kenapa?" Balas Izma tak terima, tapi kemudian mereka pun tertawa bersama lagi.


"Haha.. aku pun tidak pernah menduga sedikitpun jika nyonya Taufik itu ternyata dirimu." Izma balas meledek Salma disela - sela tawanya.


"Ah.. sudah, sudah." Seru Salma yang ingin menghentikan aksi saling meledek itu.


"Aunty, Mama kalian sedang menertawakan apa? Kenapa tak mengajak Akmal juga untuk tertawa?" Ucap Akmal dengan mengerucutkan bibirnya dan bersidekap tangan didada menandakan bahwa kini ia sedang merajuk pada Izma dan Salma.


"Eh.. iya sayang maaf, Mama tadi terlalu senang bertemu auntymu. Sampai lupa deh.. sama kamu." Sadar Izma yang segera membujuk anaknya.


"Iya, maafkan aunty juga ya.. sayang? Kami tak bermaksud mengabaikanmu." Timpal Salma mencoba membujuk putra sahabatnya itu.


"Emm.. oke, akan Akmal maafkan tapi..." ucap Akmal dengan gaya dewasanya.


"Tapi apa sayang?" Tanya Salma dan Izma bersamaan, kemudian mereka saling tersenyum.


"Tapi.. aunty harus menemani Akmal main sekarang." Lanjutnya yang segera diangguki oleh Salma.


"Tapi setelah kita makan malam dulu, iya kan aunty?" Timpal Izma dan disetujui oleh Salma.


"Mm.. baiklah" sahut Akmal pasrah. Izma pun akhirnya mengajak semuanya untuk ke ruang makan, tapi.. tunggu dulu. Ah.. iya! Ia melupakan suaminya dan tamu yang satunya lagi, bersamaan dengan itu Salma pun baru teringat akan hal itu. Saling lirik, kemudian mereka menepuk jidat mereka sendiri secara bersamaan.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2