
Waktu sudah menunjukkan pukul 13.00 siang, Bu Ilma dan Bu Sahidah sedang berbincang setelah tadi menikmati makan siang mereka dan melaksanakan shalat dzuhur bersama di ruang rawat inap Salma. Sedangkan Pak Imam dan Pak Sulaiman belum kembali dari mushola selepas mereka melaksanakan shalat dzuhur tadi.
"Taufik kok lama ya.. Bu, padahal sudah lama lho.. kita ngobrol-ngobrol disini. Tadi bilangnya mau sebentar kan Bu?" Heran Bu Sahidah karena sudah lewat waktu makan siang begini Taufik tak kunjung kembali.
"Iya Bu, mungkin ada pekerjaan yang mendesak disana Bu. Sudahlah nanti juga dia kembali." Sahut Bu Ilma yang lebih santai karena ia memaklumi kesibukan menantunya itu, yang pasti akan banyak sekali pekerjaan yang menumpuk yang harus menantunya itu hadapi setelah beberapa hari terbengkalai karena Taufik tinggalkan.
"Hmm iya sih Bu, tapi kan takutnya nanti Salma terbangun tapi Taufik malah tidak ada disini." Lanjut Bu Sahidah yang kini sudah terduduk dikursi samping Salma yang tengah terbaring.
"Iya, saya sangat berharap Salma akan bangun sekarang." balas Bu Ilma dengan raut wajah yang kembali sendu, kemudian ia pun melangkah mendekati ranjang tempat Salma kini berbaring. Ditatapnya dan dielusnya wajah sang putri seraya berucap.
"Sayang.. kamu bangun dong nak. Ini Ibu, Ibu kangen sekali sama kamu sayang. Ibu mohon bangun nak, kasihan suamimu nak dia bahkan sering kurang tidur karena khawatir dan menungguimu disini. Bangun nak.." Ucap Bu Ilma dengan lirih dan sedikit terisak, tatapan matanya yang sangat sendu dan syarat akan kerinduan juga kesedihan yang mendalam.
Begitupun dengan Bu Sahidah, yang kini juga sudah terisak merasakan sakit dan kesedihan yang sama seperti yang dirasakan oleh besannya itu. Ruangan rawat Salma seakan menjadi mendung dan meredup, kala kedua wanita yang sangat menyayangi Salma itu sama-sama menangis dan menumpahkan segala kesedihannya. Hingga tanpa mereka sadari, salah satu dari tangan Salma mulai bergerak. Jari tangan Salma mulai bergerak satu persatu, seakan ia ingin menggapai sesuatu. Meski kedua matanya masih terpejam sempurna, namun satu persatu bagian tubuhnya mulai mengalami pergerakan.
"Ibu.. ini aku bu.." jerit Salma dalam hati, ia sudah ingin sekali berkata bahkan berteriak sejak mendengar perkataan ibunya yang memilukan juga suara tangisan kedua ibunya yang mengiris hati. Namun tertahan dengan keadaannya yang masih lemah dan lemas, juga tenggorokannya yang terasa sangat kering dan sakit.
Dengan perlahan Salma mengerjapkan kedua matanya, berkali-kali ia paksakan kedua matanya itu untuk terbuka. Terasa berat seakan kedua matanya itu terpasang lem atau apalah itu sejenisnya, hingga akhirnya dengan susah payah ia bisa sedikit membuka matanya. Hal pertama yang ia rasakan saat matanya terbuka adalah rasa pusing dan kepala yang berkunang, hingga ia pun kembali memejamkan matanya berupaya bisa menghilangkan rasa pusingnya itu.
Dengan perlahan tangannya ia gerakan untuk bisa menggapai tangan sang ibu, berusaha menyadarkan dan memberitahu mereka kalau ia kini sudah sadar.
Grep..
__ADS_1
"Sa..Sal..ma!" Pekik Bu Ilma dengan sangat kaget mendapat sentuhan dari tangan anaknya yang masih lemah itu.
"Sayang.. ka..mu sadar nak!" Sambungnya lagi yang segera mendapat anggukan kecil dari putrinya.
"Alhamdulillah.." sahut kedua wanita tua itu.
"Alhamdulillah sayang, akhirnya kamu sadar juga. Sekarang katakan, apa yang kamu inginkan nak, kamu mau apa?" Ucap Bu Sahidah merasa lega dan langsung memberikan pertanyaan pada Salma.
"A..ai..r" jawab Salma lirih dan hampir tak terdengar oleh keduanya.
"Oh ya.. sebentar, kamu pasti haus kan sayang. Maaf ya.. sayang." Bu Sahidah pun dengan segera mengambil air mineral lengkap dengan sebuah sedotannya, sedangkan Bu Ilma masih memegangi dan menatap putrinya seolah masih tak percaya bahwa sang anak telah kembali sadar.
"Ini minumlah!" Seru Bu Sahidah dengan menyodorkan dan menuntun Salma untuk minum.
Sedangkan didalam ruangan Salma, Bu Sahidah berusaha memberikan kenyamanan dan hal-hal yang mungkin akan Salma butuhkan atau inginkan. Hingga beberapa kali ia menanyakan juga menawarkan hal ini dan hal itu pada Salma, namun hanya sebuah gelengan dan senyum tipis yang ia dapatkan sebagai jawabannya.
"Oh iya, kamu pasti sedang mencari Taufik kan sekarang. Huh.. Mama sampai lupa, kalau begitu kamu tunggu sebentar ya sayang. Mama mau menghubungi dia dan memintanya segera kesini." Ujar Bu Sahidah untuk kesekian kalinya, ia berbicara.
Salma hanya menatapnya dengan tatapan yang sayu, juga dengan sedikit kebingungan atau boleh dikatakan jika Salma saat ini sedang sedikit linglung. Setelah beberapa saat terdiam, Salma akhirnya teringat sesuatu.
"Anakku.." sadarnya segera ia pun meraba perutnya yang memang rata itu.
__ADS_1
"Apa dia baik-baik saja?" Pikirnya masing dengan tangan yang meraba dan mengelus perutnya itu. Dengan rasa panik, takut dan khawatir Salma pun segera ingin menanyakan soal kandungannya. Karena seingatnya kecelakan yang ia alami waktu itu bukanlah kecelakaan yang ringan, sadar akan hal itu membuat Salma semakin tak karuan.
"Em.. Ma!" Panggilnya pada Bu Sahidah yang baru saja menghubungi Taufik untuk segera kembali ke rumah sakit.
"Iya sayang, ada apa? Apa kamu membutuhkan sesuatu?" Sahutnya yang langsung menhampiri Salma dan mengelus sayang kepala Salma.
"Mm..Ma.." Salma sangat takut hanya untuk sekedar menanyakannya saja, ia benar-benar tidak sanggup jika apa yang ia takutkan itu benar-benar terjadi.
"Iya sayang." Timpal Bu Sahidah masih setiap menunggu kalimat yang akan Salma ucapkan.
"Ma.. ba..bagaimana de..ngan kandunganku? Dia baik-baik saja kan Ma, iya kan Ma?" Salma bertanya namun seakan tak ingin mendengar jawaban yang tidak ia inginkan.
Glek..
Bu Sahidah terpaku, bahkan hanya untuk menelan ludahnya saja ia benar-benar merasa kesulitan saat ini. Pertanyaan ini, ya.. pertanyaan ini yang sangat ditakutkan dan dikhawatirkan olehnya juga orang-orang yang menyayangi Salma dan tak ingin melihat Salma terluka.
"Emm... itu.." Bu Sahidah bingung harus mengatakannya atau tidak hal ini pada Salma, ia juga merasa khawatiran akan respon Salma nantinya kala ia sudah mengetahui kenyataan sebenarnya. Ia takut hal ini akan mengganggu pemulihan dan menurunkan kondisi kesehatan Salma yang kini baru saja tersadar.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...