
Sarapan berjalan dengan semestinya, kini saatnya Taufik berangkat bekerja. Namun, kali ini Salma tidak berangkat satu mobil dengan Taufik karena ia akan pergi lebih siang untuk menunggu dan membantu adiknya dulu menyelesaikan tugas skripsinya. Tadi sepulang Taufik dari berjamaah shubuh, Salma sudah bicara dan meminta izin pada Taufik bahwa adiknya Fikri akan berkunjung kesini.
''Kalau begitu saya pergi dulu.'' ucap Taufik ketika mereka sudah sampai dipintu utama dan akan segera berlalu naik ke mobilnya.
''Ehh.. tunggu dulu Mas!'' panggil Salma dengan berjalan mendekati Taufik.
''Ya?'' bingung Taufik berbalik dan melihat ke arah Salma dengan menaikan kedua alisnya.
Tanpa berkata apapun lagi Salma menarik tangan Taufik dan menyalaminya, kemudian berkata
''Hati - hati di jalan ya Mas dan jangan lupa makan siang.'' ingat Salma dengan diiringi senyuman lembutnya yang selalu berhasil membuat Taufik terhipnotis.
Taufik memalingkan wajahnya ''Ekhmm, ya..'' sahut Taufik berusaha menyingkirkan pikiran liarnya lalu tersenyum tipis, sangat tipis sehingga tidak terlalu nampak perubahan diwajahnya.
''Assalamu'alaikum.'' imbuhnya kemudian berlalu menaiki mobilnya.
''Wa'alaikumsalam Warahmatullah'' jawab Salma, Salma berjalan kembali memasuki rumah setelah mobil Taufik tak terlihat lagi.
Selang beberapa menit dari kepergian Taufik, Fikri tiba dan memasuki pintu gerbang dengan mengendarai motor sportnya. Fikri benar - benar dibuat tercengang dengan rumah kakak iparnya itu, ia bahkan sempat beberapa kali mengecek ulang alamat yang dikirimkan kakaknya kemarin. Memarkirkan motornya dan berjalan menuju pintu utama, dengan mata yang nyaris tak berkedip Fikri melihat sekelilingnya.
Tak lama setelah memencet bel, pintu pun terbuka. Fikri dipersilahkan masuk dan duduk di ruang tamu oleh Bi Ati, yang langsung permisi lagi kebelakang untuk membawakan jamuan untuk Fikri. Usai kepergian Bi Ati, kini berganti dengan kemunculan Salma yang langsung menyapa adiknya tersebut.
"Assalamu'alaikum." seru Salma yang membuat lamunan Fikri buyar seketika.
"Wa'alaikumsalam kak. Kak apa kakak tidak salah? Apa ini benar rumah kakak ipar?" tanyanya ia sungguh syok mengetahui hal ini.
Salma sudah dapat menebak sebelumnya, jika Fikri pasti akan kaget dan bereaksi seperti ini.
"Iya dek, ini memang rumah Mas Taufik. Kakak juga sempat kaget kemarin saat tiba disini." balas Salma yang sudah duduk disamping adiknya dan Fikri pun langsung mencium punggung tangan Salma.
"Waah.. kakak ipar hebat, dapat memiliki rumah sebesar ini. Kakak juga beruntung bisa memiliki suami seperti kakak ipar." seloroh Fikri dengan terus melontarkan berbagai pujian kepada kakak iparnya.
Sedangkan Salma hanya tersenyum dan sesekali menggeleng mendengar ucapan Fikri.
__ADS_1
"Sudah, ayo mulai kerjakan sekarang!" tutur Salma sedari tadi hanya mendengarkan celotehan Fikri.
Fikri pun mulai mengeluarkan laptop dan beberapa buku dari tasnya. Dengan sedikit dibantu dan diarahkan oleh Salma, Fikri mengerjakan skripsinya sesekali bertanya dan berdiskusi dengan Salma.
Waktu berlalu kini saatnya Salma pergi ke butik dan akan diantar oleh supir baru, karena ternyata Taufik sudah mendapatkan supir baru untuk mengantarkan kemanapun Salma berpergian, supir yang sudah terlatih dan bersertifikat sehingga Taufik tidak akan lagi mengkhawatirkan keselamatan Salma lagi karena harus menaiki kendaraan umum. Taufik bahkan tidak mau memberi sesuatu yang sembarangan untuk istrinya.
"Kakak, terima kasih sudah membantuku, maaf sudah mengganggu waktumu." ucap Fikri, mereka berjalan keluar dan berhenti dekat motor sport Fikri diparkirkan.
Salma terkekeh sebelum menjawab.
"Sejak kapan kamu bisa berbicara seperti itu padaku, hmm? Bukankah hal seperti ini biasa terjadi." timpal Salma.
"Iya memang, tapi rasanya sekarang seperti berbeda saja kak." sahut Fikri dengan menggaruk kepala bagian belakangnya.
"Ah.. kamu ini, dan ya.. jangan lupa segera selesaikan semuanya, dan beritahu kakak jika sudah saatnya kamu diwisuda." imbuhnya.
"Untuk itu kakak tenang saja, aku akan segera lulus dan tentu saja aku akan memberi tahu kakak. Bahkan kakak akan jadi orang pertama yang akan aku beritahu." dengan percaya diri Fikri menjawab.
"Ya.. ya, kakak percaya." timpal Salma sekenanya.
Selepas kepergian adiknya, Salma berjalan mendekati mobil yang akan mengantarnya pergi dan disana supir barunya ternyata sudah menunggu dan siap mengantarnya ke butik.
Sebelum menaiki mobil, supir baru yang diperkirakan usianya sekitar 45 tahun itu menyapa dan memperkenalkan dirinya pada Salma.
''Selamat pagi nona, perkenalkan nama saya Atif. Saya ditugaskan untuk mengantar dan menjemput nona kemanapun nona pergi.'' jelasnya.
''Ah.. ya Pak Atif, saya Salma. Dan selamat pagi kembali senang bertemu dengan Bapak.'' timpal Salma sopan, karena bagaimanapun Pak Atif lebih tua dari Salma.
''Silahkan non.'' seru Pak Atif ketika sudah membukakan pintu mobil untuk Salma.
''Terima kasih Pak.'' balas Salma.
Mobil yang dinaiki Salma akhirnya meluncur meninggalkan rumah utama, dalam perjalanan sesekali Salma mengajak Pak Atif mengobrol dan bertanya mengenai keluarganya, tempat tinggalnya juga mengenai pekerjaan Pak Atif sebelum beliau menjadi supirnya sekarang. Bukan tanpa alasan Salma mempertanyakan hal seperti itu, dia hanya ingin mengenal para pekerjanya dan lebih dekat dengan mereka agar ketika mereka membutuhkan bantuan ataupun sesuatu mereka tidak perlu malu apa lagi canggung terhadapnya.
__ADS_1
Salma telah sampai di butiknya sebelum dia turun, Salma meminta Pak Atif untuk kembali ke rumah saja karena Salma tidak mungkin membiarkan Pak Atif menungguinya bekerja sampai sore nanti di parkiran. Tapi..
''Tidak non, tuan Taufik meminta saya untuk tetap disini menunggu non hingga waktu non pulang tiba.'' tolak Pak Atif.
''Tapi pak itu masih lama, akan sangat membosankan jika bapak menunggu saya hingga saya selesai bekerja disini.'' ucap Salma.
''Tak apa non, ini sudah menjadi pekerjaan saya. Non tidak usah khawatir, saya akan menunggu non sambil ikut bergabung dengan satpam didepan.'' ujar Pak Atif.
Didepan butik Salma terdapat sebuah pos satpam kecil untuk satpam yang biasa menjaga kendaraan milik pengunjung butik yang singgah di butik Salma. Salma memang memperkerjakan satu orang satpam untuk membantu mengelola parkir para pengunjung yang datang ke butik juga sesekali membantu jika dibutuhkan untuk mengangkat barang - barang berat yang membutuhkan tenaga seorang laki - laki, karena para pekerja butik semuanya berjenis kelamin perempuan.
''Baiklah pak kalau begitu, jika perlu apa - apa bapak panggil saya saja ya..'' putus Salma akhirnya.
''Iya baik non'' sahut Pak Atif.
Kemudian Salma pun berlalu masuk ke dalam butik, seperti biasa suara saling sapa dan teriakan penuh semangat dari para pekerja selalu terdengar disetiap pagi di butik ini.
Salma sudah duduk dikursi kerjanya dan mulai menggores - goreskan pensil pada selembar kertas hingga menjadi sebuah desain gaun yang sangat cantik dan mewah, desain tersebut merupakan pesanan dari salah satu kliennya yang akan segera melangsungkan pernikahannya dua bulan mendatang nanti. Kemudian Salma berlanjut pada pengecekkan kain dan bahan untuk penjahitan gaun - gaun pesanan kliennya.
Salma bersama dengan Karin pergi ke tempat penyimpanan kain dan pernak - pernik lainnya untuk mengecek kesediaan bahan - bahan yang nanti mereka butuhkan, untuk sampai ke tempat tersebut mereka hanya perlu berjalan beberapa meter tidak jauh dari butik Salma terletak. Tepatnya dibelakang bangunan butik terdapat tempat penyimpanan kain yang juga tempat para penjahit merealisasikan hasil karya dan desain Salma menjadi sebuah pakaian dan gaun yang indah dan berkelas.
Setelah berkeliling dan mengecek, Salma mendapati kurangnya kain dan beberapa hiasan lainnya yang langsung dicatat oleh Karin. Dan esok Salma berencana akan membeli semua kekurangan tersebut bersama Karin dan satu pekerja lainnya, meski Salma bisa menyuruh Karin atau para pekerjanya untuk berbelanja kebutuhan butik, namun Salma selalu melakukannya sendiri sedari dulu selalu saja Salma seperti itu.
Alasannya Salma ingin memberikan yang terbaik untuk para kliennya dan tidak mau kalau harus sampai mengecewakan para kliennya. Dan dengan cara seperti ini Salma bisa memastikannya sendiri tapi bukan berarti Salma tidak mempercayai Karin ataupun yang lainnya, hanya saja hal ini sudah Salma lakukan sejak awal ia menitih karirnya sebagai seorang desainer.
.
.
Bersambung...
.
Mohon kritik dan sarannya dan tolong bantu dukung dengan cara me- like, coment dan vote novel ini jika kalian menyukai ceritanya.
__ADS_1
Terima kasih😊😊