
"Husain! Tunggu.. biasa kah kau berjalan lebih pelan? " Teriak Fitri dengan jengah, sedikitpun Husain tak memperdulikannya disaat seperti ini. Jalanan yang dipenuhi krikil dan bebatuan membuat Fitri kesulitan untuk melangkah, bagaimana tidak jika dalam kondisi seperti saat ini ia malah mengenakan sepatu ber-hak. Ya.. Fitri akui ini adalah kesalahan dan kecerobohannya sendiri, tapi tidak bisakah Husain membantu dan mentolerir kesalahannya untuk kali ini?
"Huftt.. Kenapa lagi? Tidak bisa kah kau selesaikan masalahmu sendiri? Disini ada banyak urusanku yang harus segera diselesaikan. " Sahut Husain sama-sama merasa jengah karena sejak tadi Fitri terus saja meneriakinya, padahal saat ini ia sedang berbicara dengan mandor yang menghandle proyek mereka.
Setelah sebelumnya Husain beserta Fitri selesai menjumpai salah satu kolega bisnisnya, mereka pun langsung menyambangi tempat pembangunan proyek perusahaan yang baru separuhnya jadi itu. Dan karena rencananya hari inilah proyek yang kemarin sempat diberhentikan penggarapannya akan kembali dimulai, sebab itu Husain sangat perlu hadir di sana selain untuk memantaunya langsung ia juga harus melaporkan setiap rincian yang ada di sana pada Tuan Taufik, atasannya.
"Tidak bisa. Husain.. Kumohon sekali ini saja kau mau ya membantuku, tolong.. " Fitri memelas agar Husain mau membantunya, ia sungguh tidak sanggup lagi jika harus memaksakan berjalan dengan sepatunya itu. Bahkan dibeberapa bagian kakinya sudah terdapat beberapa luka goresan.
"Ambil ini! Jika tidak salah ada satu pasang sandal dalam bagasi, coba kau cari. " Balas Husain akhirnya dengan melempar kunci mobilnya kearah Fitri. Dari pada terus menerus diteror suara melengking Fitri, lebih baik ia membantunya saja semoga dengan itu ia bisa membungkam Fitri.
"Ep.. Ah! Main lempar saja, tidak bisa kah ia memberikannya dengan cara yang lebih baik? Tak memberi aba-aba juga lagi tadi, untung saja aku cepat tanggap menangkapnya. Fitri gitu lho.. " Gerutu Fitri sambil berlalu kearah mobil Husain terparkir, setelah tadi memang sempat kesulitan mendapat serangan dadakan dari Husain.
Klik
"Nah.. Ini dia, setidaknya dengan ini aku akan terbantu." Ucap Fitri setelah berhasil membuka bagasi mobil dan menemukan apa yang ia cari.
"Shh.. ternyata lukanya cukup banyak, ck" Ringis Fitri sambil sejenak mengamati beberapa luka dikakinya. Baru setelah itu ia kembali ingin menghampiri Husain.
Tapi baru saja ia berbalik, terlihat Husain berlari kencang kearah sebrang dari tempat mereka kini berada seperti mengejar sesuatu.
"Hei berhenti kau! " Teriak Husain kepada seseorang yang ia kejar. Semua kejadian itu sekilas membuat Fitri termenung tak mengerti, ia menautkan kedua alisnya tertanda ia sedang berpikir.
"Siapa orang itu, kenapa Husain mengejarnya? " Tak mau bingung sendiri, akhirnya Fitri pun menghampiri orang yang sejak tadi mengobrol dengan Husain, yaitu Pak mandor semoga saja dengan bertanya padanya ia akan mendapat jawaban.
"Pak, apa yang terjadi? Kenapa Husain mengejar orang itu? " Tanya Fitri pria paru baya yang bernama Herman itu.
"Saya juga tidak tahu Non, tadi kami biasa mengobrol seperti sebelumnya mendiskusikan beberapa hal mengenai proyek. Tapi, secara tiba-tiba Tuan Husain melesat pergi entah mengejar siapa. " Jelas Pak Herman yang juga terlihat masih bertanya-tanya dengan kejadian barusan.
__ADS_1
Fitri memijat pelipisnya ringan, berusaha mengusir kebingungannya.
"Ah.. Baiklah. Biarkan saja dia Pak, terkadang dia memang sedikit aneh. Mari kita lanjutkan Pak, biar saya yang menggantikannya. " Putus Fitri yang memang tahu jadwal mereka di sana masih cukup padat, hingga harus dengan segera diselesaikan.
Mereka pun akhirnya kembali melanjutkan tugas mereka masing-masing, sesekali Fitri memotret dan mengambil video beberapa potong bangunan yang sedang dibahasnya bersama Pak Herman untuk disampaikan kepada atasannya nanti jikalau mereka mempertanyakannya.
Sedangkan disisi lain, Husain masih sibuk mencari dan berlari mengejar orang mencurigakan tadi. Ya, tadi disaat ia sedang berbincang dengan Pak Herman, tanpa sengaja ekor matanya melihat seorang pria berpakaian serba hitam sedang mengamati mereka dengan bersembunyi dibalik sebuah pohon. Awalnya Husain tidak terlalu memperdulikannya, Husain lebih memilih untuk fokus saja dengan pekerjaannya. Dia berpikir orang tersebut mungkin orang yang hanya melewat dan berteduh dibawah pohon tersebut, namun gerakan pria itu justru membuat Husain gagal fokus saat mendengarkan perkataan Pak Herman dan lebih banyak memperhatikan gerakan pria itu.
Hingga akhirnya Husain merasa yakin bahwa orang itu bukanlah orang yang sembarangan, ia sepertinya benar-benar orang suruhan seseorang untuk mengamati dirinya, hal itu ia yakini saat melihat dengan jelas pria itu sedang berusaha memotret dirinya. Seketika setelah itu, Husain pun dengan segera berlari untuk menangkapnya. Dan benar saja, pria itu pun berlari melarikan diri disaat ia sadar bahwa keberadaannya telah diketahui Husain.
"Kau mau lari kemana lagi, heh? " Ucap Husain dengan senyum sinis ketika pria ia ia kejar berhenti berlari karena salah memilih jalan hingga berakhir dijalan buntu yang ada dihadapannya itu.
Tak memiliki pilihan lain lagi, pria itupun akhirnya menyerang Husain dan dengan senang hati Husain pun meladeninya, hingga terjadilah perkelahian diantara mereka.
Bugh.. Bugh..
Brak..
Setelah beberapa saat terjadi baku hantam diantara keduanya, kini dengan sekali tendangan Husain berhasil membuat pria itu tersungkur, dan dengan gerakan cepat Husain memelintir tangan pria itu yang belum sempat untuk kembali bangkit berdiri.
"Katakan, siapa yang menyuruhmu? " Todong Husain setelah berhasil membuat pria itu tak bisa berkutik lagi.
"Tidak ada. Tidak ada yang menyuruhku, jadi cepat lepaskan tanganku! " Sahut pria itu yang kepayahan melepaskan dirinya dari cengkraman Husain.
"Cih.. Kau pikir aku akan percaya. Cepat katakan atau akan ku mematahkan tanganmu! " Ancam Husain dengan sungguh-sungguh, ia tak mau menghabiskan terlalu banyak waktu untuk meladeni pria didepannya itu.
2 Detik
__ADS_1
5 Detik
Tak kunjung ada sahutan.
Krekk..
"Aaaaa... " Teriak kesakitan dari pria itu, ketika Husain semakin kuat memelintirkan tangannya hingga rasanya tangan pria itu seperti benar-benar sudah patah.
"Cepat katakan!! " Desak Husain dengan terus menekan tangan pria yang kini sudah tak berdaya didepannya, bahkan posisinya sekarang hanya bisa berlutut karena tenaganya sepertinya telah cukup banyak terkuras akibat perkelahian tadi.
"Ba... Baik tuan akan saya katakan, tapi tolong lepaskan dulu saya. " Ucapnya dengan memelas.
"Beraninya kau meminta penawaran dariku, tidak akan! Sebelum kau mengatakan semuanya, aku tidak akan pernah melepaskan mu. Jadi lebih baik kau katakan saat ini, dan jangan menunggu hingga kesabaran ku habis! " Ucap Husain dengan tegas hingga tak ada celah lagi bagi lawannya untuk mengelak.
Pria itu terdiam, seakan sedang menimbang mengatakan semuanya pada Husain atau justru tetap memilih setia pada atasannya.
"Cepat!! " Bentak Husain lagi.
Dan dengan gelagapan pria itu pun berucap. "O..orang yang menyuruhku....
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...